
"Itu apa yang kau pegang?" tanyaku lalu mengambil gulungan daun dari tangan Rain sambil melihat apa yang di pegang oleh Rain.
Rain menengok ke arahku sekilas lalu beralih menatap sesuatu yang dipegang olehnya. Terlihat sesuatu tersebut seperti batu kristal berwarna kuning keemasan.
"Oh, ini? Aku tidak tau ini kristal apa, aku menemukannya saat aku akan ke sini," ucap Rain menjelaskan sambil membolak-balikkan batu kristal tersebut.
"Memangnya kau menemukan batu kristal tersebut dimana?" tanyaku penasaran, tatapanku masih fokus ke arah batu kristal tersebut. Entah kenapa aku seakan tertarik untuk memegang kristal itu.
"Aku menemukannya di sekumpulan bunga, batu kristal ini terletak di atas bunga. Jadi karena bagus, aku mengambilnya," jawab Rain menjelaskan, namun sangat tidak masuk akal.
"Coba ku lihat sebentar," ucapku sangat penasaran dengan batu kristal tersebut.
Rain menyerahkannya padaku, aku mengambilnya dan melihat cukup lama batu kristal ini. Dan melihatnya sambil membolak-balikkan batu kristal ini. Warnanya sangat cantik dengan warna kuning keemasan dan seakan batu ini bersinar.
Cukup lama aku mengamati batu kristal ini, namun tiba-tiba batu ini bersinar cukup terang sampai membuatku kaget lantas aku memejamkan mataku kerena cahaya dari batu tersebut sangat membuat mataku silau. Hingga aku merasakan panas pada batu itu sehingga refleks aku melepaskan batu itu.
"Putri," ucap Rain seperti tidak menyangka.
Aku pun membuka mataku dan alangkah terkejutnya, batu kristal tersebut sudah melayang tepat di hadapanku dan memancarkan kilauan seakan seperti bertemu dengan tuannya. Ada apa dengan batu ini? Mengapa tiba-tiba saja melayang tepat hadapanku? Apakah ini hanya kebetulan?
"Apa yang terjadi disini? Tadi aku melihat ada cahaya yang berasal dari sini," ucap kakek Xin yang tiba-tiba datang ke tempat ku dan Rain berada, dia pun terlihat sangat terkejut setelah melihat batu kristal yang melayang ini.
"Ini, ada batu kristal yang tiba-tiba melayang tepat dihadapan Putri Sioa," ucap Rain sembari terus melihat ke arah batu kristal ini.
"Itu kan batu kristal Bunga Yellownia," ucap kakek Xin tidak menyangka.
Entah mengapa kakek Xin seolah sangat terkejut melihat batu kristal ini. Apakah kakek Xin tau tentang batu kristal ini? Apa mungkin batu ini sangat langka?
Kami hanya memandang satu sama lain, aku pun sama terkejutnya dengan batu kristal ini.
"Siapa yang menemukan batu kristal ini?" tanya kakek Xin kemudian, membuatku lantas menengok ke arah Rain, tampak dia pun langsung menatap kakek Xin.
"Aku yang menemukannya," jawab Rain dengan muka yang mungkin takut kalau kakek Xin memarahinya.
Kakek Xin hanya menatap Rain dengan wajah yang tidak menyangka, mungkin Kakek Xin berfikir kalau Rain bisa ia menemukan batu kristal ini.
"Kalian tau, batu kristal ini sangatlah langka. Bisa dibilang batu ini adalah batu Yellownia dimana batu tersebut hanya berada di sekumpulan Bunga Yellownia. Awalnya batu ini terbentuk seperti permata yang sangat kecil. Namun setelah beberapa tahun, barulah permata tersebut berubah menjadi batu kristal yang sangat cantik. Seperti yang kalian lihat ini." Kakek Xin menjelaskan panjang lebar membuatku melongo tidak bisa berkata-kata.
"Lalu mengapa batu kristal ini tiba-tiba melayang tepat hadapanku? Bukankah seharusnya melayang melayang dihadapan Rain? Karena dia yang menemukannya, apakah kakek Xin tau penyebabnya?" tanyaku panjang lebar, aku sangat penasaran dengan jawaban Kakek Xin.
Terlihat bahwa kakek Xin menghembuskan napas pelan, kemudian ia menatapku dengan serius.
" Batu Yellownia itu hanya ada satu di dunia, batu itu akan melayang dihadapan seseorang jika batu tersebut telah menemukan pemiliknya yang asli. Bisa jadi karena kau keturunan Yellownia, apakah kau mempunyai keturunan darah Yellownia? Ayah atau Ibumu?" Jelas kakek Xin lalu bertanya padaku.
Aku kembali menatap kakek Xin dan Rain bergantian, mereka pun seakan menunggu jawabanku. Namun aku malah melamun.
"Sepertinya Ibuku keturunan Yellownia," jawabku memandang Kakek Xin.
"Kau sangat beruntung, namun ada banyak musuh yang akan menghancurkan orang-orang dari keturunan Yellownia. Kau ingat dengan kejadian saat kau dan Rain tiba-tiba dikejar oleh seseorang?" tanya kakek Xin, membuatku terbelalak kaget.
"Iya aku ingat," jawabku sambil menunggu apa yang akan kakek Xin katakan tentang seseorang yang mengejar ku waktu itu.
"Bisa jadi itu adalah musuh, banyak yang memburu orang-orang Yellownia. Mereka bisa merasakan keturunan Yellownia melalui bau aura dari tubuh. Aku tidak tau mengapa Yellownia banyak musuh di sana sini, jika mungkin saja kau ingin tau maka carilah kerajaan Yellownia berada," jelas Kakek Xin membuatku bungkam.
Itu artinya saat itu banyak yang mengamati ku diam-diam? Untung saja sampai sekarang aku masih baik-baik saja. Aku benar-benar tidak menyangka kalau aku keturunan Yellownia dan nasibnya aku memiliki banyak musuh.
Namun tiba-tiba batu kristal ini jatuh lagi tepat hadapanku. Aku pun mengambilnya lalu menggenggamnya dengan erat.
"Apa yang harus kulakukan sekarang? Aku tidak memiliki apa-apa saat ini," ucapku dengan nada lirih, seakan merasa putus asa dengan keadaan saat ini.
Kakek Xin hanya menghembuskan napas pelan kemudian mengambil tasnya yang tidak jauh dari sisinya, mengeluarkan buku-buku kuno. Entah untuk apa buku tersebut, terdapat dua buku yang ia keluarkan dari tasnya.
"Apakah kau tidak ingin menyelamatkan keluarga Yellownia mu? Mereka mungkin saat ini sedang membutuhkan mu juga," ucap Kakek Xin seakan meyakinkan diriku.
Aku sangat bingung saat ini, penyebab apa yang bisa membuat kerajaan Yellownia begitu banyak musuh di sana sini. Itu yang aku heran kan dan aku bingung kan.
" Apakah kakek Xin tau penyebab kerajaan Yellownia begitu banyak musuh?" tanyaku setelah lama berfikir.
"Aku tidak tau, yang ku tau hanyalah kerajaan Yellownia sangat banyak memiliki musuh," jawab kakek Xin, ia terlihat tidak berbohong.
"Baiklah aku tau apa yang harus kulakukan, namun untuk apa Kakek membawa buku-buku kuno ini?" tanyaku penasaran sambil melihat dua buku yang ia pegang sedari tadi.
"Aku tau kau Putri yang sangat dibutuhkan oleh semua orang, maka dari itu aku memberimu buku ini. Jagalah buku ini dengan baik," ucap kakek Xin lalu menyerahkan dua buku yang dia pegang, aku pun mengambilnya.
"Jadi, kakek Xin ingin aku berbuat apa? Bukankah aku harus latihan denganmu?" tanyaku heran, seolah kakek Xin menyuruhku untuk berlatih sendiri.
"Aku ingin kau berlatih sendiri di Goa pedang, ini aku memiliki peta nya. Aku banyak urusan, jadi aku harus pergi. Kau pergilah dengan Rain, dan batu kristal yang kau pegang itu sekarang sudah menjadi milikmu, jangan sampai batu tersebut berada di tangan yang salah," cerocos kakek Xin lalu menyerahkan peta, lalu ia bergegas bersiap-siap.
Aku belum berkata apa-apa dia sudah membereskan barang-barangnya.
"Dan jangan lupa bawalah pedang yang tertancap itu, siapa tau kau akan membutuhkannya," ucap kakek Xin setelah itu bergegaslah pergi.
yuk dong para pembaca, jangan lupa like dan komen dong biar author tambah semangat:(