
***Jangan lupa Readers untuk tap Like dan Ratenya.
(. ❛ ᴗ ❛.) Selamat Membaca。◕‿◕***。
Reina mencoba untuk tidur, ia sudah memejamkan matanya, dan bolak balik ke kiri dan ke kanan tak bisa membuatnya tertidur. Ia merasa takut dan was-was kalau makhluk hitam itu datang menemuinya lagi.
Reina bangun dan turun dari ranjang, ia lalu keluar kamar dan menuju dapur. Ia mendapati ibunya yang masih belum tidur dan sedang membuat es lilin.
“Kenapa kamu belum tidur?” tanya Aminah.
“Reina haus,” sahut Reina sambil mengambil gelas dan menuang air ke dalam gelas.
Setelah minum, Reina mau kembali ke kamar. Namun langkahnya terhenti dan berbalik menatap ibunya.
“Ibu kenapa belum tidur?”
“Ibu bikin es nih, buat di jual kakak-kakakmu besok," jawab Ibunya dengan pelan.
“Kenapa kita harus jualan bu?”
“Supaya kita dapat uang.”
“Lalu uangnya untuk apa bu?”
“Buat keperluan kita sehari-hari Reina, seperti beli beras, sayur dan ikan,” jelas ibunya.
Reina terdiam sesaat mendengar jawaban ibunya.
“Dulu kita gak jualan, tapi ibu bisa beli beras, sayur dan ikan...”
Ibunya menghentikan aktivitasnya, lalu menatap Reina.
“Reina, ini sudah malam. Kamu tidurlah, bukankah besok kamu harus sekolah?”
“Reina takut, di kamar ada hantu pengemis”
“hah?! Hantu pengemis? Kamu jangan mengada-ada Reina.”
“Benar, bu. Hantunya hitam, matanya putih, lalu dia punya tanduk juga” sahut Reina dengan wajah polosnya.
“Reina! Siapa yang mengajarin kamu untuk bohong sama Ibu?!” bentak Ibunya tak mempercayai Reina.
“Reina gak bohong. Reina lihat sendiri di kamar ada hantunya, dia muncul di dinding kamar bu.” ucap Reina.
“Kamu lupa baca doa, makanya hantunya datang menemuimu! Makanya sebelum tidur baca doa dulu!” ucap Aminah.
“Reina sudah baca doa, bu!” jawab Reina dengan cepat.
“Reina! Kembali ke kamarmu!” Bentak ibunya lagi.
Wajah Reina jadi terlihat kecewa dan menunduk lesu karena ibunya tak mempercayainya.
“Ada apa ini?” tanya Badrun tiba-tiba datang ke dapur. Matanya menatap tajam ke arah Reina.
Deg, deg, deg.
Debaran jantung Reina berdegup lebih cepat melihat kedatangan Badrun.
“Katanya di kamarnya ada hantu, jadi dia takut tidur di kamar,” sahut Aminah pada suaminya.
“Heh?! Kalau kamu takut tidur di kamar. Kamu tidur saja di tanah!” bentak Badrun.
Reina menunduk, wajahnya jelas sekali ketakutan.
“Kembali ke kamarmu, tidak?! Atau aku pukul?!” bentak Badrun sambil mengancam mau memukul dengan sapu.
Reina ketakutan, ia lalu bergegas ke kamar. Namun dia berhasil di tangkap Badrun dari belakang.
“Huaaa...!!!” Teriak Reina sambil menangis.
“DIAM! Kamu mau membangunkan anakku yang lagi tidur?!” bentak Badrun sambil mencubit di lengan atas Reina dengan keras.
“Sudah, Run. Biarkan dia ke kamar." ucap Aminah.
“Anak ini perlu di kasih pelajaran! Biar dia tak berani sama orang tua!” bentak Badrun.
Setelah cukup lama Badrun mencubit Reina, ia lalu melepaskan cubitannya. Seketika itu kesempatan Reina untuk berlari ke kamar dan masuk ke bawah Ranjang.
Dia menangis, sambil berbaring dan tubuhnya meringkuk seperti udang di lantai yang dingin.
Badrun ke kamar, ia mencari Reina karena masih belum puas menghukumnya.
Tidak menemukan Reina di atas ranjang, ia paham, kalau Reina sedang bersembunyi di suatu tempat.
“Heh! Pasti kamu sembunyi di bawah ranjang lagi kan?!” bentak Badrun sambil berjongkok melihat di bawah ranjang.
Reina menjadi sangat takut, karena Badrun sudah menemukannya. Bahkan Badrun mencoba meriah Reina dengan sapu, tapi Badrun tak bisa menggapainya karena tubuhnya yang pendek dan gemuk. Untuk berjongkok saja dia sebenarnya kesusahan.
“Sialan! Awas saja kalau kau berani keluar dari sana! Akan aku habisi kau!” geram Badrun sambil melemparkan sapu ke bawah ranjang itu.
Untungnya sapu itu tak mengenai Reina. Reina memeluk lututnya dan menundukkan kepalanya di atas lutut sambil menangis sesenggukan.
Setelah Reina merasa aman dari Badrun, ia menegakkan kepalanya.
*DEGG*
Karena di bawah ranjang itu masih remang-remang agak gelap, tapi Reina sangat jelas melihat makhluk itu, karena kedua matanya yang putih.
Reina tak bisa berteriak, dia terdiam sambil menatap makhluk itu. Dia hanya bisa berteriak di dalam hatinya, jantungnya yang berdegup sangat cepat itu membuktikan kalau dia sangat ketakutan.
Suara langkah kaki masuk ke kamar Reina, Reina melihat langkah kaki itu, ya...kaki itu adalah kaki Badrun. Rupanya Badrun menunggu Reina keluar dari bawah ranjang untuk memukulinya, begitu pikir Reina.
Reina memilih diam di bawah ranjang, ia biarkan makhluk itu di dekatnya. Lalu ia berbaring sambil mencoba tidur dengan menutup kedua matanya.
Setelah merasa cukup lama, Reina membuka matanya. Tapi makhluk itu masih ada di dekatnya, tapi kaki Badrun sudah tidak ada lagi di kamar itu. Reina menghela napasnya merasa lega.
Reina kembali menatap makhluk itu, “Kenapa kamu tak pergi?” ucap Reina pelan.
Makhluk itu diam dengan mata putihnya yang melotot pada Reina sambil memamerkan giginya yang tajam.
Reina lalu teringat cerita temannya tentang hantu miskin.
“Aku tak punya uang! Jadi kamu pergilah minta sama yang lain.” ucap Reina lagi.
“APA MAKSUD PERKATAANMU ITU BOCAH?!” kata makhluk hitam itu dengan suara yang sangat nyaring.
Reina kaget mendengar suara keras dari makhluk hitam itu.
“Ssssttttt....Jangan bicara keras-keras! Nanti semua orang pada bangun! Nanti aku di marahi lagi..” kata Reina sambil menempelkan jari telunjuk di bibirnya.
“HAHAHAHA.... RUPANYA KAMU TAK TAKUT DENGANKU?!” ucap makhluk hitam itu lagi dengan suara lantang.
Reina menutup kedua telinganya.
“Pelankan suaramu!” bentak Reina dengan pelan.
“HAH?! BERANI SEKALI KAMU MEMERINTAHKU?!”
“Nanti kakak-kakakku bangun,” ucap Reina dengan menunjukkan wajah emosinya.
Makhluk itu diam, namun masih menunjukkan senyumannya dengan memamerkan gigi-gigi taringnya yang sangat tajam.
“Syukurlah kamu sudah bisa diam," ucap Reina tersenyum.
“BODOH! KAMU KIRA AKU MAU DI PERINTAH OLEHMU, HAH?!”
Reina menutup kedua telinganya lagi.
“SUARAKU SEPERTI INI, TAK ADA YANG BISA MENDENGARNYA”
“AH, KECUALI KAMU SIH...”
“Eh, kenapa?” tanya Reina heran.
Makhluk hitam itu tak menjawab, karena tiba-tiba Denny memanggil Reina.
“Reina, kamu bicara sama siapa? Lagi-lagi kamu sembunyi di bawah ranjang. Ayo naik, lalu cepat tidur," ucap Denny tiba-tiba melihat Reina ke bawah ranjang.
“Ini, Reina lagi bicara sama si hitam, kak” kata Reina menunjuk ke arah makhluk itu, namun saat Reina menoleh, makhluk itu sudah tak ada lagi di hadapannya.
“Reina, kamu mengigau ya? Ayo naik ke ranjang."
“Tapi, nanti Reina akan di pukul sama laki-laki itu."
“Tidak Rei, dia sudah tidur. Ayo cepat naik, di sana nanti kamu akan masuk angin dan kedinginan,” bujuk Denny lagi.
Dengan terpaksa Reina menuruti perkataan kakaknya, ia naik ke ranjang dan membuka bantalnya yang di bawahnya ada uang recehan 500 rupiah.
“Eh, uangnya masih ada. Itu artinya si hitam itu belum mengambil uangku.” batin Reina.
Reina lalu berbaring, tanpa menunggu lama, akhirnya ia tertidur dengan lelap.
Ketika dia tertidur, makhluk hitam itu muncul lagi di tembok kamar. Ia menatap Reina yang sudah tertidur.
“Hmm... Bocah ini menarik juga” gumam makhluk hitam itu menyeringai, sehingga menampakkan gigi-giginya yang tajam.
🌚🌚🌚
Keesokan paginya, ketika cahaya mentari masih belum menunjukkan cakrawalanya. Seperti biasa Denny membangunkan kedua adiknya lalu sholat subuh.
Setelah sholat subuh, mereka pergi ke sungai untuk mandi dan mencuci pakaian mereka.
.
.
“Ingat, ya! Sepulang sekolah nanti, kalian berdua harus jualan,” kata Badrun mengingatkan ketika ke tiga bersaudara itu sedang menikmati makan pagi. (Bukan sarapan ya, mereka tiap pagi makan nasi).
Denny dan kedua adiknya hanya diam tak menjawab perkataan Badrun.
Sehabis makan, tak lupa mereka mencuci piring bekas makan mereka. Lalu ketiga bersaudara itu langsung berangkat sekolah.
.
.
Bersambung ...