
**Jangan lupa untuk Like, Rate, Vote dan Komennya ya kak...
.
.
Selamat Membaca 🤓**
.
__________________________
“REI!! REINA!!” Teriak Denny sambil mengguncang kedua bahu Reina yang masih menatap ke langit-langit rumahnya.
“Apa yang di lihat anak itu?!” Pak Husai penasaran, begitu juga dengan yang lain.
Aminah menepuk-nepuk bahu Reina, “Nak! Kamu lihat apa?!”
“Itu... Ada si Merah sama Deemon di atas..” sahut Reina sambil menunjuk ke atas langit-langit ruangan tengah itu.
“Si Merah...?”
Semua yang ada di ruangan itu langsung melihat ke arah yang di tunjukkan Reina, namun mereka tak melihat apa-apa.
“REINA!! KAMU JANGAN BOHONG SAMA IBU!” Bentak Aminah.
“Rei tidak bohong, bu. Rei benar-benar..."
“CUKUP!!”
“Cepat mandi! Ini sudah sore, kamu jangan terlalu banyak nonton film yang aneh-aneh!” Aminah memaksa Reina ke kamar mandi.
“Kak... Benarkan Reina bisa lihat hantu? Dia bilang si merah..” bisik Khalis pada Denny.
“Aku juga tidak tahu, Lis. Lalu lukamu apa tak apa-apa?” Denny mencoba untuk tak memperbesar-besarkan tentang Reina.
Belum menjawab Khalis, Pak Husai memanggil kedua anak-anak itu.
“Apa kalian tak apa-apa? Nanti kalau ada waktu, kamu datanglah ke rumahku.” Ucap Pak Husai berbisik sambil menepuk pundak Denny. Ia lalu menatap Badrun yang dari tadi hanya bisa diam dengan wajah yang masih penuh dendam.
“Pak Badrun! Mereka masih anak-anak. Tolong jangan terlalu keras pada mereka.”
“Apa?! Kau tak perlu ikut campur dengan urusan rumah tanggaku!” bentak Badrun membuat Pak Husai bungkam. Bahkan Pak Anshori dan yang lain hanya bisa saling menatap tak bisa berkata apa-apa lagi.
“Pergi kalian dari rumah ini!” Bentak Badrun lagi.
Mau tak mau pak Husai dan yang lain terpaksa keluar dari rumah itu.
.
.
Setelah keluar dari rumah Aminah, Pak Husai masih merasa aneh dengan keluarga itu. Aminah selalu menurut dengan suaminya itu, bahkan Aminah tak mau memberikan kesempatan untuk anaknya bicara. Ada apa sebenarnya yang terjadi pada Aminah? Pikiran Pak Husai ke mana-mana sampai tak mendengar Pak Anshori yang dari tadi memanggilnya.
“Pak... Pak...?!!” Pak Anshori menyadarkan lamunan Pak Husai.
“Eh?! Ah...I-Iya, ada apa ya, Pak?”
“Kamu lagi memikirkan keluarga mereka?”
“Sedikit,” ucap Pak Husai sambil menopang dagunya.
“Anu... Pak, apa tak kita panggil polisi saja? Aku rasa Badrun melakukan kekerasan pada anak. Bukankah itu termasuk penganiayaan?” Ibu Lilis menyela pembicaraan Pak Husai dan pak Anshori.
“Hus... Kamu jangan sembarangan bu. Kita tak ada bukti, yang ada malah nanti kita di anggap pencemaran nama baik keluarga mereka.” Ucap Pak Anshori.
“Benar juga sih, Tapi aku tak tega melihat anak-anak itu menderita. Aku juga pernah lihat, di tubuh mereka ada luka dan memar waktu mandi di sungai. Kurasa anak-anak itu juga menyembunyikan perlakuan Ayah tiri mereka.” Sahut Ibu Dian.
“Tentu saja mereka menyembunyikan luka mereka pada orang lain. Aku rasa kalau orang lain mengetahui kelakuan Ayah tiri mereka itu. Mereka akan semakin di siksa. Sepertinya Badrun mendidik anak-anak itu dengan kekerasan agar anak-anak itu patuh dengannya.” Ibu Lilis menerka-nerka.
“Jangan langsung menyimpulkan sembarangan, bu.” Pak Husai menimpali terkaan Ibu Lilis.
“Berpikir positif sajalah,” lanjut pak Husai.
“Positif bagaimana, pak? Kalau memang kejadiannya benar seperti itu.” Sahut Ibu Lilis sedikit emosi.
“Sudah... Sudah... Kita balik aja dulu ke rumah masing-masing. Ini sudah sore, nanti kalau ada waktu kita bicarakan lagi.” Pak Anshori menengahi agar tak ada perdebatan lagi.
Mereka pun menurut, lalu akhirnya mereka pulang ke rumah masing-masing.
.
.
.
Hari sudah gelap, semua penduduk hampir tak ada yang keluar dan suasana kampung itu menjadi sepi, hanya suara azan magrib yang sudah terdengar dari speaker mesjid.
Walau sudah tak ada lagi warga yang keluar rumah, tapi tidak untuk Denny. Ia sibuk mengambil air wudhu di sumur yang ada di depan rumah pak Anshori.
“Kak Denny, apa gak perih luka kakak kena air?”
Denny tak langsung menjawab, ia menyelesaikan wudhunya lalu membaca doa setelah berwudu.
“Sedikit perih. Tapi tak apa, kalau luka kita kena air wudhu, Insya Allah luka kita cepat sembuh.”
“Benarkah? Kalau gitu Rei juga ikut berwudhu ya, kak.”
Denny tersenyum, ia membantu adiknya berwudhu dengan mengalirkan air menggunakan gayung. Sesekali Reina meringis merasakan perih yang ada di kakinya yang sebelumnya terluka kena duri semak belukar saat memasuki hutan.
Suara ramai terdengar di telinga Reina, dengan segera Reina menoleh ke sumber suara. Dia melihat banyak sekali orang-orang yang keluar dan lalu lalang di depan jalan rumahnya . Bahkan ada yang lewat dengan cara terbang.
“Rei... Reina?!”
“I-iya kak...” Reina tersadar di panggil kakaknya.
“Kamu melihat 'mereka' lagi?”
Reina mengangguk, sambil menggenggam tangan kanan Denny.
“Kali ini apa lagi yang kamu lihat?”
“Eh? Kakak percaya padaku?”
“Memangnya aku pernah mengajarimu bohong?”
“Pernah, kak.” Sahut Reina pelan.
“Hah? Kapan?”
“Saat kakak bilang luka kakak gak sakit, padahal sebenarnya sakit, kan?”
Denny tak bisa berkata apa-apa lagi. Memang yang di katakan Reina adalah sebuah kebenaran yang tak bisa ia elakkan lagi. Denny menghela nafasnya dan menghembuskannya perlahan.
Reina menoleh ke orang-orang yang lewat itu. Wajahnya pucat, dia memang seperti berjalan, tapi kakinya tak menyentuh ke tanah. Pandangannya juga kosong tanpa ekspresi menatap ke depan jalan.
“Reina, jangan lihat ‘mereka'! Pura-pura saja kau tak lihat. Kali ini apa lagi?”
“’mereka’... Ada banyak kak. Di atas kita juga ada, mereka bisa terbang kak, di jalanan ini juga sangat ramai.” Bisik Reina sambil menunjuk ke jalan kecil di depan rumah mereka.
Denny mulai merinding mendengar perkataan adiknya, ia menatap mata polos Reina. Tak ada kebohongan yang terpancar di wajahnya. Itu artinya semua yang di katakan Reina pasti benar. Denny lalu bergegas mengangkat sebuah ember kecil di tangan kanannya, lalu tangan kirinya memegang lengan Reina. Ia berjalan dengan cepat untuk pulang.
.
Sesampai di rumah, Denny tampak tersengal-sengal, ia mengatur napasnya perlahan.
“Ramai? Apa maksudnya? Apa itu artinya Reina tak hanya sekilas melihat penampakan hantu? Tapi dia mulai bisa melihat alam lain?” Batin Denny sambil menatap wajah Reina.
“Berjanjilah dengan kakak. Apa pun yang kau lihat selain manusia, pura-puralah kau tak melihatnya. Apalagi mengajaknya bicara! Ingat, ya!”
“Eh, tapi...” Reina tak bisa melanjutkan kata-katanya. Karena ia sudah terlanjur melakukannya dengan bicara dengan Deemon. Jadi dia terpaksa berbohong pada kakaknya dengan menganggukkan kepalanya.
“Bagus! Kalau kamu ketahuan mereka bisa melihatnya. Bisa-bisa kau akan di bawa 'mereka' ke dunianya. Dan itu akan membuat kita terpisah selamanya.”
“Terpisah? Maksudnya?”
“Itu artinya kau akan mati! Dan aku tak ingin hal itu terjadi padamu!”
“Mati...” wajah Reina tampak ketakutan mendengar ucapan kakaknya.
“Aku tak mau mati...” bisik Reina lagi.
“Makanya kamu tak boleh bicara dengan mereka, kamu paham kan, Rei?!”
Reina mengangguk pelan menurut dengan ucapan kakaknya.
“Ya, sudah. Ayo kita sholat.”
.
.
Saat makan malam tiba, Aminah mengumpulkan semua anggota keluarganya untuk makan malam, tanpa terkecuali.
Hening... hanya bunyi denting sendok dan piring.
“Sebenarnya apa yang terjadi, ketika aku keluar rumah?” Aminah membuka suara dan melemparkan pertanyaan untuk semua orang yang ada di sana.
Tak ada jawaban dari ketiga anak-anaknya yang masih sibuk dengan makanan di depan mereka.
“Kamu lihat sendiri kan, Aminah. Kalau anak-anakmu ini sekarang mulai berani dengan orang tua. Lihat! Mereka di tanya malah tak ada menjawab.” Ucap Badrun memandang tiga anak tirinya dengan raut wajah yang masih kesal teringat kejadian sore itu.
Aminah menghela napasnya lalu memandang ke arah suaminya.
“Memangnya apa yang terjadi?”
“Mereka marah hanya karena upah yang aku berikan.”
“Memangnya berapa kau upah mereka?”
“3000, jadi pas kan masing-masing dari mereka dapat 1000.” sahut Badrun santai tanpa merasa bersalah.
Aminah terdiam sejenak mendengar ucapan Badrun.
“Bukankah itu terlalau sedikit untuk mereka? Kenapa kamu pelit sekali? Padahal hari ini jualan mereka habis tanpa tersisa!”
Brakk!!
Badrun menampar meja makan. Membuat semua yang menghadapi meja makan jadi kaget. Tapi ketiga anak-anak itu melanjutkan makan malam mereka kembali, tanpa memedulikan orang tua mereka berkelahi.
“Aku memberi upah mereka segitu karena ada alasannya! Sebelumnya dagangan mereka tak habis kan?! Itu artinya keuntungan hari ini buat menutupi kerugian sebelumnya, Apa kamu mengerti!!”
“Tapi apa kamu tak keterlaluan sama mereka? Mereka sudah bersusah payah menjual kue keliling kampung...” tak selesai ucapan Aminah, Badrun langsung menimpali.
“Apa kau mau tinggal di sini lebih lama? Apa kamu tahan sama tetangga-tetangga di sekitar sini yang suka sekali mencampuri rumah tangga kita, hah?! Apa kamu lupa kalau kita cari uang lebih untuk pindah dari sini?!”
“Iya! Aku tahu, tapi bukannya kamu keterlaluan memberi upah segitu?!”
“Mau bagaimana lagi?! Kita harus cari uang lebih untuk cepat-cepat pindah dari sini! Seandainya gajimu itu tak di pakai untuk melunasi semua utang dari mantan suamimu, sudah lama kita pindah dari sini! Apa kamu tak mau tinggal di dekat keluargamu, hah?!”
“Apa maksudmu?! Apa kamu menikahiku hanya karena memandang gajiku? Jadi setelah kau tahu gajiku di pakai untuk melunasi hutang sebelumnya, terus kamu menyesal menikahiku?!”
“Bukan seperti itu. Kamu salah paham Aminah!”
Akhirnya cek-cok suami istri itu akhirnys terjadi, mereka saling bersahutan tak ada yang mau mengalah. Mereka tak malu kalau saat itu masih ada anak-anak mereka yang sedang makan malam.
“Pindah...?!” Gumam Reina pelan mendengar ucapan Badrun.
“Ssstt... Kamu selesaikan saja makan malammu. Lalu kita ke kamar” bisik Denny.
Reina mengangguk.
.
.
“Kak Denny, apa benar kita akan pindah dari sini?” tanya Khalis saat mereka sudah di kamar.
“Aku juga tidak tahu, aku juga baru dengar saat makan tadi.”
“Kalau kita pindah, lalu kita kemana?” kali ini Reina ikut bertanya.
“Reina, kan sudah kakak bilang kalau kakak juga tidak tahu. Dan kalaupun kita pindah kemanapun, kita harus tetap bersama.” Ucapan Denny tak membuat kedua adiknya tenang, raut wajah mereka seperti sedang tak ingin hal itu terjadi pada mereka.
“Ada apa dengan kalian?”
“Aku tak mau pindah! Itu artinya aku akan pisah sama teman-temanku, kan? Aku tak mau hal itu terjadi.” Ucap Khalis kesal.
“Rei, juga tidak mau... “ gumam Reina pelan.
“Tak apa... Kalaupun kita pindah, bukankah nanti kita punya teman baru lagi di tempat lain?”
“Aku tak mau. Bagaimana kalau ketemu teman yang menyebalkan?”
“Bukankah kamu juga sama menyebalkannya?” ucap Denny tersenyum mengejek Khalis.
“Rei juga tak mau pindah, aku tak mau pisah sama Deemon.” Gumam Reina membuat kedua kakaknya menatap ke arahnya.
.
.
Bersambung...