
***
Kami sudah berjalan selama lebih dari dua jam, akhirnya kami sampai di tempat kakek Xin. Hanya ada dua rumah, entah dia tinggal disini dengan siapa. Kalau pun sendiri sepertinya tidak mungkin.
Aku melihat-lihat sekeliling tempat kakek Xin, terlihat begitu asri dan sejuk. Apakah kalau malam tidak ada binatang buas yang bisa saja menyerang kesini? Kecuali kalau kakek Xin memberi perisai untung melindungi tempat ini.
"Hei! Apa yang kau lakukan?! Cepat kau turun dasar anak nakal!"
Lantas aku menengok, tampaknya kakek Xin sedang memarahi Rain yang kini sedang berada di atas pohon, sejak kapan dia manjat pohon tersebut? Terlihat bahwa Rain begitu kegirangan, entah dia bahagia karena apa.
Aku tertawa geli melihat tingkah Rain itu, apakah dia benar-benar Rain si kuda cantik itu? Sangat lucu sekali tingkahnya.
"Hei Rain! Cepatlah turun, jangan kau membuat kakek Xin marah padamu!" teriakku menyuruh Rain untuk segera turun dari pohon kesayangan kakek Xin. Sembari berjalan menuju ke arah kakek Xin berdiri memandang Rain dengan tatapan tajam.
Rain pun turun tanpa membantah lagi
"Kakek Xin, apakah anda tau apa yang terjadi dengan Rain?" tanyaku kepada Kakek Xin tentang perubahan Rain tersebut.
Kakek Xin menatap ku sebentar, lalu ia duduk di sebuah potongan pohon yang bisa untuk dijadikan sebagai tempat duduk. Terlihat ia menghela napas pelan, menatap ku lalu memberi isyarat agar aku duduk. Karena ada beberapa potongan pohon yang bisa untuk duduk. Aku pun duduk tak jauh dari kakek Xin berada, Rain pun ikut serta, ia duduk tepat di sampingku.
"Rain, dia terkena racun perubahan. Yaitu, jika seseorang atau pun hewan spirit seperti Rain terkena racun tersebut, maka dia akan mengalami perubahan pada dirinya. Rain untuk sementara akan terus menjadi wujud manusia, setelah beberapa hari dia akan kembali seperti semula. Kau tidak perlu khawatir," jelas kakek Xin panjang lebar, membuatku sedikit tenang karena Rain tidak terkena racun berbahaya.
"Lalu siapa yang mengincar kami saat itu? Apakah kakek tau?" tanyaku teringat peristiwa tadi, ada yang menyerang kami tanpa aba-aba.
"Yang pasti ada seseorang yang mengincar mu, jadi kau harus berhati-hati," ucap kakek Xin terlihat begitu serius.
Siapa lagi yang akan mencelakai kami selain Zei iblis itu? Atau dia orang kiriman Zei untuk mencelakai kami? Hah Putri Sioa nasibmu sungguh malang sekali ya.
"Apa tujuanmu mencariku? Kau kan tau hutan Xixi sangat berbahaya, untung saja aku datang tepat waktu tadi. Jika tidak, entah nasib mu akan seperti apa," oceh kakek Xin memandangi ku dengan tatapan tajam.
"Aku dari kerajaan Queen, aku adalah Putri Sioa Shi anak ke-tiga. Aku datang ke sini untuk meminta bantuan mu, kekuatan ku telah di segel oleh Zei, kakakku. Orang-orang yang aku sayangi terjebak di sana, aku ingin membebaskan mereka. Bisakah kakek membantuku untuk membuka segelan ini?" jelas ku menatap kakek Xin yang begitu serius mendengarkan.
"Sepertinya kisah hidupmu sangatlah rumit, tapi apakah kau yakin ingin membuka segelan itu?" tanya kakek Xin terlihat ragu.
"Aku sangat yakin!" tegas ku penuh semangat.
Kakek Xin terlihat mengangguk dan seakan tau kalau aku sangatlah berharap kalau ia bisa membantuku.
"Tapi membuka segelan itu tidaklah mudah, kau harus berada di titik puncak Gunung Ice. Selain itu kau harus bermeditasi sampai kau merasakan aliran darah mu terasa amat panas dan dingin secara bergantian. Jika kau bisa menahan rasa panas itu dan dingin, maka perlahan segelan mu akan terbuka. Dan kau harus fokus pada meditasi mu, tidak boleh hilang fokus apalagi sampai pikirin mu teralihkan. Bisa-bisa kau akan gagal," ucap kakek Xin panjang lebar, terlihat begitu serius saat menjelaskan.
Aku terdiam sejenak, memang tidak mudah tapi aku harus berusaha terlebih dahulu.
"Lalu, sebelum aku pergi ke Gunung Ice, aku harus menyiapkan apa saja?" tanyaku kepada Kakek Xin
Pasti akan banyak hal yang disiapkan sebelum ke Gunung Ice, apalagi di sana sangatlah dingin. Jika tidak tahan dengan rasa dingin tersebut bisa-bisa mati kedinginan.
"Banyak, yang paling utama adalah kau harus banyak berlatih meditasi, agar kau di sana tidak terkejut," ucap kakek Xin membuatku bingung. Apa yang ia maksud dengan 'terkejut'? Apakah ada sesuatu?
"Selanjutnya bagaimana? Berapa hari aku akan berlatih terlebih dahulu di sini?" tanyaku menatap kakek Xin.
"Yah kurang lebih 14 hari, tapi jika kau bisa menyelesaikan apa yang aku suruh dalam waktu singkat, kau bisa langsung ke Gunung Ice," jawab kakek Xin memandangi ku dengan tatapan meremehkan. Hah! Tergantung tugas apa saja yang ia berikan nanti.
"Apanya? Besok saja ku lanjutkan. Sekarang kau dengan Rain istirahat lah di sana," ucap kakek Xin sembari menunjuk sebuah gubuk di samping pohon yang tadi dipanjat oleh Rain.
Kakek Xin beranjak dari tempat duduk, melangkah menuju sebuah gubuk yang tak jauh dari gubuk yang akan aku dan Rain tempati nanti.
Hari sudah akan gelap, menandakan sebentar lagi akan malam. Aku dan Rain segera beranjak dari tempat duduk dan melangkah menuju gubuk.
Kriet!
Aku membuka pintu gubuk ini, didalamnya terdapat banyak sekali buku yang tertata rapi. Ada satu tempat tidur dan disampingnya ada meja serta tumpukan buku, apakah kakek Xin hobi membaca? Banyak sekali buku-buku disini.
Aku berjalan ke sana kemari melihat-lihat seluruh gubuk isi gubuk ini, kemudian aku berhenti melihat sebuah lemari. Aku membukanya, lalu terdapat banyak baju yang sudah sedikit usang. Mungkin tidak pernah dipakai oleh kakek Xin.
Aku berjalan berkeliling lagi menelusuri setiap sudut, aku masih penasaran dengan ini semua.
"Putri, tidak kah kau mandi?" tanya Rain mengagetkan ku yang sedang fokus menelusuri setiap sudut gubuk ini, aku pun menoleh dan melotot padanya.
"Kau mengagetkan ku saja, kalau kau mau mandi ya mandi sana. Memangnya kau tau tempat mandi nya dimana?" tanyaku manatap Rain sekilas, lalu kembali melihat sekeliling.
"Tentu saja aku tau," ucap Rain lalu menghampiri ku.
"Kau sedang apa sih? Ada yang aneh kah dengan gubuk ini?" tanya Rain ikut melihat sekeliling.
Aku pun menengok ke arahnya, menatap Rain dengan sebal. Ia tidak tau kah kalau benda-benda disini sangat aneh, banyak macam-macam jenis pedang dan benda tajam lainnya. Apakah kakek Xin mengoleksinya? Tapi untuk apa? Apakah untung berburu? Ya kurasa begitu.
Aku pun menunjuk ke sebuah kumpulan pedang, berharap Rain mengerti apa maksudku.
Rain menengok ke arahku, menatapku dengan tatapan yang bingung.
"Apa? Kau mau aku mengambil pedang itu? Hei itu tidak boleh dilakukan, jika kau menginginkan pedang itu bilang terlebih dahulu dengan kakek Xin," ucap Rain asal berbicara saja.
"Kau ... Apakah kau tidak merasa aneh? Benda-benda disini sangat banyak dan untuk apa Kakek Xin mengumpulkan nya," ucapku sembari terus menatap berbagai macam pedang.
"Yah mungkin untuk berburu hewan, apalagi? Tidak ada yang aneh, tapi kau yang aneh hehe," ucap Rain meledekku dengan wajah tak berdosa.
Aku menatapnya dengan tajam, ingin rasanya aku menonjok ia sekarang juga. Tapi kasihan juga karena kalau ku tonjok dia akan pingsan nantinya.
"Kau yang aneh!" Aku menunjuk muka Rain.
"Kau!"
"Kau!"
"Kau!"
"Ka---"
"Hei-hei kalian bisa diam tidak?"
yuk kasih semngat untuk author, makasih buat kalian yang setia menunggu author update:)