
"Oh iya juga, kalau begitu biar aku yang membuat api unggun di dalam Goa Pedang itu. Tidak jauh dari sini ternyata," ucap Rain sambil menengok ke arah Goa.
Aku hanya mengangguk dan mengusir Rain dengan tanganku. Rain pun berlalu sambil mengomel karena aku telah mengusirnya.
Aku hendak masuk ke dalam sungai ini mencari ikan, namun pandanganku teralihkan ke arah Carly yang menatapku sambil tersenyum.
"Hei! Carly, kenapa kau? Sana temani Rain saja," ucapku mengusir Carly yang menatapku dengan terus tersenyum.
Dia kemudian hanya melompat-lompat kesana-kemari membuatku menggelengkan kepala. Ada apa dengan Carly ini?
Aku pun tidak menghiraukan Carly, biarkan dia mau bermain atau gimana yang penting tidak menggangu ku.
"Mau ku bantu?"
Aku menengok ke arah Carly yang sedang tersenyum dan menatapku seolah sedang mengerjai ku.
"Kau sangat irit bicara ya?" tanyaku menatap hewan mungil itu dengan tajam.
"Ya bisa dibilang begitu," jawabnya sambil terus tersenyum.
"Kau sebenarnya hewan apa sih?" tanyaku lagi penasaran.
Namun Carly tidak menjawab pertanyaan ku kali ini, dia terus diam sembari terus tersenyum ke arahku. Hah! Menyebalkan sekali hewan satu ini. Sudahlah lebih baik aku mencari ikan saja.
Aku pun masuk ke dalam sungai ini dan benar-benar sangat dingin. Apa karena sudah sore jadi air sungai menjadi dingin? Hah! Sudahlah lebih baik lanjut mencari ikan, aku sudah lapar.
Aku terus menyelusuri dan ada ikan yang berdiam diri di sebelah batu, sungai ini sangat jernih jadi aku bisa melihatnya. Aku pun mengambil pedang dan mengangkatnya kemudian menusuk ikan yang aku lihat ini.
Clap!
Dan ... Ya akhirnya aku mendapatkan ikan tersebut. Cukup besar juga ikannya, ini pasti cukup untuk makan hari ini.
Aku pun menuju ke daratan, mendapati Carly yang menepuk tangannya karena melihatku yang membawa ikan besar ini. Seakan berkata kalau aku hebat, aku sungguh percaya diri sekali.
"Cih! Kau senang? Kalau begitu ayo kita ke Goa," ucapku mengajak Carly kemudian dia pun mengikuti ku dibelakang.
Aku pun melangkahkan kaki ku menuju Goa Pedang sembari menenteng ikan yang tadi ku dapat.
Tampak Rain sedang berdiri di depan Goa, kini dia sudah berubah wujud menjadi manusia. Rain melihatku yang membawa ikan besar ini melongo dan sempat menutup mulut dengan tangannya.
"Wah! Kau yang mendapatkan ikan sebesar ini?" tanya Rain kagum dengan apa yang kudapat hari ini.
"Tentu saja, kalau begitu cepat kau panggang nih." Suruh ku kepada Rain. kemudian melemparkan ikan ini kepadanya.
Rain pun menangkapnya sambil menggerutu, aku tidak peduli dengannya yang terlihat kesal tersebut. Aku pun masuk ke dalam Goa Pedang ini mendapati cahaya yang berasal dari api unggun. Kemudian duduk di pinggir api unggun karena aku merasa sangat kedinginan.
Tidak lama kemudian Rain datang dengan ikan yang sudah dibersihkan dan siap untuk dipanggang. Rain pun ikut duduk di sampingku dan meletakkan ikan yang ku dapat tadi di atas api.
"Apakah kau tidak merasa aneh dengan Goa Pedang ini, Rain?" tanyaku menatap Rain sambil sesekali melihat sekeliling.
"Kau tadi tidak menelusuri ke sana?" tanyaku lagi dengan menunjuk ke arah dalam Goa.
Rain pun menengok ke arah yang aku tunjuk dan ia pun menggelengkan kepalanya, pertanda kalau ia belum menelusuri lebih dalam ke Goa Pedang ini.
"Ya sudah, kalau begitu kau panggang ikan itu sampai matang. Aku akan menelusuri sendiri," ucapku sambil beranjak berdiri.
"Hei! Jangan sembarangan kau ke sana sendirian! Bahaya tau! Kalau ada binatang buas bagiamana? Kau mau dimakan hah!?" Omel Rain membuatku terkekeh.
"Sudahlah, jangan khawatir Rain. Aku akan baik-baik saja," ucapku, setelah itu aku berjalan meninggalkan Rain.
Aku sempat menutup telingaku karena Rain terus berteriak agar aku tidak menelusuri Goa ini lebih dalam. Namun rasa penasaranku lebih tinggi ketimbang rasa takutku terhadap binatang buas.
Aku berjalan pelan sambil melihat-lihat sekeliling, setelahnya aku menghentikan langkahku dan terdiam ditempat. Karena jalan Goa ini berbelok ke kanan, aku pun melanjutkan langkahku tanpa ragu.
Cukup lama aku berjalan namun tidak ada yang aneh disini, yang membuatku bingung adalah lukisan dinding Goa Pedang ini. Banyak sekali lukisan pedang dan orang-orang seperti prajurit, hingga aku menemukan lukisan yang bergambar seorang ratu. Kenapa aku tau? Karena ada sebuah mahkota di kepalanya.
Cukup lama aku mengamati lukisan-lukisan tersebut, kemudian aku berjalan mundur karena ingin tau seberapa banyak lukisan di dinding Goa ini.
Dan ...
Bruk!
"Aduh! Sial!" Umpat ku kesal karena aku terjatuh akibat tersandung batu yang tidak aku lihat.
Aku pun berusaha berdiri dan tampaknya aku merasakan sesuatu dibelakang ku. Lantas aku gegas berdiri kemudian melihat apa yang ada di belakang ku tadi.
Aku pun berdiri sembari mengomel dan membersihkan pakaian ku yang kotor akibat terjatuh tadi, lalu aku menengok menatap apa yang aku rasakan tadi.
Deg!
Ada sebuah pedang yang sangat unik namun tertancap di tanah, gagang pedang itu terlihat menarik perhatianku. Aku pun melihat lebih dekat lagi untuk memastikan pedang apa ini.
Setelah ku dekati, tidak ada hal yang aneh dari pedang ini. Tapi tunggu, kalau Goa ini diberi nama Goa Pedang itu artinya ada sesuatu yang belum dipecahkan? Atau Goa ini di namakan Goa Pedang sehingga ada pedang disini?
Aku mencoba mencabut pedang ini dari tanah, tapi sangat sulit sekali. Aku kembali mengamati pedang ini dari dekat, ada sebuah tanda diantara gagang pedang ini. Sepertinya seseorang telah mengambil tanda pada pedang ini, tapi aku seakan paham dengan tanda ini.
Aku pun mengeluarkan sesuatu dari saku bajuku, sebuah kotak berwarna merah dan ku buka kotak ini. Terdapat batu kristal yang ku dapat dari kamar Putri Sioa sendiri. Didalam batu kristal ini seperti ada darah yang tidak aku tau darah siapa ini? Ataukah darah Putri Sioa? Namun untuk apa dia menggabungkan darahnya di dalam batu ini?
Aku pun mencoba mencocokkan batu ini dengan tanda yang ada di gagang pedang tersebut. Namun, tidak ada yang aneh. Hah! sudahlah mungkin aku terlalu lelah hari ini jadi bisa mengada-ada saja.
Hendak mengambil batu yang tadi ku cocokkan tiba-tiba batu tersebut bersinar, awalnya tidak membuat mata silau. Tapi lama-lama cahaya itu semakin terang, membuatku menutup mataku dengan tangan.
Dirasa cahaya tersebut sudah hilang, aku kembali menatap pedang yang ada di hadapanku.
Pedang itu ...