The Rise Of A Princess

The Rise Of A Princess
Part 11 Bertemu dengan si pencuri kecil



'Hei! Jangan lupakan aku si Gold Naga emas ini. Belikan aku buah juga.'


'Kau makan rumput saja, jangan meniru ku.'


'Kau kira aku kambing? Dasar harimau aneh!'


'Apa kau bilang? Dasar Naga jelek!'


'Kau benar-benar mem-'


"DIAM!" teriakku tidak tahan dengan kedua hewan ini.


Ya, kami sedang bertelepati. Kurasa urusan kedua hewan itu belum selesai. Yein melonjak kaget, menatapku bingung.


Seketika suara kedua hewan itu hilang, haha aku merasa nyaman.


"Pu-putri, anda ke-kenapa?" tanya Yein masih melihatku dengan tatapan bingung.


"Aah tidak ada, Yein. Aku hanya melamun tadi," ucapku sambil menggaruk kepala yang tidak gatal.


'Putri, mengapa anda berteriak?'


Aku mendengar suara si Putih, benar-benar membuatku jengkel.


'Apakah anda-'


'Bisa diam tidak sih kalian berdua! Ingin rasanya aku memanggang kalian!'


Seketika kembali hening, ya bodo amat deh. Akhirnya aku bisa merasakan ketenangan.


Aku memejamkan mata, sangat lelah sekali rasanya.


***


Duak!


Aduh! Kenapa kereta ini berhenti mendadak sih? Kan aku jadi jatuh kebawah.


Yein pun begitu, dia meringis kesakitan. Segera aku keluar dan melihat apa yang sedang terjadi.


"Tuan, kenapa anda berhenti mendadak sih? Aku dan Yein terjatuh tahu!" ucapku memandangnya dengan tatapan tajam.


"Ma-maaf Nona," ucapnya sambil menunduk.


"Putri, ada apa?" Yein bertanya, ia sudah di sampingku.


Aku tidak menjawab pertanyaannya, karena suara ramai yang ada di depanku. Banyak orang yang berlalu-lalang seperti membeli sesuatu yang mereka inginkan. Inikah yang dinamakan pasar? Hmm memiliki tempat sendiri-sendiri, jadi tidak terlalu desak-desakan jika ingin membeli barang yang dibeli.


"Ini, pasar?" tanyaku memandang Yein.


"Iya, Putri. Anda mau membeli apa?" tanya Yein menatapku.


"Ada banyak yang harus aku beli, Yein." Aku memandangnya Yein, lalu memandang tuan pemilik kereta kuda.


"Kau ... tunggu disini, awas kalau kau kabur," ucapku lagi menatap tuan itu.


Dia seperti ketakutan, lalu menganggukkan kepala. Aku berjalan dengan menggandeng tangan Yein.


"Aku seperti, melihat macan yang sedang kelaparan."


Aku mendengar suara, yang suara itu berasal dari tuan pemilik kereta kuda. Berhenti berjalan dan menatap tuan itu.


"Hei! Aku bisa mendengar apa yang kau bilang tahu!" ucapku memandangnya yang sudah agak jauh dariku.


Dia gelagapan dan berpura-pura tidak tahu.


Kulihat dia berjalan kearah lain, mungkin akan membeli sesuatu.


"Kau akan membeli apa, Putri?" Yein bertanya, aku hanya menatapnya sekilas.


"Entah," ucapku singkat.


Aku bingung akan membeli apa saja, karena aku ingin mencoba membuat masakan yang dari dunia manusia. Dan aku akan membagikannya kepada orang yang ada di Desa. Karena di sana sangat kekurangan makanan.


Sudah lumayan banyak bahan yang aku beli, tinggal membeli cemilan untuk nanti malam.


Saat hendak melangkah, suara gaduh terdengar ditempat aku membeli buah untuk kedua hewan milikku.


"Ada apa itu, Yein?" tanyaku padanya, aku tetap fokus menatap kerumunan itu.


"Ada pencuri. Putri," jawabnya.


Apa? Pencuri?


"Pencuri seperti kau, memang tidak pantas untuk dikasihani!"


"Dasar bocah, tidak ada kapok-kapoknya kau!"


"Kau pantas untuk dipukul!"


Orang-orang memukul pencuri itu dengan membabi buta, tapi sepertinya pencuri itu anak kecil. Kenapa aku diam saja? Aku akan menolongnya.


Saat hendak berteriak, aku melihat seperti asap yang berwarna hitam pekat. Apa ini? Tapi orang-orang disekitar sepertinya tidak melihat asap ini.


"Berhenti!" aku berteriak, membuat orang-orang yang memukul pencuri itu menghentikan kegiatannya.


Aku menerobos masuk, melihat pencuri yang dibilang tadi. Aku terdiam terpaku, melihat pemandangan menyedihkan yang ada di depanku.


Aku terduduk lemas di samping pencuri ini, dia terlihat kesakitan. Banyak lebam di sekujur tubuhnya, dia masih menggenggam sesuatu ditangan nya. Kulihat sepertinya buah anggur, ku terawang melalui mataku. Hanya 2 biji anggur saja, kenapa ini dipermasalahkan? Bukankah anak ini masih kecil?


Seketika aku meneteskan air mata, tiba-tiba aku memeluknya sambil terisak. Entah kenapa, aku merasa ada ikatan dengan anak ini.


Lalu aku menatap orang-orang yang masih berdiri melihatku dengan tatapan aneh.


"Kenapa, kalian tega dengan anak ini!" ucapku teriak, memandang mereka dengan tajam.


"Dia masih anak-anak! Kalian bahkan tidak ada rasa kasihan kepada anak ini!" ucapku lagi, lalu berdiri menatap orang-orang disekitar.


"Dia sudah mencuri buah milikku! Apakah pantas dibiarkan?" jawab seorang pria, dia kah yang sudah dicuri buahnya?


Padahal hanya 2 biji anggur saja, tapi dia mempermasalahkan hal ini? Sungguh terlalu sekali dia.


"Dia hanya mengambil dua biji anggur saja, kenapa kau mempermasalahkan hal ini?" aku menatap orang itu.


"Dia sudah berulang kali mencuri disini! Tapi dia tidak kapok-kapoknya sudah kami pukul!" jawab salah satu dari orang-orang ini.


Jadi, anak ini sudah berulang kali telah mencuri? Kasian sekali kau.


"Kalau sampai dia mencuri lagi, maka aku akan membunuhnya!" ucap orang tadi.


Mereka meninggalkan aku dan anak ini satu persatu, aku menatap anak ini yang tampak kesakitan sekali.


Aku mencoba untuk mendudukkannya, dia menatapku. Seperti ingin mengucapkan sesuatu, tapi mulutnya sepertinya sakit untuk berbicara.


"Ayo kita duduk di sana," ajak ku menunjuk kearah kereta kuda.


Dia mengangguk, lalu berjalan pelan sembari terus menunduk.


Yein sudah menunggu di kereta kuda, menatapku cemas.


Aku menyembuhkannya didalam kereta kuda, agar tidak ada yang curiga.


Lukanya sudah lumayan sembuh, aku tidak bisa menyembuhkannya secara total, karena kekuatan elemen tumbuhan milikku hampir lemah. Aku bingung, cara agar kekuatan elemen tumbuhan ini kembali kuat bagaimana caranya?


"Kakak, si-siapa anda se-sebenarnya?" ucapnya bingung, menatapku dengan lekat.


"Nanti kau juga akan tahu," ucapku tersenyum.


"Mm terima kasih, kakak. Anda sudah menyembuhkan ku," ucapnya sambil melihat tangannya yang kini sudah lumayan sembuh.


"Kenapa, kau mencuri?" tanyaku menatapnya.


Dia terdiam sejenak, lalu membuka genggaman tangan yang seperti ada sesuatu. Ya, buah anggur yang hanya 2 biji.


"Aku lapar, itu sebabnya aku mencuri, kak." Dia seperti akan menangis.


"Aku mengambil dua, karena satunya untuk adikku," lanjutnya, kini dia menatapku.


Adik? Lalu dimana kedua orang tuanya? Apakah sudah meninggal, ah tidak mungkin. Dia memiliki rambut berwarna emas, dengan mata yang berwarna biru. Dia pasti dari kerajaan, tapi mengapa sampai kesini?


"Siapa namamu?" tanyaku kepadanya.


"Zao Gushi," jawabnya menatapku.


"Umur?" tanyaku lagi.


"10 tahun," jawabnya.


Aku mangut-mangut, kasian sekali anak ini. Aku ingin membawanya pulang dan mengurusnya, tubuhnya sangat kurus. Bahkan tulang pun hampir terlihat yang terbungkus kulit ini.


"Maukah kamu ikut denganku?" tanyaku, membuatnya bengong.


hai guys, kembali lagi sma author hehe. gimna kabar kalian? semoga sehat dong yah, jgn lupa like and komen yah:)