The Rise Of A Princess

The Rise Of A Princess
Part 9 Bertemu dengan pemilik tubuh



"Kalau gitu kamu istirahat sekarang, agar besok tidak lelah."


Yein mengangguk dan berlalu meninggalkanku. Kedua hewan milikku sudah tidur di kasurku. Haah! Tidak tahu sopan santun!


Aku pun tiduran dan lama kelamaan aku tertidur dengan sendirinya.


***


Perlahan aku membuka mata, melihat sekeliling. Dimana aku? Dan tempat apa ini? Sangat indah, bunga-bunga berguguran.


Aku berteriak memanggil nama Yein serta kedua hewan ku, tapi hanya burung yang terdengar berkicau.


Tiba-tiba angin berhembus, ada cahaya putih yang muncul tepat di depanku sangat menyilaukan. Aku menutup mata dengan tanganku.


Angin sudah berhenti berhembus, aku perlahan membuka tanganku dan melihat cahaya yang tadi muncul.


Kulihat ada seorang wanita sedang tersenyum kepadaku, siapa dia? Mengapa mirip denganku?


"Siapa kau?" tanyaku heran.


"Aku Putri Sioa, pemilik tubuh yang kau tempati sekarang," jawabnya.


Putri Sioa? Dia sangat cantik. Itu artinya aku juga cantik dong kalau aku menjadi ramping.


"Kau mengenalku?" tanyaku.


"Tentu saja, kau kan Sioa Gradsi yang dari dunia manusia bukan?"


Dia tahu aku, mengapa bisa ya?


"Kau tahu tentangku? Aku ada dimana? Dan mengapa kau tidak kembali ke tubuhmu?"


Aku menatap bingung kepada Putri Sioa, aku juga penasaran sebenarnya aku dimana?


Dia tersenyum dan berjalan ke arahku, sambil memegang kedua pundak ku.


"Kau tidak perlu tahu kamu ada dimana, aku cuma mau berpesan padamu."


Aku dibuat bingung dengan perkataannya barusan.


"Tolong buat kerajaan Queen menyesal telah mengasingkan aku, dan sadarkan lah kakakku."


"Lalu, kalau aku sudah menyelesaikan masalahmu. Apakah kamu akan kembali ke tubuhmu?"


Dia seperti akan menangis, aku menjadi tidak enak kepadanya.


"Tidak, kau yang akan meneruskan nya. Aku tidak bisa kembali ke tubuhku," ujarnya lirih.


Aku yang meneruskan nya? yang benar saja.


"Kenapa tidak bisa?" tanyaku penasaran.


"Jawabannya, setelah kau berhasil apa yang aku mau." jawabnya.


Dia perlahan terbang ke atas, aku dibuat kaget dan penasaran.


"Hei tunggu! kau mau kemana?"


Aku mengejarnya, sambil berteriak.


Duak!


"AAA!"


Huh! apakah aku bermimpi? Terasa sangat nyata, dan kakiku yang tersandung di dalam mimpi pun masih terasa sakit.


Putri Sioa, aku akan membuat kerajaan Queen menyesal dan membuat Kakakmu sadar.


Yein berlari ke arahku, ia terlihat begitu cemas.


"Putri, apakah anda tidak apa-apa? Tadi saya mendengar anda berteriak," ucapnya dengan wajah cemas.


"Ah tidak, tadi ada tikus."


Jawabku bohong, maaf Yein. Aku tidak mungkin menceritakan mimpiku.


"Benar anda tidak apa-apa?"


Aku mengangguk, lalu tersenyum.


"Kita jadi berangkat kan Yein?"


"Iya, Putri."


"Ya sudah, kau bersiap-siap lah. Aku mau mandi dulu."


Yein mengangguk dan keluar dari kamarku.


Segera aku mandi dan cepat-cepat memakai baju biasa, setelah aku mengikuti pertandingan itu dan memenangkannya aku akan membeli bahan untuk membuat makanan yang enak. Mungkin yang mencicipi nya akan ketagihan.


Bergegas aku menuju ke luar rumah, menunggu Yein yang sedang entah apa.


Para prajurit aku suruh untuk merawat tanamanku ketika aku pergi.


"Maaf saya lama, Putri."


Yein baru keluar, aku menengok.


"Tidak apa-apa Yein, yuk berangkat."


Eh tapi, kedua hewan imut ku dimana ya? Aku baru ingat bahwa mereka sekarang ada urusan.


Berjalan melewati pepohonan dan rumah-rumah penduduk desa, rumahku tidak jauh dari desa. Jadi, lumayan jauh untuk ke Kota sambil berjalan kaki.


"Haah! lelah sekali."


Aku berhenti di sebuah jalan, aku memandangi sekitar. Kalau aku berjalan kaki ke sana, bisa sampai lima jam lebih. Aku harus naik Kereta Kuda, biasanya satu jam sudah sampai.


Aku melihat Yein, dia juga tampak kelelahan. Kasian sekali kau Yein.


Aha! Itu dia ada Kereta Kuda. Segera aku mengajak Yein untuk ikut denganku.


"Tuan, bisakah anda mengantarkan saya ke Kota?" tanyaku penuh harap kepada Tuan pemilik Kereta Kuda.


Dia menatapku lama, ayolah jangan mengulur waktu.


"Baiklah, saya kasih uang 700 perak," ucapku.


Aku menyerahkan kepada nya, dia kaget dan segera mengambil uang yang aku kasih.


"Silahkan Nona, saya akan mengantarkan anda."


Aku tersenyum, lalu menaiki Kereta Kuda ini.


Perjalanan sangat lancar, aku memandangi sekitar dengan penuh penghayatan.


Hingga tiba di tengah perjalanan, tiba-tiba kereta berhenti mendadak.


Aku menengok menatap ke depan, ada para bandit yang sedang menodongkan pisau kepada Tuan pemilik Kereta ini.


Aku tidak tinggal diam, segera aku keluar dan menghampiri mereka.


"Putri--"


"Aku tidak bisa diam saja Yein, aku akan baik-baik saja," ucapku meyakinkan Yein.


Yein tampak begitu khawatir kepadaku, tapi aku mencoba meyakinkan dia.


"Hei perampok jelek! Apa hak mu mengambil barang orang lain?"


Mereka tertawa, menyebalkan sekali. Salah satu dari mereka berjalan mendekatiku, aku tidak takut.


"Kau cantik juga," ucapnya.


Huek! ingin rasanya aku membunuhnya sekarang juga. Dia hendak mencolek hidungku, segera aku menipisnya dan tak butuh waktu lama aku segera menyerangnya.


Krek!


"AAA! sakit! Sakit!" teriak bandit ini yang aku lawan.


Aku membabi buta menyerang mereka, sampai mereka kewalahan melawanku. Mereka ambruk di depanku, lalu aku mengambil kantung yang mereka curi tadi.


Mereka berlarian tak tentu arah, aku menyerahkan kantung itu pada Tuan pemilik Kereta Kuda.


"Te-terima kasih, Nona."


Aku tersenyum dan kembali masuk ke dalam Kereta Kuda, Yein melihatku dengan tatapan entah apa. Aku tidak bisa menebaknya.


"A-apakah Pu-putri baik-baik sa-saja?"


Kereta kembali berjalan.


"Iya tidak apa-apa Yein, memang ada apa?"


Yein menggeleng, lalu kembali terdiam.


"Apakah ini benar-benar Putri Sioa? tapi mengapa berbeda? Dan tadi gerakan apa yang dipakai oleh Putri untuk melawan para bandit itu?"


Yein berpikir, tapi aku bisa membaca pikiran nya itu. Wah menakjubkan sekali kalau begini, untung saja dia tidak menanyakan langsung padaku. Nanti aku dibuat bingung dengan pertanyaannya.


Gerakan yang dimaksud Yein adalah aku melawan para bandit tadi menggunakan silat bela diriku, disini sangat kuno sekali.


Kereta kuda kembali jalan, tidak ada obrolan diantara aku dan Yein.


Hingga akhirnya aku tertidur di dalam kereta kuda ini.


***


"Putri, bangun Putri. Kita sudah sampai." seseorang membangunkan ku, Yein.


Aku mengerjap mata beberapa kali, terdengar suara ramai sekali.


"Apakah kita sudah sampai?" tanyaku menatap Yein.


"Iya Putri," jawabnya.


Aku turun dari Kereta Kuda, diikuti oleh Yein dibelakang ku. Aku menatap sekitar, ramai juga ternyata.


"Tuan, bisakah anda menunggu disini?" Aku berbicara kepada Tuan pemilik Kereta Kuda ini.


"Saya juga ingin melihat pertandingan memasak, Nona. Mari kita ke sana bersama,"


Ajak Tuan itu, kukira dia akan langsung pulang.


kembali lagi sama author nih hihi, akhirnya up lagi, jgn lupa like and komen biar author tambah semangat yah:)