
Aku melihat adikku yang masih terbaring lemah tak berdaya, ku peluk ia dengan erat. Kasian sekali kau Chiu.
Aku merasakan tanganku sangat perih, aku melihatnya dan ada luka. Mungkin akibat pedang prajurit yang menyerang ku tadi. Darah terus menetes, tidak ku hiraukan luka ini.
Hingga kami sampai di tempat favoritku, aku turun dari punggung Gold dan membaringkan adikku di rerumputan.
Aku melihatnya dalam, bagaimana menyembuhkan dia? Apakah pakai kekuatan ku? Bisa tidak ya?
Aku beralih menatap kedua hewan imut ini
"Apakah kalian tau cara mengobati adikku?"
'Gunakan kekuatan elemen tumbuhan, maka dia akan sembuh.'
Putih berkata, tapi bagaimana caranya? Apakah aku harus melakukannya dengan apa yang aku lakukan saat menanam tanaman herbal? Sebaiknya aku coba dulu deh.
Ku arah kan tangan kananku ke tubuh adikku, berharap dia sembuh. Cahaya pun muncul, tapi mengapa ini berwarna ungu? Sudahlah nanti saja.
Memar di tubuh adikku pun perlahan mulai hilang, aku menurunkan tanganku lalu menatapnya. Ini berhasil!
Dia mengerjap mata beberapa kali, lalu sekilas melihat ke arahku dan bangun dari rerumputan.
"Aku dimana?"
Dia tampak melihat sekeliling, lalu menatapku.
"Ditempat favoritku," ucapku dingin.
Eh tiba-tiba dia menangis, kenapa dia? Apakah aku sudah membentak nya? Aku rasa tidak!
"Hiks..hiks kak tolong selamatkan ayah dan kakak-kakakku."
Dia memegang tanganku erat, berharap agar aku membantunya. Bukannya aku tidak mau, hanya saja...
"Kak saya mohon, mereka sedang kesakitan sekarang."
His! kasian juga sih lihat adikku nangis seperti ini. Kaisar dan lainnya kan masih diikat oleh kekuatan orang yang menculik adikku.
Aku mengangguk saja sambil tersenyum, kalau aku menolak bisa-bisa adikku akan membenciku.
Kami terbang kembali, Chiu adikku tampak senang sekali menunggangi Naga milikku.
Tidak lama kemudian, kami sampai di kerajaan Queen. Gold dan Putih sudah berubah menjadi kecil seperti semula, kini aku menyerahkan sebuah selembar daun jeruk kepada adikku. Sebelumnya aku sudah memberi daun itu kekuatan penghancur, jadi aku tidak perlu ikut masuk ke dalam dan menghancurkan rantai itu.
"Ini daun jeruk, tempelkan saja daun ini ke rantai yang mengikat ayah dan yang lain juga."
Dia menatapku lama, lalu mengambil daun jeruk itu.
"Kenapa kakak tidak ikut?"
Dia seperti berharap aku ikut untuk bertemu dengan mereka.
"Tidak, cepat tolong ayahmu."
Dia mengangguk dan berlari kedalam, aku mengintip dibalik gerbang ini. Dia melakukan apa yang aku suruh, semua yang di sana tampak terkejut.
Kulihat mereka sudah terbebas dari rantai, aku segera pergi menuju tempat yang tadi lagi.
Aku mendengar suara adikku yang berbicara kepada kaisar.
"Ayah! apakah kau baik-baik saja?"
"Iya Chiu, siapa yang menolong mu?"
"Kakak yang baik hati, ayah!"
Mengapa aku bisa mendengarnya ya? Padahal jarak ku dengan adikku sangat jauh. Sungguh luar biasa kekuatan yang dimiliki oleh Putri Sioa ini.
Hmm maafkan aku Chiu, aku tidak ingin bertemu dengan mereka lagi.
Aku sudah sampai di tempat favoritku, bersandar pada pohon. Memikirkan entah apa, aku juga bingung dengan diriku sendiri.
'Hei Putri, anda sedang memikirkan apa?'
"Tidak tau," ucapku ketus.
'Mengapa anda tidak ikut masuk ke kerajaan Queen putri? Anda bisa mencari buku tentang dua aura itu.'
Kini Gold yang bertanya padaku.
"Lain kali saja deh," ucapku malas.
Aku sungguh malas membahas dua aura itu, entah kenapa. Rasanya ingin sekali aku menghancurkan sesuatu.
'Ikuti aku, Putri.'
Putih akan mengajakku kemana? Tidak tahu kah kalau aku sedang malas untuk berbuat apa-apa. Ya dari pada aku disini merasa bosan lebih baik aku ikuti saja dia.
Putih terus berjalan, membuatku merasa sangat lelah. Apalagi Gold yang terus bertengger di pundak ku, ingin rasanya aku memukul Naga ini.
"Hei Putih! kau akan mengajakku kemana?"
Putih tidak menjawab pertanyaan ku, dia terus berjalan. Ish! Menyebalkan! apakah dia tuli? Aku mengedarkan pandangan ke arah lain, tidak mau aku melihat Putih ini.
'Kita sudah sampai, Putri.'
Aku berhenti, menatap ke depan. Wah! Pemandangan yang sangat indah, ada sungai, pohon bunga sakura, dan pohon lainnya.
Aku menatap tidak percaya dengan apa yang aku lihat, seperti taman bunga!
Aku melihat-lihat pohon-pohon ini, memandang dengan takjub. Aku duduk di atas rerumputan, lalu merebahkan tubuhku ke rerumputan ini. Mengguling-guling ke sana kemari.
Rasa bosanku perlahan menghilang,mungkin karena aku melihat keindahan alam ini.
Aku heran, mengapa ada pemandangan yang sangat indah di dalam hutan seperti ini? Aku melihat kedua hewan milikku, mereka juga baringan di bawah pohon sakura.
Aku duduk dan menatap mereka, eh? Mereka salah tingkah? Baperan sekali mereka, aku mendengus kesal.
"Hei kalian, apa yang kalian ketahui tentang hutan indah ini?"
'Ini bukan hutan indah, tapi hutan peri.'
Apa? hutan peri? Lalu dimana para peri hutan ini?
'Mereka akan sembunyi jika ada yang memasuki area para peri.'
Huh! Putih membaca pikiran ku lagi, benar-benar tidak tahu sopan santun.
"Mengapa mereka sembunyi?"
Aku penasaran, mengapa para peri bersembunyi jika ada yang memasuki area miliknya?
'Karena, pernah ada seseorang memasuki area peri dan mencoba untuk menangkap peri itu. Dia membunuh peri kecil itu dengan cara mengambil kekuatan yang dimiliki oleh peri kecil yang ia tangkap. Hingga seseorang itu bertambah kuat, ratu peri dan para peri sudah tidak tahan dengan keserakahan orang itu, membuat ratu peri memberi kutukan kepada orang yang memasuki area peri dan hanya membunuh peri dia akan berubah menjadi kodok.'
Penjelasan si Putih membuatku ingin menangis, orang yang tega membunuh peri itu sangat keterlaluan!
"Lalu mengapa pohon-pohon sakura ini seperti bersinar?"
Aku bisa melihat bahwa pohon-pohon sakura yang aku lihat ini seperti mengeluarkan cahaya.
'Pohon sakura ini adalah para peri yang sudah mati, karena kekuatan mereka sudah diambil.'
Hah? aku bingung dengan penjelasan si Putih. Tidak bisa masuk ke dalam otakku.
"Lalu dimana para peri itu bersembunyi?"
'Mereka bersembunyi di tempat yang menurut mereka aman, disekitar kita pun ada peri yang sedang bersembunyi sambil menatap kita.'
Aku tidak percaya, kenapa Putih bisa tahu? Sedangkan aku tidak. Aku melihat sekeliling tidak ada apa-apa, apalagi yang janggal.
"Kenapa kau bisa tahu? sedangkan aku tidak."
'Itu karena kau tidak fokus dengan sekitar, coba anda lebih fokus ke sekeliling maka kau akan merasakannya.'
kembali sama author lagi nih, yuk kasih like biar author tambah semangat:)