
Jangan lupa untuk tap Like dan Ratenya Readers...
.
◉‿◉ selamat membaca ◉‿◉
“Bagaimana, Rein? Apa kamu ketemu sama hantu miskin itu?” Tanya Aida dengan bersemangat pada saat jam istirahat tiba.
“Iya! Aku ketemu lagi sama hantu miskin itu. Lalu aku bilang aku tak punya uang! Padahal aku menaruh uang di bawah bantal supaya dia tak mencurinya hehe” jawab Reina bersemangat.
“Terus, apa dia marah?” Tanya Sari penasaran.
“Sepertinya dia marah, soalnya dia berteriak tapi dia juga tertawa."
“Hah?! Kenapa dia tertawa?” Tanya Aida semakin penasaran.
“Aku juga tidak tahu, waktu dia tertawa giginya terlihat sangat tajam dan panjang-panjang,” ucap Reina dengan wajah yang nampak ketakutan.
“Kamu tak takut sama hantu itu?” tanya Sari.
“Takut sih, tapi...” Reina tak melanjutkan kata-katanya dia tampak berpikir keras untuk menjawab pertanyaan temannya.
“Ada apa?” tanya Aida.
Reina menggelengkan kepalanya, dia tak mungkin menjawab kalau dia lebih takut sama Ayah tirinya dari pada hantu itu. Dia pasti di anggap aneh sama teman-temannya, begitu pikir Reina.
“Kalau kalian, apa pernah lihat hantu?” tanya Reina.
“Aku pernah lihat di TV,” jawab Sari spontan.
“Itu sama saja kamu gak pernah lihat.” ucap Aida mengernyitkan kedua alisnya pada Sari.
Sari hanya tertawa melihat temannya.
“Aku juga belum pernah lihat, tapi aku bisa merasakan keberadaan mereka," ucap Aida dengan antusiasnya.
“Eh, bagaimana kamu merasakannya?” tanya Reina.
“Kata nenekku, kalau kita merasa merinding, itu artinya ada hantu di dekat kita. Jadi kita harus pergi dari tempat itu,” jelas Aida.
“Hmm...tapi kemarin malam, saat aku bertemu si Hitam itu, kenapa aku tak merinding ya?” batin Reina terheran-heran.
“Oh, kalau itu aku juga pernah merasakannya. Jadi begitu, kalau begitu aku juga bisa merasakan keberadaan mereka kan?” kata Sari bersemangat.
“Benar, Ri. Tapi aku tidak mau ketemu sama mereka. Aku takut.”
“Tapi Rei, apa kamu takut ketemu makhluk hitam di kamarmu?” tanya Aida penasaran, begitu juga dengan Sari.
“I...iya aku juga takut sih,”
“T**api aku lebih takut sama Ayah tiriku,” batin Reina.
“Sudah, ah. Kita ke kelas yuk. Aku jadi merinding nih,” Sari sambil menggosok-gosok kedua lengannya secara bersilang.
“Benar, katanya sih kalau ada yang membicarakan mereka, mereka juga ikut menguping loh. Hihihi...” ucap Aida menakut-nakuti Sari.
“Hiiiiii!!!” teriak Sari langsung berlari ke kelas.
“Hahahaha” Aida tertawa melihat Sari yang langsung pergi meninggalkan mereka.
“Mana ada hantu muncul di siang-siang begini” kata Aida sambil tertawa.
Reina menatap Aida yang masih tertawa.
“Ai... Kamu percaya dengan ceritaku tentang hantu hitam?”
“hm? Jadi kamu cerita bohong?”
“Bu, bukan... Aku cerita yang sebenarnya kok. Tapi ketika aku cerita sama ibuku, beliau tidak percaya dengan kata-kataku."
“Mungkin ibumu belum ketemu sama hantu miskin itu."
“Iya sih..."
“Ya sudah, kita kembali ke kelas yuk."
Reina hanya mengangguk, lalu mereka berdua berjalan menuju kelas mereka.
.
🌚🌚🌚
.
Waktu menunjukkan jam 11.00 siang. Semua murid-murid kelas satu di perbolehkan pulang.
“Rein! Nanti ceritakan lagi ya kalau kamu ketemu hantunya” ucap Aida sambil menepuk pundak Reina.
Reina mengangguk sambil tersenyum pada sahabatnya itu.
.
Dengan langkah berat Reina berjalan menuju rumah. Dia sebenarnya tak mau cepat-cepat pulang ke rumah, dia lebih betah di sekolah karena bisa bertemu dan bermain dengan teman-temannya.
Krieet...
Reina membuka pintu dengan pelan, ia lalu mengendap-endap menuju kamar. Ketika Reina tiba di depan kamar, langkahnya terhenti karena Badrun menyadari kedatangannya.
“Hei! Setelah ganti baju, jaga Putri di ayunan ya!” perintah Badrun.
Dengan terpaksa Reina mengiyakan perintah Badrun. Dengan cepat Reina mengganti baju seragam sekolahnya dengan baju harian. Tak lupa ia mengambil buku dan pensil untuk sambil belajar selama menjaga adiknya yang tidur dalam ayunan.
SRAKK!!
Badrun menendang buku Reina.
“Ngapain kamu?! Nih lipat baju-baju ini! Sok-sok an belajar, toh tetap aja bodoh!” bentak Badrun.
Reina hanya diam, ia lalu mengambil bukunya, dan menaruh di pinggir lantai. Kemudian ia melipat baju-baju yang sudah kering, termasuk baju Badrun.
Usai melipat semua baju yang kering, tak terasa perut Reina mulai terasa lapar, ia lihat Badrun sedang tertidur dengan pulas. Adiknya yang di dalam ayunan juga tidur dengan nyenyak.
Reina pergi menuju dapur dan membuka tudung nasi di atas meja. Terlihat ada beberapa ikan sungai yang sudah matang. Tak berpikir lama lagi, Reina mengambil piring dan nasi sedikit lalu menikmati makan siangnya di lantai dapur dengan mengambil dua ikan kecil di dalam tudung nasi itu.
PRANGG!!
Badrun menendang piring yang ada di hadapan Reina nasi dan ikan di piring itu jadi tercampur dengan pecahan kaca piring. Reina kaget, kedatangan Badrun yang datang tiba-tiba itu. Wajahnya sangat ketakutan melihat Badrun yang tampak sekali melihat dirinya.
“DASAR PENCURI!! LAUK INI BUAT MAKAN SIANG! INI BELUM SAATNYA MAKAN SIANG! KAMU BERANI MENDAHULUIKU MAKAN SIANG, HAH?!” Bentak Badrun penuh emosi.
Reina menunduk, dia tak berani menatap Badrun saat marah.
“Karena kamu sudah makan siang duluan, jadi tak ada jatah makan siangmu hari ini!” gertak Badrun lagi.
“Bersihkan itu!”
Reina lalu membersihkan pecahan piring bekas di tendang Badrun. Dia jdi teringat ketika ia tak sengaja memecahkan gelas, Badrun menyalahkan kakaknya. Tak terasa air matanya menetes teringat kejadian itu. Dengan cepat ia menyeka air matanya.
.
🌚🌚🌚
Matahari semakin meninggi, waktu azan zuhur sudah berkumandang, Aminah dan kedua anak laki-lakinya datang.
Denny dan Khalis langsung ke kamar untuk mengganti baju. Mereka melihat adiknya sedang duduk di pojok kamar dengan kepala menunduk dan sambil memeluk kedua lututnya.
“Kenapa?” tanya Denny.
“Reina tidak di bolehkan makan siang, hiks...hiks..” ucap Reina sangat pelan.
Denny menghampiri Reina dan menepuk rambutnya.
“Sudah... Tak apa, nanti jatah kakak buat Reina.”
“Tapi, buat kak Denny bagaimana?”
“Kakak masih kuat kok”
“Ka...kalau begitu kita makan setengah-setengah bagaimana, kak?” tanya Reina.
“Wah, adikku pinter juga. Baiklah” sahut Denny sambil tersenyum.
“Bagianku juga bisa di bagikan untuk kita bertiga,” sahut Khalis yang dari tadi hanya mendengarkan.
“Wah, ada apa nih? Tumben kamu mau berbagi makan siangmu?” tanya Denny sedikit meledek sambil tersenyum.
“Aku hanya berbagi karena aku rasa dengan jatah kak Denny masih tak cukup untuk kalian berdua kenyang” sahut Khalis sambil memalingkan wajahnya.
Reina tersenyum melihat tingkah Khalis, begitu juga dengan Denny.
Peraturan di rumah itu, kalau makan di batasi, hanya boleh mengambil jatah makan sepiring nasi dan sedikit ikan dan sayur. Tidak boleh tambah nasi, karena menurut Badrun itu pemborosan. Peraturan itu di buat oleh Badrun dan hanya berlaku untuk ketiga bersaudara itu. Tentu saja Aminah tidak mengetahui peraturan yang di buat suaminya.
Denny dan Khalis sengaja mendahulukan Ibu dan Ayah tirinya makan siang. Setelah mereka selesai makan siang dan kembali ke kamar, barulah mereka bertiga ke dapur untuk makan. Seperti biasa, jatah mereka sudah siap di atas meja, jadi tak boleh menambah makanan lagi di atas piring mereka.
Setelah usai makan siang, mereka sholat zuhur di kamar.
Ketika mereka mau istirahat dengan tiduran di atas ranjang. Badrun datang ke kamar merrka dengan memperlihatkan wajahnya yang garang.
“Ayo, kalian berdua jangan malas-malasan! Kalau mau hidup, kalian harus bekerja!” bentak Badrun.
“kamu tak bekerja tapi kamu masih hidup tuh,” jawab Denny, tentu saja dia menjawabnya dalam hati. Dia tak mungkin langsung menjawab perkataan Badrun, karena itu hanya menambah masalah untuk dirinya dan kedua adiknya.
Denny keluar kamar ia melihat sebuah termos yang berisi penuh es lilin, serta sebuah nampan yang berisi gorengan dan kue.
“Kamu bawa termos esnya saja ya. Biar aku yang bawa nampan kue itu” ucap Denny pada Khalis.
“Baiklah,” jawab Khalis tak bersemangat untuk berjualan.
Mereka berdua lalu keluar rumah, tampak Badrun menyeringai melihat kedua kakak beradik itu pergi dengan jualan mereka.
“Apa tak apa mereka di suruh berjualan?” tanya Aminah tiba-tiba.
“Memangnya kenapa? Kita harus berusaha mendapatkan uang lebih kan untuk segera pindah dari sini. Apa kamu mau tinggal terlalu lama di sini jauh dari keluargamu?” ucap Badrun.
“Ya, tidak mau sih. Tapi mereka kan masih kecil untuk jualan keliling kampung, aku jadi tak enak nanti di gosipin tetangga karena menyuruh mereka jualan."
“Biarkan mereka bergosip. Kamu dengarkan saja mereka, toh ini kan kehidupan kita, mereka tak perlu ikut campur”.
Aminah hanya menghela napas, dia menuruti perkataan suaminya.
.
.
Bersambung...