The Rise Of A Princess

The Rise Of A Princess
Part 22 Telah disegel



Menunggu penjelasan dari Putih. Dia tampak terdiam sejenak, lalu memandangiku dengan dalam dan amat serius.


'Bukankah kau sudah tau, jika kau tidak bisa mengontrol emosimu maka aura kegelapan dan aura suci milikmu akan keluar? Dan jika kau tidak bisa mengendalikan dua aura itu, maka itu bisa membahayakan jiwamu. Bisa saja, jiwamu akan menghilang secara perlahan.' Putih menjelaskan secara detail, tapi aku belum mengerti juga apa maksudnya jiwa hilang?


"Lalu, sebelum aku tidak sadarkan diri. Aku merasakan tubuhku begitu dingin, ada apa sebenarnya?" tanyaku menatap Putih, ya aku penasaran sekali.


'Kau sudah merasakan itu? Ini benar-benar gawat!' ucapnya membuatku terkejut, apa lagi maksudnya?


"Maksudmu?" tanyaku menatap Putih dengan serius kali ini.


'Hati-hati saja, lebih baik kau cari tau sendiri tentang dua aura itu. Maka kau akan menemukan jawabannya.'


Aish! Kenapa tidak menjelaskan saja secara langsung! Membuang waktu saja. Dan, Putih bersama Gold pergi entah kemana! Benar-benar yah tuh hewan gak ada akhlak! Nggak pamit atau gimana gitu? Ngucapin cepat sembuh atau hibur malah pergi tanpa pamit lagi!


"Putri, kau istirahat saja ya. Jangan terlalu dipikirkan masalah itu," ucap Yein menatapku.


"Kalau begitu, kami keluar dulu ya."


Aku mengangguk saja sebagai jawaban, Zao dan Qin sedari tadi hanya diam. Kenapa lagi ini? Biasanya mereka paling heboh sendiri jika sudah bertemu aku.


Aku memandangi mereka yang berlalu pergi meninggalkan kamar ini. Setelah itu, aku beranjak dari kasur dan berjalan ke sana kemari melihat sekeliling kamar ini. Apakah ini kamar milik Putri Sioa Shi?


Aku harus mencari petunjuk disini, siapa tau berguna.


Tunggu ... apa itu yang berkilau disebuah kotak yang terbuka sedikit tutupnya? Aku menuju ke meja rias yang terdapat kotak tersebut.


Clak!


Bunyi kotak itu setelah aku membuka tutupnya, apa ini? Batu permata seperti air, sangat jernih dan didalamnya terdapat ... warna merah seperti darah. Apa ini? Apakah ini milik Sioa Shi? Tapi, batu apa ini dan untuk apa?


Akan ku cari tahu nanti deh, sekarang aku harus mencari petunjuk lainnya disini.


Aku menghentikan langkahku, menatap kedua tanganku dan juga rambutku. Aku merasakan hal yang berbeda dari tubuhku, rasanya seperti tidak memiliki apa-apa. Ada apa ini? Rambutku sudah kembali normal seperti semula. Ish! Aku merasa ada yang janggal pada diriku, aku merasa ada yang tidak beres! Kenapa lagi ini?


"Hahahaha! Kau kenapa? Seperti orang idiot saja!"


Aku menengok, ternyata si Zei iblis itu! Mau apa lagi sih dia? Belum puas kah sudah menyakitiku?


"Kau yang idiot!" ucapku penuh penekanan, dan menatapnya tajam.


"Hahaha dasar gembel! Kau seharusnya mati saja tadi! Kenapa harus hidup sih!" umpat Zei iblis menatapku dengan sinis.


"Kau yang seharusnya mati!" Aku benar-benar sudah emosi sekarang, hendak menyerangnya menggunakan kekuatanku, tapi sesuatu terjadi.


Ada apa ini? Mengapa kekuatanku tidak berfungsi? Ini benar-benar aneh sekali, ku coba sekali lagi. Namun, lagi dan lagi tidak ada apa-apa. Ku coba terus berulang kali, tapi tetap saja tidak ada gunanya. Ish! Ada apa? Kenapa menjadi seperti ini? Benar-benar menyulitkan diriku.


"Hahaha! Kaget ya kekuatanmu tidak berfungsi? Hahaha! Jelas saja! Karena kekuatanmu sudah disegel beserta dua aura itu!" ucap Zei iblis, aku menatap ke arahnya tidak percaya apa yang baru saja dia bilang.


"Hahahaha! Kenapa kekuatanmu disegel? Karena jika tidak, maka kau bisa menghancurkan kerajaan Queen ini. Tentu saja tidak ada yang bisa membuka segelan itu, jadi, selamanya kau tidak akan bisa menggunakan kekuatanmu lagi. Hahahaha!" ucap Iblis itu santai dan berlalu meninggalkanku sendiri yang terdiam membisu.


Disegel? Tidak ada yang bisa membuka segelan ini? Itu tidak mungkin, tidak! Tidak! Pasti Zei iblis itu berbohong padaku! Pasti ada cara untuk membuka segelan ini. Ya! Aku harus cari tahu!


"Tunggu saja kau Zei!" gumamku sembari menatap pintu kamar dengan tatapan dingin.


Eh! Tapi siapa yang telah menyegel kekuatanku? Apakah ayah? Atau iblis itu?


"Kau sudah bangun, gembel?" tanya seseorang, membuatku menengok ke arahnya.


Dilihat dari pakaiannya, dia seorang maid kerajaan. Perkataannya barusan sangatlah tidak sopan, siapa maid ini? Biasanya aku akan menemukan jawaban yang terlintas di pikiranku, tapi mengapa ini tidak ada petunjuk sama sekali?


"Hei gembel! Sekarang waktunya makan! Nih aku bawa makan untukmu!" ucapnya dengan nada tidak suka dan menaruh nampan yang berisi makanan tersebut ke meja yang ada dikamar ini.


"Hei! Cepat makan! Habiskan dan jangan ada yang tersisa!" ucap maid yang satunya, sembari memaksaku untuk duduk dan menyantap makanan ini.


Yang benar saja aku harus menghabiskan makanan ini? Bahkan tercium bau yang tidak enak dari makanan ini, ya! Makanan ini sudah basi tentunya. Kenapa diberikan kepadaku? Bukankah seharusnya dibuang saja? Memangnya aku hewan? Mereka benar-benar ingin membuatku keracunan atau gimana?


Brak!


"Cepat makan! Kenapa dilihat saja? Atau mau aku suapkan?" tanya maid ini, mengambil nampan tersebut dan akan munyuapi diriku yang terdiam membisu.


"Cepat buka mulutmu! Atau aku paksa kau! Dasar gembel!" paksa kedua maid ini, satu sendok sudah mengarah kepadaku.


Mereka benar-benar tidak memiliki sopan santun! Aku kan putri di kerajaan Queen ini, tapi mengapa mereka melakukan diriku seperti ini?


Sebelum sendok itu berada di mulutku, aku menampiknya dengan kasar. Dan, nampan yang berisi makanan itu, aku menumpahkannya. Hii sangat bau sekali makanan ini, mereka benar-benar ingin membuatku keracunan!


"Kau! Dasar gembel! Sudah dikasih makan malah tidak tau terima kasih! Cepat makan tuh yang sudah tumpah, makanan ini sangat pantas untuk kau!" Kedua maid ini terkejut, mereka terus memaksaku untuk mengambil makanan yang sudah tumpah tadi. Yang benar saja? Beginikah dulu nasib putri Sioa Shi? Sungguh malang sekali nasibmu putri.


Brak!


Aku memukul meja yang ada di depanku, membuat meja ini terbelah menjadi dua. Kedua maid ini terkejut dengan apa yang aku lakukan barusan, tentu saja aku tidak merasakan sakit. Hal ini sudah biasa aku lakukan saat mengikuti silat bela diri.


"Pergi dari sini," ucapku dingin, sembari terus menatap meja yang terbelah ini.


"K-Kenapa dia b-bisa sekuat itu?" tanya salah satu maid kepada teman satunya.


"Sudah! Kita lebih baik pergi dari sini," ucap maid tersebut dan pergi meninggalkanku sendiri.


Lebih baik aku mandi saja dan mencari buku tentang dua aura itu. Masalah meja ini biar Yein saja yang mengurusnya, aku sekarang benar-benar sangat pusing dengan semua masalah yang ada.


***


maafkan author yah lama update nya, selamat membaca, makasih:)