
**Jangan lupa untuk tap Like, Rate, Vote dan Kommentnya ya kak 🤗🤗🤗
.
.
Selamat Membaca 🤗**
“A-apa maksudmu Rei? Kamu bercanda kan?” Wajah Maya berubah jadi ketakutan melihat Reina.
“Masa sih? Adikku bisa melihat hantu? Bahkan bisa berkomunikasi sama mereka?!”
“Tadi dia bilang 'orang' itu menyukaiku? Apa maksudnya?”
Maya menatap tajam ke arah Reina, ia memegang kedua bahu Reina dan menyetarakan wajahnya dengan wajah Reina.
“Rei, dengarkan kakak. Apa 'orang' yang kau maksud itu, hantu?” Bisik Maya.
Reina mengangguk.
Mata Maya melotot melihat adiknya, seketika itu juga bulu kuduknya mulai merinding dan tubuhnya mulai agak dingin.
“Rei! Kamu jangan membohongi kakak! Sekarang waktunya kamu tidur!” bentak Maya.
Reina menunduk mendengar kakaknya marah, dia lalu berpaling dari hadapan kakaknya. Kemudian ia langsung berbaring menghadap tembok kamar sambil memeluk gulingnya.
Ada rasa penyesalan dalam hati Maya karena telah membentak adiknya. Ia juga khilaf karena agak takut mendengar ucapan adiknya.
“Reina... Maaf, aku tak bermaksud membentakmu,” lirih Maya, namun tak ada jawaban dari Reina.
“Apa dia sudah tertidur?” lirih Maya melirik adiknya, ia memalingkan tubuh Reina. Ternyata matanya sudah tertutup.
“Cepat sekali tidurnya.” Maya membatin, akhirnya ia berbaring di samping Reina dan menutupi Reina dan dirinya dengan selimut.
.
.
🌚🌚🌚
Tubuh Reina memang seperti orang tertidur, tapi jiwanya keluar dari tubuhnya. Kali ini yang membuat keluar jiwanya adalah laki-laki putih yang sebelumnya selalu mengikuti kakaknya.
“Maaf, gara-gara aku, kau di marahi kakakmu,”
Reina menggelengkan kepalanya.
“Tak apa... Rei sudah terbiasa di marahi,” lirih Reina dengan suaranya yang bergetar mau menangis.
“Kamu bilang tak apa, tapi suaranya seperti ada apa.”
“Itu gara-gara kamu menyuruhku untuk bilang seperti tadi, hiks hiks...” akhirnya tumpah juga tangisan Reina.
“Padahal aku sudah janji sama kak Denny untuk tak cerita apa yang kulihat. Aku juga janji sama Deemon tak menceritakan sama orang lain tentang kemampuanku ini., Hiks...hiks.”
Laki-laki putih itu menatap Reina, dia tak menyangka kalau ada anak yang bisa mengeluarkan jiwanya dari tubuhnya.
“Sejak kapan kamu bisa keluar dari tubuhmu?” laki-laki itu menatap Reina dengan wajahnya yang dingin.
“Sejak Demon mengajakku keluar, aku jadi bebas bisa terbang!” seru Reina sambil melayang-layangkan tubuhnya.
“Jadi sekarang tubuhmu kosong? Wah, bagus sekali untuk di tempati sama makhluk lain!”
“Maksudnya?”
Reina masih kebingungan, laki-laki itu menyeringai, lalu melayang terbang ia melesat masuk ke tubuh Reina.
“Hihihi... Sekarang tubuhmu milikku! Dan aku akan tinggal bersama kakakmu yang cantik ini. Hihihi!” teriak laki-laki itu.
“Jahat! keluar kamu dari tubuhku!” Reina berteriak mau merebut tubuhnya. Namun tak bisa, ia menembus tubuhnya sendiri.
“Reina! Ada apa?! Kenapa kamu berteriak?!” Maya terbangun mendengar teriakan adiknya.
“Kak! Dia bukan Reina! Reina di sini kak! Hiks...hiks..” jiwa Reina berteriak sambil menangis di dekat kakaknya, tentu saja teriakannya tak di dengar oleh kakaknya. Reina menyesal kalau laki-laki itu adalah setan yang jahat, yang pura-pura baik dan bisa menipu manusia.
“Hihi... Tak apa kak. Aku cuma mimpi buruk, hihi...” jawab setan itu di dalam tubuh Reina.
Maya jadi merinding melihat adiknya yang bicara sambil tertawa sendiri. Bahkan gaya bicaranya bukan seperti adiknya.
“Kamu Reina kan?” Maya ingin memastikan adiknya.
“Iya kak.” Jawabnya singkat sambil tersenyum menyeringai.
Hal itu membuat Maya jadi takut pada adiknya.
“Masa Reina tersenyum padaku seperti itu? Dia seperti bukan Reina saja.” Maya membatin.
“Ayo, kak. Kita tidur sama-sama,” setan di dalam tubuh Reina itu menggenggam tangan Maya.
“Kakak mau tanya dong. Tanggal ulang tahun Reina kapan ya? Lalu sekarang umur Reina berapa? Kakak mau kasih hadiah buat Reina.” Ucap Maya berbohong.
“Tanggal 20 kan? Sebentar lagi umurku 8 tahun. Kakak mau kasih hadiah apa?”
Mendengar ucapan Reina, Maya mulai merinding. Dia sudah yakin kalau Reina yang ada di hadapannya itu bukan adiknya, melainkan orang lain.
“Dia bukan Reina!!”
Maya dia turun dari ranjang menjauh dari Reina.
“Siapa kamu?!” Bentak Maya melotot ke arah Reina.
“Ada apa kak?! Kenapa kakak menjauh?” gumam setan itu sambil menyeringai.
Melihat adiknya menyeringai seperti itu, Maya jadi semakin takut.
“PERGI!! DIMANA REINA?!” Maya berteriak, membuat suasa kamar jadi gaduh. Denny dan Khalis terbangun mendengar teriakan kakaknya.
“Ada apa kak?!” Denny heran dan langsung menyalakan lampu kamar.
“Reina kesurupan!” Seru Maya panik, membuat kedua adiknya jadi takut.
“Panggil Ibu!” Seru Maya menyuruh adiknya.
Denny langsung pergi keluar kamar memanggil ibunya, tak lama kemudian ia kembali bersama ibunya. Bahkan Badrun juga ikut ke kamar.
Melihat kedatangan Badrun, sontak Reina yang kesurupan mau menyerang Badrun.
BUAKK!!
Badrun langsung menampar kepala Reina. Reina tersungkur ke lantai.
“Apa yang kamu lakukan?! Dia adik kami! Kenapa kau memukulnya?!” bentak Maya.
“Ya, tapi gak gitu juga!” Teriak Maya.
“Maya! Tenanglah!” bentak Aminah.
“Tenang bagaimana, Bu? Dia memukul Reina seperti itu. Kenapa Ibu membelanya?” sahut Maya.
“Dia mungkin tidak sengaja May... Karena Reina tiba-tiba mau menyerangnya!” bentak Aminah membela suaminya.
“Iya aku tahu! Reina sedang kesurupan. Tapi tubuh Reina itu masih anak-anak! Kalau dia kenapa-kenapa bagaimana?” Bentak Maya pada ibunya.
“Kenapa ibu selalu membela b*bi ini?” batin Maya.
“Kak... Reina ke dapur!” seru Khalis.
Semua orang di rumah itu menuju dapur, mereka kaget ternyata Reina sedang memegang pisau dapur. Matanya berubah jadi putih sepenuhnya. Mulutnya menyeringai melihat semua orang mendatanginya.
“Reina... Sadarlah. Kamu ada di sanakan? Tolong kembalilah. Lalu taruh pisau itu.” Ucap Maya dengan suara melemah.
“Tidak, Maya! Aku harus membunuh laki-laki itu! Hehehe!” ucapnya terkekeh sambil menunjuk ke arah Badrun dengan pisau dapur.
“Heh, B*ngs*t! Dasar pengecut! Kau beraninya meminjam tubuh anak kecil untuk membunuhku?! ”
“Kamu kira aku tak akan memukulmu dengan tubuh itu?!” gertak Badrun.
“Kau mau memukulnya lagi?!” Teriak Maya setelah mendengar gertakan Badrun.
“Mau bagaimana lagi? Toh dia kan bukan adikmu!” sahut Badrun jengkel.
“Tapi tubuhnya tetap punya adikku! Apa kamu tak dengar, hah?!” bentak Maya lagi.
“CUKUP!! Kalian jangan bertengkar!” teriak Aminah melihat suami dan anaknya berkelahi.
Denny dan Khalis hanya bisa melihat Reina dengan khawatir.
“Lis... Dulu kamu pernah mengarahkan pisau ke arah B*bi itu kan? Apa dulu kamu kesurupan juga?” bisik Denny.
“Tidak, kak. Waktu itu aku hanya mengancamnya.”
“Begitu ya orang kesurupan? Lihat mata Reina jadi putih semua,” Denny bergumam.
Reina mulai mendekati Badrun, Badrun sudah siap dengan kuda-kudanya mau menyerang Reina.
Tiba-tiba saja Maya menghalangi langkah Reina dengan membuka kedua tangannya.
“Reina! Sadarlah.... Ini kakakmu. Letakkan pisau itu, ya!” seru Maya sambil menghalangi Reina ke arah Badrun.
“MINGGIR!! Dia itu budak Iblis! Dia sudah menyiksa adik-adikmu, apa kamu tahu?! Bahkan dia mulai tertarik padamu!” Teriak hantu yang ada di dalam tubuh Reina.
Semua orang yang ada di rumah itu terkejut mendengarnya, apalagi Maya.
“Menyiksa adik-adikku? Tertarik?” batin Maya melotot ke arah Reina karena terkejut.
“KAU JANGAN BICARA OMONG KOSONG!” teriak Badrun langsung menyerang Reina.
BUGHH
Tang!!
Pisau yang di pengang Reina terjatuh. Hantu di dalam tubuh Reina mencoba menyerang Badrun dengan memukul dan menendang. Namun pukulannya hanya tenaga anak kecil, sehingga tak berefek pada Badrun. Badrun kembali memukuli tubuh Reina dengan kasarnya.
Maya meraung menangis, “CUKUP!! Hentikan dia Ibu...” teriak Maya pada ibunya.
Aminah mencoba menghentikan suaminya, namun Badrun menepis tangan Aminah.
“KAU DIAM SAJA DI SANA!! AKU AKAN MEMBERIKAN PELAJARAN PADA SETAN KECIL DI DALAM TUBUHNYA INI AGAR CEPAT KELUAR!!” bentak Badrun.
“Tidak! Kau hanya menyakiti tubuh Reina! Bukan setannya!” Teriak Maya sambil menangis.
Denny tak tinggal diam, ia langsung memeluk Reina dengan kuatnya. Meski Reina masih mengamuk dalam pelukannya. Tapi ia tak ingin tubuh adiknya terkena pukulan dari Badrun.
Aminah mencoba menghentikan suaminya, namun suaminya juga seperti orang kesurupan yang mau memukuli anak-anaknya. Beberapa tendangan dan pukulan masih saja terkena pada Maya atau Denny yang melindungi tubuh Reina. Sementara Khalis hanya bersembunyi di dekat pintu dapur melihat saudaranya kena pukul. Dia juga ingin menolong, tapi takut kena pukul.
Teriakan dan raungan di rumah itu kembali terdengar di tetangga mereka. Beberapa tetangga mengetuk rumah mereka.
Khalis yang menyadari ada yang mengetuk rumah mereka. Dia langsung membukakannya.
“Ada apa dek? Kok ribut sekali?” tanya Pak Husai cemas.
Ternyata yang datang Pak Anshori dan Pak Husai.
“Tolong pak! Adikku kesurupan!” seru Khalis panik.
Dengan segera Pak Anshori dan Pak Husai membantu mereka. Pak Anshori menahan tubuh Reina agar tak mengamuk, di bantu sama Pak Husai. Mereka berdua sambil membacakan doa-doa untuk mengusir setan yang ada di dalam tubuh Reina.
Namun usaha mereka sia-sia, Setan yang ada di dalam tubuh Reina berontak, dia menjadi sangat kuat. Bahkan dengan tubuh kecil Reina, dia bisa membuat kedua orang dewasa yang menahannya itu terlempar.
“Gawat! Tubuhnya sudah di kuasai makhluk lain!” Pak Husai bergumam.
“Pak, apa yang harus kita lakukan?!” Pak Anshori panik sambil menahan rasa sakit di punggungnya.
“Bapak-bapak apa tidak apa-apa?!” sahut Maya cemas.
“Jangan khawatirkan kami, khawatirkan adikmu, sepertinya tubuhnya sudah mulai di kuasai makhluk lain, lalu jiwa adikmu di dalam tubuh itu sudah tidak ada.” Ucap Pak Husai sambil berdiri.
“A-apa maksudmu Reina sudah mati?!” Aminah mulai panik.
“Bukan seperti itu, aku rasa jiwa Reina sedang tersesat di alam lain, lalu jiwanya belum bisa kembali ke tubuhnya, karena tubuhnya sudah di ambil alih oleh makhluk lain,” ucap Pak Husai menjelaskan.
“Apa?! La-lalu, adik kami ada di alam lain?” gumam Maya.
Maya histeris, ia berteriak pada setan yang merasuki tubuh Reina.
“Kembalikan adik kami! Ku mohon! Hiks...hiks...” Maya menangis di depan tubuh Reina.
“MAYA! Kau jangan dekat-dekat dengannya, Bahaya! Kami berdua saja sudah...” teriakan Pak Anshori terhenti, ketika setan yang merasuki tubuh Reina memeluk Maya.
“Aku menyukaimu, Maya. Maaf, aku meminjam tubuh adikmu! Karena adikmu istimewa!” gumam setan itu membuat seisi rumah itu keheranan.
“Apa maksudmu? Dimana Reina? Cepat kembalikan dia!” bentak Maya.
“Huhuhu.... Padahal aku sudah lama mengikutimu. Ingin sekali aku berbicara denganmu. Tapi saat ada kesempatan seperti ini, kamu malah mengusirku,” isak setan itu menangis mengharap iba dari Maya.
“Jangan pura-pura sedih! Aku bilang di mana Reina!” Maya membentak lagi.
“Hihihi.... Sudah terlambat., Dia sudah mulai tersesat di alam lain. Karena adikmu itu di sukai mereka. Khekhekhe” kekeh setan dengan memakai tubuh Reina.
Bersambung...