The Rise Of A Princess

The Rise Of A Princess
Part 29 Sungai ajaib



"Hei-hei kalian bisa diam tidak?"


Lantas aku dan Rain pun menengok, melihat sumber suara tersebut. Mendapati seseorang yang sedang berdiri menatap kami dengan galak, dia adalah kakek Xin. Aku dan Rain saling cengengesan lalu saling menyenggol lengan satu sama lain.


"Ini sudah malam, kenapa kalian belum tidur? Atau mau tidur di luar saja? Kenapa malah ribut-ribut? Apa yang kalian ributkan?" tanya kakek Xin beruntun, membuatku canggung dan malu.


"Maafkan kami kek, ini semua salah Rain. Dia---"


"Hei kenapa jadi aku? Kan kau du---"


"Sudah ya sudah! Cepat tidur!"


Kakek Xin memarahi aku dan Rain, lantas kami pun langsung meminta maaf dengannya karena kami sudah menggangu waktu tidurnya.


Setelah Kakek Xin pergi meninggalkan kami, aku kembali melotot kepada Rain.


"Ini semua gara-gara kau! Huh!" Kata ku setengah berbisik kepada Rain.


"Kenapa aku? Aku tidak salah apa-apa juga, huh!" Rain berlalu sembari menjulurkan lidahnya seakan meledekku lagi.


Aku memutar bola mata, tentu saja aku merasa sangat jengkel padanya. Kenapa dia berubah jadi manusia sih? Menyebalkan nya menjadi dua kali lipat! Ingin rasanya aku menonjok mukanya yang menyebalkan itu! Saking kesalnya aku menendang sesuatu.


Duakh!


"Aw! Sakit! Sakit!" Aku merintih kesakitan, dan memegang kaki ku yang baru saja menendang sesuatu.


Kenapa hari ini menyebabkan sekali, apalagi ditambah Rain yang amat sangat menyebalkan! Aku melangkah dengan tertatih-tatih sambil menggerutu karena kesialan hari ini.


Aku berjalan menuju tempat tidur dan mendapati Rain yang sedang menatapku dengan tatapan meledek. Huh! Ingin sekali aku memukul dia dengan buku!


"Kau kenapa? Mengapa jalanmu begitu?" tanya Rain keheranan melihatku.


Aku tidak menjawab pertanyaan Rain dan gegas aku merebahkan tubuhku dan tidur membelakangi Rain.


"Tidak usah banyak bicara, cepatlah kau tidur. Jika kau terus berbicara, akan ku tendang kau keluar," ucapku mengancam Rain.


Setelahnya Rain tidak bicara lagi, akhirnya dia mendengarkan ku juga.


***


Aku mengedipkan mata karena merasa silau dengan cahaya matahari yang masuk melalui jendela dan tepat mengenai wajahku. Aku meregangkan seluruh tubuhku, menengok ke arah tempat Rain tidur. Kosong, kemana Rain? Tumben banget sudah bangun mendahuluiku.


Gegas aku bangkit dari tempat tidur dan melangkah menuju kamar mandi, juga tak lupa membawa baju ganti. Aku mengambilnya dari lemari yang kemarin aku lihat.


Setelah beberapa menit aku mandi, aku merasa energi ku terisi kembali. Memang, karena perjalanan kemarin badanku menjadi sakit semua.


Aku melangkah keluar, mencari Rain dan kakek Xin. Sampai ku dapati mereka tengah mengobrol berdua ditempat kemarin. Entah apa yang mereka obrolkan sepertinya seru sekali.


"Ehem! Kalian sedang membicarakan apa? Sepertinya seru sekali ya?" tanyaku lalu duduk di potongan sebuah pohon.


Rain dan Kakek Xin menatapku dengan wajah datar, kenapa mereka? Aneh sekali.


"Ini, cepatlah kau makan dan kita akan langsung latihan," ucap kakek Xin sembari menyodorkan rebusan ubi.


"Apa? Secepat itu?" tanyaku heran, lalu mengambil rebusan ubi yang tadi disodorkan oleh kakek Xin dan aku memakannya.


"Kau tidak punya banyak waktu, bukankah kau harus cepat kembali ke asal mu? Dan menyelamatkan orang yang kau sayangi? Jika kau telat untuk kembali ke sana, maka bisa saja orang yang kau sayangi itu telah dibunuh," oceh kakek Xin panjang lebar membuatku kepikiran dengan mereka.


"Rain sudah menceritakan semua tentang mu," jawab kakek Xin melirik Rain sekilas lalu kembali menatap ku.


Aku menunduk, membayangkan wajah-wajah orang yang aku sayangi di sana. Bagaimana kabar mereka sekarang ya? Apakah kalian baik-baik saja? Ya kuharap kalian baik-baik saja. Ini semua salahku, jika aku tidak berurusan dengan Zei iblis itu, mungkin sekarang aku bisa tertawa bahagia bersama mereka.


"Bukan saatnya untuk menyesali sesuatu, itu semua bukan salahmu. Kau hanya terjebak ke dalam jebakan Zei, sekarang kau hanya perlu berusaha keluar dari jebakan tersebut," ucap Rain menenangkan ku sambil mengelus tanganku dan memelukku.


Rain, dia terkadang menyebalkan. Namun disisi lain ia juga sangat mengerti tentang perasaanku. Aku tidak bisa berkata apa-apa saat ini. Perkataan Rain memang benar, aku harus berusaha keluar dari jebakan Zei!


"Ekhem! Baiklah, sudahi dulu sedih mu. Sekarang ikuti aku," ucap kakek Xin lalu beranjak dari tempat duduknya.


Rain melepaskan pelukannya dan memberi isyarat agar aku semangat.


Aku mengikuti kakek Xin di belakangnya, aku dan Rain berjalan beriringan sembari melihat sekeliling. Banyak pohon-pohon yang menjulang tinggi, begitupun daunnya sangat hijau. Terasa sejuk sekali, bunyi burung-burung yang berkicau. Kupu-kupu yang cantik beterbangan ke sana kemari. Kenapa disini begitu indah sekali sampai aku merasa ketenangan yang sebelumnya tidak pernah aku rasakan.


***


Beberapa menit kami jalan ke dalam hutan, kami pun sampai di aliran sungai. Terlihat bahwa sungai ini sangat berbeda, karena begitu jernih sampai-sampai batu yang didalam sungai tersebut terlihat sangat jelas. Namun yang membuatku terkejut adalah batu-batu di sungai ini berwarna warna-warni seperti permata.


"Wah! Kenapa sungai ini berbeda, airnya sangat jernih sekali!" Rain seakan takjub dengan pemandangan sungai ini. Begitupun aku.


Aku beralih menatap kakek Xin yang terus menatap sungai ini.


"Kita akan berlatih disini," ucap kakek Xin tiba-tiba, lalu berjongkok mengambil air sungai ini dengan tangannya lalu ia minum.


"Kenapa---"


"Kita berlatih disini karena sungai ini, lalu tempat ini sangat luas. Pas sekali untuk kau berlatih," ucap kakek Xin memotong ucapan ku.


"Memangnya apa istimewanya sungai ini? Kenapa banyak batu seperti permata itu?" tanyaku heran sembari melihat sungai.


Kakek Xin menatapku dengan tajam, lalu ia mengambil satu batu dari sungai tersebut yang berwarna biru.


Aku ikut berjongkok dan mengamati batu yang kakek Xin pegang itu, terlihat sangat cantik dan warnanya pun sangat biru berkilau.


"Batu-batu ini adalah sumber energi, jadi sungai ini bisa menyembuhkan segala penyakit yang rendah dan sangat parah. Banyak sekali manfaatnya, jika kau meminum air sungai ini setetes saja, kau akan merasakan perubahan pada dirimu." Kakek Xin menjelaskan panjang lebar, sudah ku duga bahwa sungai ini sangat luar biasa.


"Itu artinya, batu-batu tersebut mempunyai kekuatan?" tanyaku penasaran.


"Ya bisa dibilang begitu, cobalah kau minum air sungai ini," ucap kakek Xin.


Aku pun menatap air sungai ini, cukup ragu untuk meminumnya. Namun ku coba saja dulu.


Aku pun mengambil air sungai tersebut dengan tanganku, lalu meminumnya. Uwaah! Perasaan apa ini? Aku menjadi lebih segar dan rasa haus pun hilang. Ajaib sekali, bahkan aku merasakan energi ku bertambah. Apakah ini kebetulan?


Aku menoleh ke arah kakek Xin, aku tersenyum senang. Memang benar yang dikatakan olehnya.


"Ternyata kakek Xin benar, air ini benar-benar ajaib! Aku merasa energi ku terisi kembali!" Aku terus tersenyum senang.


Kakek Xin hanya mengangguk-angguk sambil tersenyum.


Byur!


"Waaah! Tolong!"


Makasih sudah setia membaca:) jgn lupa like yah:)