
POV Zei Qi
Aku Putri Zei Qi berumur 18 tahun, anak ke 2 dari seorang kaisar Zeng dan permaisuri Yewna Shi.
Saat itu aku berumur 17 tahun.
"Kau cepatlah makan ini, Sioa. Kue ini sangat enak, kau pasti suka." Suruh ku padanya, sembari menyerahkan kue yang sudah aku berikan obat yang sangat istimewa.
Ya, obat itu bisa membuat orang yang memakannya menjadi gendut dan muka yang jelek. Aku sangat membenci adikku yang satu ini. Sangat membencinya.
Dia kemudian mengambil kue yang aku berikan, tanpa ragu. Mungkin dia mengira bahwa aku sudah tidak marah padanya. Padahal aku sangat ingin membunuhnya. Tapi, kalau aku membunuhnya sekarang maka aku bisa disiksa dengan disaksikan oleh para rakyat. Karena ini di istana maka aku harus berhati-hati untuk menyingkirkan si sampah ini!
"Kakak dapat darimana kue ini?" tanyanya padaku sambil melihat secara detail kue yang dia pegang.
"Aku beli khusus untukmu, jadi makanlah," jawabku sambil tersenyum. Ya, jelas saja ini senyum palsu!
"Terima kasih, kakak!" Girangnya, kemudian memakan kue yang aku berikan.
"Kalau begitu, kau nikmatilah makan kuenya. Aku ada urusan," ucapku padanya kemudian pergi meninggalkannya dengan seorang maid yang sangat setia padanya.
Sebenarnya aku tidak ada urusan apapun, aku hanya tidak mau berlama-lama bicara dengannya.
Aku memasuki sebuah kolam khusus untuk berendam di ruangan belakang. Aku ingin menenangkan pikiranku. Hah! Kapan si sampah itu akan segera pergi dari istana ini. Aku muak melihatnya setiap hari. Ini semua gara-gara dia! Aku merasa tersingkirkan disini! Untung saja ibu sudah mati!
Flashback 10 tahun lalu
"Tolong ... Siapapun to-long aku."
Aku mendengar suara saat sedang berjalan-jalan dihalaman belakang istana. Aku datang kesini karena diriku terasa sangat bosan berada didalam istana yang begitu luas. Ya, aku datang sendiri tanpa siapapun. Aku lebih nyaman berjalan-jalan sendiri.
Aku pun mencari sumber suara, sepertinya dari balik pohon besar yang ada dihalaman belakang. Aku pun gegas menuju ke pohon tersebut.
"SIOA!" teriakku kaget melihat dia yang sudah tidak sadarkan diri.
"Sioa! Bangun! Kau kena---" Aku menghentikan ucapanku karena tanganku seperti memegang sesuatu.
Aku pun melihat ke arah perutnya, terdapat sebuah pisau yang sudah tertancap diperut bagian kirinya. Aku sontak kaget dan takut, siapa yang telah melakukan ini pada adikku?
Aku pun mencabut pisau yang ada diperutnya tersebut, darah keluar begitu banyak. Aku pun berdiri hendak memanggil bantuan. Saat berbalik, aku terkejut melihat sang Ibu sudah berada dihadapan ku saat ini, bersama ke empat maid.
"Apa yang kau lakukan disini?" tanya Ibu padaku.
"I-ibu, Ibu tolong---"
Ibu tanpa mendengar perkataan ku, dia sudah berjalan melewati diriku.
"Zei! A-apa yang terjadi? Ka-kau menusuk adikmu sendiri?" tanyanya tidak menyangka, sambil menutup mulut dengan tangannya. Dia terkejut.
"Bu-bukan aku Ibu, aku hanya---"
"Bukan katamu?! Lalu kenapa ada pisau ditangan mu?" tanya Ibu masih tidak percaya sambil menangis menatapku.
Sontak aku tersadar kalau aku masih memegang pisau ini. Aku pun langsung membuangnya.
"Benar bukan aku Ibu, aku tadi kebetulan ingin kesini dan aku mendengar suara minta tolong. Aku langsung menghampirinya dan ternyata adikku sudah tertusuk pisau. Aku mencabut pisaunya. Aku tidak menusuknya Ibu. Percayalah padaku Ibu. Aku tidak mungkin begitu kejam pada adikku sendiri." Jelasku dengan nada yang gemetar takut kalau Ibu salah paham dan air mataku sudah hampir menetes.
"Cukup! Kau telah melakukan kesalahan yang besar, Zei! Ibu kecewa padamu," ucap Ibu padaku, dia terlihat sangat sedih dan kecewa melihatku.
"Ibu ...."
Aku menggelengkan kepalaku, tanpa kusadari air mata menetes begitu saja dipipiku.
Dua orang maid telah siap membawaku keruang bawah tanah. Tidak! Ini bukan aku! Bukan aku yang menusuknya!
"TIDAK! IBU! KAU SALAH PAHAM! BUKAN AKU YANG MENUSUKNYA! IBU PERCAYALAH PADAKU!" teriakku sembari memberontak melepaskan diri, namun dua maid ini sangat kuat.
"LEPASKAN AKU! AKU TIDAK BERSALAH! TOLONG AKU! KALIAN HARUS PERCAYA PADAKU!" teriakku lagi berusaha melepaskan diri, namun sia-sia.
Aku hanya bisa menangis dan pasrah apa yang akan terjadi selanjutnya. Kenapa hal ini terjadi padaku? Aku bahkan sangat menyayangi adikku sendiri.
Kabar bahwa adikku ditusuk pun menyebar dengan cepat, semua keluargaku pun tau hal itu. Dan semuanya menyalahkan aku. Aku hanya bisa terdiam menangis didalam penjara bawah tanah ini.
Gara-gara salah paham tersebut, aku disiksa berat dalam penjara bawah tanah ini. Dan yang membuatku semakin marah dan mulai membenci Sioa serta Ibuku sendiri yaitu Sioa kehilangan ingatannya. Dia tidak ingat apa yang terjadi saat itu, yang dia ingat hanya saat dirinya tertusuk. Sioa tidak ingat siapa yang telah menusuknya. Dikabarkan lagi kalau Sioa hilang ingatan karena telah diberi ramuan penghilang ingatan, jadi dia bisa hilang ingatan apa yang terjadi barusan.
Padahal satu-satunya yang bisa menyelamatkan aku hanya Sioa, tapi harapan itu pun sirna setelah mendengar kabarnya yang hilang ingatan. Setelah kabar itu pun, semuanya semakin membenciku dan terus menyiksaku agar mengaku. Sampai kapanpun aku tidak akan mengaku, karena itu semua bukan aku penjahatnya!
Saat itu aku melihat, Sioa datang menemui diriku bersama Ibu dan Ayah.
"Kenapa kakak Zei berada disini?" tanya Sioa bingung sambil menatap Ibu.
"Dia yang telah menusukmu," ucap Ibu sambil melihatku dengan raut muka yang sangat membenciku.
"Tidak! Bukan aku Sioa! Ini hanya salah paham!" Kilahku menatap Sioa agar dia menyelamatkan aku.
"Seorang kakak tega sekali berbuat hal kotor begitu dengan keluarganya sendiri, sungguh memang pantas dihukum!" Ayah berbicara seakan kecewa.
"Tapi ... Kakak tidak mungkin berbuat jahat padaku," ucap Sioa menatap Ibu dan Ayah secara bergantian.
Ya, Sioa benar. Bukan aku pelakunya.
"Sudah, kita kembali saja. Kesehatanmu belum sepenuhnya pulih," ucap Ibu sambil menggandeng lengan Sioa.
Apa? Mereka meninggalkanku disini? Aku tidak bersalah!
"Sioa! Tolong kakak! Kakak tidak bersalah!" teriakku meminta tolong pada Sioa.
Namun, setelah aku berteriak meminta tolong padanya. Dia tidak mendengarkan aku dan saat seperti ini dia bisa-bisanya tertawa bersama Ibu dan Ayah dihadapan ku.
Setelah melihat mereka pergi dari pandanganku. Aku menangis sekencang yang aku bisa.
"KENAPA! KENAPA SEMUA INI TERJADI PADAKU! APA SALAHKU!" teriakku emosi.
"AKU TIDAK AKAN MEMAAFKAN KALIAN! AKU BENCI KALIAN SEMUA!" teriakku lagi.
Aku merasa sangat marah kepada Sioa! Bisa-bisanya dia tertawa bahagia dan dilihat olehku yang menderita disini!
4 tahun kemudian
4 tahun sudah berlalu, selama itu pula aku mendapat banyak siksaan yang sangat menyakitkan. Dan aku mendengar bahwa Ibu telah hamil.
Tiba-tiba Sioa datang bersama Ibu dan Ayah. Mereka menyuruh penjaga yang ada disini melepaskan rantai yang mengikat kedua tanganku.
Sioa memelukku sambil menangis dan mengucap kata maaf secara terus-menerus. Begitupun dengan Ibu dan Ayah berucap maaf sambil menunduk. Aku hanya diam melihat mereka. Dan dengan enaknya mereka datang hanya bilang maaf.
like dan komen jangan lupa ya