
"Maukah kamu ikut denganku?" tanyaku, membuatnya bengong.
"Tapi, bagaimana dengan adikku?" dia menunduk, sepertinya dia tidak mau meninggalkan adiknya.
"Adikmu juga akan ikut," ucapku sambil mengusap kepala anak ini.
Dia mendongak, menatapku dengan dalam. Binar diwajahnya terlihat sekali bahwa ia senang.
"Kita hampiri adikmu ya, dimana rumahmu?" tanyaku sambil keluar lagi dari kereta kuda.
Dia menunjuk ke sebuah kardus yang bertumpuk-tumpuk. Dia melangkah lebih dulu, aku mengikutinya dibelakang. Yein aku suruh untuk tetap di kereta kuda.
Setelah sampai di tumpukan kardus itu, aku melihat anak perempuan. Dia mirip dengan anak laki-laki tadi, apakah mereka kembar? Rambut emas dan bermata biru.
"Kakak, aku lapar," ucap anak perempuan itu, tanpa menatap ke arahku. Mungkin dia tidak menyadarinya.
"Aku hanya bisa mendapatkan ini, Qin Gushi," ucap Zao, lalu menyerahkan dua anggur kepada adiknya.
Jadi, nama adiknya Qin Gushi? Ternyata mereka kembar.
Qin tampak sangat senang dengan pemberian kakaknya, segera dia memakan habis anggur itu lalu menatapku. Setelah sadar bahwa ada orang asing.
"Dia siapa, kak?" tanya Qin kepada kakaknya.
Kulihat Zao bingung, karena dia belum tahu namaku.
"Aku Sioa Shi," ucapku sambil tersenyum.
Mereka seperti sedang mengingat sesuatu, aku tidak ingin mereka tahu siapa aku sebenarnya. Segera aku mengalihkan topik lain.
"Mm kalian mau kan, ikut bersama kakak?" tanyaku menatap kedua anak ini.
"Iya, Qin. Kakak ini punya banyak makanan, kita pasti tidak akan kelaparan," ujar Zao meyakinkan adiknya.
Qin, dia tampak ragu-ragu untuk ikut denganku. Setelah lama berfikir, dia menganggukkan kepala bahwa dia mau.
"Kalau begitu, yuk ikut kakak," ucapku sambil tersenyum.
Mereka berdiri, lalu menggandeng tanganku. Mereka seperti sangat senang sekali, tapi berapa lama mereka tinggal di tumpukan kardus itu?
Kini aku sudah berada di kereta kuda, Yein memandangiku bingung.
"Mengapa anda membawa mereka, Putri?" tanya Yein menatapku dan beralih menatap kedua anak ini.
"Kalian masuk dulu ya, nanti kakak nyusul," ucapku kepada kedua anak ini. Mereka mengangguk dan masuk kedalam kereta kuda.
Lalu aku menatap Yein, dia benar-benar dibuat bingung.
"Mereka sangat kasihan sekali, Yein. Jadi, aku ingin mengurusnya dan mengembalikan 'nya kepada orang tuanya," ucapku sambil melihat kereta kuda.
"Baiklah, Putri. Saya akan membantu," ucap Yein menatapku.
Aku mengangguk, lalu mengajaknya untuk masuk kedalam kereta kuda.
"Tuan, antarkan kami ke tempat tadi ya," ucapku memandang tuan pemilik kereta kuda.
Dia mengangguk, aku segera masuk kedalam. Kereta sudah kembali berjalan, mungkin sampai rumah akan malam.
Aku memandangi kedua bocah didepan ku, mereka sangat tidak terurus. Baju yang sudah kumal, rambut yang acak-acakan. Kasian sekali mereka.
"Kenapa kalian bisa ditempat tadi? Dimana orang tua kalian?" tanyaku kepada kedua anak ini.
Mereka menghentikan bermain nya, lalu menatapku.
"Kami tidak ingat, saat itu kami sedang bermain di taman bunga bersama seseorang. Lalu ada yang menculik kami, setelah kami sadar, kami sudah berada di tempat yang sangat asing. Sampai sekarang, kami tidak ingat apapun. Orang tua kami ... kami tidak tahu dimana mereka," ucap Zao, dia menunduk seperti akan menangis.
Berarti mereka dari kerajaan? Lalu kenapa tidak dicari? Kurasa mereka hilang ingatan, siapa yang berani melakukan semua ini kepada mereka?
"Apakah benar, kalian tidak mengingat apapun?" tanyaku, mereka mendongak.
"Akh!" Zao berteriak kesakitan.
Hampir saja aku tahu wajah perempuan tadi, kenapa harus terpotong sih.
"Zao, apakah kamu baik-baik saja?" tanyaku, menatap ke arahnya. Khawatir terjadi sesuatu padanya.
"Kalau begitu, jangan dipaksakan. Sudah jangan diingat lagi, Zao." ucapku, dia mengangguk.
Mereka termenung, lalu tertidur saling bersandar.
Aku menengok, melihat Yein yang juga sudah tertidur. Kelihatannya mereka sangat lelah, ku putuskan untuk tidur juga.
***
Aku merasakan ada seseorang yang mengguncang tubuhku, kudengar ada seseorang memanggil namaku. Kubuka mata perlahan, menatap Yein yang sedang menatapku.
"Kita sudah sampai, Putri."
Yein membangunkan ku, dia masih menatapku.
Aku mengangguk, lalu berjalan keluar dari kereta kuda. Lalu aku menyerahkan uang kepada tuan pemilik kereta kuda.
"Terima kasih sudah mengantarkan kami, Tuan." Aku menyerahkan uang kepadanya.
Dia tersenyum, aku segera berjalan pulang ke rumah. Hari sudah akan gelap, kini aku memasuki pedesaan. Sunyi, itulah yang kurasakan.
Kedua anak ini terlihat ketakutan, mereka menggenggam tanganku dengan sangat erat.
Yein, dia juga tampak ketakutan. Hari sudah akan semakin gelap, kini aku akan melewati pepohonan. Sebenarnya aku pun takut, tapi karena ada orang yang aku sayangi. Aku harus menepis rasa takutku.
Tiba di tengah perjalanan, aku merasa ada yang memperhatikan kami. Kurasa hanya aku yang tahu, aku harus berpura-pura tidak tahu saja agar Yein dan kedua anak ini tidak takut.
Srek!
Apa itu?
Aku menghentikan langkahku, menatap sekeliling dengan seksama. Deg! Aura ini ... ah lupakan.
"Ada apa, Putri?" Yein membuyarkan lamunanku.
Aku menggelengkan kepala, segera aku berjalan dengan langkah cepat. Aku tidak apa-apa kalau ada yang menyerang ku, tapi kali ini ada Yein dan kedua anak ini. Aku tidak mau terjadi apa-apa dengan mereka.
Sebuah cahaya lampu sudah terlihat, aku sudah sampai. Syukurlah kami selamat sampai rumah.
Kami masuk ke dalam rumah, ku suruh Yein untuk menemani anak ini membersihkan badan.
Aku memasak untuk makan malam bersama, aku yakin kedua anak itu pasti kelaparan.
***
"Makanan ini, sangat enak kakak," ucap Qin memandang kakaknya, Zao.
"Iya, kau harus berterima kasih kepada kakak Shi," ucap Zao, lalu membelai rambut adiknya.
Aku senang jika mereka juga ikut senang, aku merasa sangat terharu kepada kedua anak ini. Mereka saling melengkapi satu sama lain.
"Terima kasih, kak Shi." Qin memandangku sambil tersenyum.
Aku mengangguk, lalu tersenyum. Mereka melanjutkan makannya, tertawa bahagia. Begini saja kalian sudah bahagia, aku akan membantu untuk menemukan orang tua mereka.
Kami sudah selesai makan, seperti biasa Yein membereskan semuanya. Ku ajak, Qin dan Zao ke kamar mereka. Sebelah kamarku ada kamar kosong, jadi ku jadikan tempat tidur mereka saja deh.
"Ini kamar kalian, tidurlah. Pasti kalian lelah," ucapku menatap kedua anak ini.
Mereka mengangguk dan berjalan menuju kasur, merebahkan diri.
yuk like and komen yah:) terima kasih