
"Kakak tidak bersalah, maafkan aku Kak Zei. Aku bersalah, aku baru ingat bahwa bukan Kakak pelakunya," ucap Sioa sambil menangis memelukku.
Kenapa baru sekarang kau ingat semuanya? Terlambat!
Sioa melepas pelukannya padaku dan datanglah orang yang kedua tangannya dipegang oleh dua orang prajurit. Ya, seorang wanita yang sepertinya dari kerajaan musuh. Jadi, dia yang telah menusuk adikku dan membuat adikku hilang ingatan? Gara-gara dia aku disiksa selama ini!
"Jadi, dia yang telah menusukmu?" tanyaku pada Sioa.
"I-iya kak," jawab Sioa.
Bugh!
Bugh!
"Ini semua gara-gara kau brengsek! Gara-gara kau aku yang menderita disini!" teriakku pada wanita itu sambil memukulnya secara brutal.
Aku pun menghentikan aksiku untuk memukulnya.
"Kakak, maafkan aku. Seharusnya saat itu aku menolongmu," ucap Sioa padaku sembari terus menangis.
Hah! Aku muak sekali melihat mereka!
"Aku lelah," ucapku kemudian berlalu pergi meninggalkan mereka.
Aku berjalan menuju kamarku dan mengganti pakaian.
***
Aku saat ini sedang minum teh bersama dua maid yang menemaniku. Aku melihat pemandangan yang sudah lama tidak menikmati pemandangan ini.
"Putri, anda diminta datang ke ruangan kaisar," ucap seorang maid padaku sembari sedikit membungkuk.
Hah! Padahal aku sedang tidak ingin diganggu. Terpaksa aku harus menemuinya.
Sejak kejadian itu, aku sangat irit bicara jika bertemu dengan Sioa, Ibu dan Ayahku. Aku sudah tidak dekat lagi kepada Sioa, sakit hati ini tidak bisa sembuh.
Cklek!
Aku memasuki ruangan kaisar, terdapat 4 kursi yang 3 kursi tersebut sudah di duduki oleh Ayah, Ibu dan Sioa. Satu kursi kosong berada di samping Sioa. Ada apa ini? Malas sekali aku bertemu mereka.
"Kau sudah datang, Zei. Duduklah di samping Sioa," ucap Ayahku.
Aku pun dengan malas duduk dikursi kosong itu.
"Ada apa Ayah memanggilku?" tanyaku padanya tanpa basa-basi.
"Kami ingin minta maaf padamu tentang kejadian itu, kami benar-benar menyesal telah menghukum mu Zei. Kami telah salah paham padamu," ucap Ayahku sambil menunduk.
"Bukankah aku sudah bilang, aku tidak akan memaafkan kalian sampai aku mati pun aku tidak akan memaafkan kalian! Saat aku tidak bersalah pun, aku memohon pada kalian! Aku sudah bicara pada kalian kalau aku tidak bersalah! Tapi kalian tidak peduli padaku!" Emosiku sudah meledak saat ini.
Mereka hanya terdiam merenungi kesalahan yang besar.
"Kalian mau minta maaf berapa kali pun, aku tidak akan pernah memaafkan kalian. Selama 4 tahun aku disiksa dalam penjara bawah tanah. Namun kalian baru menyadarinya selama itu? Hatiku sudah terlalu sakit, tubuhku pun penuh dengan luka-luka bekas siksaan itu. Dan kalian dengan mudahnya hanya berucap minta maaf? Kalian hanya mengucap itu denganku yang 4 tahun menderita? Hah konyol sekali," lirihku, menggelengkan kepala.
"Maafkan aku Kak, gara-gara aku---"
"Berhentilah bicara Sioa! Aku benci kau!" teriakku padanya, kemudian aku berlalu pergi meninggalkan mereka.
Flashback off
Aku benci ketika mengingat kejadian tersebut. Sehingga aku melakukan apa saja agar Sioa bisa pergi dari istana ini.
Aku juga mengingat Ibuku meninggal saat itu, setelah dia melahirkan seorang anak perempuan yang bernama Chiu Yen. Katanya, dia kehabisan darah setelah melahirkan dan akhirnya dia meninggal. Ya, setelah dia tiada, aku bisa sepuasnya menggangu kehidupan Sioa.
Saat itu aku tidak melihat Ibuku dikuburkan, karena ayahku menyuruh prajurit pilihan untuk membawa jasad ibuku ke kerajaan Yellownia dimana ibu berasal.
Aku sangat iri dengan Sioa, karena dia adalah anak yang paling disayang oleh ibu. Entah kenapa dia sangat begitu disayangi, sebab itu pula aku semakin tidak suka padanya.
Dengan begitu aku menyebarkan rumor buruk tentang kerajaan Yellownia, sehingga banyak yang membenci kerajaan tersebut.
Aku yang sedang menikmati minum teh di taman, tiba-tiba datang seorang mata-mata yang aku kirim untuk memantau Sioa dari jauh agar aku tau apa yang dia lakukan selama kabur dari istana. Sioa memang bodoh, buktinya dia tega meninggalkan orang-orang yang dia sayangi itu didalam penjara.
"Ada apa?" tanyaku sambil menatap seorang mata-mata tersebut.
"Saya melihat bahwa Putri Sioa telah berhasil membuka segelan itu, tidak lama setelah itu Putri Sioa jatuh pingsan, saat hendak menghampirinya dia sudah dibawa oleh seseorang yang memakai jubah hitam." Lapor sang mata-mata tersebut.
Prang!
Aku lantas berdiri, tidak menyangka dengan apa yang ku dengar.
"Apa kau bilang?! Anak sialan itu berhasil membuka segelan itu? Apa kau tidak berhasil mengejarnya?" tanyaku masih tidak percaya dan sangat marah dengan apa yang terjadi.
"Benar, saya tidak bisa mengejarnya. Karena orang yang membawa Putri Sioa menghilang dengan begitu cepat dan saya tidak berhasil menemukan jejaknya." Jelas sang mata-mata tersebut.
Nafasku memburu, aku benar-benar sangat tidak terima dengan kenyataan ini.
"Dasar tidak berguna! Pergi saja kau!" Umpatku kepada mata-mata tersebut sambil menunjuk agar dia cepat pergi.
Prang!
Brak!
Aku menendang meja serta kursi yang barusan aku duduki tersebut, aku tidak peduli dengan tatapan mata para maid yang sedang melihatku.
"Sioa sialan! Hidupmu kenapa begitu beruntung! Padahal aku ingin dia tersiksa sialan! Brengsek!" Umpatku.
Aku mondar mandir memikirkan apa yang harus kulakukan sekarang, dia sudah membuka segelan itu dan ada seseorang yang membawanya. Siapa seseorang tersebut? Berani sekali dia menolong Sioa sialan itu!
Aku pun gegas melangkah pergi menuju penjara dimana orang-orang yang dekat dengan Sioa berada.
Aku melangkah dengan tergesa-gesa, ada rasa emosi yang besar mengingat tentang Sioa sialan itu.
DREEEK!
Suara pintu menuju penjara terbuka, rasanya ingin sekali aku meluapkan emosi ini kepada orang-orang yang dekat dengan Sioa.
Kulihat mereka yang tampak bahagia dari sorot matanya, ada apa dengan mereka? Apakah sudah tau kalau Sioa telah berhasil? Tapi dapat informasi dari siapa? Ataukah di istana ini ada seorang penghianat? Atau mata-mata?
"Kalian tampak begitu bahagia, apakah ada hal yang menyenangkan?" tanyaku pura-pura tidak tau.
Melihat kedatanganku, raut wajah mereka berubah begitu saja. Seperti tidak suka melihat aku datang kesini.
"Ada apa Putri Zei kesini?" tanya sang maid yang ku ketahui namanya Yein.
"Jawab aku bodoh! Kenapa kalian begitu bahagia! Hah!" Teriakku kepada mereka.
"Itu bukan urusanmu!" Jawab seseorang yang ku ketahui namanya Xio.
Mendengar penuturannya, gegas aku mengambil cambuk dan menuju ke arah Xio.
"Beraninya kau berbicara seperti itu padaku! Rasakan ini!" Marahku kepadanya kemudian mengangkat cambuk yang aku pegang bersiap memberi hukuman kepada Xio.
CTAK!
"ARGHH!" teriaknya menyakitkan.
CTAK!
CTAK!
"Hentikan Putri Zei! Jika begini terus maka Putri Sioa tidak akan tinggal diam!" Seru sang maid melihatku dengan air mata yang menetes di pipinya.
Aku menghentikan kegiatanku, kemudian menatap maid itu dengan tajam.
"Hahaha ... Apakah kalian sudah yakin Putri Sioa akan menyelamatkan kalian dari sini? Bisa saja dia tidak peduli lagi dengan kalian," ucapku dengan tidak percaya menatap mereka satu persatu.
Mereka terdiam, entah malas meladeni diriku atau tidak ada kata-kata yang tepat untuk diucapkan.
Tanpa basa-basi lagi, aku kembali mengangkat cambuk yang berada di tanganku dan mengarahkannya ke maid ini.
CTAK!
"ARGHH! Uhuk!"
Tampak darah segar keluar dari mulutnya, tidak lama kemudian dia pingsan.
"KAK YEIN!" Teriak dua orang anak kecil dengan histeris, entah dari mana Sioa membawa anak gembel ini.
Setelah itu aku tersenyum puas dan pergi meninggalkan mereka, kita tunggu saja apa yang akan dilakukan Sioa sialan itu selanjutnya.
maaf nih author baru kembali up cerita ini, jangan kecewa ya makasih. oh ya kalian jangan lupa mampir ke cerita ku yang baru ya, siapa tau kalian suka