The Rise Of A Princess

The Rise Of A Princess
Part 18 mengalahkan penyihir



Brak!


"Akh!"


Aku terbangun karena suara berisik yang berasal dari luar, ada apa? Entahlah. Dengan malas aku bangun dan melihat keluar.


Brak!


Oh tidak! Ada apa ini? Orang-orang disini diserang oleh seseorang yang sangat aneh, dia berjubah hitam.


"Hentikan!" teriakku, membuatnya menengok ke arahku dan menyeringai. Siapa dia? Dimana Xio? Rain juga dimana?


"Wah ternyata seorang anak kecil," ucapnya berjalan pelan ke arahku.


"Siapa kau? Kenapa kau menyerang orang-orang disini?" tanyaku menatapnya dengan tajam.


"Sebentar lagi, kau juga akan tahu siapa aku."


Dia benar-benar orang aneh yang pernah aku temui setelah Xio, kenapa sih disini orangnya aneh semua. Seperti, aneh-aneh menyimpan misteri. Hii ngeri kan?


"Hati-hati putri, dia adalah penyihir yang sudah mengutuk Gunung Suci." Xio datang entah dari mana, dia tiba-tiba sudah ada di sampingku.


"Hah! Dasar para bocah kecil, membuatku muak saja." Penyihir itu melakukan sesuatu, menggerakkan tangannya.


"Hati-hati dengannya, dia sangat kuat." Xio memberi tahuku, kulihat Xio pun mengambil ancang-ancang.


Aku ikuti saja gerakannya, mungkin penyihir itu akan menyerang kami sekarang.


Dan...


Tiba-tiba sebuah cahaya muncul dari tubuhku, aku merasakan seperti mengambang di atas awan. Apakah yang terjadi padaku? Semua orang yang melihat ini, hanya melongo saja. Perlahan cahaya mulai pudar dari tubuhku, kulihat bahwa diriku sedikit berbeda dari yang tadi.


Tubuhku yang sekarang menjadi lebih baik dari pada yang kemarin nya, pakaian yang ku kenakan juga ikut berubah. Kemarin aku memakai baju berwarna ungu, sekarang menjadi biru. Intinya sangat indah sekali, aku benar-benar heran dengan hal ini. Sangat mengejutkan diriku.


"Batu pertahanan itu kan ... hei serahkan batu pertahanan itu kepadaku bocah kecil!" Penyihir itu menunjuk ke arahku, batu pertahanan? Jelas-jelas aku tidak memegang batu itu.


Oh! Ternyata sudah bertengger di leherku, menjadikan sebuah kalung. Batu pertahanan ini berwarna hitam dan putih. Sama seperti aura kegelapan dan aura suci milikku.


"Serahkan itu padaku! Apa kau tidak dengar ha!" ucap penyihir itu dengan memaksaku untuk menyerahkan batu ini.


"Enak saja, kau siapa? Pergi aja sana!" ucapku dengan sorot mata tajam.


Ctar!


Sebuah kilatan petir menyambar penyihir itu sampai menjadi kepulan asap hitam lalu menghilang. Hii serem amat, cuma dilihat saja sudah begitu.


Seketika semua orang langsung berbondong-bondong keluar dari rumah mereka, melihatku dengan tatapan yang penuh kekaguman. Seketika semua orang-orang disini menjadi seperti semula, tidak gatal-gatal lagi ditubuh mereka. Perumahan pun sudah kembali bagus, tidak seperti kemarin yang terkoyak sana sini.


"Hore! Kita akhirnya bebas dari kutukan itu!"


"Benar, dan Dewi penyelamat itulah yang sudah menolong kita," ucap salah satu dari mereka sembari menunjuk ke arahku.


"Mari kita merayakan hari pembebasan ini!"


"Ayo!"


Mereka mulai berjalan ke arahku, dan bersujud di hadapanku membuat diriku merasa tidak nyaman. Aku tahu ini adalah tradisi untuk memberi hormat ataupun terima kasih.


"Hei sudahlah,jangan begitu. Cepat berdiri!" titah ku kepada mereka.


Mereka mengikuti apa yang aku ucapkan, ini sungguh membuatku lega. Tapi, apa yang terjadi denganku tadi? Sebuah cahaya datang dari tubuhku, dan tiba-tiba sudah ada batu pertahanan.


"Namamu siapa Nona?" tanya salah satu dari orang-orang tersebut.


Jangan ditanya lagi, pastinya mereka tampak sangat terkejut setelah aku menyebutkan namaku.


"Wah! Kau Putri dari kerajaan Queen bukan?"


"Dia sangat baik hati."


"Rumor bahwa dia itu terkena penyakit, ternyata tidak benar."


Aah, mulai deh ngocehnya. Ini masih pagi, seharusnya ngapain gitu jangan bergosip tentang diriku yang tidak ada faedahnya ini. Ada sih, tapi gimana yak.


"Kami berharap, kau bisa mengubah dunia ini, Putri."


Apa maksudnya itu? Apa yang dikatakan oleh orang ini? Seperti menyimpan banyak misteri yang harus diselesaikan. Ada apa dengan dunia ini? Membuatku bingung sangat bingung.


"Maksudmu apa?" tanyaku menatap orang yang tadi berucap tidak jelas.


"Kau akan tau dengan sendirinya," ucapnya sembari tersenyum kepadaku.


Huh! Disini sangat memberatkan bagiku, dunia ini terlihat tidak apa-apa, tapi ternyata banyak menyimpan beribu misteri. Dan aku pula yang harus memecahkan misteri ini.


"Hei sudah, jangan terlalu diseriuskan masalah itu. Sekarang ayo kita rayakan pembebasan ini!" Xio mencairkan suasana, sepertinya dia tahu kalau aku sedang bingung dengan ucapan orang tadi.


"Ayo!"


Mereka serempak bersemangat sekali, terlihat begitu bahagia karena sudah terbebas dari kutukan penyihir itu.


Ada yang berbagi tugas, sebagian mencari kayu bakar dan sebagian memburu di hutan. Aku bingung mau ngapain, ingin membantu tapi semua orang menolak. Katanya aku tamu spesial, jadi aku harus beristirahat saja kata mereka. Sungguh aku tidak enak hati, jadi aku menuju ke sebuah pohon dan bersandar di sana.


Lebih baik aku bertelepati saja dengan Putih dan Gold, menanyakan keadaan di sana seperti apa. Padahal aku ke Gunung Suci ini baru 1 hari, tapi masalah ini sudah selesai. Sangat singkat menurutku, ya kurasa ini lebih baik dari pada kelamaan.


"Kau sedang apa?" tanya seseorang, ternyata Xio setelah aku menengok ke arahnya.


Aku menggelengkan kepala, tanda bahwa aku tidak sedang apa-apa.


"Jangan berbohong, aku tau kau pasti sedang merindukan seseorang."


Aku meliriknya sekilas, sok tahu sekali dia! Ada saja orang aneh seperti Xio ini, andai saja aku saat itu tidak bertemu dengan dia. Huh! Sudah nasibku ini mah!


"Diam! Aku ingin bertelepati dengan Putih," ucapku sambil membenarkan dudukku.


Entah bagaimana reaksinya sekarang, intinya aku ingin menanyakan kabar di sana.


'Putih, apa kau mendengarkan ku?' tanyaku.


Hening, tidak ada jawaban dari sana. Aku sudah tidak tenang saat ini, aku benar-benar takut kalau mereka ... ish! Aku tidak boleh berpikiran yang tidak-tidak. Biasanya Putih akan langsung menjawab ataupun Gold, tapi kenapa ini tidak? Ada apa lagi ini? Atau jangan-jangan kakak iblis itu datang lagi! Tidak mungkin!


'Putih! Gold! Kalian dimana? Jawab aku! Hei kalian jangan mempermainkan ku ya!' Ancam ku, berharap kalau Putih dan Gold menjawab telepati ini.


Dan ... lagi dan lagi hening seketika, aku benar-benar merasa khawatir sekali. Kalau kakak iblis itu melakukan sesuatu kepada orang-orang terdekatku gimana?


'Hei! Putih! Jawab aku!' ucapku sedikit ngegas hehe. Biar kedengaran sama Putih peliharaan aneh itu.


'Eh! Itu kau Putri?' tanya suara itu, iya! Itu Putih! Dari mana aja nih hewan dari tadi gak jawab, bikin khawatir saja.


'Bukan! Ini orang gila! Sudah jelas ini aku kenapa masih tanya!' Aku mulai deh, maaf ya Putih kau sudah aku bentak-bentak. Ya salahmu sih, nyebelin banget.


'Maaf Putri, tadi aku ketiduran hehe,' ucap Putih. Ketiduran katanya? Wah bener-bener nih hewan peliharaan ku!


Terima kasih sudah membaca:) jangan lupa like and komen yah makasih:)