The Rise Of A Princess

The Rise Of A Princess
Part 43 Kerajaan Yellownia



"Bagaimana keadaannya? Apakah dia terluka parah?" tanya seseorang pria dengan pakaian yang tampaknya dari kerajaan, bertanya kepada tabib yang sedang mengobati seorang perempuan yang terbaring di kasur.


"Dia hanya pingsan, tidak ada masalah serius yang perlu dikhawatirkan," jawab sang tabib.


"Baiklah, terima kasih. Kau boleh pergi," ucap pria tersebut.


Mendengar ucapan pria tersebut, tabib itu pun pergi setelah membungkukkan badannya memberi tanda hormat.


"Kenapa kau menolongnya, Ren? Bisa saja dia dari kerajaan musuh," heran sang teman pria tersebut.


Pria itu yang ditanya begitu pun mengajak temannya keluar dari ruangan kamar tersebut. Entah apa yang akan mereka bicarakan.


POV Sioa


Aku perlahan membuka mataku, sebenarnya aku mendengar apa yang mereka bicarakan dari tadi. Tapi aku berpikir kalau aku sekarang ada dimana?


Aku bangkit dari tempat tidur kemudian melangkahkan kaki mengelilingi kamar ini.


Ah! Aku baru ingat, saat itu aku pingsan setelah bermeditasi di Gunung Ice. Apakah aku berhasil membuka segelan itu ya? Ini kesempatanku agar bisa kabur dari sini, aku harus mencari kerajaan Yellownia dan Carly serta Rain.


"Aish! Tapi bagaimana caranya aku keluar dari sini," ucapku sendiri.


Aku menuju ke arah jendela yang berada di kamar ini, melihat ke bawah dan kalau aku loncat bisa-bisa tulang-tulang ku patah semua.


"Hei! Apa yang kau lakukan disitu?" tanya seseorang pria.


Aku lantas menengok ke arah sumber suara, tampaklah seorang pria yang memakai baju layaknya pangeran. Dia datang bersama satu orang pria lagi disampingnya, mungkin itu temannya.


"Ee -- aku hanya melihat pemandangan, aku sebenarnya ada dimana ya? Dan kalian siapa?" tanyaku, agar niat untuk kabur tadi tidak ketahuan.


"Aku, Aren Grayler. Dan ini temanku, Zin Fugrosi. Kalau kau?" tanyanya sambil memperkenalkan diri.


"Aku, Sioa Shi." Jawabku singkat, sebenarnya aku tidak mau berlama-lama disini.


"Sepertinya aku pernah mendengar nama itu, lalu kenapa kau bisa berada di Gunung Ice?" tanyanya lagi menatapku dengan penuh selidik.


"Hei! Kenapa kau menanyakan itu? Apakah itu penting sekarang?" Heran temannya.


"Baiklah, maaf jika aku sudah lancang. Kau sudah sadar, jadi apa rencana mu?" tanya Aren memandangiku dengan serius.


"Aku akan pergi ke kerajaan Yellownia, apakah kalian tau dimana kerajaan tersebut?" tanyaku memandang dua pria yang ada di depanku.


Sejenak, mereka saling menatap. Hah! Apakah mereka bermusuhan juga dengan kerajaan Yellownia?


"Kami tau, tapi kami tidak bisa mengantarmu sampai ke sana. Aku akan memberikan peta menuju Yellownia, tidak apa kan?" tanya Aren dengan tatapan tidak tega.


"Ya setidaknya aku bisa ke sana," jawabku.


****


Setelah aku mendapatkan peta, kini aku sudah berada ditengah hutan. Aku menaiki kuda yang Aren berikan, untung saja aku bertemu dengan orang-orang seperti mereka. Kalau orang jahat, bisa saja aku akan ditahan.


Menurut peta yang aku lihat, arah kerajaan Yellownia tidak jauh juga tempatnya.


Setelah 30 menit berlalu, kini aku berhenti menatap sebuah istana yang sangat megah. Namun aura yang tidak enak sangat aku rasakan, seperti suram. Entahlah kenapa bisa begitu.


Aku menuruni kuda, kemudian melangkahkan kaki menuju gerbang yang dijaga oleh penjaga istana.


"Siapa kau?" tanya prajurit sambil menghalangiku masuk ke dalam gerbang.


"Aku Sioa Shi," ucapku sambil memandang ke arah mereka.


Penjaga istana pun terdiam dan saling menatap kepada temannya, kemudian menunduk kepadaku dan mempersilahkan aku masuk ke dalam gerbang menuju istana.


Saat sedang mengamati sekitar kerajaan ini, aku tidak sengaja melihat seseorang yang tengah mengamatiku.


"Sioa? Kau benar Sioa kan?" tanya seseorang tersebut seakan tidak percaya.


Seseorang itu gegas menuju ke arahku kemudian memelukku, siapa dia? Sepertinya aku pernah melihatnya.


"Kenapa bisa kau ada disini, Sioa?" tanya seseorang tersebut sambil melepas pelukannya padaku.


"Itu ... Maaf tapi siapa kau?" tanyaku penasaran.


Seseorang tersebut terdiam, entah mungkin saja dia shock.


"A-aku ibumu, kau sudah lupa?" tanyanya sambil menggelengkan kepalanya tidak percaya kalau aku tidak mengenalnya.


Sontak aku mundur beberapa langkah, bukankah ibunya Sioa sudah tiada? Kenapa masih hidup?


Deg!


Aku baru ingat kalau aku pernah bermimpi bertemu dengan Sioa yang asli dan dia mengatakan kalau ibunya masih hidup.


"Ibu ... Maafkan aku, aku tidak mengingatnya. Karena Ibu terlihat berbeda," jawabku sambil mendekatinya dan memegang tangannya.


Dia tampak menghembuskan napas pelan kemudian tersenyum.


"Baiklah tidak apa-apa, kita bicaranya didalam saja. Kau pasti lelah melewati banyak rintangan," ajak ibuku sembari menggandeng tanganku.


Hah! Aku benar-benar ingin menangis, bukan karna apa. Tapi sosok ibu sepertinya tidak pernah aku rasakan saat dikehidupan ku sebelumnya.


"Siapa yang kau bawa itu?" tanya seseorang wanita yang lebih tua dari ibuku.


"Oh! Dia putriku, Sioa Shi." Jawab ibuku sambil tersenyum.


Tampak seseorang wanita tersebut kaget tidak percaya dengan ucapan ibuku barusan.


"Kenapa dia sampai disini? Bisa berbahaya kalau dia berada disini," ucap seseorang wanita tersebut khawatir.


Aku semakin dibuat bingung dengan ucapan wanita tersebut, kenapa bisa bahaya? Memangnya ada yang mengincar ku?


"Kak, kita akan membahas itu nanti. Sioa baru saja datang, jangan membuatnya lebih memikirkan hal yang sulit baginya," ucap ibuku memberi pengertian kepada wanita tersebut.


Kak? Apakah wanita itu kakaknya ibu? Aku rasa begitu.


"Baiklah, antar dia ke kamarnya. Dan kau Sioa, beristirahatlah yang cukup sampai kau tidak lelah lagi ya," ucap wanita tersebut memberi perhatian.


Aku hanya mengangguk saja kemudian ibuku berpamitan dengan wanita tersebut.


"Sioa, sebenarnya ada Rain dan juga Carly disini. Mereka bisa berada disini karena kondisi Rain yang sangat memprihatinkan, mereka juga sudah menceritakan tentangmu," ucap ibuku panjang lebar seketika membuatku menatap ibu dengan tidak percaya.


"Apa yang terjadi dengan mereka? Ibu tidak menanyakannya?" tanyaku sangat khawatir.


Kulihat ibuku menghembuskan napasnya.


"Tapi kau tidak perlu khawatir, Sioa. Mereka saat ini baik-baik saja," ucap ibuku sambil memandang ke arah depan.


Kini kami sudah berada didepan kamar yang akan aku gunakan.


"Mereka juga ada didalam, jangan lupa untung istirahat. Ibu pergi dulu, nanti ibu akan mengirimkan maid untuk membawakan makanan," ucap ibuku sambil membelai rambutku.


"Terima kasih, Ibu." ucapku.


yey akhirnya author bisa up lagi, oh ya jangan lupa mampir ke karya author yang baru ya!