
'Maaf Putri, tadi aku ketiduran hehe,' ucap Putih. Ketiduran katanya? Wah bener-bener nih hewan peliharaanku!
'Kau ini! Tidak tahu kah kalau aku sangat khawatir!' ucapku memarahi Putih.
'K-kau khawatir kepadaku Putri? Aku disini baik-baik saja. Apa kau merindukan diriku Putri?' tanyanya, percaya diri sekali dia. Ingin rasanya aku memanggang dia sekarang juga!
'Kau mau mati ha! Lihat saja kalau aku sudah pulang, aku akan memanggangmu!' ucapku menakuti Putih yang sangat ke PD an sekali.
'Kau sungguh kejam, Putri. Teganya kau akan memanggangku yang imut ini? Hiks.. hiks,' Putih mulai lagi nih dramanya, membuatku jengkel saja.
'Bagaimana kabar Yein? Zao dan Qin juga bagaimana?' tanyaku tidak sabar dengan kabar mereka, baik-baik saja kah?
'Mereka baik-baik saja, aku sudah bilang bukan, aku pasti akan menjaga mereka dengan baik.' Putih berbicara penuh percaya diri sekali. Kucing yang satu ini sangat, sangat, membuatku jengkel!
'Lalu, dimana Gold? Biasanya dia ikut bertelepati,' ucapku menanyakan Naga emas atau biasa disebut Gold.
'Kenapa kau menanyakan si Naga aneh itu, kenapa kau tidak menanyakan aku?'
Haah! Nih hewan kalau sudah cerewet melebihi cewe, lebih baik ku sudahi saja bertelepati dengan Putih. Kalau berlama-lama nanti bisa gila sendiri aku, yang penting Yein dan kedua anak itu baik-baik saja di rumah.
"Kau kenapa? Kau bertelepati dengan siapa?" tanya Xio yang berada di sampingku, menatapku dengan wajah bingung.
"Bukankah tadi aku sudah bilang, aku bertelepati dengan Putih! Apa kau tidak dengar?" tanyaku memastikan, padahal sebelumnya bertelepati tadi aku sudah bilang bahwa aku mau bertelepati dengan Putih. Atau Xio ini tuli ya?
"Ehehe aku tidak dengar," ucapnya sambil cengengesan tidak jelas seperti orang idiot saja.
"Sepertinya kotoran di telingamu sudah sangat banyak, jadi kau harus membersihkan sekarang," ucapku meliriknya sekilas lalu menatap orang-orang yang sedang sibuk sendiri-sendiri ke sana kemari membawa sesuatu.
"Hei kau mengejekku?" tanyanya sambil mendekatkan dirinya ke arahku.
"Aku tidak mengejek, bukankah itu kenyataan?" ucapku sambil memandangnya sekilas.
"Kau--"
"Diam lah, lebih baik kau bantu mereka saja," ucapku memotong ucapan Xio, aku bangkit dari tempat dan berjalan menghampiri salah satu ibu-ibu yang sedang kesusahan.
Xio mengikuti ku dibelakang, sembari mengomel karena hal tadi. Ya, aku tahu dia pasti sangat kesal kepadaku.
"Apa kau butuh bantuan?" tanyaku menatap ibu yang kesusahan ini.
Sejenak ia menatapku cukup lama, tatapan itu seakan melihat artis saja hihi.
"Aah tidak usah, kau kan seorang Putri, jadi lebih baik kau istirahat saja," ucap ibu ini menolak tawaran dariku.
"Aku bukan Putri lagi, sudah sini aku bantu." Aku memaksakan mengambil barang yang ia bawa.
"Eeh tapi--"
"Ingat ya, jangan menolak," ucapku sambil mengedipkan sebelah mata.
Ternyata, orang-orang ada yang peduli dengan Putri Sioa ada juga yang tidak peduli. Bahkan sampai ada yang membully, padahal Putri Sioa tidak salah apa-apa.
***
Hari sudah malam, orang-orang mulai berkumpul di tempat yang sudah ditentukan sebelumnya.
"Kenapa kau tidak makan?" tanya Xio mengagetkanku yang sedang melamun, memikirkan Yein dan kedua anak itu.
"Aku tidak lapar," ucapku tanpa menoleh ke arahnya. Aku sedang malas sekali rasanya.
"Kau sepertinya bukan Putri biasa, maukah kau menjadikanku sebagai murid mu?" tanya Xio yang membuatku tercengang, lantas aku menatapnya berharap ia hanya bercanda, tapi ia tampak serius.
"Tapi kau sudah seperti orang dewasa, aku mohon ya. Tolong jadikan aku sebagai murid mu," ucap Xio terus memohon kepadaku, aku tuh sebenarnya tidak mau. Apalagi nanti pasti aku harus mengajar Xio seperti halnya murid dan guru.
"Tidak! Kau cari saja guru lain, aku tidak pantas." Aku berusaha keras untuk menolaknya, ya sebenernya aku kasihan tapi mau gimana lagi.
"Ya ya aku mohon, nanti kalau kau butuh bantuan kan ada aku. Ya aku mohon," ucap Xio memohon kepadaku, aku jadi tidak tega kan. Aku harus gimana dong ini?
"Baiklah, sudahi muka kau yang menyebalkan itu!" ucapku terpaksa meng-iyakan permintaannya itu.
"Memangnya mukaku menyebalkan bagaimana?" tanyanya sambil memegang wajahnya.
"Ingin rasanya aku membunuhmu kalau melihat wajahmu itu yang polos," ucapku malas, iya mukanya benar-benar sangat menyebalkan sekali. Ingin rasanya aku mencakar mukanya tadi.
"Hah? Jadi mukaku harus bagaimana?Apakah harus terlihat galak? Agar kau tidak ingin membunuhku?" tanyanya bingung, nih bocah lama-lama nyebelin banget ya.
"Aku ingin pulang," ucapku mengalihkan pembicaraan, kalau terus-menerus membicarakan masalah muka, nanti malah gak ada habisnya.
"Hei, kenapa buru-buru? Lihat! Orang-orang sudah merayakan pembebasan dan ini juga tanda terima kasih mereka padamu. Kau sama saja tidak menghargai mereka," ucap Xio panjang lebar, benar juga sih.
Hmm tapi tiba-tiba perasaanku sudah tidak enak. Firasat ku mengatakan kalau aku harus cepat pulang dan pulang sekarang juga. Atau jangan-jangan ... His! Tidak mungkin, tadi saja aku sudah bertelepati dengan Putih dan di sana baik-baik saja.
"Sepertinya aku harus pulang sekarang, Xio. Perasaanku sudah tidak enak," ucapku memandang Xio.
"Aku ikut denganmu," ucap Xio menatapku balik.
"Rain, antar aku pulang," ucapku kepada Rain yang berada di bawah pohon tidak jauh dariku.
Aku pun segera menunggangi kuda ini, diikuti oleh Xio dibelakang. Eh!?
"Hei! Kenapa kau ikut naik?" tanyaku yang mendapati Xio juga menunggangi kuda ini tepat di belakangku. Jelas saja aku terkejut, ini sudah seperti sepasang kekasih!
"Lalu? Aku harus naik apa?" tanyanya menatapku tanpa berdosa.
Aku hanya menatapnya tajam, bilang saja mau modus! Huh! Dasar laki-laki emang gitu kali ya!
"Kau mau kemana, Putri?" tanya seseorang yang melihatku.
"Aku harus pulang, takut terjadi apa-apa dengan keluargaku," ucapku sambil tersenyum.
"Baiklah, hati-hati ya."
Aku mengangguk dan segera menyuruh Rain untuk cepat terbang.
***
Sesampainya di tempat terasingkan, dimana Yein dan kedua anak itu berada. Namun yang ku dapatkan hanyalah rumah yang sudah terobrak-abrik seperti disengaja. Dan tanaman herbal milikku serta pohon buah pun ambruk dan sangat acak-acakan sekali. Sudah pasti ini ulah si kakak iblis itu!
Aku segera memasuki rumah ini, memanggil nama Yein juga Zao dan Qin. Hening, tidak ada yang menjawab ucapan ku. Perasaanku sudah tidak tenang, jangan-jangan ... itu tidak mungkin!
"Yein! Zao! Qin! Kalian dimana?" teriakku di seluruh ruangan rumah. Namun, tidak ada jawaban dari mereka.
Aku mulai panik dan sudah tidak bisa berfikir yang jernih. Aku benar-benar takut kalau mereka dibawa oleh kakak iblis itu!
"Dimana keluargamu?" tanya Xio menghampiriku yang sedang benar-benar emosi.
"Sepertinya, kakak iblis itu telah membawa mereka!" ucapku penuh penekanan, kakak itu benar-benar membuatku marah besar! Lihat saja, aku akan menghancurkan kerajaan Queen!
"Kakak iblis? Siapa yang kau maksud?" tanya Xio lagi, anak satu ini ingin rasanya aku melemparkan dia ke Gunung Suci!
Makasih sudah mampir membaca guys:) jgn lupa like and komen ****yah****, biar author tambah semangat yah:)