
Readers... Jangan lupa untuk tap Like dan Rate nya ya...
🌚Selamat Membaca🌚
Siang itu Reina masih tertidur di potongan pohon. Angin berhembus pelan itu membuat Reina tertidur nyenyak.
“Hei, bocah! Bangun!"
Reina mengernyitkan matanya karena mendengar sesuatu, ia lalu bangun dan duduk. Matanya masih berat untuk membuka mata, ia menoleh ke kiri dan kanan mencari seseorang yang telah membangunkan tidur siangnya. Namun tak ada siapa-siapa, tapi setelah ia menoleh ke belakang. Alangkah kagetnya dia, dia melihat sosok hitam besar, tinggi dan mempunyai tanduk yang runcing. Ya, sosok itu pernah ia lihat waktu di kamarnya.
“AAAAHHHH... KAMUU!!” Teriak Reina sambil menunjuk sosok hitam itu.
Sosok hitam itu tak menanggapi teriakan Reina, ia hanya diam mematung berdiri menghadap Reina.
“Hantu miskin?!” lanjut Reina lagi.
“AKU BUKAN HANTU MISKIN!!” Bentak sosok hitam itu dengan suara yang menggelegar, membuat suasana dalam hutan itu menjadi ribut. Burung-burung beterbangan dan angin menjadi berhembus kencang.
Reina terdiam mendengar teriakan sosok hitam itu dan menatapnya cukup lama. Begitu pula dengan sosok hitam itu menatap Reina.
.
.
“Lalu kamu siapa?” tanya Reina dengan polos tanpa ada rasa takut.
Sosok hitam itu tak langsung menjawab, ia menatap Reina dengan matanya yang tajam.
“Kenapa kamu tak takut padaku? Waktu di kamarmu juga kamu langsung tak lari."
Reina terdiam dan menundukkan wajahnya.
“Kalau aku lari dari bawah ranjang itu, nanti aku kena pukul. Aku takut, hiks...hiks..” isak Reina mulai menangis.
Sosok hitam itu masih berdiri di dekat Reina, dia membiarkan anak itu menangis sampai tangisannya reda.
“Jadi kamu lebih takut sama sesamamu dari pada aku?!” geram sosok hitam itu bertanya pada Reina.
Reina menatap sosok hitam itu, lalu ia menjawab.
“Kenapa aku harus takut padamu? Kamu tak pernah memukulku, kamu memang seram. Tapi lebih seram Ayah tiriku, dia bisa memukuliku, hiks...hikss...” isak Reina lagi.
Sosok hitam itu mendekati Reina lebih dekat lagi lalu ia mengusap kedua mata Reina yang masih mengeluarkan air matanya.
“Hentikan tangisan bodohmu, bocah!”
Reina terdiam, namun matanya masih sembab bekas menangis.
“Namaku Reina, kalau kamu siapa?”
Sosok hitam itu menatap wajah Reina.
"Kenapa kamu mau tahu namaku?! Aku tak punya nama, itu tak penting bagiku”.
“Ya sudah, aku panggil kamu si hitam saja deh, hehe” ucap Reina sambil tertawa kecil.
“Hah?! Berani sekali kau memanggilku dengan nama seperti itu! Bahkan kau berani menertawakanku!”
“Lalu aku panggil kamu siapa, kakak?”
“Aku bukan kakakmu!”
“Kalau begitu paman?”
“Jangan panggil aku paman!!”
“Lalu siapa lagi? Masa aku memanggilmu kakek?”
“Bocah sialan ini! Kamu mau menantangku, hah?! Kau mau kumakan?!”
Reina terdiam, ia menatap ke wajah makhluk itu dengan wajah polosnya.
“Apa kamu lapar?”
“Ya, sangat lapar... Makanya aku akan memakanmu sekarang juga, hahahaha” tawa makhluk hitam itu dengan sangat nyaring.
“Aku juga sangat lapar...”ucap Reina sambil memegang perutnya.
“Heh?! Aku tak peduli denganmu, tapi kamu sudah tertidur cukup lama disini, tentu saja pasti lapar”
“Eh?! Aku cuma tidur sebentar kok”
“Tidak! Kau sudah lama tertidur, bahkan kau sudah berada di alam lain”
“Hm? Alam lain? Maksudnya alam lain itu apa?”
“Aku tak bisa menjelaskan pada bocah sepertimu. Kamu pasti tidak mengerti."
“Ya, sudah. Aku mau pulang, kakak-kakakku pasti khawatir."
“Tidak semudah itu kau keluar dari sini!”
“Kenapa?”
“Sudahku bilang! Karena kamu sudah berada di alam lain!”
Reina lalu turun dari potongan pohon besar itu, ia berniat untuk pulang.
Brukk!!
Reina terjatuh, dia tak bisa berdiri karena tubuhnya sangat lemah.
“Sudahku bilang kan? Kalau kamu itu sudah lama tertidur di alam lain, jadi tubuhmu melemah karena jiwa dan ragamu berpindah ke dimensi lain. Kalau kau memaksa untuk pulang, maka kau akan mati”.
“Hiks...hiks... Hitam... Tolong aku... Aku mau pulang, hiks...hiks...” ringis Reina menangis di tanah.
“Hah?! Memangnya aku akan mau semudah itu menolongmu, bocah?! Asal kamu tahu! Aku sudah beberapa kali menolongmu tahu!” geram si Hitam.
“Huaaaa....!! Hitam tak mau menolongkuu!” Teriak Reina.
“KENAPA KAU MALAH MENYALAHKANKU?!”
“KAU SENDIRI YANG MASUK KESINI, PADAHAL SUDAH KU PERINGATKAN!!”
“Hiks...hikss...hikss...” Reina masih menangis dengan posisi tiarap di tanah, tubuhnya sangat lemah dan dia tak sanggup berdiri.
“APA MAKSUDMU?! UANG?! DARI KEMARIN JUGA KAU SELALU MEMANGGILKU DENGAN HANTU PENGEMIS, LALU HITAM! APA TAK ADA PANGGILAN LAIN HAH?!” Bentak si Hitam itu.
Reina tak menanggapi teriakan makhluk hitam itu, pandangannya mulai kabur dan akhirnya ia kehilangan kesadaran.
.
.
🌚🌚🌚
.
Siang menjelang sore, meski terik matahari masih tinggi, namun cahayanya tak membuat di dalam hutan itu terasa panas. Karena masih banyak pepohonan yang rimbun menutupi hutan itu. Pak Mulkani, atau biasanya di sapa dengan akrab dengan Pak Mul, ia seorang petani dan juga pencari kayu bakar, ia sering keluar masuk dalam hutan itu.
Sore itu ia memperoleh kayu bakar yang cukup banyak, ia ikat dengan tali karet yang cukup panjang untuk mengikat kayu perolehannya. Kemudian ia mengangkat kayu di bahunya. Ketika ia berjalan menelusuri jalan setapak hutan itu, ia kaget melihat seorang anak kecil tak sadarkan diri di tepi jalan setapak itu. Anak itu tubuhnya terlihat kurus, wajah dan tubuhnya pucat kuning.
“Hei, nak?! Kau tak apa? Hei sadarlah!!” Pak Mul berusaha membangunkan anak itu, namun ia tak bangun juga.
Pak Mul mengarahkan jari ke hidung anak itu.
“Di**a masih bernafas," batin Pak Mul.
Dia lalu membopong anak itu, lalu berusaha lari keluar hutan.
.
.
“TOLOONG!!”
“SIAPA SAJA TOLONG ANAK INI!!” Teriak Pak Mul setelah keluar hutan.
Beberapa warga mendengar teriakan Pak Mul, dengan segera menghampirinya.
“Ada apa toh Pak?” tanya salah seorang warga.
“Ini bu, Saya menemukan anak ini di hutan. Untungnya dia masih bernafas, tapi lihat! Tubuhnya sangat pucat hingga jadi menguning seperti mayat!”
“Astagfirullah... Kenapa anak ini bisa di hutan sendirian? Ayo kita bawa ke rumah dulu”.
Anak kecil itu di bawa ke salah satu rumah warga di kampung itu. Dia lalu di berikan beberapa pengobatan tradisional dan terapi adat di kampung itu.
“Anak ini pasti mau di 'bawa orang'” gumam salah seorang warga. (Maksudnya mau di bawa ke alam lain)
“Benar! Ini kan anaknya Bu Aminah, yang kemarin di cari-cari kan? Tadi apa sudah ada yang mengabari beliau?”
“Sudah, bu. Sepertinya dia dan kedua anak laki-lakinya mau kemari."
“Syukur Alhamdulillah... Kalau anak ini sudah di temukan, kasihan...aku lihat kedua kakaknya sangat terpukul sekali ketika kehilangan adik mereka”.
.
🌚🌚🌚
“REINA!! BANGUN!!” Teriak Denny membangunkan Reina.
“Sabar nak! Dia masih belum siap bangun. Tubuhnya masih lemah, toh dia kan sudah hilang selama hampir tiga hari” ucap Bu Faridah menenangkan Denny.
Aminah hanya mengusap rambut Reina, wajahnya juga menunjukkan kesedihan karena telah kehilangan Reina dalam beberapa hari.
Reina sedikit demi sedikit membuka matanya, dia melihat orang banyak menatapnya. Lalu tatapannya tertuju pada kedua kakak di sampingnya.
“Ka..k.... Rei... Aush....” ucap Reina dengan bibirnya yang bergetar.
“Ya, aku mengerti. Jangan bicara dulu... Lis, tolong ambilkan air minum” Denny menyuruh Khalis.
Khalis mengangguk, dan langsung meminta air minum sama pemilik rumah itu.
Reina di beri minum sedikit demi sedikit oleh kakaknya. Setelah habis ia minum lalu ia di suruh berbaring lagi.
“Par... Reina lapar...” ucap Reina lagi.
“Oh, kamu mau makan? Tunggu sebentar ya Nak, tante ambilkan makan untukmu” ucap salah seorang warga lagi.
Tak lama kemudian, sepiring nasi dan lauknya sudah ada di siapkan warga.
Denny menyuapi Reina dengan sendok sedikit demi sedikit hingga nasi itu habis.
Reina menghela napasnya lega, karena tenaganya sudah kembali.
“Alhamdulillah, Reina sudah kenyang, hehe” ucap Reina sambil tersenyum.
Semua warga yang ada di rumah itu terheran-heran. Dia bisa tertawa dan tak seperti orang sakit, padahal tubuhnya masih pucat kuning.
“Kamu kemana saja Nak?” tanya Aminah dengan wajah cemas.
“Reina ketiduran di belakang rumah bu” ucap Reina santai.
Semua warga lagi-lagi tercengang dengan jawaban Reina.
“Kenapa kamu bisa tidur di belakang rumah? Kamu kan masih punya rumah!” ucap Denny dengan keras karena khawatir.
“Tapi kami sudah mencarimu di belakang rumah, tapi tak ada...” gumam Khalis.
“Tunggu! Kalau dia bilang di belakang rumah, maksudmu, hutan di belakang rumahmu itu?” tanya Pak Mul yang masih kebingungan.
“Iya,” jawab Reina singkat.
Semua warga ribut berbisik-bisik.
"Hei, Pak. Bukannya kamu menemukannya di hutan sebelah? Kenapa arahnya bisa berlawanan dari rumahnya?" gumam beberapa warga.
"Sudahlah, tak perlu di bahas lagi. Toh, dia sudah di temukan dengan selamatkan?" ucap salah seorang warga.
“Reina, lain kali kamu jangan pernah kesana lagi ya,” ucap Denny sambil menepuk kepala Reina.
Reina masih kebingungan, tapi ia hanya menjawab dengan menganggukkan kepalanya.
Bersambung...
🌚🌚🌚