
***
Aku dan Rain sudah berada di hutan Xixi, ternyata hutan ini begitu enak dipandang. Pepohonan sangat hijau dan tidak begitu menyeramkan. Sebelumnya aku sudah berfikir kalau hutan Xixi akan sangat menyeramkan seperti cerita orang-orang yang ku dengar, namun ada sebuah jebakan entah itu dimana aku harus berhati-hati.
Cukup lama aku dan Rain memandang hutan Xixi ini, hingga akhirnya kami memasuki hutan tersebut. Memang sangat berbeda setelah masuk hutan ini.
"Rain, apakah kau merasakan sesuatu?" tanyaku kepada Rain, siapa tau dia merasakan hal yang janggal yang tidak bisa aku rasakan, karena kekuatan ku telah di segel jadi aku tidak merasakan sesuatu yang janggal.
"Aku merasa ada banyak sepasang mata yang menatap kita, tapi aku tidak begitu menghiraukan hal tersebut. Kau tidak perlu khawatir, Putri. Tidak ada hal yang jahat disini," ucap Rain meyakinkan ku, yah kurasa memang benar kata Rain. Tidak mungkin dia berbohong padaku.
Wush!
Clap!
Hah ada sebuah anak panah menancap pada batang pohon, untung saja aku segera menghindar dari panah tersebut, kalau tidak pasti sudah terkena kepala ku. Mengerikan sekali!
"Hei, Rain! Kata kau tadi tidak ada hal yang jahat, mengapa ada anak panah yang mengarah ke kita?" tanyaku kepada Rain, dia sepertinya sangat shock.
"Aku benar-benar tidak merasakan hal yang jahat, apakah hal jahat tersebut tertutupi? Kalau begitu ini sangat bahaya, Putri! Kita harus segera kabur, kau pegangan yang kuat saja, aku akan berlari secepat mungkin!" ujar Rain, tanpa aba-aba dia berlari sekencang mungkin.
Kalau begitu siapa yang akan mencelakai kami tadi? Benar-benar merepotkan sekali. Apalagi Rain berlari sungguh sangat cepat, hingga aku hampir saja terjatuh.
Aku menengok kebelakang, siapa tau ada yang mengejar kami saat ini.
Deg!
Apa itu? Sebuah bayangan hitam yang terus mengikuti kami, apakah itu yang tadi akan memanah kami?
Aku kembali menghadap ke depan dengan rasa khawatir, takut kalau itu adalah orang yang akan membunuh kami berdua.
"Rain! Ada seseorang yang mengikuti kita! Kau cepatlah berlari!" ujarku berteriak.
"Aku pun tau! Kau diam saja, Putri." Rain sepertinya juga sangat takut dan khawatir sama sepertiku. Hah! Semoga kami selamat sampai tujuan.
Eh!
"Rain, awas!" teriakku sembari melotot menatap ke depan, itu ada sebuah pohon yang sangat besar.
Brak!
Aku terpental, Rain menabrak pohon tersebut. Ada apa dengannya? Apakah dia tidak lihat bahwa di depannya ada sebuah pohon besar? Mengapa dia tidak menghindar?
"Rain!"
Aku bangkit dan menghampiri Rain yang kini terbaring, ada darah keluar dari matanya. Kenapa? Ada apa? Dia tidak terluka, hanya saja dia mengeluarkan darah di kedua matanya, ada apa ini? Tapi hal yang membuat ku sangat terkejut adalah Rain berubah menjadi manusia, hah nanti saja ku pikir. Sekarang terpenting adalah keselamatan Rain.
"Rain kau kenapa?!" tanyaku histeris melihat dia yang seperti itu.
"Aku tidak bisa melihat apapun, ada apa dengan mata ku? Kenapa tiba-tiba begini?" Rain bertanya, aku tahu dia sangat shock dan khawatir terjadi sesuatu dengannya, begitupun dengan ku yang sangat khawatir dengan kondisi Rain.
"Tenanglah Rain, aku akan mencari sesuatu untuk pengobatan mu," ucapku sembari menenangkan Rain.
"Jangan kemana-mana, Putri! Biarkan saja aku tidak apa-apa, kita harus segera ke tempat kakek Xin Zix," ucap Rain meyakinkan.
Aku tidak tau harus bagaimana, Rain sangat keras kepala sekali. Kalaupun aku meninggalkan Rain disini dan mencari tanaman herbal, takutnya ada yang menyerang dia disaat kondisi seperti ini.
Aku menengok ke berbagai arah, mencari sumber suara tersebut. Takut kalau ada orang lain selain aku dan Rain disini. Apalagi disaat kondisi yang membahayakan ini.
"Ekhem! Kau siapa? Berani-beraninya datang ke hutan Xixi yang sangat bahaya ini!"
Aku terlonjak kaget dengan suara tersebut, lantas menengok ke arah kanan. Mendapati seorang kakek tua dengan burung elang yang bertengger di lengan kakek tua tersebut. Menatap aku dan Rain dengan tajam, hingga aku tidak bisa berkata apa-apa, siapa dia? Apakah dia kakek Xin Zix? Atau bahkan orang jahat?
"Hei! Aku bicara padamu! Beraninya kau mengabaikan perkataan orang tua!"
Aku kembali terlonjak kaget untuk yang kedua kalinya, menatap kakek tua tersebut sambil menggaruk kepala ku yang tidak gatal.
"Aku Sioa Shi, aku datang kesini karena ada perlu dengan seseorang," ucapku menatap kakek tersebut sekilas lalu menatap Rain yang sepertinya hilang kesadaran.
"Siapa orang yang ingin kau temui itu?" tanya kakek tersebut.
"Kakek Xin Zix, apakah kakek mengenalnya?" jawabku dan berbalik menanya siapa tau kakek tersebut mengenalnya.
"Hahaha! Ternyata kau mencari ku, akulah kakek Xin Zix yang kau cari itu," ucapnya membuatku kaget dan bahagia bisa bertemu disini tanpa mencarinya dengan susah payah.
"Benarkah? Tapi, bisakah kakek menolong Rain? Aku takut terjadi sesuatu dengannya. Aku tidak tau dia kenapa, tiba-tiba saja dia begini, " ucapku menatap Rain dengan sangat khawatir.
Kakek Xin Zix melangkah mendekati Rain yang kini terbaring tak sadarkan diri, berjongkok dan memeriksa Rain.
"Dia terkena racun, ada seseorang yang mengincar kalian disini. Aku akan mencoba untuk menyembuhkannya, karena racun ini tidak begitu kuat." Kakek tersebut mencoba menyembuhkan Rain dengan kekuatannya.
Aku tentu saja kaget dan tidak percaya apa yang dikatakan oleh kakek Xin, ada yang mengincar kami? Tapi siapa? Apakah bayangan yang kulihat tadi itu yang mengincar kami? Yah setidaknya kami tidak apa-apa dan untungnya ada kakek Xin cepat datang kesini, kalau tidak entah nasib kita akan seperti apa.
Aku menatap Rain yang kini sudah membaik, dia tampak menatap bingung ke arahku dan kakek yang berada tak jauh dari sampingku. Rain bangun dan tampak bahagia bisa melihat.
"Dia siapa?" tanya Rain berbisik padaku sambil menatap kakek Xin.
"Dia orang yang kita cari, Rain. Bersikaplah sopan padanya, dia juga yang telah menyembuhkan mu," ucapku sambil menatap Rain tajam, dan kembali menatap kakek Xin dengan tidak enak hati.
Kulihat Rain terkejut dan menutup mulutnya, yah pasti dia begitu kaget.
"Kalian mencari ku kan? Lebih baik sekarang kita ke tempat tinggal ku, tidak baik berlama-lama disini," ucap kakek Xin lalu pergi meninggalkan kami yang terdiam sejenak lalu mengikuti langkahnya.
Sembari berjalan mengikuti kakek Xin dibelakang, aku dan Rain berbicara dengan apa yang terjadi dengannya.
"Hei Rain! Kau kan hewan spirit, mengapa kau bisa berubah menjadi manusia?" tanyaku kepada Rain menatap bingung ke arahnya, sedangkan dia terus menatap ke arah kakek Xin. Entah apa yang dia pikirkan.
Setelah aku berucap begitu, Rain seketika menghentikan langkahnya dan menatapku bingung. Lantas melihat tubuhnya yang kini menjadi manusia, bukan seekor kuda lagi.
"Hei, bagaimana ini bisa terjadi? Putri, ada apakah denganku?" tanya dia berbalik nanya padaku, kukira dia tau apa yang terjadi padanya yang tiba-tiba berubah begitu.
"Hei kalian! Cepatlah! Akan ku jelaskan apa yang terjadi dengan teman mu itu, sekarang kita harus segera ke rumah ku!" Seru kakek Xin seakan dia tau apa yang aku bicarakan ini dengan Rain.
Kami pun menatap kakek Xin sambil cengengesan, lalu aku menarik tangan Rain yang terus kebingungan dengan perubahan nya itu.
***
Bersambung..