
"Dan jangan lupa bawalah pedang yang tertancap itu, siapa tau kau akan membutuhkannya," ucap kakek Xin setelah itu bergegas pergi.
Setelah itu, kakek Xin terlihat pergi dengan terburu-buru. Entah mengapa kakek Xin hari ini begitu aneh. Ada apa dengannya? Apakah benar dia banyak urusan? Aku sangat ragu untuk mempercayainya. Namun ya sudahlah aku bisa apa selain menuruti ucapan kakek Xin.
Aku melihat kepergian kakek Xin sampai tidak terlihat lagi batang hidungnya. Kemudian aku menengok ke arah Rain yang tepat di sampingku. Rain, dia celingukan menatap ke sana sini membuatku bingung.
"Kau kenapa? Seperti orang yang akan merampok saja," ejekku melihat Rain yang seperti orang aneh.
Rain lantas menghentikan aksinya kemudian menatapku dengan serius, ada apa lagi nih anak? Bikin merinding saja.
"Kau tau kan kalau aku terkena racun perubahan? Nah sebab itu, disisi lain aku telah sembuh dan bisa kembali ke wujud ku semula. Namun racun perubahan itu akan tetap berada di tubuhku, jadi aku bisa mengubah wujud ku kapanpun dan di mana pun." Jelas Rain membuatku terdiam sejenak, memikirkan penjelasannya itu.
"Kata siapa kau bisa begitu? Siapa yang menyembuhkan mu? Kenapa racun itu tidak hilang?" tanyaku sangat penasaran dengan apa yang dialami oleh Rain.
"Kakek Xin telah menyembuhkan ku, kemarin saat kau masih berlatih meditasi, kakek Xin berkata kalau racun perubahan ini tidak bisa dihilangkan. Bisa saja aku mengubah wujud ku kapanpun dan di mana pun itu," jawab Rain sambil menatapku dengan tersenyum.
"Ya setidaknya kau baik-baik saja, Rain. Itu pun sudah membuat ku senang," ucapku sambil mengusap kepalanya.
Bagiku, Rain setidaknya tidak apa-apa pun aku sudah sangat senang. Karena, dia pun sudah banyak membantuku sampai mau mengantarkan aku ke sini.
"Hei mengapa kau mengusap kepalaku? Memangnya aku anak kecil?" Dengkul Rain sambil menepiskan tanganku yang berada di kepalanya.
Aku terkekeh pelan, bagiku dia adalah anak kecil dan aku adalah kakaknya.
"Ya sudah, apa kau siap memulai perjalanan ini?" tanyaku sambil beranjak berdiri dari tempatku duduk, kemudian meregangkan seluruh badan sampai berbunyi.
"Ya tentu saja, Putri."
Aku pun membereskan semua barang-barang, buku yang tadi diberi oleh kakek Xin, ku taruh di dalam tas. Dan tidak lupa juga batu kristal yang sedari tadi ku genggam, aku letakkan di kantung bajuku.
"Apa kau siap, Rain?"
"Ya tentu saja aku siap!"
Aku melangkah penuh semangat dan terus tersenyum, kali ini aku harus berhasil mencapai tujuanku. Aku melangkah menuju pedang yang tertancap kemarin, mengambilnya dan ku taruh ke tempatnya.
Kami pun menyebrangi sungai ajaib ini hingga sampailah di daratan. Kemudian aku mengambil gentong air yang berukuran sedang untuk di isi air sungai ajaib ini. Siapa tau kami kehausan ditengah jalan, jadi kami bisa berjaga-jaga sekarang.
Setelah gentong air tersebut terisi penuh oleh air, aku menaruhnya lagi di tasku yang ku pegang ini.
Kemudian aku menengok ke arah Rain hendak mengajaknya untuk melanjutkan jalan, namun ku lihat Rain telah berubah wujud menjadi kuda seperti biasanya. Aku terbengong melihat Rain yang tiba-tiba berubah wujud, kenapa lagi Rain?
"Mengapa kau bengong begitu? Cepat naik, agar kita cepat sampai ke Goa Pedang," ucap Rain begitu antusias sekali.
Namun aku sangat tidak enak hati jika harus menunggangi Rain, itu sama saja aku digendong olehnya. Lalu aku hanya duduk manis dipunggung Rain? Dan Rain akan kelelahan sendiri jika dia berjalan sendiri.
"Lebih baik kita berjalan bersama-sama, Rain," ucapku menatap Rain.
"Tapi kenapa? Kan kita bisa cepat sampai," ucap Rain seakan menyuruhku untuk menungganginya.
Aku tidak menghiraukan ucapan Rain, lantas aku lanjut berjalan tanpa menoleh ke arah Rain yang mungkin saja sekarang bingung dengan sikapku.
"Kenapa? Apa kau tidak suka kalau aku sembuh?" tanya Rain tiba-tiba, membuatku berhenti melangkahkan kaki ku.
Berbalik menatap Rain dengan tatapan tajam, kenapa bisa dia berpikir begitu?
Rain tampak masih terdiam ditempatnya, aku pun menghampirinya dan mengusap kepalanya.
"Sudah, ayo cepat jalan."
Rain menurut tanpa berkata apa pun, biarlah dia mau berpikir seperti apa. Yang penting dia mau kembali berjalan.
***
Sudah lumayan lama kami berjalan tanpa bicara apapun. Hah! Seakan aku dan Rain sedang bermusuhan padahal tidak. Mungkin saja Rain sedang tidak mau bicara atau malas untuk bicara.
Untung saja selama berjalan sejauh ini, tidak ada kendala apapun. Entah juga nantinya, aku harus waspada mulai sekarang. Siapa tau akan ada kejadian seperti kemarin. Aku tidak mau hal itu terjadi lagi.
Aku menghentikan langkahku begitu juga dengan Rain, melihat ke depan ada dua jalan. Satu ke arah kiri dan satu ke arah kanan. Lantas aku membuka gulungan peta yang berada digenggaman tanganku. Melihat ke peta, jalan mana yang benar. Ternyata ke arah kanan, aku kembali menggulung peta.
"Lewat sini, Rain." Tunjukku ke arah kanan.
Kemudian aku dan Rain kembali melanjutkan perjalanan.
"Berapa lama lagi kita akan sampai, Putri? Aku ingin segera tidur," celetuk Rain membuatku menengok ke arahnya.
"Mungkin sekitar dua jam lagi, bagaimana kalau kita istirahat dulu di bawah pohon itu," ucapku sembari menunjuk ke arah sebuah pohon, karena di sana terlihat sangat sejuk dan pas sekali untuk beristirahat.
"Baiklah, aku sangat lelah sekali."
Aku dan Rain akhirnya sampai di sebuah pohon yang tadi aku tunjuk, disini benar sangat sejuk dan asri sekali udaranya. Sehingga bisa membuat ku mengantuk, namun aku harus menahan rasa kantuk ini agar tidak terjadi apa-apa.
Aku pun duduk kemudian mengambil gentong air, hendak menyerahkan ke Rain. Namun dia sudah tertidur pulas, apakah tadi malam dia bergadang? Mungkin saja begitu, nanti saja ku tawarkan air ini. Aku pun meletakkan kembali gentong air tersebut dan beranjak dari tempatku duduk.
Aku ingin melihat-lihat sekitar sini saja, setidaknya tidak apa-apa kan kalau Rain ku tinggal sebentar? Ya pasti tidak apa-apa, aku hanya melihat sekitar sini saja sebentar.
Aku melangkahkan kaki ku melihat sekeliling dengan seksama.
Srek!
Aku terkejut dengan suara itu, terdengar dari semak-semak yang berada tidak jauh dariku berdiri. Aku pun melangkah pelan ke arah semak-semak tersebut. Takut kalau itu musuh atau apalah yang bisa saja membahayakan diriku.
"Siapa itu!?" tanyaku setengah berteriak.
Srek!
Srek!
Aku kembali terkejut, apakah hanya hewan? Tapi kalau hewan buas gimana? Bisa-bisa aku dimakan olehnya.
Terlihat bahwa semak-semak tersebut bergerak, hendak membuka semak tersebut. Aku di kaget kan oleh sosok hewan mungil yang tiba-tiba keluar dari semak tersebut. Jika di teliti, dia mirip dengan Putih.
Hewan mungil tersebut tersenyum melihat ku dan kemudian menunjuk ke arah semak-semak ini. Aku bingung dengan tingkahnya, seakan dia menunjukkan sesuatu.
Aku pun perlahan membuka semak-semak ini dan terlihat seperti ada cahaya putih dibalik semak tersebut. Semakin aku membuka semak ini dan cahaya putih itu perlahan pudar. Aku terkaget setelah melihat apa yang ada didalam semak ini. Sampai-sampai aku melongo dan tidak percaya.
akhirnya author bisa up lagi, yuk jangan lupa like and komen yah. makasih udah setia membaca:)