The Rise Of A Princess

The Rise Of A Princess
Part 36 Makan



Pedang itu ...


Ya, pedang itu telah kembali normal seperti semula. Tidak ada cahaya lagi yang terpancar, batu kristal yang tadi hendak aku cabut mendadak sudah tertempel menyatu dengan gagang yang ada tanda nya itu. Aku kembali menarik pedang ini, namun sangat sulit.


Namun ada yang janggal saat aku menarik pedang ini, ada sebuah tanda lagi di bagian gagang pedang disebelah sampingnya lagi. Kalau ini kenapa mirip batu kristal Yellownia itu? Apa aku coba mencocokkannya lagi?


Aku pun mengambil batu kristal Yellownia yang berada di saku bajuku, mengambilnya dan batu Yellownia tersebut bersinar mengeluarkan cahaya. Ada apa ini? Coba deh ku tempelkan pada tanda di gagang pedang itu.


Cring!


Pedang itu pun bersinar cukup terang dan sangat menyilaukan mata, aku pun menutup mataku.


Setelah beberapa menit aku mencoba membuka mataku, melihat apakah cahaya itu masih ada atau tidak. Dan ternyata sudah tidak ada cahaya lagi, aku pun melihat ke arah pedang.


Aku terkejut melihat pedang dihadapan ku yang mengeluarkan cahaya dari pedangnya, cahaya itu berwarna putih dan kuning keemasan. Membuatku terdiam sejenak.


Kemudian aku menarik pedang yang masih tertancap di tanah tersebut, akhirnya pedang itu pun tercabut dengan mudah. Cukup lama aku melihat pedang ini, ada kaitan apa pedang ini dengan batu-batu yang aku tempelkan tadi? Apakah pedang ini milik Ibunya Sioa? Tapi mengapa berada disini?


Cahaya yang keluar dari pedang ini pun menghilang, nampak dari gagang pedang ini terdapat dua batu kristal. Apakah dua batu ini syarat untuk bisa mengambil pedang ini ya? Itu artinya pedang ini sangat istimewa sekali.


Dug!


Aku menengok ke arah suara yang tadi kudengar seperti benda jatuh, tampak sebuah batu yang cukup besar jatuh tak jauh dariku berdiri. Aku menatap ke atas, melihat bahwa batu-batu itu terlihat retak seperti akan hancur.


Tidak lama setelah itu ada getaran entah darimana datangnya, membuat retakan batu yang ada di atas mulai berjatuhan. Aku pun berlari secepat mungkin menghindari reruntuhan batu itu.


Setelah sudah cukup lama aku berlari dan menghindari reruntuhan batu itu, aku menengok menatap runtuhan batu yang tadi sempat aku hindari. Kurasa runtuhan batu itu sudah berhenti.


"Huh! Akhirnya selamat," ucapku sambil ngos-ngosan karena tadi berlari sangat kencang.


"Hei! Putri, tadi aku merasa ada getaran yang berasal dari sini."


Aku terperanjat kaget, menengok ke arah sumber suara dan mendapati Rain yang tengah menatapku khawatir.


"Hah! Kau mengagetkan ku saja!" Sentak ku menatap Rain dengan tajam.


"Kau tidak apa-apa, Putri? Kau dari mana saja? Dan, pedang apa yang kau pegang itu?" tanya Rain dengan tatapan heran ke pedang yang aku pegang ini.


"Sudah, nanti ku ceritakan. Lebih baik kita pergi sekarang, takutnya reruntuhan batu itu akan menyusul ke arah kita," ucapku sembari menarik tangan Rain yang terbengong di tempat.


Aku pun berjalan cepat, tidak ku hiraukan Rain yang terus mengoceh karena aku menarik tangannya.


Setalah cukup lama aku berjalan menghindari tempat tadi, kini aku berhenti melangkahkan kaki ku karena mendengar Rain yang terus mengoceh membuat telinga ku panas mendengarnya. Kemudian menatap Rain dengan tajam.


"Kau bisa diam tidak? Ocehan mu membuat telinga ku seakan mau copot!" Aku pun melotot padanya, bagaimana bisa dia se-cerewet ini! Menyebalkan sekali.


"Kenapa kau marah-marah begitu, aku memang cerewet. Apa kau baru sadar sekarang?" tanya Rain menatap ku dengan tatapan tidak berdosa.


"Kau menyebalkan!" Sentak ku sambil menunjuk Rain. Dan melangkahkan kaki ku meninggalkan Rain.


"Hei! Jangan marah-marah, nanti kau cepat tua tau!" teriak Rain, kemudian berlari mengejar ku.


"Kau yang membuatku marah! Jadi berhentilah bicara! Huh!" Omel ku sambil melirik ke arah Rain yang sedang senyum menampakkan giginya.


"Ya baiklah, aku minta maaf. Tapi, entah mengapa aku suka sekali membuatmu marah," ucap Rain dengan tidak berperasaan sekali dia, memangnya aku mainannya! Seenaknya saja membuatku marah.


Aku pun menghentikan langkahku, aku sangat kesal dengan Rain. Menatapnya dengan tajam, Rain hanya mengangkat satu alisnya seolah kenapa aku berhenti berjalan.


"Aduh! Putri, mengapa kau menendang kaki ku? Memangnya aku salah apa?" tanya Rain benar-benar tidak merasa bersalah sekali! Terlihat dia mengusap kakinya yang aku tendang tadi.


Aku pun tidak menghiraukan Rain yang meringis kesakitan, meninggalkan Rain dengan menghentakkan kaki ku karena terlalu kesal dengannya.


"Salah siapa membuatku marah," gumam ku sambil memutar bola mata.


Setelah aku berjalan cukup lama, kini akhirnya sampai juga ditempat perapian. Aku duduk sambil menyenderkan tubuhku di dinding Goa ini.


Terlihat kalau Carly sedang tidur yang berada tidak jauh dari perapian juga, mungkin dia kedinginan sampai bisa tidur pulas begitu.


Ikan yang tadi ku tangkap pun masih terpanggang di perapian, Rain begitu ceroboh! Padahal aku sudah berpesan padanya agar memanggang ikan ini sampai matang! Malah ditinggalkan begitu saja! Untung saja tidak gosong.


Aku pun meletakkan pedang yang kubawa dari tempat tadi, membolak-balikkan ikan yang dipanggang ini.


Aku melirik tampak Rain sedang berjalan menuju ke tempat ku berada, terlihat dia mengomel tidak jelas.


Aku pun tidak memperdulikan Rain yang terus memanggilku.


"Putri! Kau sungguh jahat sekali meninggalkan ku dan bahkan menendang ku," ucap Rain lalu duduk di sampingku.


Aku tetap diam tidak berucap sepatah katapun, biarlah Rain mengoceh agar mulutnya pegal sendiri.


"Sudah kau mengoceh nya?" tanyaku sedikit melirik ke arah Rain, tampak dia sedang cemberut.


"Jadi, kau sengaja ya?" tanya Rain menatapku dengan mata yang melotot.


"Aku tadi kan sudah bilang padamu, panggang ikan ini sampai matang! Mengapa kau malah meninggalkannya?! Untung saja tidak gosong! Kalau saja gosong, kau yang mencari ikan lagi!" Omel ku sambil mengalihkan pembicaraan agar dia tidak terus mengomel yang membuatku kesal.


"Bukan begitu, tadi aku merasa kau begitu lama menelusuri Goa ini, jadi aku menyusul mu karena aku takut kalau terjadi apa-apa denganmu tau," ucap Rain lalu kembali cemberut.


"Aku akan baik-baik saja, kau lihat sendiri kan sekarang aku tidak apa-apa," ucapku meyakinkan Rain.


"Tapi ... Tetap saja aku takut kau kenapa-napa," ucap Rain sambil melihat ke arahku dengan wajah yang sedih.


Aku lantas mengangkat satu alisku, bingung dengan tingkah Rain. Kenapa dia begitu sedih?


"Hais! Sudahlah, lebih baik kita makan saja. Kebetulan ikan ini sudah matang," ucapku sambil menggaruk kepalaku. Bermaksud ingin Rain berpikir malah membuat dia sedih.


Kemudian aku mengangkat ikan yang telah dipanggang ini dan menaruhnya di daun pisang yang sudah ada tidak jauh dariku berada. Mungkin Rain yang memetik daun ini.


Aku pun duduk hendak siap akan memakan ikan ini, namun kulihat Rain seperti tidak selera makan. Kenapa lagi dia?


"Rain, kau kenapa? Cepatlah makan," ucapku kemudian mengambil sedikit daging ikan ini dan memakannya.


"Aku tidak lapar," ucap Rain dengan lesu.


Kruk!


Aku menatap Rain sambil menahan tawa, katanya tidak lapar. Mengapa perutnya berbunyi? Rain ini benar-benar haha.


Hahaha!


Aku tertawa pelan melihat Rain yang mungkin saja merasa malu. Ada-ada saja kau Rain.


Yeay akhirnya author bisa up lagi nih, yuk like and komen yah. makasih sudah membaca karyaku:)