The Story Of REINA

The Story Of REINA
BAB 33 Tak Ada Setan Yang Baik



Jangan lupa untuk tap Like, Rate, Vote dan Kommentnya ya kak 🤗🤗🤗


.


.


Selamat Membaca 🤗


“Si-siapa kau?!”


Para ketua hantu itu melangkah mundur melihat kedatangan Deemon. Aura hitam pekat memancar di belakang Deemon, membuat para makhluk yang ada di sana jadi takut mendekat ke arahnya.


“Aura itu... Kenapa sama dengan anak itu?” Gumam sang ketua sambil melirik ke arah Reina yang berlari kecil menghampiri Deemon tanpa rasa takut.


“Sudah kubilangkan! Kamu tak boleh sembarangan di sentuh mereka!” ucap Deemon pasrah di peluk Reina yang melingkari pinggang kecilnya.


“Maaf. Soalnya mereka mengembalikan tubuhku dari hantu laki-laki itu,” ucap Reina sambil menunjuk laki-laki yang masih di ikat hantu lain.


“Oh, dia setan penguntit,” gumam Deemon.


“Penguntit?”


“Ya, dia akan selalu mengikuti perempuan yang menurutnya cantik dan baik, tak segan-segan dia akan menindih wanita yang dia suka saat wanita itu tertidur. Sehingga wanita itu ketika malam tak bisa menggerakkan tubuhnya.” Deemon menjelaskan.


“Jahat... Jadi apakah kakakku di perlakukan seperti itu sama dia?”


“Mungkin..”


“Hei! Apa yang kamu lakukan selama ini pada kakakku?!” Teriak Reina.


Hantu laki-laki itu terdiam, sambil membuang mukanya ke arah lain.


Reina kesal karena pertanyaannya tak di jawab.


“Jangan pernah ganggu kakakku lagi!”


“Ayo, pulang. Keluargamu mencarimu,” Deemon berpaling mau pergi bersama Reina yang masih memegang tangannya.


“Tunggu! Kami tak akan melepas kalian begitu saja!”


Deemon dan Reina di kepung oleh makhluk-makhluk di sana yang jumlahnya sangat banyak.


“Sepertinya kalian tak ingat denganku. Padahal sebelumnya aku pernah ke sini,” ucap Deemon dengan santai.


“Kami tak pernah lupa dengan lawan yang menurut kami kuat. Tapi kalau kami tak ingat denganmu, itu artinya kamu hanyalah sampah! Hahaha!” teriak sang ketua makhluk itu sambil tertawa di ikuti anak buahnya.


“Hihihihi... Padahal kalian melihat auranya ketika dia pertama kali datang. Masa kalian masih tak mengenalinya?”


Terdengar suara seorang perempuan tiba-tiba membuat mereka berhenti tertawa.


Sreekk... Sreekkk....


Ssshhhh....


Lalu pandangan semua makhluk itu tertuju pada sumber suara yang berisik dan juga terdengar suara desisan di balik hutan yang gelap.


Kini yang muncul adalah seorang perempuan muda yang sangat seksi yang memamerkan belahan dadanya yang besar dan juga kedua pahanya yang terbuka. Dia di temani seekor ular besar yang menjulur-julurkan lidahnya.


“Kau... Dewi Ular” gumam mereka.


Ketua makhluk itu terdiam dan kaget melihat kedatangan wanita itu.


“Wahh... Cantik,” gumam laki-laki yang di ikat mereka.


Wanita itu menatap ke arah Reina dan Deemon. Lalu ia langsung menghormati Deemon dengan cara bersimpuh di depan mereka berdua, ular besar yang di sampingnya juga seperti mengikuti tuannya.


“Selamat datang kembali, wahai Tuanku Tuan Lucifer.”


“APA?! Hei maksudmu si hitam itu Lu-Lucifer yang melegenda dulu?” gumam sang ketua tergagap.


Semua anak buahnya terheran-heran.


“Lucifer? Siapa itu?”


“Itu loh... Legendanya dia adalah Raja dari segala Iblis yang membangkang pada Tuhannya. Lalu dia menghilang dengan meninggalkan anak-anaknya yang sekarang jadi pemimpin kita saat ini,” bisik para anak buahnya.


“Masa sih? Kalau dia muncul, itu artinya para Iblis sekarang sudah tidak ada kan? Tapi mereka masih ada. Mungkin dia namanya saja yang sama, tapi orang yang berbeda,” gumam yang lain.


“Ya. Kalian benar!” ucap Deemon tiba-tiba, karena mendengar mereka membicarakan dirinya.


“Aku orang berbeda dengan Lucifer yang kalian maksud. Aku hanyalah Deemon, setan kecil yang bersama anak ini,” ucap Deemon menatap ke arah Reina.


“Anda jangan bohong, Tuan. Aura Anda saja sama dengan Tuan Lucifer. Aku pernah membaca buku tentang Anda. Anda adalah penguasa kegelapan bumi ini sebelum manusia yang menguasainya. Dari aura kegelapan yang memancar dari Anda tadi, aku sudah tahu kalau Anda adalah Tuan Lucifer!” ucap Sang Dewi ular.


“Tidak. Kamu salah orang.” Deemon lalu pergi bersama Reina membuat Dewi ular itu terdiam dan masih tak percaya ucapan orang yang dia hormati tadi.


.


.


“Perempuan itu siapa?” ucap Reina setelah mereka cukup jauh berjalan dari tempat sebelumnya.


“Kau tak perlu dekat-dengan dengan wanita ular itu. Dia menyukai anak-anak dan menculiknya. Setelah itu dia akan memakan anak itu.”


“Apa?! Itu sangat kejam!”


“Mana ada siluman dan setan yang baik,”


Reina menghentikan langkahnya membuat Deemon juga berhenti berjalan.


Reina mendongakkan kepalanya menatap Deemon.


“Kalau kamu termasuk yang mana? Apa kamu juga jahat?”


“Tidak keduanya, karena kamu pernah menolongku.” Sahut Reina dengan tersenyum.


Deemon terdiam sejenak, ia masih menatap wajah ceria Reina.


“Kalau kamu sudah tahu, kenapa bertanya lagi?”


“Karena aku ingin mendengar jawaban dari Deemon sendiri.”


“Tentu saja, aku termasuk yang paling jahat di antara mereka.”


“Eh?! Tapi kamu tak terlihat jahat.” Sahut Reina.


“Cukup! Lihat mereka...” Deemon menunjukkan pada beberapa warga memakai senter yang masuk hutan sambil memanggil nama Reina.


“Aku di cari...” gumam Reina.


“Ya, kembalilah,”


“Tapi...” Reina terlihat ragu untuk meneruskan kalimatnya.


“Ada apa?”


“Apa aku akan bertemu lagi denganmu?” Reina menatap Deemon begitu pun sebaliknya, mereka saling menatap satu sama lain.


“Ya.” Jawab Deemon singkat, tapi itu sudah membuat Reina tersenyum.


“Baiklah, aku akan pulang ke rumah,” Reina mau pergi, namun di tahan Deemon.


“Tunggu! Kalau kamu tiba-tiba mendatangi mereka. Mereka akan bertanya macam-macam denganmu. Kamu tidurlah dan aku akan memberikan tanda buat mereka agar ke sini.”


“Tapi aku belum ngantuk.”


Deemon menutup mata Reina dengan tangannya, seketika itu juga Reina langsung tertidur.


Deemon meletakkan Reina di atas rumput yang cukup aman.


.


“DISINI! Aku menemukannya!” Teriak salah seorang warga melihat Reina yang terbaring di atas tanah. Dia langsung di bawa warga ke rumahnya.


“Adik kami tak apa-apa kan?” Maya cemas, begitu juga dengan Denny dan Khalis.


“Sepertinya dia tertidur, aku rasa dia juga tak kesurupan lagi,” ucap pak Husai.


Pak Anshori berterima kasih kepada warga yang sudah membantu mereka mencari Reina. Maya dan Denny juga ikut berterima kasih pada mereka.


Malam yang begitu panjang untuk keluarga Aminah. Mereka masih berjaga melihat kondisi Reina. Khawatir Reina tiba-tiba bangun dan langsung kesurupan lagi.


“Huh! Bocah yang merepotkan!” Batin Badrun sangat kesal karena malam itu ia terpaksa ikut begadang.


“Aku duluan ke kamar ya, menemani Putri.” Ucap Badrun dengan nada ketus, lalu ia pergi ke kamar sebelum ada yang menjawab.


“Bu, kenapa Reina bisa seperti ini?” ucap Maya sambil mengusap rambut Reina.


“Ibu juga tak tahu, May.”


“Oh, iya kak. Aku pernah lihat Reina bicara sendiri,” sahut Khalis.


“Eh?! Benarkah?” Maya terkejut, begitu juga dengan Aminah.


“Ya, ngapain aku bohong. Waktu itu aku tanya, dia malah bohong lagi menghafal sesuatu. Padahal jelas-jelas aku lihat dia bicara sendiri,” ucap Khalis.


“Jangan-jangan adik kalian punya kelebihan bisa berkomunikasi dengan alam sebelah?” gumam Aminah.


“Hah? Benarkah Bu? Apa itu bahaya?” Maya cemas.


“Tergantung... Kalau orang sebelah itu baik, dia tak apa-apa. Tapi kalau jahat, itu yang gak bagus untuknya.” Gumam Aminah.


Denny yang dari tadi menyimak pembicaraan ibunya hanya bisa diam. Karena dia juga merasakan hal yang sama pada saat bersama Reina.


“Bagaimana caranya supaya dia tak bisa melihat dan berkomunikasi dengan 'mereka' lagi?” ucap Denny tiba-tiba.


“Melihat?” ucap Maya heran mendengar adiknya bicara tiba-tiba.


“Ya, selain berkomunikasi dia juga bisa melihat 'mereka'.”


“Hah?! Jadi kak Denny sudah tahu? Itu artinya aku gak bohong, kan?” sahut Khalis kesal.


“Aku tak pernah bilang kamu bohong.” Jawab Denny datar.


“Lalu, kakak lihat kejadian tadi siang kan? Saat dia bertemu kakak pertama kali...”


“Oh, dia takut melihat kakak?”


“Ya, aku rasa dia melihat salah satu dari 'mereka' di dekat kakak. Makanya dia bersembunyi di balik badanku kan? Karena aku sudah bilang padanya, kalau melihat mereka dia harus diam atau pura-pura tak melihatnya,”


“Apa?!” Maya kaget mendengar penjelasan adiknya.


“Kalau begitu, dia harus di ruqiyah, biar mata batinnya tertutup,” saran Aminah.


“Benar, Bu. Kapan dia harus di ruqiyah?”


“Besok. Makin cepat makin lebih baik, kan?” jawab Aminah cepat.


Mereka tak menyadari pembicaraan mereka di dengar sosok hitam yang bergantungan di pojok kamar itu. Lama kelamaan sosok hitam itu menghilang sendirinya.


...BERSAMBUNG.


...