The Story Of REINA

The Story Of REINA
BAB 37. Pertemuan Dengan Ayah



Jangan lupa untuk tap Like, Rate, Vote dan Kommentnya ya kak 🤗🤗🤗


.


.


Selamat Membaca 🤗


Maya dan Reina sudah berada di rumah Bibinya.


“Rei capek, gak?”


Reina menggelengkan kepalanya.


Tak lama kemudian, ada seorang anak laki-laki berbadan sangat gendut. Reina melihat anak itu jadi teringat Badrun versi muda, tapi tingginya mungkin hampir sama dengan Badrun, tapi anak itu berkulit coklat.


“Oh, kakak Maya kapan datangnya?!” Seru dia menghampiri Maya dan langsung menyalimi tangan Maya.


“Aduh, Rahman. Kamu makin subur aja!” seru Maya sambil tersenyum.


“Huh, bilang aja aku gendut!” ucap Rahman kesal sambil memajukan bibirnya.


“Hahaha... Jangan ngambek gitu dong! Wajahmu kan jadi tambah gembul!” Maya mencubit kedua pipi Rahman.


“Ish! Kak Maya, lepas! Sakit tau! Dia siapa?” tanya Rahman melihat Reina yang bersembunyi di belakang Maya.


“Oh, benar juga. Dia Reina adik paling kecil kakak, dia...” belum selesai Maya bersuara, kalimatnya terpotong karena ada anak laki-laki yang berteriak datang menghampirinya.


“Gak mungkin dia yang paling kecil! Akulah yang paling kecil!” seru anak laki-laki itu dengan lantangnya. Tubuhnya kurang lebih dengan Reina dan kulitnya putih sama seperti Reina. Dia menggenggam sebelah tangan Maya. Alisnya mengernyit menatap Reina.


“Ck. Dicky... Kau terlalu berisik! Gak usah teriak-teriak juga kali!” ucap Rahman berlalu menuju kamarnya. Lalu langkahnya terhenti dan berpaling.


“Oh, iya hampir saja lupa. Reina salam kenal ya, panggil aku kakak. Aku seumuran dengan kakakmu, Denny.”


“I-iya” sahut Reina sedikit gugup.


“Gak usah gugup seperti itu. Wajahku memang seperti preman. Tapi aku bukan penjahat.” Ucap rahman ketus. Maya dan Dicky tertawa mendengarnya


“Oh, iya kak Maya. Kenapa Denny gak di ajak kesini aja sekalian? Biar aku ada teman main PS.” Lanjut Rahman.


“Oh, dia gak bisa datang. Tapi dia ada kok titip salam buat kamu.”


“Huh! Salam apaan? Kalau gak bisa kesini gak usah pakai salam-salaman!” gerutu Rahman kesal lalu ia ke kamarnya. Ya, Rahman sangat senang jika ada Denny datang ke rumahnya. Satu-satunya orang yang menganggap dirinya teman. Karena dia di sekolah selalu di bully teman-temannya sebagai anak gendut, jelek dan seperti tampang preman. Hal itulah yang membuatnya sangat malas untuk ke sekolah. Sekali ada yang mendekatinya, bukan berarti dia di akui sebagai teman. Melainkan sebagai alat untuk mentraktir mereka.


“Dia kenapa Ky?” tanya Maya pada Dicky.


“Tak tahulah kak. Biasa, si gendut itu selalu begitu. Selalu main game di kamar sehabis sekolah terus dia mengurung diri.”


“Kamu tak mau menemaninya?”


“Mana mungkin aku berteman sama orang gendut yang jauh lebih tua dariku!” sahut Dicky ketus.


“Tapi kan dia sepupumu.” Ucap Maya.


“Walau dia sepupuku, aku gak mau main sama orang yang lebih tua dariku! Termasuk dia!” ucap Dicky menunjuk Reina.


Reina hanya terdiam melihat Dicky yang menunjuk ke arahnya.


“Hei! Kenapa dari tadi kamu diam saja?!” ledek Dicky.


“Dari tadi tidak ada yang bicara sama aku, jadi aku diam.” Ucap Reina datar membuat Dicky jadi salah tingkah. Maya melihat kedua anak itu jadi tersenyum.


“Huh! Baiklah kakak Reina...”


“Eh? Kakak? Hihihi,” tawa Maya pecah.


“Kenapa kakak tertawa. Dia kakak sepupuku juga kan?”


“Iya, dia sepupumu. Tapi kamu salah dengan menyebutnya kakak.”


“Hah? Masa aku memanggilnya adik? Bukankah kakak pernah cerita kalau adik perempuan kakak sudah masuk kelas 1 SD. Sedangkan aku masih TK besar!” ucap Dicky lantang.


“Umurmu, berapa?” ucap Maya membungkukkan tubuhnya untuk menyetarakan tingginya sama Dicky.


“6 tahun.” Jawab Dicky mantap.


“Nah, umur kamu 6 tahun, sedangkan Reina umurnya masih 5 setengah tahun. Jadi lebih tua kamu setengah tahun dari Reina.” Ucap Maya di akhiri dengan senyumannya.


“Hah?! Tapi dia kan sudah kelas 1 SD!” Dicky tak percaya.


“Iya, dia sudah kelas 1 SD, dulu saat umurnya 4 tahun, dia pernah ikut ke sekolah sama kakaknya, Khalis. Jadi dia sudah di perbolehkan masuk SD oleh gurunya di sekolah itu. Karena dia cukup berprestasi di sekolah loh” Ucap Maya bangga pada adik perempuannya.


Wajah Dicky jadi sedikit merah karena merasa malu.


“A-aku mau main dulu,” gumamnya langsung keluar rumah.


.


“Nah, Reina... Kakak mau ke dapur dulu, ya. Kamu kalau mau pinjam buku komik kartun kesukaanmu, kamu bisa pinjam sama Rahman. Masuk aja ke kamarnya.”


“Iya, kak.”


Maya lalu ke dapur.


.


Reina menuju kamar sepupunya yang pintunya tertutup rapat. Dengan pelan Reina mengetuk pintunya tiga kali ketukan.


“Masuk!” ucap Rahman dari dalam.


Krieet!


Reina masuk, ia melihat Rahman masih sibuk dengan layar LCD 21 inci. Tangannya sibuk memegang konsol gamenya.


“Kak Rahman, kata kak Maya, kak Rahman punya komik Doraemon, ya? Reina pinjam dong.” Ucap Reina sambil tersenyum penuh harap agar sepupunya itu mau meminjamkannya.


Rahman terhenti memencet tombol konsol gamenya, lalu menatap Reina.


“Kamu tadi bilang apa?”


“Pinjam komik Doraemon.”


“Bukan! Sebelum itu, kamu tadi memanggilku apa?!” tanya Rahman dengan tatapan menyelidik.


“Kak Rahman. Tadi bukannya kakak sendiri yang mau di panggil kakak?”


Rahman langsung berdiri dan menghampiri Reina. Rahman memegang kedua pundak Reina dan ia tersenyum.


“Ternyata kamu sama ya seperti saudara-saudaramu. Kalian berempat sepupuku yang terbaik yang memanggil namaku.”


Reina sedikit kebingungan, “Memangnya kak Rahman bisanya di panggil apa?” tanya Reina dengan tatapan polos.


“Ah... I-itu... Biasanya aku di panggil anak keren! Pintar atau di panggil si hebat!” seru Rahman berbohong.


“Hm... Gitu ya? Lalu komiknya dimana?” ucap Reina.


“Eh? Ka-kamu gak tanya yang lain lagi? Tentang nama panggilan tadi...”


“Memangnya kakak mau di panggil apa?”


Rahman jadi sedikit kecewa karena tak bisa mengerjai Reina.


“Tuh, komiknya ada di kardus di dalam lemari,” ucap Rahman ketus sambil kembali memainkan gamenya.


Reina membuka lemari yang di sebutkan Rahman.


“Wuahhh....” Reina terkagum-kagum melihat komik bertumpuk di sebuah dus besar.


“Ini semua punya kak Rahman?!”


“Hmm..” jawab Rahman singkat.


“Wahh... Kak Rahman hebat punya komik sebanyak ini!” seru Reina.


“Eh, hebat?” Rahmat bergumam, wajahnya jadi terasa panas mendengar Reina yang menyebut dirinya hebat. Selama ini dia hampir tak pernah mendengar pujian dari orang lain. Bahkan dari orang tuanya sendiri.


“Ka-kalau kamu mau ambillah. Toh aku gak membutuhkannya lagi.”


“Baiklah, makasih kak!” seru Reina sambil mengambil beberapa buku. Ia lalu keluar kamar dan langsung menuju ruang tamu. Diletakkannya beberapa buku komik di meja tamu dan ia ambil salah satu buku komik untuk di bacanya.


Baru setengah buku di baca Reina, seseorang berjalan ke arahnya.


“Ada yang datang,” bisik Deemon di telinga Reina.


“Hm...” jawab Reina pelan. Reina masih membaca buku komik yang ada di tangannya. Ia tak memedulikan orang itu yang akan menghampirinya lalu duduk di sampingnya.


“Wah, pinter. Sudah lancar membaca, ya?” ucap laki-laki itu merapatkan duduknya pada Reina. Reina berhenti membaca, pandangannya ia alihkan ke laki-laki di sampingnya.


Reina sedikit terkesiap melihat laki-laki itu. Kulitnya gelap tapi tak segelap tubuh Deemon. Tapi yang membuatnya sedikit kaget adalah wanita yang menyeramkan yang melilit tubuh laki-laki itu. Lidahnya yang panjang kadang menjulurkan lidahnya ke dalam telinga laki-laki itu hingga menembus ke seberang telinga sebelahnya. Tapi laki-laki itu seperti tak merasakan apa-apa yang di lakukan wanita itu.


“Wahh... Sepertinya laki-laki itu terkena sihir pengikat. Dan sihir itu cukup kuat untuk dirinya agar tunduk pada si empunya sihir. Pura-pura saja kau tak lihat wanita itu, Rei.” Bisik Deemon.


Reina sedikit mengangguk.


“Ada apa, Nak?” laki-laki itu heran karena Reina seperti kaget melihat dirinya.


Reina hanya menggelengkan kepalanya. Laki-laki itu kembali menggandeng Reina seperti sudah akrab kenal.


“Reina sudah sekolah?”


Reina kembali mengangguk, mulutnya masih tertutup rapat. Laki-laki itu jadi merasa canggung berbicara pada Reina. Karena jawabannya selalu menggelengkan kepala atau menganggukkan kepala.


“Reina sudah kelas berapa?” Tanya laki-laki itu, dia seperti sudah kehabisan pertanyaan.


“Kelas satu,” jawab Reina singkat sambil membaca buku komik di tangannya.


Akhirnya laki-laki itu merasa lega karena sudah mendengar suara anak itu. Ia lalu mengambil buku yang ada di tangan Reina dan menutupnya.


“Nak, kalau ada yang bicara denganmu. Alangkah bagusnya kamu perhatikan lawan bicaramu.” Ucap laki-laki itu pelan sambil mengusap rambut Reina yang dari tadi sebenarnya sudah rapi.


“Iya, Reina tau. Kak Denny bilang, Reina gak boleh sembarangan bicara sama orang asing.” Ucap Reina datar. Jawaban Reina menohok perasaan laki-laki itu. Dia tak menyangka anak sekecil itu bisa membuat perasaannya jadi sesak.


Laki-laki itu berdiri, ia mengambil dompet di sakunya. Lalu mengambil uang selembar dua ribuan dan menyerahkan pada Reina.


“Ini buat jajan kamu. Bilang...”


“Terima kasih!” sahut Reina sebelum laki-laki itu menyelesaikan ucapannya.


Laki-laki itu tersenyum mendengar Reina mengucapkan rasa terima kasih itu sambil mengambil uang di tangannya.


“Tadi katanya gak boleh bicara sama orang asing, tapi setelah lihat uang kenapa langsung menerimanya dari orang asing?”


“Kak Denny bilang, kalau ada yang memberi rezeki jangan di tolak. Harus cepat kita menerimanya.” Jawab Reina lagi datar.


“Anak pintar.” Ucap laki-laki itu tersenyum.


“Tentu saja!” sahut Reina kembali mengambil buku komik yang sebelumnya ia baca. Tak lupa ia memasukkan uang yang di beri laki-laki itu ke dalam saku celananya.


Laki-laki itu membiarkan Reina membaca komik. Ia lalu berjalan ke arah dapur, namun berpapasan dengan Maya.


“Loh, Ayah?! Kapan datangnya? Sudah ketemu dengan Reina belum?” Maya menyalimi punggung tangan laki-laki itu yang ternyata ayahnya, Helmi.


“Iya, sudah. May. Sepertinya dia anak pintar ya, jawabannya pendek tapi nyelengkit di hati Ayah.” Ucap Helmi tertawa renyah.


“Iya, memang pintar kayak Maya, Yah. Tapi maksud Ayah nyelengkit gimana? Apa ada ucapannya yang membuat Ayah kecewa?”


“Ah, tidak. Kok. Ayah mau pergi dulu ya. Tadi Ibunya Ida menelepon Ayah untuk pulang.”


“Hah?! Secepat itu? Bisa gak Ayah nginap di sini satu hari aja menemani Reina. Dia itu anak Ayah juga kan? Sesekali mengakrabkan Ayah dengan Reina.” Lirih Maya.


“Maaf, May. Kalau aku tak pulang, nanti Ibu marah sama Ayah. Kalau mau kalian ikut Ayah aja gimana? Jadi kalian menginap di tempat Ayah saja.”


“Tak sudi!” Maya membatin kesal karena tak mau menemui Ibu tirinya.


“Tidak, Yah. Kami menginap di sini saja. Disini lebih nyaman,” lirih Maya.


“Jadi maksudmu, di tempat Ayah tak nyaman? Apa yang membuatmu tak nyaman?” Helmi penasaran.


“Tanya aja sama istri Ayah!” ucap Maya lantang dengan suara bergetar. Ia lalu meninggalkan Ayahnya. Ia berjalan ke arah ruang tamu di mana adiknya berada.


Helmi bukannya menenangkan anaknya yang mau menangis itu. Ia malah keluar dan menyalakan mesin motornya untuk pulang.


.


“Dek, dari tadi kayaknya seru banget baca komiknya.” Ucap Maya sambil mendaratkan bokongnya di sofa tepat di samping Reina.


“Seru sih... Kata kak Rahman. Reina boleh bawa komiknya. Apa Reina boleh bawa semua komik punya kak Rahman?”


“Gak bisa. Nanti kerjaanmu baca komik terus di rumah. Belajarnya enggak.”


“Yahhh...”


“Oh, iya. Paman yang seperti penjahat tadi siapa kak? Dia memberi Reina uang dua ribu. Katanya buat jajan.” Reina memperlihatkan uang kertas yang ada di sakunya tadi.


“Paman? Penjahat?” Maya membatin, matanya sedikit melotot karena kaget mendengar ucapan adiknya.


“Dasar Ayah tak tau diri! Kenapa dia tak mengakui dirinya di hadapan Reina kalau dia Ayahnya? Bahkan anakmu sendiri sampai menganggap dirimu seperti penjahat,” batin Maya.


Tak terasa butiran kristal keluar di celah matanya. Ia langsung memeluk Reina dengan erat.


“Hiks... Hiks... Dia Ayahmu Rei ... Dia Ayah kandung kita ... Bukan paman penjahat...hiks hiks...” lirih Maya sesenggukan menangis dalam pelukan adiknya. Reina hanya mendiamkan diri di peluk kakaknya. Ia membiarkan kakaknya menangis sepuasnya. Sebenarnya dia masih belum mengerti situasinya dan maksud perkataan kakaknya. Tapi hatinya ikut merasa sesak karena melihat kakaknya menangis. Seolah-olah perasaan kakaknya itu dapat di rasakan olehnya.


.


Bersambung.