
Aku menuju ke salah satu rumah, diikuti oleh Rain di belakangku. Kenapa tiba-tiba kakiku terasa sangat berat untuk berjalan masuk ke rumah yang aku tuju? Aku lihat tidak ada apa-apa. Aah tidak aku hiraukan hal ini.
Tok! Tok! Tok!
"Apakah ada orang di dalam?" tanyaku setengah berteriak.
Tidak ada jawaban dari dalam, akhirnya ku coba untuk mengintip di celah-celah pintu. (Hihi Sioa gak sopan banget yah main ngintip aja wkwk:v)
Kulihat ada seseorang di dalam, entah ada berapa orang. Yang jelas mereka seperti ketakutan dan menggaruk-garuk badannya.
Aku buka saja pintu ini dan nampaknya mereka yang tadinya duduk meringkuk, kini berdiri dan mengambil kayu yang berada didekatnya.
Wah gawat, aku mau di pukul nih. Nasib-nasib jadi penolong orang:)
"Eeh tenang, pak. Saya bukan orang jahat. Saya mau mengobati penyakit kalian dan menolong kalian," ucapku menenangkan mereka yang sudah bersiap-siap akan memukulku.
"Benarkah?" tanya salah satu dari mereka tampak ragu.
Huh! Memangnya aku seperti berbohong kah? Ini benar-benar menyulitkan diriku.
"Dia akan menolong kalian."
Aku menengok, mendapati Rain yang berbicara meyakinkan orang-orang yang tidak percaya itu.
Mereka menganga membuka mulut lebar-lebar, ada serangga masuk kan baru tahu rasa tuh. Tampaknya mereka terkejut, karena Rain sudah meyakinkan mereka.
"Kalau begitu, coba kau sembuhkan aku dulu," ucap salah satu dari mereka, lalu mendekat ke arahku.
Aku memegang tangannya untuk melihat penyakit apa yang di deritanya. Ya, seperti penyakit kulit gitu, bahkan kalau digaruk terus-menerus akan mengakibatkan kulit ini terluka.
"Apakah kau bisa menyembuhkannya?" tanya Rain yang berada di sampingku.
"Kalau hanya mengandalkan kekuatanku, itu tidak mungkin. Kita harus mencari tanaman herbal," ucapku sembari menatap Rain.
Aku beralih menatap orang-orang yang ada di depanku, lalu melepaskan tangan yang tadi aku periksa. Aku ingin mencari buku tentang penyakit dan penawarnya, siapa tahu disini ada perpustakaan kecil.
"Apakah disini ada perpustakaan kecil?" tanyaku menatap orang-orang yang ada di depanku.
"Tentu saja ada," ucap salah satu dari mereka.
"Antar aku kesana," ucapku menatap orang yang tadi menjawab.
"Ikuti aku."
Dia berjalan keluar rumah, ku ikuti saja orang ini. Rain pun begitu, dia berjalan di sampingku.
Kami melewati beberapa perumahan yang sudah tidak dapat dipakai lagi, tapi ya mungkin didalamnya ada penghuninya. Aku melihat sekitar dengan penuh penghayatan, sampai-sampai aku menabrak punggung seseorang.
Bruk!
"Aduh!" Aku mengaduh, sembari mengusap jidatku.
Aku melihatnya, siapa yang sudah aku tabrak tadi. Eeh tau-taunya orang yang aneh, dia seorang pria tapi ... dia sangat tampan! Omaygot menakjubkan sekali.
"Apa yang kau lihat?" tanyanya dingin.
Aku terlonjak kaget, masih memandang ketampanannya yang tiada tara malah dia membuyarkan lamunanku.
"Aku tahu, aku sangat tampan," ucapnya ke pedean. Dih siapa dia? Sok kenal sekali denganku.
"Minggir!" seruku lalu mendorong orang aneh ini, hah! Berat sekali badannya ketika didorong. Terbuat dari apa sih dia? Baja? Batu?
Aku tidak menghiraukan dia yang sedari tadi memanggilku dengan, "Hei kau berhenti!" Aku tidak menengok ke arahnya, ku teruskan saja berjalan. Sampai-sampai ada yang menarik tanganku.
"Kau mau kemana? Disini perpustakaan, kalau kau ke sana terus bisa-bisa kau kesasar."
Ternyata yang menarik tanganku adalah orang yang tadi akan menunjukkan perpustakaan, aku sangat malu. Bisa-bisanya aku tidak fokus.
"Ehehe."
Aku hanya cengengesan tidak jelas, membuat orang yang tadi menarikku hanya geleng-geleng kepala.
"Bhahaha!"
Seseorang telah menertawakanku, ya si orang aneh tadi yang tertabrak olehku. Dia benar-benar membuatku semakin malu, rasanya ingin sekali aku menimpuk dia pakai batu. Tidak ku hiraukan dia yang terus tertawa, aku masuk ke dalam sebuah rumah kecil. Mungkin ini yang dimaksud perpustakaan kecil?
Saat aku masuk, banyak debu disini membuatku terbatuk-batuk akibat banyaknya debu yang ada dimana saja. Kulihat juga ada rak buku, tertata rapih sih. Tetapi, ya ini, berdebu!
Aku membuka jendela, agar udara bisa masuk ke dalam dan tidak gelap juga.
"Bukunya ada dimana?" tanyaku.
Dia menunjuk ke arah sebuah tumpukan buku, lantas aku menuju ke arah yang ditunjuk tadi. Tulisannya dan bahasa ini sangat kuno, untung saja aku sudah mempelajari bahasa kuno saat kehidupanku dulu.
"Kisah cinta seorang Putri," gumamku pelan membaca judul buku yang pertama aku pegang.
Aku meletakkan kembali buku itu dan mengambil buku selanjutnya, daaan... buku ini terlihat sangat menarik.
Hei! Kenapa buku-buku ini semuanya berjudul tentang cinta? Apa sih spesialnya cinta itu? Atau orang tadi membohongiku?
Brak!
Aku membanting buku tadi dengan sangat keras, aku benar-benar marah sekarang. Sekarang itu waktunya untuk serius, mengapa bisa-bisanya bercanda seperti ini? Sangat konyol!
Ku tatap orang yang tadi menunjukkan buku ini, dia berdiri melihatku dengan melipat kedua tangannya sambil menggaruk-garuk badannya yang gatal dan berkata, "Apa?" Yang benar saja dia berkata seperti itu?
"Dimana bukunya? Kau berbohong padaku? Ha!" ucapku penuh penekanan dan menatapnya tajam.
"Kau yang salah mengartikan, aku menunjuk ke sana, bukan itu. Kau saja yang tidak memperhatikan," ucapnya santai, sembari kembali menunjuk ke arah buku yang tertata rapi bersebelahan dengan tumpukan buku tadi.
"Lalu, kenapa kau tidak bilang dari awal?" tanyaku menatap dia dengan tajam.
"Yah, aku kira kau ingin mencari buku tentang percintaan," ucapnya sembari menggaruk-garuk lehernya dan menatapku tanpa berdosa.
"Hei! Kau ... sudahlah!" ucapku kesal, bangkit dan berjalan menuju buku yang tadi di tunjukkan.
Dihari seperti ini kenapa ada orang yang sangat menyebalkan sekali seperti orang tadi? Dan ada saja orang asing yang sangat tampan eh! Maksudku orang sangat aneh tiba-tiba datang begitu saja, seperti tamu tak diundang. Contohnya adalah HANTU, nah itu satu kata buat orang aneh tadi.
Aku membaca judul buku-buku itu dengan teliti, takutnya seperti tadi.
"Penyakit dan penawar," ucapku membaca judul buku itu.
Nah ini dia yang aku cari, huh! Akhirnya ketemu juga nih buku sial. Segera aku membuka buku ini dan ... tulisannya sangat membuatku pusing, aku tahu maknanya, tapi jika sebanyak ini maka akan sulit.
"Yeah! Akhirnya ketemu juga nih buku!" ucapku sembari manari-nari ke sana kemari, dan mengacungkan buku ini ke atas.
"Ehem!" Seseorang berdehem, ku hentikan menarinya dan menatap orang yang tadi berdehem.
Ternyata orang aneh yang ku tabrak tadi, dia bersandar pada pintu masuk ke dalam perpustakaan kecil ini. Menatapku dengan tatapan datar, ada gitu ya orang aneh yang kaya patung gitu.
"Apa?" tanyaku ketus menatapnya sinis.
"Kenapa? Aku hanya berdehem saja, ada yang salah?" ucapnya terus menatapku dengan datar.
Aku tidak menghiraukan dia, ku ajak orang yang tadi bersamaku untuk pergi meninggalkan perpustakaan kecil ini.
***
Hari sudah semakin malam, aku duduk di depan api unggun. Malam ini terasa begitu dingin dan mencekam sekali.
Orang-orang sudah tidur di rumahnya masing-masing, aku membuat tenda untuk tidurku malam ini. Rain juga sudah tertidur di sampingku.
"Kau sedang memikirkan apa?" Seseorang telah membuyarkan lamunanku, ya siapa lagi kalau bukan orang aneh tadi yang ku temui.
Aku hanya menatapnya sekilas, lalu kembali terdiam menatap api yang ada di depanku ini.
"Oh ya, perkenalkan namaku Xio Spagro. Namamu siapa?" tanyanya, sembari mengulurkan tangan kepadaku.
"Aku Sioa Shi," ucapku singkat tanpa membalas uluran tangannya.
"Apa kau bilang? Kau ... kau Sioa Shi?" ucapnya tampak terkejut denganku.
Entah kenapa, dia terkejut seperti kaget, kagum, ah atau apalah gak tau. Ekspresinya tidak bisa aku artikan.
"Kenapa? Ada yang salah kah?" tanyaku memandangnya dengan tatapan bingung.
"Tidak. Kau Putri Sioa yang terasingkan itu kan?" tanyanya penasaran.
Kenapa sih orang ini aneh banget, sudah tau kalau aku putri Sioa masih saja bertanya. Seperti tidak percaya apa yang aku ucapkan. Huh! Menyebalkan!
Aku mengangguk saja sebagai jawaban, dia lantas mundur beberapa langkah dariku sambil membuka mulutnya lebar-lebar dan tangannya yang menunjuk ke arahku.
"Aku benar-benar tidak menyangka, kau sudah berubah Putri. Maafkan atas ketidak sopananku tadi," ucapnya, lalu berlutut dihadapanku.
Aku? Aku tentu saja kaget dengan apa yang dia lakukan sekarang. Segera aku menuju ke arahnya.
"Hei! Apa yang kau lakukan? Cepat berdiri!" seruku menyuruhnya untuk tidak bersujud dihadapanku.
"Tapi---"
"Jangan formal padaku, anggap saja kita teman. Tidak ada yang perlu kau takutkan, aku hanyalah Sioa Shi yang terasingkan." Aku menatapnya lekat, memberi tahu bahwa aku hal yang tidak perlu di takutkan.
"Baiklah kalau begitu, terima kasih sudah mau menjadi temanku. Walaupun itu sangat sakit jika hanya dianggap sebagai teman saja," gumamnya lirih, tapi aku tidak tuli ya.
"Maksudmu apa?" tanyaku yang berpura-pura tidak tahu apa yang barusan dia bilang.
"Tidak ada, sekarang kau tidur. Agar besok bisa mencari penawar dari penyakit yang diderita orang-orang disini," ucapnya memberiku saran.
Aku mengangguk saja, aku memang sudah sangat mengantuk malam ini. Ku tinggalkan Xio sendiri di luar, aku pun tidur di dalam tenda.
Terkadang aku bingung, kenapa putri Sioa sangat dibutuhkan oleh orang-orang yang sedang kesulitan seperti halnya saat ini. Apakah putri Sioa itu benar keluarga dari kerajaan Queen? Atau hanya anak pungutan? Aah tidak! Tidak! Tidak! Kenapa aku berfikir sejauh ini sebelum menemukan kenyataannya? Sudahlah, semua juga akan terjawab seiring berjalannya waktu.
jangan lupa like and komen yah biar author tambah semangat:) makasih sudah mampir membaca:)