The Story Of REINA

The Story Of REINA
BAB 6 Perintah Jadi Penjual Kue



Sebelum baca, jangan lupa tap Like dan Ratenya ya kak ☺️


Reina dan kedua kakaknya sudah siap dengan seragam sekolah mereka. Setelah makan pagi, mereka langsung berpamitan sama ibunya untuk berangkat ke sekolah.


Walau jarak sekolahnya hampir di depan rumah mereka, mereka sengaja untuk pergi setelah mereka sudah siap. Karena mereka tak betah terlalu lama tinggal di rumah. Di sekolah lah mereka bisa menikmati kebebasan. Tanpa ada siksaan, dan bisa bermain sepuasnya dengan teman-teman seusia mereka.


Wajah mereka di sekolah memang selalu ceria, namun keceriaan di wajahnya akan hilang setelah pulang ke rumah.


🌚🌚🌚


Ketika jam istirahat tiba, semua murid SD itu bermain di halaman sekolah. Reina duduk di teras sekolah sambil menatap kedua kakaknya yang bermain dengan teman-teman mereka.


“Reina, kamu gak jajan?” sapa teman sekelas Reina, namanya Aida. Ia duduk di samping Reina sambil membawa camilan. Aida merupakan teman akrab Reina dan dia anak yang sangat pintar karena mendapatkan rangking pertama.


“Tidak... Aku gak punya uang,” sahut Reina sambil menyandarkan kepalanya di tiang.


“Kenapa? Kamu lupa minta uang jajan?” tanya teman Reina yang lain, namanya Sari. Ia duduk di samping Aida. Sari juga teman akrab Reina, ia menduduki rangking ke dua. Entah kenapa ketika pengumuman rangking, mereka bertiga jadi akrab.


Reina hanya menggelengkan kepalanya.


“ya, sudah... Kamu mau?” Aida menawarkan camilannya.


“Boleh!” sahut Reina spontan.


“Tadi malam aku nonton film horor loh, gara-gara nonton film itu, aku jadi takut ke toilet. Untung mama mau menemaniku,” ucap Aida membuka obrolan.


“Gimana ceritanya? Hantunya serem gak?” tanya Sari penasaran.


“Seremlah! Makanya aku takut ke toilet sendirian."


“Hm..? Memangnya hantunya seperti apa?” tanya Reina penasaran.


“Namanya pocong! Kamu tahukan? Yang berbungkus kain putih, lalu wajahnya hitam!” jawab Aida dengan wajahnya sambil menakut-nakuti kedua temannya.


“Hiiii....aku jadi takuut!!" pekik Sari.


“Oh, iya...tadi malam aku ada lihat sesuatu yang hitam. Tapi tidak berbungkus kain putih.” ucap Reina dengan tenang.


“Eh? Hantu apa itu?” tanya Sari.


“Aku juga tidak tahu, kepalanya hitam tapi matanya putih, lalu dia juga punya tanduk yang panjang dan runcing."


“Hmm... Jangan-jangan itu hantu sapi." ucap Aida menduga-duga.


“Hantu sapi?” Tanya Sari heran.


“Iya, iya...aku juga menduganya seperti itu.” Reina.


“Apa dia seram?” Tanya Aida lagi bersemangat mendengar cerita hantu.


“Hmm... Entahlah, soalnya aku kaget ketika dia tiba-tiba muncul. Jadi aku tak sengaja berteriak, lalu dia hilang," kata Reina menjelaskan.


“Jangan-jangan hantunya takut sama kamu” kata Sari.


“Mana mungkin hantu takut sama manusia." sanggah Aida.


“Aku tahu, kata kamu tadikan wajahnya juga hitam lalu matanya putih. Dia itu hantu miskin!” kata Aida dengan lantang.


“hlHah? Hantu miskin?” tanya Reina heran.


“Benar! Dia mirip hantu pocong yang aku lihat di film tadi malam. Wajahnya juga hitam, matanya juga putih. Tapi dia tak pakai kain putih, itu artinya dia miskin karena tidak bisa membeli kain putih,” ucap Aida dengan percaya diri.


“Kalian berhenti cerita hantunya dong...aku jadi takuut...” ucap Sari.


“Yeeyyy ..dasar penakut, kalau gak mau dengar, kamu bisa saja ke kelas duluan," Aida.


“Tapi aku penasaran...”


“Ya sudah, kamu diam dan dengarkan saja” ucap Aida.


“Terus, kalau dia datang lagi, bagaimana?” tanya Reina.


“Tentu saja, kamu tak boleh memberinya uang seperserpun! Dia datang mau mengemis sama kamu buat beli kain putih! Kalau kamu beri dia uang, nanti dia akan datang terus sama kamu,” kata Aida percaya diri.


“Wah, kamu benar juga Ai... Rei... Kamu harus ikuti saran Aida,” sahut Sari.


“Baiklah, lagi pula aku juga butuh uang buat jajan. Aku tak akan kasih dia uang.” sahut Reina.


.


.


🌚🌚🌚


Malam harinya, keluarga Reina sedang menikmati makan malam. Tak ada suara dari mulut, hanya suara dari peralatan makan yang berbunyi.


“Jadi, kalian berdua setelah pulang sekolah. Kalian harus jualan kue, paham!” ucap Badrun membuka obrolan.


“Eh, apa?!” batin Denny.


“Lalu, kami istirahat kapan? Soalnya jam 3 sore kan kami belajar mengaji,” sahut Denny.


BRAKK!!


“KAMU INI BISANYA MENJAWAB TERUS DENGAN PERKATAANKU!!” bentak Badrun.


“Sudah... Kenapa kamu berteriak begitu,” ucap Aminah menenangkan suaminya.


Badrun kembali duduk karena di tegur istrinya.


“Jadi begini... Nanti sepulang sekolah ibu bikin kue, lalu kuenya kalian jual keliling kampung. Sebenarnya bisa sih kuenya di titipkan di warung ibu Dian, tapi kan ibu Dian juga jualan kue, pasti kue buatan ibu bakal kurang laku,” ucap Aminah.


“Lalu Ayahmu menyarankan kalau lebih baik kalian yang menjualnya keliling kampung, biar cepat laris” sambung Aminah lagi menjelaskan.


“Hah?! Ayah? Dia bukan Ayah kami” geram Denny dalam hati.


“Kalian dapat upahnya kok. Upahnya sesuai hasil dari jualan kalian. Lumayan kan buat jajan kalian” kata Badrun sambil nyengir.


Denny hanya diam, dia tak peduli dengan upah. Dia menatap kedua adiknya yang masih kurang paham percakapan dari Badrun dan Ibunya.


“S**eandainya aku sudah dewasa, aku akan membawa mereka pergi dari rumah ini," batin Denny.


.


.


🌚🌚🌚


“Kak Denny, kita beneran akan jualan setelah pulang sekolah?” tanya Khalis saat mereka bertiga sudah di kamar.


“Iya," jawab Denny dengan lemah.


“lalu, aku tak bisa tidur siang deh,” kata Khalis dengan lemah.


Denny menghela nafas, “Khalis, kamu kan sudah besar. Ngapain kamu tidur siang. Kamu itu laki-laki, jadi jangan lemah ya, hanya karena kita jualan," ucap Denny.


“Lagipula kalau jualannya banyak laku, kita dapat upah. Kan bisa uangnya beli mainanmu,” sambung Denny.


Khalis tertunduk lesu, ia lalu menatap Reina yang sedang tengkurap sambil menggambar sesuatu.


“Enak sekali dia tak di suruh jualan.” gumam Khalis.


“Khalis, dia masih kecil, lalu dia juga anak perempuan, pasti dia sangat lemah untuk ikut jualan.” sahut Denny.


Khalis tak menjawab, perasaannya kesal. Dia tak mau jualan keliling kampung, apalagi ketika pulang sekolah, pasti panas sekali.


“Kamu gambar apa sih?” Khalis menarik buku gambar Reina secara paksa.


“Kak Khalis, kembalikan!” geram Reina tak bisa berteriak. Kalau dia berteriak, nanti Badrun akan datang untuk memukulnya.


Khalis melihat gambar Reina, “Apa nih? Jelek. Kenapa semuanya hitam? Lalu apa ini? tanduk?” Tanya Khalis heran.


“Itu belum selesai. Itu gambar orang yang Reina lihat tadi malam.”


“Tak seperti orang, malah terlihat seperti binatang. Dia kan punya tanduk," sahut Khalis.


“Bukankah tadi malam kamu bilangnya lihat sapi?” sambung Khalis.


“Oh, itu ternyata bukan. Kata teman Reina di sekolah itu hantu miskin.” ucap Reina dengan wajah polosnya.


“Hihihihi... Hantu miskin?! Ahaha.” Khalis tertawa sambil menahan perutnya.


“Mana ada Rei hantu itu yang miskin, hahaha." kata Khalis masih mentertawakan Reina.


Denny tersenyum melihat kedua adiknya yang jadi akrab, lalu ia melanjutkan belajarnya.


.


.


Usai belajar, Denny menyuruh adik-adiknya untuk tidur, tak lupa ia menyuruh keduanya sebelum tidur untuk membaca doa.


Reina bangun dari ranjang, ia menuju lemari dan mengambil sesuatu di tasnya.


“Hm? Apa yang kamu ambil?” tanya Denny heran.


“Uangku. Aku mau menyimpannya sendiri. Nanti hilang di ambil hantu miskin." ucap Reina.


Mendengar hal itu, Khalis kembali cekikikan mentertawakan Reina.


“Yang ada uangnya aku yang ngambil,” bisik Khalis.


“Tak boleh!” bentak Reina dengan pelan.


“Sudah... Sudah... Reina, tak ada yang mencuri uangmu, ayo tidur," ucap Denny sambil berbaring dan menutupi dirinya dengan selimut.


Reina mengangguk, lalu dia menaruh uangnya di bawah bantal. Ya, uang itu tak seberapa sih.. hanya uang pecahan 100 perak, 5 biji. Itu pun di kasih kakaknya, Denny.


Reina kemudian berbaring dan menghadap tembok kamar sambil memeluk gulingnya untuk tidur.


.


.


Bersambung...