The Story Of REINA

The Story Of REINA
BAB 20 Pembohong



**Jangan lupa untuk tap Like dan Ratenya ya Readers...


Selamat Membaca**


.


Reina masih sesenggukan menangis di depan sosok hitam yang ia namai Deemon. Deemon hanya bisa diam membiarkan anak di depannya itu menangis dengan sepuasnya. Karena ia juga tak tahu harus melakukan apa pada anak manusia itu.


Setelah Reina mulai reda dengan tangisannya, barulah Deemon berbicara.


“Sudah mulai gelap, pulanglah.”


“Tapi aku takut... Hiks...” Isak Reina sambil menyeka air matanya.


“Apa kamu tak khawatir dengan saudaramu?”


“Tentu saja aku khawatir! Makanya aku minta tolong sama kamu. Tapi kamu malah tidak mau! Aku takut mereka terluka karena melindungiku, huaaa...” ucap Reina dengan kekecewaannya pada Deemon. Reina kembali dengan tangisannya. Kedua pipinya yang sudah kering, kembali basah di banjiri air matanya yang mengalir deras.


“Kedua saudaramu sudah tidak apa-apa.”


Reina langsung menghentikan tangisannya karena mendengar ucapan Deemon. Ia menatap wajah polos Deemon yang hanya terlihat sepasang mata bulatnya yang putih.


“Benarkah?!” Reina masih belum percaya, ia ingin mendengar jawaban lebih lagi untuk meyakinkan kalau kedua kakaknya itu benar-benar baik-baik saja.


“Ya.”


“Dari mana kamu tahu?!”


“Setelah kau masuk ke hutan, aku sudah menyuruh beberapa bagian dariku untuk membisiki manusia lain untuk datang ke rumahmu.”


“Aku masih belum mengerti maksudmu, Deemon. Tapi kalau kamu bilang kakak-kakakku baik-baik saja. Aku akan percaya padamu,” ucap Reina tersenyum.


“Kalau begitu, sekarang waktunya kamu pulang.” Ucap Deemon sambil mengulurkan tangannya ke arah Reina.


“Baiklah...” Reina langsung menyambut uluran tangan Deemon.


Mereka lalu meninggalkan tempat itu melewati jalan setapak yang sebelumnya telah di lewati Reina.


Tanpa di sadari Deemon dan Reina, dari jauh ada seseorang menatap mereka. Ia menyeringai sambil mengelus kepala ular besar yang ada di sampingnya.


“Tak salah lagi... Dari auranya yang terpancar dari sosok hitam itu adalah Tuan Lucifer.” Batinnya sambil tersenyum. Namun bibir senyumannya berubah ketika ia melihat anak kecil berjalan di samping Deemon sambil menggenggam tangannya. Aura dari Deemon mengalir ke tubuh anak itu.


“Siapa bocah itu?! Kenapa dia bisa menghisap energi Tuan Lucifer?!”


“Tapi kenapa Tuan Lucifer diam saja?!”


.


.


🌚🌚🌚


Tok...tok...tok...


Beberapa warga mengetuk pintu rumah Aminah. Mereka ke rumah itu karena merasa curiga mendengar keributan di rumah itu.


“Assalamualaikum!” ucap Pak Husai sambil mengetuk pintu rumah itu. Ia bersama pak Anshori, Ibu Lilis dan Ibu Dian, berdiri di depan pintu menunggu kehadiran pemilik rumah untuk membukakan pintunya.


Masih tak ada jawaban, sehingga membuat Pak Husai nekat mengintip di jendela kaca depan rumah itu. Namun sayangnya kaca itu terhalang gorden sehingga tak bisa melihat bagian dalam rumah itu.


“Bagaimana kalau kita lihat dari belakang rumah mereka?” Ujar Ibu Lilis sedikit khawatir. Ia teringat luka di tubuh anak-anak penghuni rumah itu waktu mandi di sungai.


“Baik, Ibu sama saya ke belakang rumah. Kalau Bapak dan Ibu Dian bisa tunggu saja dulu di sini.” Ucap Pak Husai.


Pak Husai dan Ibu Lilis menuju belakang rumah, kebetulan mereka melihat pintu belakang rumah itu masih terbuka lebar. Tak berpikir panjang lagi, mereka masuk lewat pintu itu. Mereka mendengar keributan, sampai di ruang tengah mereka kaget melihat pemandangan yang ada di sana.


Badrun memegang panci besar, seolah-olah seperti melindungi dirinya. sementara Khalis memegang pisau dapur yang di arahkannya pada Badrun. Sementara Denny mencoba untuk menenangkan Khalis, tapi Khalis bersikeras masih mengarahkan pisau itu pada Badrun sambil menangis.


“APA YANG KALIAN LAKUKAN?!” Teriak Pak Husai seketika, mengagetkan ketiga pemilik rumah itu, sehingga mereka bertiga langsung mengalihkan pandangan mereka pada Pak Husai dan Ibu Lilis.


“Astagfirullah...” pekik Ibu Lilis menutup mulutnya karena kaget melihat pemandangan itu.


“Khalis... Cepat lepaskan benda berbahaya itu!!” Bentak Pak Husai. Karena kaget, Khalis menjatuhkan pisau itu ke lantai.


Ibu Lilis dengan cepat membuka pintu depan rumah agar Pak Anshori dan Ibu Dian yang menunggu di luar masuk ke dalam.


Suasana ribut terjadi di dalam rumah, segala pertanyaan mendarat pada penghuni rumah itu.


“Apa kalian tidak lihat, kalau anak itu mau membunuhku?!” Bentak Badrun kesal. Apalagi beberapa tetangganya masuk ke dalam rumah. Dia khawatir perlakuannya selama ini pada anak-anak itu akan ketahuan sama mereka.


“Semoga saja anak-anak itu tak bicara macam-macam,” batin Badrun sambil menatap tajam ke arah kedua anak itu.


Tatapan Badrun membuat kedua anak-anak itu menunduk ketakutan. Mereka mengerti arti tatapan itu supaya mereka berdua tak sembarangan bicara. Karena konsekuensinya malah semakin parah, kalau menyerang mereka mungkin tak apa. Tapi Badrun kadang menyiksa adik perempuannya yang saat itu tidak ada di sana. Jadi kedua anak itu hanya diam sambil menundukkan wajahnya.


“Jawablah, Nak. Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa Khalis sampai mengarahkan pisau itu pada Ayah kalian?” Tanya pak Anshori dengan nada serendah mungkin agar kedua anak itu mau bicara.


“Dia bukan Ayah kami,” lirih Deny pelan.


“Iya, saya tau kalau dia bukan ayah kandung kalian. Tapi sekarang dia adalah suami ibu kalian. Jadi sekarang statusnya jadi Ayah kalian, kan?” Ujar pak Anshori.


“Dia menyiksa kami, pak! Hiks...hiks...” ucap Khalis sambil sesenggukan menangis. Dia ingin membongkar semua kelakuan ayah tirinya itu pada tetangga mereka.


Semua tetangga itu saling bertatapan, terlihat wajah mereka seperti tak percaya. Tapi tidak dengan Ibu Lilis, ia percaya dengan ucapan Khalis karena sudah melihat beberapa luka mereka waktu mandi di sungai.


“Apa benar itu Badrun?!” Pak Husai menatap Badrun sambil mengernyitkan kedua alisnya.


Badrun membuang mukanya, ia tak ingin di tatap oleh tetangga. Pandangannya teralih pada dua anak-anak itu yang tak ingin menatapnya.


“Cih! Bocah-bocah si*l*n!” Geram Badrun.


“Aku tidak menyiksanya! Yang mereka bilang itu bohong! Kalian lihat sendirikan kalau anak itu tadi mengancamku dengan pisau!” ujar Badrun. Lalu nadanya melemah karena tiba-tiba ia melihat istrinya datang tanpa sepengetahuan yang lain.


“Apaa?!” gumam Denny terkejut dengan ucapan Badrun.


“KAMI TIDAK PERNAH...”


“DIAM!!” Bentak Aminah memotong teriakan anaknya.


Semua orang menoleh ke arah Aminah, mereka terkejut karena Aminah ternyata sudah datang.


“Lanjutkan Run. Ceritakan semuanya! Apa yang terjadi saat aku tidak ada di rumah?!” Lanjut Aminah lagi. Wajahnya terlihat sangat marah sekaligus malu, karena rumah tangganya di campuri orang lain.


“Baiklah, akan aku ceritakan, selagi kamu tidak ada di rumah. Anak-anakmu ini menghinaku, gendutlah, pendeklah, orang cacatlah. Sebenarnya aku sudah lama mendengarnya ketika aku pertama kali masuk ke keluarga ini, tapi aku tetap bersabar. Karena aku mencintaimu Aminah, jadi aku coba untuk tetap bersabar.”


“Tapi lama kelamaan aku juga tak tahan lagi. Aku juga manusia yang memiliki perasaan, jadi aku marah sama mereka. Tapi mereka tak terima karena aku memarahi mereka. Lalu mereka memukuliku, bahkan adik mereka menggigit kakiku. Lihat kakiku masih sakit bekas gigitan adik perempuan mereka. Bahkan Pak Husai dan Ibu Lilis, kalian lihat sendiri kan kalau anak itu mengancamku dengan pisau.” Ucap Badrun sambil memperlihatkan luka di kakinya dan menatap ke arah pak Husai dan Ibu Lilis.


Pak Husai dan Ibu Lilis hanya bisa diam. Aminah yang melihat mereka yang terdiam mengartikan bahwa ucapan dari suaminya benar.


“Siapa yang mengancammu dengan pisau?” ucap Aminah.


“Kamu tak perlu tahu. Tapi sudahlah, tak perlu di besar-besarkan lagi. Kamu tahu kan, aku sangat mencintaimu. Aku bahkan mau menikahimu yang sudah punya anak empat. Jadi, mereka juga anak-anakku kan?!” ucap Badrun sambil tersenyum pada Aminah. Aminah jadi tersentuh dengan kata-kata Badrun.


“Ya, memang benar. Setelah aku di tinggalkan suamiku, aku mengurus anak-anak dan rumah sendirian. Tak ada yang membantuku, setelah dia datang aku merasa terbantu sekali. Malah dia rela menikahiku yang seorang janda beranak empat ini. Dia juga membantu pekerjaan rumah, aku sangat bersyukur punya suami seperti dia walau dia memang cacat. Tapi perlakuannya sangat baik padaku.” Batin Aminah.


Denny sangat geram mendengar ucapan Badrun yang menggoda ibunya.


“TIDAK! DIA BOHONG! DIALAH YANG DULUAN MEMUKULI KAMI...” teriakan Denny terhenti karena sebuah tamparan keras mendarat di pipinya.


PLAKK!!


Aminah menampar Denny, dia menatap tajam ke arah anaknya. Denny meringis kesakitan sambil menyentuh bekas tamparan ibunya.


“Aminah, kamu tak perlu seperti itu!” ucap Ibu Lilis langsung menghampiri Denny. Ia berjongkok untuk menyetarakan tingginya dengan Denny.


“Kamu tak apa-apa nak?” tanya Ibu Lilis khawatir.


Denny tak menjawab, wajahnya masih tertunduk sambil memegang pipinya. Ia tak menyangka kalau ibunya bisa menamparnya dengan sekeras itu. Rasa sakit tamparan di wajahnya itu seolah-olah meresap ke dalam hatinya. Sangat sakit, bahkan rasa sakitnya melebihi pukulan yang ia terima dari Badrun selama ini.


“Dia terlalu berani sama orang tua! Jadi aku harus memberinya pelajaran!” bentak Aminah. Badrun menyunggingkan senyumnya penuh kepuasan karena telah di bela sama istrinya.


“Bahkan adiknya saja sudah berani mengancam Ayahnya dengan pisau! Mau jadi apa kalian? Mau jadi penjahat, hah?!” bentak Aminah lagi, ia memungut pisau dapur yang ada di lantai, lalu menaruhnya di atas meja yang ada di ruangan itu.


Lagi-lagi ucapan ibunya membuat Denny dan Khalis bungkam. Mereka berdua tak berani menatap ibunya yang sedang marah, apalagi menjawab perkataan ibunya.


“Lalu, adik kalian mana? Kenapa tidak ada di rumah?” tanya Aminah pada kedua anaknya.


“Eh?! Dia keluar lewat pintu belakang. Aku pikir Reina keluar memanggil Ibu Lilis dan yang lain.” Lirih Denny.


“Memanggil” gumam Aminah.


“Tapi kami tak melihat Reina memanggil kami,” ucap Ibu Lilis cepat.


“Apa?!” Denny kaget.


“Lalu dia kemana?!” batin Denny khawatir dengan adiknya.


“Hei, jangan sampai dia masuk hutan lagi. Bahaya! Aku dengar ada anak di kampung sebelah kehilangan anak-anak di dekat hutan. Sepertinya ‘Ngayau’ juga berkeliaran sekitar hutan di dekat sini. Kalau Reina sendirian ke hutan...” ucapan pak Husai terhenti karena melihat kedatangan Reina lewat pintu belakang rumah.


“Kak Denny...” panggil Reina.


Denny melihat kedatangan Reina, ia langsung memeluknya.


“Dari mana saja kamu?” tanya Denny setelah melepas pelukannya.


“Kata kakak tadi Reina harus lari kan? Jadi Rei terus lari ke dalam hutan...” Reina belum selesai bicara, pak Husai lalu memotong ucapannya.


“Apa?! Kenapa kamu lari ke sana? Lalu apa yang sebenarnya membuat kakakmu menyuruhmu lari?”


Reina tak langsung menjawab, di wajahnya tampak sekali ketakutan menjawab pada pak Husai, apalagi ada tetangga lain yang ada di rumah itu.


Reina sedikit melirik ke arah Badrun.


Degg... Reina kaget melihat wajah Badrun yang matanya melotot ke arahnya. Apalagi di belakang tubuhnya ada sosok merah yang juga ikut melotot ke arahnya. Kakinya mundur ke belakang, membuat orang-orang di ruangan itu kebingungan melihat tingkah Reina.


“Jangan takut!” Ucap Deemon tiba-tiba muncul di belakang Reina.


Reina mengangguk.


“TERNYATA KAU DALANGNYA YA MAMMON?!!” tubuh Deemon membesar di ruangan itu. Ia bersiap mau menyerang sosok merah yang ada di belakang Ayah tiri Reina. Sosok merah itu juga ikut membesar menyamakan besarnya seperti Deemon.


“Mammon?” gumam Reina sambil melihat ke langit-langit ruangan itu.


“HEH?! TERNYATA DUGAANKU BENAR. KALAU ANAK ITU BISA MELIHATKU!" Mammon juga ikut membesar menyetarakan bentuknya seperti Deemon.


"Bahkan aku juga merasakan auramu ada di tubuhnya. Tuan Lucifer... Oh atau boleh kupanggil Ayah?! Hahaha!!” Tawa Mammon memenuhi ruangan itu yang hanya di dengar oleh Reina.


Sementara semua yang ada di ruangan itu masih melihat keanehan Reina yang melihat ke atas seperti melihat sesuatu. Bahkan Reina beberapa kali di panggil tak menjawab. Matanya tetap fokus pada kedua makhluk besar yang memenuhi ruangan itu.


.


.


.


Bersambung.


.


Jangan lupa tinggalkan jejak kalian dengan kasih like, vote, rate dan komentarnya ya kak😘😘