
"Hei Rain, jika kau lapar cepatlah makan. Jangan berpura-pura tidak lapar," ucapku sembari terkekeh melihat Rain yang melirikku seakan malu.
"Baiklah," ucap Rain kemudian mengambil sedikit daging ikan ini kemudian memakannya.
Carly yang sedang tidur pun terbangun, mungkin dia mencium bau ikan bakar ini. Mendekat ke arahku sembari sesekali menguap.
Kemudian Carly duduk tepat di sampingku, menatapku dengan tersenyum. Dasar hewan aneh!
***
Selesai makan, kami pun membereskan sisa-sisa duri ikan dan membakarnya. Kalau dibuang sembarangan nanti bisa melukai kaki hewan yang lewat kesini.
"Pedang ini kau dapat dari mana, Putri?" tanya Rain sembari memegang pedang yang tadi aku dapat dari Goa Pedang ini.
"Tadi aku menelusuri Goa ini dan menemukan pedang itu tertancap, jadi aku mengambilnya setelah meletakkan dua batu kristal pada dua sisi gagang pedang tersebut." Aku menjelaskan pada Rain.
Sembari membolak-balikkan pedang, Rain tampak manggut-manggut mengerti dengan penjelasanku.
"Jadi batu yang kau maksud itu batu Yellownia dan batu Whirednia," ucap Rain tanpa memandangku dan masih tetap membolak-balikkan pedang itu.
Aku melotot, jadi batu dari kotak yang aku temukan dikamar Sioa Shi itu namanya adalah batu Whirednia.
"Darimana kau tau batu itu namanya batu Whirednia?" tanyaku menatap Rain dengan serius.
"Ya aku hanya tau dari wujudnya saja," jawab Rain tanpa memandangku.
Kukira dia beneran tau, ternyata hanya menebak saja.
"Kau tau Rain, perasaanku saat ini sangat gelisah sekali. Aku begitu khawatir kalau Yein dan yang lainnya disakiti oleh Zei iblis itu," ungkap ku kepada Rain.
"Jadi kau inginnya bagaimana? Bukankah kau harus mempelajari silat pedang terlebih dahulu dan memperdalam ilmu meditasi mu?" tanya Rain.
"Ya aku tau, tapi aku tidak ingin mengulur waktu. Besok antar aku ke Gunung Ice, masalah resikonya biarkan aku menanggung sendiri," ucapku penuh keyakinan.
"Ya kalau itu keputusanmu aku tidak bisa berbuat apa-apa," ucap Rain sembari meletakkan pedang yang ia pegang.
"Kau mau apa?" tanyaku menatap Rain yang sudah merebahkan tubuhnya.
"Aku akan tidur, kau juga tidurlah agar besok punya energi," ucap Rain sembari memejamkan matanya.
Aku pun hanya menggelengkan kepalaku, ya mungkin saja dia lelah karena seharian ini memang sangat melelahkan.
"Hei Rain! Kau jangan tidur dulu. Barang-barang ku keluarkan dulu, aku ingin mempelajari silat pedang! Hei! Cepat bangun!" Ocehku sambil menggoyangkan tubuhnya, cepat sekali dia tertidur.
"Kenapa tidak dari tadi sih, aku sudah bermimpi menjadi istri pangeran yang tampan tahu!" Omelnya yang kesal karena mimpinya terputus oleh ku.
"Haish! Sudah buruan, nanti bisa dilanjut lagi kok mimpinya!"
Tanpa berkata-kata, Rain sudah mengeluarkan barang-barang milikku. Semuanya ia keluarkan, setelah itu dia lanjut tidur. Hah! Dasar Rain!
Aku pun mencari buku yang telah diberikan oleh Kakek Xin Zix, setelah ketemu buku itu langsung ku buka dan mempelajari tehniknya. Dan memperhatikannya dengan seksama, kulihat gerakannya sangat mudah dan gerakan silatnya tidak beda jauh dari yang sudah aku pelajari dikehidupanku sebelumnya. Hanya saja silat pedang ini perlu menggunakan tambahan pedang, hanya itu saja.
Aku sudah hafal gerakannya, jadi aku hanya perlu latihan keseimbangan antara silat dan pedang. Aku menutup buku yang tadi ku baca dan meletakkannya.
Aku pun mengambil pedang yang tadi kutemukan, lalu berjalan keluar Goa. Meregangkan tubuhku hingga berbunyi 'kretek' hah melegakan sekali.
Aku mempersiapkan diri dengan bermeditasi terlebih dahulu. Duduk bersila dan memejamkan mataku hingga mengatur napas hingga merasa rileks.
Setelah dirasa benar-benar rileks, aku membuka mataku perlahan dan mengambil pedang ku yang berada di sampingku. Beranjak dari duduk dan melakukan gerakan silat pedang.
Hingga pedang yang aku pegang sedikit bersinar, aku sedikit terkejut namun lama-lama aku terbiasa.
"Kau hebat!"
Aku sedikit melirik kearah sumber suara, ternyata Carly yang sedang duduk di atas bebatuan.
"Dari mana saja kau?" tanyaku tanpa menatap Carly, aku tetap fokus pada latihan ku.
Ya, setelah selesai makan tadi Carly berlari keluar entah kemana. Kupikir dia telah menemukan tuannya atau induknya, ternyata sekarang dia kembali lagi kesini.
"Hewan sekecil kau memang ada urusan apa?" tanyaku lagi.
"Pribadi," jawabnya, dan lagi setiap jawabannya dan tingkahnya hampir mirip dengan Putih.
Aku menghentikan latihan ku dan menghampiri Carly.
"Kenapa kau terus mengikuti kami?" tanyaku penasaran dengannya sambil duduk disebelah Carly.
"Kau kan tuanku," jawabnya sambil menatap langit malam yang berhiaskan bintang berkelap-kelip.
"Hah? Mungkin kau salah orang. Bagaimana bisa hewan tersesat sepertimu mengira aku ini tuanku," ucapku sempat terkaget apa yang ia ucapkan barusan.
Aku pun beralih menatap langit malam, sangat indah dengan hiasan bintang yang bercahaya.
"Aku bisa dibilang anaknya Putih," ucapnya tiba-tiba.
Hah? Aku menengok menatap ke arahnya. Aku memundurkan tubuhku sedikit menjauh dari Carly, membuka mulutku pertanda tidak percaya apa yang barusan ia bilang.
"Apa? Bagiamana bisa? Tidak mungkin Putih bisa beranak, dia kan hewan spirit." Aku menggelengkan kepala masih tidak percaya padanya.
"Hewan spirit memang tidak bisa beranak," ucapnya tanpa menjelaskan secara detail.
"Lalu kau anaknya? Katamu hewan spirit tidak bisa beranak lalu kau itu apa?" tanyaku penasaran sekaligus kesal dengannya.
"Putih telah dibunuh oleh kakakmu, jadi--"
"Apa?! Putih dibunuh oleh Zei iblis itu?! Kenapa bisa?" tanyaku sembari menahan buliran air mata yang seakan jatuh.
"Kau tenang dulu, aku akan menceritakan semuanya."
Aku pun mengangguk dan mengusap air mata yang sudah mengalir di pipiku.
Flashback on kerajaan Queen
Mengetahui bahwa Putri Sioa telah kabur melarikan diri, membuat Putri Zei sangat marah besar. Ia pun melampiaskannya ke orang-orang yang dekat dengan Putri Sioa.
"Prajurit!" panggilnya kepada prajurit yang sedang berjaga.
"Ya, Putri!" jawab sang prajurit setelah mendekat kearah Putri Zei.
"Panggil beberapa prajurit dan arahkan ke kamar si gembel itu!" titah Putri Zei.
"Baik, Putri!"
Setelah mendengar perintah itu, prajurit tadi pun bergegas mencari prajurit lainnya.
Sedangkan Putri Zei berjalan kearah kamar milik adiknya --Sioa Shi-- dengan langkah yang tergesa-gesa dan diikuti oleh beberapa maid dibelakangnya.
Brak!
Terdengar suara pintu yang dibuka secara kasar oleh Putri Zei, seisi kamar itu pun terlonjak kaget. Orang-orang yang berada dikamar Putri Sioa pun menatap Putri Zei dengan tatapan bingung.
Setelah lama saling menatap, para prajurit pun sudah datang dan langsung menarik paksa mereka.
"Hei! Apa-apaan ini!" seru Xio tidak terima dengan perlakuan yang tiba-tiba ini.
"Hiks hiks aku takut kak Zao."
"Cepat lepaskan kami!"
Dua hewan yang seakan hilang kesabaran pun berubah menjadi besar, mengaum mengeluarkan suaranya yang mengerikan. Namun Putri Zei bisa mengatasi hal tersebut, dia menggunakan kekuatannya yang bisa mengendalikan akar. Putri Zei pun mengikat kedua hewan itu dan mengubahnya lagi menjadi kecil.
"Cepat bawa mereka!" seru sang Putri Zei.
Yeay akhirnya author bisa up lagi nih, sebentar lagi karya ini akan tamat secepatnya loh. yuk kasih semangat buat author:) and makasih buat kalian yang sudah setia menunggu:)