The Rise Of A Princess

The Rise Of A Princess
Part 26 Kabur



"Putri, apakah anda di dalam?" tanya seseorang yang berada di luar kamarku. Itu suara Yein.


"Masuk saja," ucapku sambil menata rambut panjang milikku.


Mereka datang secara bersamaan, Xio, Yein, Zao dan Qin.


"Ada yang ingin kami bicarakan, Putri," ucap Xio lalu berjalan menuju ke sebuah tempat untuk duduk yang berada di kamarku.


Aku menghentikan menata rambut, berbalik menatap mereka.


"Zao, Qin, kalian bermain di sana p dulu ya. Kakak mau berbicara dengan kak Yein dan kak Xio," ucapku sambil tersenyum menatap dua anak ini.


Mereka mengangguk dan berlalu. Aku pun berjalan menuju Xio dan Yein berada, lalu duduk diantara mereka.


"Apa yang ingin kalian bicarakan?" tanyaku menatap Xio dan Yein bergantian.


"Para prajurit dan maid sekarang sangat sibuk mempersiapkan segala sesuatu untuk membunuhmu, ayahmu sedang mengurus surat pembunuhan untukmu bersama Zei iblis itu. Dua adikmu di kurung pada sebuah tempat yang sangat rahasia. Pangeran Leone, dia dikirim ke kerajaan yang sangat jauh. Ayah dan kakakmu sungguh benar-benar akan membunuhmu besok, apa yang harus kita lakukan?" jelas Xio menceritakan hal yang sangat membuatku terkejut.


Mereka benar-benar ingin membunuhku? Tapi mengapa ayah mau membunuhku? Atau Zei iblis itu yang sudah membuat ayah membenciku? Apakah Zei iblis itu sudah menyihir ayah agar patuh padanya? Itu sudah pasti, aku ingin melawan mereka, namun kekuatanku sudah disegel. Bagaimana ini?


"Lalu, apa yang harus aku lakukan?" tanyaku menatap Xio dengan bingung.


Kami terdiam cukup lama, ya ini benar-benar situasi yang sangat gawat. Kalau aku mati, bisa-bisa kerajaan ini hancur perlahan karena Zei iblis itu! Begitupun Putri Sioa Shi berpesan padaku agar menyadarkan Zei, kakaknya.


"Aku punya ide, namun aku tidak yakin kalau ini berhasil," ucap Xio menatapku dan Yein bergantian.


"Bagaimana caranya?" tanyaku menatap Xio dengan serius, menunggu jawaban darinya.


"Begini, kau bisa menyamar menjadi Yein bagaimana? Kau bisa menyelinap lewat pintu belakang, di sana pasti orang-orang tidak ada yang mencurigai mu." Xio menjelaskan, apakah ini ide yang baik?


"Aku takut terjadi apa-apa dengan kalian, kalau kalian dihukum bagaimana? Lebih baik aku bersama kalian saja disini," ucapku sedih, menatap Xio dan Yein dengan sendu. Mereka sudah berkorban banyak untukku, tidak mungkin aku meninggalkan mereka disini.


"Jangan khawatir, Putri. Kami pasti baik-baik saja," ucap Yein menatapku sembari tersenyum.


"Datanglah ke tempat kakek Xin Zix. Dia akan membantumu," ucap Xio menatapku.


Kakek Xin Zix? Bukankah dia berada di hutan Xixi? Katanya hutan itu sangat berbahaya karena banyak jebakan yang terpasang.


"Jangan khawatir, setelah kau sampai di pintu belakang segera lari masuk ke dalam hutan, kau nanti di sana bertemu dengan Rain. Kuda itu akan mengantarmu ke sana," ucap Xio lagi, mereka benar-benar sangat baik. Aku pasti akan segera menyelamatkan kalian secepat mungkin.


"Kau bersiap-siap lah sekarang, tidak ada waktu lagi." Xio berdiri dari duduknya dan menghampiri dua anak itu yang sedang bermain.


Aku terdiam cukup lama, pergi sekarang? Bagaimana ini? Aku sangat bingung, tetap disini juga aku besok akan dibunuh. Kalau pun sekarang aku pergi, bagaimana dengan nasib mereka? Para prajurit yang menjagaku saat diasingkan, mereka telah dipenjara bawah tanah. Entahlah nasib mereka seperti apa.


***


"Aku akan mengantarmu sampai pintu belakang, setelah itu lari lah dengan sekencang yang kau bisa," ucap Xio membuyarkan lamunanku.


Aku menenteng tas kecil, ada beberapa baju di dalamnya juga ada beberapa makanan untukku.


"Kenapa anda menangis, Putri? Kami pasti baik-baik saja," ucap Yein mendekatiku lalu menghapus air mataku.


Aku memeluk Yein dan kedua anak itu, tangis ku pecah di pelukan Yein.


"Semoga kita bertemu lagi," ucapku sembari melepas pelukan.


"Zao, Qin, jagalah kakak Yein dan kak Xio ya," ucapku sambil mengusap kepala Zao dan Qin.


"Jangan khawatir kak, kami pasti akan menjaga mereka dengan baik," ucap Zao di angguki oleh Qin.


Aku melambaikan tangan kepada mereka, berjalan keluar kamar sambil mengusap air mata ini dengan kasar. Ya, aku benci Zei! Ini semua gara-gara Zei iblis itu!


Aku dan Xio berjalan dengan begitu terburu-buru dan sesekali melihat sekeliling, sepi sekali. Hanya ada beberapa orang saja yang lewat.


"Kau harus yakinkan dirimu, Putri," ucap Xio tanpa memandang ke arahku.


Bagaimana aku harus meyakinkan diriku? Aku sangat takut jika nanti akan gagal untuk mencapai tujuanku, aku tidak yakin.


Kalau aku tidak mewujudkan permintaan Putri Sioa saat itu bagaimana? Apakah dia akan kecewa padaku? Haa kenapa masalah ini semakin rumit saja?


"Sudah sampai, cepat kau lari lah sekarang!" Xio membuyarkan lamunanku, ternyata kami sudah sampai di pintu belakang.


Aku memandangi Xio cukup lama, teringat Yein dan dua anak itu. Apakah aku tega meninggalkan mereka disini? Apakah aku jahat?


"Jangan memandangiku begitu, cepatlah lari!" Xio kembali menyuruhku untuk segera pergi.


Baiklah, aku mengangguk dan berlari meninggalkan Xio yang berdiri mematung melihat kepergian ku. Sesekali aku menengok untuk memastikan Xio, dia sudah tidak ada. Ya, akh tidak boleh mengecewakan mereka.


Aku berlari sudah menjauhi kerajaan Queen itu, kini aku sudah berada di hutan yang ditunjukkan oleh Xio. Katanya Rain disini menungguku, namun dimana dia? Mengapa aku tidak menemukan Rain?


"Apa yang kau tunggu? Cepat naik." Suara itu, bukankah itu Rain? Aku menengok kebelakang, ya ternyata dia sudah siap mengantarku.


Aku pun menaiki punggung Rain atau kuda dari Gunung Suci ini. Rain segera berlari menuju ke dalam hutan yang sangat hijau, sangat mencekam jika terus ke dalam hutan ini. Ah sial! Aku tidak membawa senjata apapun, bagaimana nanti kalau ada hewan buas?


"Oh ya, aku membawa beberapa senjata dari Xio. Aku menyimpannya di dalam tanduk milikku," ucap Rain sambil terus berlari.


Ternyata Xio sangat peduli padaku, senjata pun ia bawakan dengan cara sembunyi seperti ini. Aish! Lagi-lagi aku teringat mereka.


"Hei Rain, mengapa kau tidak terbang saja? Bukankah itu sangat cepat?" tanyaku menyuruh Rain untuk terbang saja dari pada berlari seperti ini. Banyak waktu yang terbuang kalau begini caranya.


"Aku juga inginnya seperti itu, tapi disini masih kawasan kerajaan Queen. Banyak mata-mata yang diam-diam memperhatikan dirimu di atas sana. Mereka tidak terlihat oleh kita, Zei yang menyuruh mereka kalau saja kau kabur maka akan di laporkan. Jadi, lebih baik berlari saja dulu." Rain menjelaskan padaku, ternyata Zei iblis itu benar-benar ingin membunuhku. Padahal kalau dipikir-pikir aku ini salah apa dengannya?


"Rain, apakah berita bahwa aku akan di bunuh sudah tersebar?" tanyaku lagi kepada Rain, saat di kerajaan Queen aku tidak pernah keluar. Hanya ke perpustakaan dan di kamar saja.


"Benar, semua sudah tau. Zei itu menyebarkan berita kalau kau yang membunuh ibu atau permaisuri. Aku tau ini berita yang tidak benar, kau tau? Ayahmu sudah di sihir oleh Zei, jadi dia dibawah kendali Zei," ucap Rain panjang, dugaan ku benar bahwa ayah telah di sihir olehnya.


Kenapa sih Zei iblis itu selalu saja mengusik diriku, aneh memang. Dia masih saja tidak puas sudah menyiksaku dengan mengasingkan aku. Hah! Awas saja kau Zei!


Halo guys, maaf nih baru update:)