The Rise Of A Princess

The Rise Of A Princess
Part 33 Bunga Cahaya Abadi



Sebuah bunga yang berwarna putih bersinar, sangat cantik jika dipandang. Bunga apa ini? Jika dijual maka akan sangat mahal sekali, namun aku mengalihkan pandanganku ke arah hewan mungil yang berada di sebelah kaki ku berada. Dia menatapku dengan mata yang seperti dia senang, entah senang karena apa.


"Hei, kau siapa? Mengapa ada disini? Apa maksudmu memberi tahuku tentang bunga itu? Dan bunga apa itu?" tanyaku, namun dia hanya diam sambil menatapku tersenyum dan menggeleng-gelengkan kepala ke kiri dan ke kanan seolah senang.


Aku menatap hewan mungil itu dengan kesal, apakah dia bukan hewan spirit? Tapi mengapa aku merasa kalau dia adalah hewan yang sudah mempunyai pemiliknya. Apakah dia tersesat?


"Baiklah mungkin kau tidak bisa bicara, jadi pergilah cari tuan mu berada. Disini bahaya," ucapku sambil berjongkok hendak mengelusnya.


"AAA! Sakit! Kenapa kau menggigitku dasar hewan sial kau!"


Aku marah, hewan ini benar-benar tidak tau apa-apa kah? Aku hanya ingin mengelusnya tapi dia malah menggigit tanganku. Dasar menyebalkan sekali dia.


Hewan mungil tersebut hendak mendekatiku, namun segera aku menjauh darinya. Apakah dia binatang buas? Terlihat kecil mungil dan lucu siapa tau aslinya dia ini hewan yang bisa memakan manusia!


"Hei jangan mendekat! Kau hewan jahat tega menggigitku! Aku kan tidak bermaksud jahat padamu tau!" Teriakku membuat hewan mungil itu berhenti dan terlihat sedih.


Argh! Disini seakan terlihat aku yang salah, padahal dia dulu yang menggigitku.


"Ada apa, Putri? Tadi aku dengar kau berteriak jadi aku terbangun karena kaget," ucap Rain yang tiba-tiba sudah berada di belakangku.


Aku menoleh ke arahnya yang tampak masih mengantuk, karena Rain masih menguap begitu dan matanya yang sedikit terpejam.


"Ee maaf Rain sudah menggangu waktu tidurmu, ini semua gara-gara hewan mungil itu! Dia yang membuatku berteriak. Padahal aku hanya mau mengelusnya, eh dia malah menggigitku!" Jelasku sambil menunjuk-nunjuk ke arah hewan mungil itu berada.


Rain lantas membuka matanya yang masih terkantuk itu dan sontak Rain langsung terkejut sampai melebarkan matanya. Sehingga dia berubah wujud menjadi manusia. Menghampiri hewan mungil tersebut dan akan mengelusnya.


"Jangan disen---"


"AAA! Sakitnya! Kenapa dia menggigitku," keluh Rain dan segera menjauh dari hewan mungil tersebut.


Aku memutar bola mataku, baru saja aku akan bilang jangan menyentuhnya. Kenapa dia bandel sekali dan tidak mau mendengarkan ku dulu? Biarin tau rasa kau Rain! Kan jadi digigit juga kan.


"Itulah salahmu sendiri, kan tadi juga aku sudah bilang dia pun menggigitku tau! Kau saja yang tidak mendengarkan," ocehku menyalahkan Rain.


"Hewan apa dia? Memangnya kau dapat dari mana?" tanya Rain melirikku sambil memegangi tangannya yang tadi tergigit oleh hewan mungil itu.


"Tuh, dia nongol sendiri dari semak-semak itu," ucapku sembari menunjuk ke arah semak-semak.


Aku dan Rain menatap hewan mungil tersebut, tampak seperti tersenyum kembali. Hewan mungil itu pun berjalan mendekati aku dan Rain.


"Hei jangan mendekat!"


Aku dan Rain tentu saja sangat histeris ketakutan melihat hewan itu melangkah mendekat. Dia berhenti melangkah dan menunjuk ke arah tanganku dan tangan Rain. Aku pun saling pandang dengan Rain, siapa tau dia paham maksud dari hewan ini. Tetapi sepertinya Rain tidak tau, dia hanya menggelengkan kepalanya.


Aku dan Rain pun kembali menatap hewan mungil itu, tampak dia memejamkan matanya sehingga keluar cahaya dari dahinya. Apa yang dilakukan oleh hewan mungil ini?


Tampak cahaya itu mengelilingi aku dan Rain, sampai-sampai aku dibuat bingung. Lalu cahaya itu perlahan hilang dan tampaklah hewan mungil itu tersenyum senang dan melompat-lompat.


"Putri ...."


Rain memanggilku, lantas aku menengok ke arahnya tampak sedang menunjukkan tangannya yang tadi digigit oleh hewan mungil itu. Dan apa yang kulihat? Lukanya sembuh hingga tidak ada bekasnya.


"Lukanya sembuh? Apakah hewan mungil itu menyembuhkan kita?" tanyaku sembari menengok ke arah hewan mungil tersebut.


Tampak hewan mungil tersebut menghampiri ku dan tiduran dipangkuan ku, seperti merasa nyaman.


"Baiklah aku akan memaafkan mu, karena kau juga lucu. Aku akan memberikan nama untukmu, apa ya yang cocok. Apakah kau punya ide nama untuk hewan mungil ini, Rain?" tanyaku menatap Rain sekilas kemudian kembali menatap hewan mungil ini.


"Ya aku sedikit masih kesal sih, namun karena kau imut maka aku akan memaafkan mu!" Oceh Rain sambil menunjuk hewan mungil ini.


"Karena dia kecil, mungil, lucu dan bikin gemas. Maka beri nama---"


"Carly! Ya aku memberi nama untukmu, Carly." Serobot ku memotong ucapan Rain.


"His, padahal aku juga berpikir akan memberi nama begitu. Tapi ya sudahlah setidaknya dia sekarang punya nama," ucap Rain terlihat sedih dan pasrah.


Tampak hewan mungil ini yang kuberi nama Carly, dia seakan senang telah diberi nama.


"Carly."


Aku dan Rain saling pandang, hewan mungil ini ternyata bisa bicara? Tapi kenapa tidak bicara saat aku menanyainya tadi? Bikin sebal saja.


"Kau bisa bicara, Carly?" tanyaku menatapnya dengan serius.


Namun bukannya menjawab dia malah berguling-guling di atas pangkuanku sambil tersenyum. Membuatku kesal saja.


"Mungkin dia hewan yang jenis irit bicara," ucap Rain yang mungkin saja merasa jengkel juga karena hewan satu ini.


Aku hanya mengangkat kedua bahu ku, pertanda bahwa aku tidak tau juga hewan ini jenis apa.


"Oh iya! Aku ingin menunjukkan sesuatu padamu, Rain! Kau mungkin sangat terkejut," ucapku antusias sembari menaruh hewan mungil ini di tanah.


"Apa?" tanya Rain dengan raut muka penasaran.


"Ayo ikuti aku," ajak ku sambil beranjak berdiri.


Rain pun ikut berdiri mengikuti langkahku yang menuju ke arah semak-semak di mana ada bunga putih yang sangat cantik. Siapa tau Rain mengerti bunga apa yang kulihat itu.


Aku menyibak semak ini dan tampaklah bunga putih yang bersinar.


"Bunga ini yang mau ku tunjukkan padamu, Rain. Apa kau tau bunga apa ini?" tanyaku sembari menengok ke arah Rain yang berada di sebelahku, menatapnya sekilas lalu kembali menatap bunga putih itu.


"Tunggu, bunga ini kan ... Bunga cahaya abadi! Kenapa bisa tumbuh disini! Kenapa kau bisa tau, Putri? Bunga ini kan sangat langka!" Cerocos Rain membuatku menoleh ke arahnya.


Aku menatap Rain sambil menaikkan satu alisku, aku benar-benar bingung dengan ucapan Rain barusan.


"Maksudmu apa? Kau tau nama bunga ini? Dan bunga ini sangat langka?" tanyaku penasaran.


"Tentu saja, bunga cahaya abadi ini cuma ada satu di dunia ini, Putri! Bunga ini tidak mudah layu ataupun mati, karena sesuai dengan namanya itu." Jelas Rain lalu berjongkok menatap dengan dekat bunga itu.


Bunga cahaya abadi? Hmm itu artinya bunga ini hidup abadi? Kalau dimakan apakah si pemakan bunga ini akan hidup abadi juga? Menarik juga kalau sampai bisa membuat orang hidup abadi.


Aku pun ikut berjongkok menatap bunga ini secara dekat, bunga ini memang berwarna putih dan seakan ada cahaya di kelopak bunganya. Mungkin kalau orang lain yang menemukannya akan dijual dengan harga yang sangat mahal.


yuk jangan lupa like and komen, makasih sudah membaca karyaku:) sehat selalu ya buat para pembaca setiaku:)