The Rise Of A Princess

The Rise Of A Princess
Part 13 Kuda



Mereka mengangguk dan berjalan menuju kasur, merebahkan diri.


Aku menutup pintu kamar ini, hendak ke kamar tidurku. Aku melihat Yein yang entah mau kemana, dia berjalan menuju dapur. Mungkin ada sesuatu yang tertinggal di sana.


"Yein!" panggilku.


Yein menengok ke arahku.


"Jangan lupa, istirahat yang nyenyak." lanjutku berucap.


Dia bengong, segera aku meninggalkan dia. Aku merebahkan diri di kasur, sangat lelah sekali rasanya.


Eh, tapi aku penasaran dengan aura tadi. Siapa pemilik aura aneh itu? Aku seperti pernah merasakan aura itu sebelumnya. Dimana ya kira-kira?


Aku mencoba mengingat, tapi tidak kutemukan dimana aku merasakan aura itu. Sudahlah, akan kucari tahu nanti. Sekarang aku sudah sangat lelah sekali.


***


"Hoam!"


Aku menguap berkali-kali, tidak terasa sudah pagi. Aku beranjak dari tempat tidur dan segera membersihkan badan. Kemarin aku tidak mandi, rasanya malas sekali.


Setelah itu, aku berpakaian dan menuju ke dapur. Membantu Yein tentunya.


"Yein, ap--"


Aku menghentikan ucapan ku, Yein dan yang lainnya sudah duduk di kursi makan. Ada apa lagi ini? Mereka tampak lesu sekali.


Yein tertidur sambil duduk, dia tidak menyadari kehadiranku.


Segera aku menuju ke kursi, dan duduk. Menatap semua yang ada di sini, terlihat aneh sekali.


"Kakak!" teriak seseorang, Zao dan Qin mereka berlari ke arahku.


Membuat Yein bangun dari tidurnya, serta para prajurit yang tadi sedang melamun kini tersadar.


Aku menatap heran mereka, dari mana saja mereka ini? Terlihat sekali bahwa mereka sehabis lari jauh.


"Ada apa?" tanyaku menatap kedua anak ini.


"Tadi ada kakak yang jahat, mereka telah menyakiti kak Yein dan paman-paman ini," ujar Qin, sambil menunjuk para prajurit itu dan Yein.


Apa? Jadi, mereka tampak lesu karena ada yang menyakiti orang yang ku percaya.


"Mm kalian sudah makan?" tanyaku kepada kedua anak ini.


"Sudah!" ucap mereka kompak.


"Kalau begitu, kalian main dulu ya. Nanti kakak nyusul," ucapku, aku menyuruh mereka untuk bermain karena ada yang akan aku bicarakan kepada Yein.


Mereka mengangguk dan berlalu keluar. Lalu, aku memandang Yein.


"Sebenarnya apa yang terjadi, Yein?" tanyaku, menatap Yein dengan serius.


"Putri Zei, kakak anda tadi datang kemari." Yein berkata lirih.


Kak Zei? Apakah dia yang membenciku? Berani sekali dia, sudah aku tolong masih saja tidak tahu terima kasih!


"Apa yang dia lakukan?" tanyaku.


"Dia, tadi ingin bertemu dengan anda. Karena anda masih tidur, saya tidak tega untuk membangunkan anda. Saya bilang dengannya, bahwa anda sedang pergi," ucap Yein dengan nada gemetar.


"Lalu?" tanyaku.


"Dia terlihat marah besar, dan me-menyakiti ka-mi." Yein, dia terisak.


Benar-benar keterlaluan! Lihat saja nanti, kalau dia berani kesini lagi dan menyakiti orang yang ku sayangi, aku tidak tinggal diam.


"Kalau begitu, kalian istirahat saja." Aku menyuruh mereka untuk beristirahat, selera makan ku seketika hilang.


"Anda tidak makan, Putri?" tanya Yein menatapku.


"Tidak, aku akan mengajak Zao dan Qin bermain," ucapku, lalu beranjak dari tempat duduk.


Berjalan keluar rumah, melihat kedua anak itu bermain dengan gembira. Berlari ke sana kemari, kira-kira aku akan mengajak mereka bermain apa ya?


Ku hampiri mereka berdua, seketika Zao dan Qin berhenti bermain dan berjalan ke arahku.


"Kakak Shi, kita akan bermain apa?" tanya Qin, menatap ke arahku.


"Bagaimana, kalau kita ke tempat favorit kakak," ucapku menatap kedua anak ini secara bergantian.


"Dimana itu?" tanya Zao.


"Ikuti kakak," ucapku sambil menggandeng tangan kedua anak ini.


Akhirnya kami sampai di tempat favoritku, aku bersandar pada pohon. Zao dan Qin mereka melihat sekeliling, seperti takjub dengan pemandangan ini.


"Ini sangat indah, bukankah begitu kak Zao?" ucap Qin kepada kakaknya.


"Iya, Qin. Kita ke sana yuk," ajak Zao kepada Qin, mereka menuju ke arahku.


Mereka duduk tepat di hadapanku, memandangiku dengan senyuman. Kenapa nih bocah?


"Kenapa?" tanyaku heran.


"Apakah, kakak punya kekasih?" tanya Zao sambil terus tersenyum.


Belajar dari mana anak ini tentang kekasih? Membuatku jengkel saja.


"Kenapa tanya begitu?" tanyaku lagi, sambil memalingkan muka.


"Karena, kakak sangat berbeda." jawab Qin, kali ini dia yang bersuara.


"Tahu apa kalian tentang kekasih?" aku terus bertanya, agar mereka bosan dan tidak nyambung.


Mereka saling pandang, tadi mereka tersenyum lebar. Kini mereka tampak kebingungan. Lalu menatapku.


"Kami, sebenarnya tidak tahu. Hanya dengar pembicaraan orang, kalau kekasih itu punya pasangan hehe." jawab Zao, dia menunduk seperti menahan malu.


"Lain kali jangan menguping pembicaraan orang, nggak sopan. Paham?" kini aku menasehati mereka, ada-ada saja kelakuan dua anak ini.


"Baiklah," ucap mereka bersamaan.


"Kalian---," ucapan ku terhenti.


Gubrak!


Suara apa itu? Asalnya tidak jauh dari sini. Zao dan Qin pun sepertinya mendengar suara itu, mereka saling tatap.


"Suara apa itu?" ujar Zao menatapku.


"Kita lihat yuk," ajak ku kepada mereka.


Kami beranjak dari tempat, menghampiri suara yang tadi terdengar. Sepertinya pohon jatuh yang menimpa sesuatu.


Setelah cukup dekat, terdengar suara kuda yang sedang kesakitan. Apakah suara tadi itu pohon yang menimpa kuda? Tapi mengapa kuda bisa sampai kesini?


"Kakak! Ada kuda!" seru Zao sambil menunjuk ke arah kuda yang tertimpa pohon.


Aku berlari menuju kuda itu, terlihat jelas bahwa kuda itu sangat ketakutan jika aku akan menyentuhnya.


Kuda ini sangat cantik, berbeda dengan kuda pada umumnya. Kuda ini berwarna putih, serta ada tanduk di kepalanya yang berwarna seperti...pelangi!


Dari mana asal kuda yang langka ini?


"Hei tenanglah, aku akan menolong mu."


Setelah aku berucap seperti itu, kuda ini sedikit tenang dari pada yang tadi.


Aku mencoba mengangkat pohon ini, tapi sangat berat sekali. Aku gunakan kekuatan elemen angin saja deh.


Wush!


Berhasil! Kuda ini langsung berlari dan bersembunyi dibalik pohon. Dia kuda aneh yang pernah aku temui.


"Kenapa dia bersembunyi?" tanya Qin menatap kuda itu.


"Mungkin dia malu," ucap Zao.


"Hei kuda aneh! Kemari lah, kami tidak akan menyakitimu." Aku memberi isyarat tangan agar kuda itu kemari.


Perlahan dia berjalan ke arah kami berdiri. Penurut sekali dia, kira-kira dia dari mana ya?


Setelah sudah dekat denganku, aku mengelus kepalanya. Ragu sih awalnya, tapi lama kelamaan aku terbiasa.


"Siapa namamu?" tanyaku menatap kuda ini yang menikmati belaian ku.


Prr!


Hanya suara khas kuda yang terdengar.


"Kak Shi, kau aneh. Mana mungkin dia bisa bicara," ucap Zao menatap kuda ini.


"Iya, kakak aneh sekali. Dia kan hanya hewan," ucap Qin juga meyakinkan.


Kulihat kuda ini berbeda dari yang lain, karena aku bisa menebaknya dari mata kuda ini. Mata kuda ini terlihat berwarna biru tua, sepertinya kuda ini bukan kuda biasa.


yuk like biar author semangat hehe:) terima kasih sudah membaca:)