The Rise Of A Princess

The Rise Of A Princess
Part 34 Goa Pedang



"Bagaimana kalau kau ambil saja bunga ini, Putri. Dan kau rawat sampai bunga ini memiliki temannya," ucap Rain membuatku menoleh ke arahnya.


"Apa maksudmu Rain? Teman? Memangnya bunga ini apaan harus punya teman," ucapku menatap Rain dengan aneh.


"Hei, kau jangan meremehkan ya! Bunga ini jika dirawat dengan benar maka dia akan menghasilkan benih dari bunganya tau! Dan benih itu bisa tumbuh menjadi bunga seperti ini juga! Namun pertumbuhannya juga sangat lambat, bisa sampai satu tahun baru bisa tumbuh sempurna seperti bunga ini! Dan benihnya pun hanya muncul satu saja selama satu tahun," ucap Rain menjelaskan panjang lebar.


Aku dibuat melongo dengan penjelasan Rain barusan, benih bunga ini muncul satu saja selama setahun? Kalau sampai menunggu tumbuh pun harus menunggu sekitar dua tahun dong? Sangat lama sekali pertumbuhannya.


"Baiklah aku akan merawatnya, seperti yang kau katakan kalau bunga ini sangat langka bukan? Kalau bunga ini ditemui oleh orang lain mungkin bisa saling membunuh," ucapku menatap Rain dengan serius.


"Tapi, kita tidak punya barang untuk menaruh bunga ini, Putri. Jadi bagaimana?" tanya Rain bingung sambil celingukan mencari sesuatu.


Aku berpikir sejenak sambil melihat sekeliling siapa tau ada benda atau apalah yang bisa untuk menaruh bunga ini.


Aha!


Akhirnya aku ada ide juga yang terlintas di otak ku! Pintar sekali kau Sioa!


"Rain, aku punya ide!" Seru ku sambil menepuk pundak Rain.


"Hei! Kau pukul aku juga jangan keras-keras! Kau kira tidak sakit!" Omel Rain sambil mengusap pundaknya yang tadi ku pukul.


"Hehe maaf Rain, aku tadi sungguh bersemangat jadi tidak sadar," ucapku tidak enak menatap Rain yang kelihatan kesakitan.


"Ya tidak apa, memangnya kau punya ide apa?" tanya Rain seakan penasaran dengan ide ku.


"Kau tunggu lah disini," ucapku sambil beranjak berdiri.


Rain hanya mengangguk-angguk dan menatap ku bingung dengan tingkah ku.


Aku berlalu meninggalkan Rain yang terdiam, berjalan menuju sebuah pohon bambu yang tidak jauh dari pandanganku. Dan tidak lupa membawa pedang yang sempat aku bawa juga, menebang pohon bambu yang ukurannya lumayan besar. Kemudian aku membersihkan daunnya dan memotong bambu ini agar lebih pendek. Setelah itu aku membersihkan bambunya agar lebih bersih.


Kulihat potongan bambu ini sudah bersih, gegas aku menghampiri di mana Rain berada. Dia tampak bingung dengan bambu yang ada di tanganku.


"Untuk apa potongan bambu itu?" tanya Rain setelah aku sampai di tempatnya berada.


"Untuk menaruh bunga itu," ucapku sambil berjongkok di sampingnya.


"Memangnya bisa?" tanyanya lagi seolah meremehkan.


"Tentu saja, kau bilang bunga ini tidak mudah layu dan mati. Jadi, aku hanya membutuhkan sesuatu untuk menaruh bunga ini." Aku menjelaskan agar Rain paham. Dia nampak mengangguk-anggukkan kepalanya pertanda kalau Rain paham.


Aku gegas menaruh tanah sedikit ke dalam potongan bambu ini, lalu aku mencongkel bunga ini serta dengan tanahnya. Kemudian aku menaruhnya di dalam potongan bambu yang sudah aku siapkan sebelumnya. Merapihkan sisa-sisa tanah yang berserakan.


"Sudah jadi!" Seru ku sambil menyodongkan bambu yang berisi bunga ini kepada Rain dan Carly.


"Kenapa kau punya ide yang menakjubkan," ucap Rain melongo melihat ide ku ini.


"Sudah, jangan memujiku seperti itu. Aku memang pintar," ucapku sambil terkekeh pelan.


Rain hanya memutar bola matanya.


"Sepertinya hari sudah akan sore, lebih baik kita bergegas untuk kembali melanjutkan perjalanan," ucapku sambil menatap langit.


Aku beranjak berdiri dan melangkah menuju sebuah pohon yang tadi sempat untuk Rain tidur. Mengambil gentong air dan menyiramnya dengan sedikit air agar tanahnya tidak kering. Kemudian aku meletakkan kembali gentong air tersebut ke dalam tas.


Gegas aku menuju ke tempat Rain berdiri yang sedang memegang Carly.


"Oh iya, kau mempunyai ruangan penyimpanan yang bisa menyimpan barang-barang kan? Aku nitip deh ya," ucapku sambil menyerahkan barang-barang yang aku pegang.


Rain berubah wujud menjadi kuda, dia memejamkan matanya kemudian tanduknya bersinar. Sampai akhirnya barang-barang yang aku pegang hilang, mungkin sudah masuk di dalam ruang penyimpanan milik Rain.


Rain membuka matanya kembali dan melihatku.


"Bagaimana kalau kau menunggangi aku saja, Putri. Agar kita cepat sampai," ucap Rain menawarkan diri.


"Ya kau benar, tapi kita harus mencari kayu untuk menghangatkan tubuh kita nanti setelah sampai di Goa Pedang," ucapku menatap Rain.


"Aku sudah ada persediaan kayu bakar di dalam ruang penyimpanan ku, jadi kau tidak perlu repot-repot mencari kayu lagi," ucap Rain membuatku terdiam.


Ya, daripada aku berdebat dengan Rain lebih baik aku menuruti ucapannya.


"Baiklah kalau kau memaksa," ucapku sembari melangkah menuju Rain.


Aku pun menungganginya dan tidak lupa si Carly yang berada di pundak ku. Kami pun melanjutkan perjalanan dengan langkah Rain yang setengah berlari.


"Kenapa begitu sunyi ya?" tanya Rain setelah lama terdiam.


"Mungkin karena hari sudah akan sore jadi hewan-hewan bisa saja kembali ke sarangnya masing-masing," jawabku sambil menatap sekeliling yang begitu sepi. Hanya ada satu dua burung terbang yang melintas.


"Kenapa matahari begitu cepat tenggelam ya, padahal tadi masih terlihat cahaya mataharinya," ucap Rain seakan tidak menyangka.


Aku pun berpikir demikian, bagaimana kalau kita sampai di Goa Pedang itu masih sangat lama? Atau bahkan besok baru sampai? Kalau itu benar maka akan sangat melelahkan.


Setalah cukup lama kami menempuh perjalanan, aku mendengar aliran sungai yang tidak jauh lagi dari kami berada saat ini. Aku pun mengambil peta yang memang sudah berada di kantung bajuku. Membuka peta tersebut dan melihat kalau Goa Pedang itu berada di sebelah mana.


"Oh! Goa Pedang itu sudah dekat ternyata," ucapku membuat Rain menghentikan langkahnya.


"Yang benar, Putri? Disebelah mana?" tanya Rain.


"Di samping aliran sungai itu, kau dengar kan. Nah, tidak jauh dari situ kita akan sampai di Goa Pedang tersebut," jawabku, lalu turun dari punggung Rain.


"Kau mau kemana?" tanya Rain melihatku yang berjalan menuju sumber suara aliran sungai tersebut.


"Aku mau mencari aliran sungai itu, kalau kau ingin tetap disini tidak apa-apa," jawabku tanpa menoleh ke arahnya.


"Tapi untuk apa kau mencari sungai?" tanya Rain membuatku malas menjawabnya.


Aku tidak menghiraukan Rain yang terus memanggilku, aku terus berjalan menuju aliran sungai yang ku dengar ini.


Dan akhirnya aku menemukan aliran sungai yang kudengar tadi, berjalan lebih dekat lagi agar bisa melihat dengan jelas apakah ada ikan di sungai ini. Jika ada, bisa untuk makan malam hari ini.


"Kau lihat apa?" tanya Rain yang sudah ada di sebelahku. Menatapku bingung.


Aku menoleh ke arahnya yang tampak kebingungan serta Carly yang duduk di punggungnya Rain.


"Cari ikan," jawabku singkat lalu beralih menatap sungai ini.


"Untuk apa?" tanya Rain lagi membuatku mendengkus kesal.


"Untuk makan lah, memangnya kau mau kelaparan? Bisa-bisanya kau bertanya begitu," ucapku ketus dan sebal dengan pertanyaan Rain.


yuk like and komen yah:)