
Aku memanggilnya asal, tapi aku bisa merasakan kalau dia adalah Putri Zei, kakakku.
"Hei! Jangan memanggilku dengan mulut kotormu itu!"
Ternyata benar, dia adalah kakakku Zei yang sudah menyiksaku. Sombong sekali dia, mentang-mentang putri bangsawan jadi seenaknya saja.
"Pergi dari sini!" teriakku tepat dihadapannya, membuat kaget semua orang yang ada disini.
"Beraninya kau berkata kasar kepada putri bangsawan!" seseorang menatapku tajam dan tidak suka. Ya mungkin prajurit untuk menjaga putri sialan ini!
"Sudah, kita pergi saja. Untuk apa aku berada di tempat kumuh seperti ini!"
Kak Zei pergi meninggalkan tempat ini, aku masih memandangnya dengan tatapan benci.
"Dasar songong! Kecelakaan baru tahu rasa!"
Setelah berucap seperti itu, aku beralih menatap Yein dan yang lainnya. Terlihat begitu sedih, atau apalah gak tau.
"Kalian tidak apa-apa kan?" tanyaku menatap mereka.
Menggeleng pelan, ya aku tahu mereka sangat ketakutan. Maafkan aku, yang tidak bisa menjaga kalian.
"Eh! Zao dan Qin mereka dimana?" tanyaku kepada Yein.
"Mereka bersembunyi di belakang rumah bersama hewan milik anda, Putri."
"Baiklah, kalau begitu kalian istirahat saja ya. Jangan terlalu dipikirkan," ucapku, lalu melangkah menuju belakang rumah.
Ya, aku melihat Zao dan Qin berada disebuah pojokan rumah, ada hewan milikku juga. Terlihat jelas bahwa Zao dan Qin begitu ketakutan. Aku hendak menghampiri mereka, namun, sesuatu terjadi.
Aku tidak bisa mendekati mereka, sepertinya hewan spirit milikku membuat perisai pelindung. Aku mencoba untuk bertelepati dengan Putih.
'Hei Putih, apakah kau yang membuat perisai pelindung?'
'Apakah itu kau, Putri?'
Ish! Kenapa Putih malah balik nanya? Udah tahu kalau ini aku pake nanya lagi.
'Iya ini aku, cepat buka perisai ini.'
'Baiklah.'
Setelah itu, perisai yang tadi menghalangiku, kini sudah hilang. Segera aku menghampiri mereka.
"Zao, Qin, apakah kalian tidak apa-apa?" tanyaku kepada dua anak ini.
"Kakak!" Mereka tampak senang melihatku, lalu memelukku.
"Ah ... tidak apa-apa, kakak jahat itu udah pergi kok," ucapku menenangkan mereka.
Zao dan Qin melepas pelukannya padaku, lalu menatapku dengan dalam. Terlihat sekali kalau mereka sangat takut. Kalau begini, bagaimana aku bisa meninggalkan mereka disini?
Ku ajak mereka masuk ke dalam rumah, aku akan berfikir dahulu sebelum pergi ke Gunung Suci.
Zao dan Qin, mereka ku suruh untuk bersama Yein dahulu. Karena aku akan berbicara kepada kedua hewan ku dan Rain.
Aku duduk dibawah pohon dekat rumah, diikuti oleh hewan milikku juga Rain.
"Ehm! Bagaimana ini, kalau aku meninggalkan mereka disini tanpa aku, pasti si kakak iblis itu kesini lagi," ucapku memulai pembicaraan.
Aku benar-benar takut kalau kakak Zei kesini lagi dan balas dendam. Aku tidak mau itu terjadi.
'Serahkan saja mereka kepada kami, Putri. Pasti kami akan menjaganya.'
Putih berbicara, tapi aku masih ragu. Kalau Putih dan Gold tidak bisa menjaga Yein dan yang lain gimana? Aku benar-benar sangat pusing.
"Tapi---"
'Hei, Gunung Suci sangat membutuhkan dirimu. Sudah jangan khawatir, percaya lah padaku.'
"Rain, bagaimana denganmu?" tanyaku menatap Rain.
"Ha? Ya itu tergantung dirimu." Rain menatapku.
"Ya sudah, tapi kalian harus hati-hati disini ya. Aku serahkan semua pada kalian, aku akan berangkat sekarang," ucapku, menatap kedua hewan ku yang ada di depanku.
Baik, kau jangan khawatir Putri. Kami pasti akan menjaga mereka, ucap Putih menatapku dengan lekat.
Aku tidak ingin memberi tahu Yein dan yang lainnya, karena pasti aku tidak diizinkan. Mungkin beberapa hari saja aku akan menyelesaikan masalah di Gunung Suci itu. Dan setelahnya, aku akan kembali.
"Rain, kita berangkat sekarang," ucapku beralih menatap Rain.
Rain tampak sedikit terkejut, ya aku tahu ini mendadak, aku tidak berbicara dulu dengan Yein. Jadi, Rain sedikit bingung juga.
"Baiklah," ucapnya sembari membungkukkan badannya agar aku mudah menaikinya.
Rain ternyata mempunyai sayap, saat ia dikejar oleh pemburu sayapnya rusak dan ia belum sempat memperbaiki dengan berkultivasi. Sekarang sayapnya sudah membaik dan bisa terbang. Aku juga saat belum tahu kalau ia mempunyai sayap, aku mengira bahwa ia seperti kuda pada biasanya.
Aku melambaikan tangan kepada kedua hewan ku, sedih rasanya berpisah tanpa berpamitan dengan Yein dan dua anak lucu itu.
***
"Apakah ini Gunung Suci?" tanyaku, sembari turun dari punggung Rain.
Kami sudah berada di tempat yang kami tuju, tapi aku merasakan aura yang berbeda di sekitar sini. Seperti, terdapat aura yang sangat kuat. Aku tidak tahu, apakah ini aura Gunung Suci atau bukan.
"Iya, auranya memang berbeda. Karena penyihir yang sebelumnya kesini sudah membuat aura Gunung Suci menjadi lebih mencekam dan amat kuat." Rain menjelaskan padaku penyebabnya.
Penyihir? Aku penasaran dengan penyihir itu. Ada masalah apa dia sampai-sampai membuat Gunung Suci begini?
"Kau kenal dengan penyihir itu?" tanyaku menatap Rain.
"Mmm aku tidak yakin, karena dia sedang mencari batu pertahanan."
Rain menatapku, setelah itu dia berjalan masuk melewati pepohonan. Aku pun mengikutinya dibelakang, hiii kok aku menjadi merinding begini ya? Seperti ada banyak sepasang mata yang sedang menatap ke arahku.
Srek!
Apa itu? Aku menghentikan langkahku dan menatap sekitar. Tidak ada apa-apa.
"Rain, kau mendengar suara?" tanyaku menatapnya.
"Sudah, jangan hiraukan suara-suara yang kau dengar. Itu hanya ilusi," ucap Rain berbisik padaku.
Aku kembali melangkahkan kaki ku, sembari berfikir dan terus berfikir agar fokus. Ilusi? Taktik apalagi ini? Ternyata benar-benar membuatku bingung.
"Apakah ilusi tadi dibuat oleh penyihir?" tanyaku sambil melihat sekeliling.
"Iya betul sekali, awalnya gunung suci tidak semenakutkan ini. Tapi, karena auranya di rubah olehnya, maka menjadi seperti ini."
Rain menjelaskan padaku penyebabnya, aku benar-benar penasaran dengan penyihir itu.
***
Setelah lama berjalan dengan banyak gangguan seperti ilusi, aku benar-benar dibuat gila. Karena ilusi tersebut seperti sangat nyata, aku sampai tidak bisa membedakan antara ilusi atau bukan.
Kami akhirnya sampai di pedesaan, sepi, itulah yang kurasakan dan yang ku lihat. Para rumah warga ada yang hancur bahkan ada pula yang masih utuh. Aku tidak melihat ada orang disini, dimana penghuninya?
"Rain, dimana orang-orang yang tinggal di sini?" tanyaku, masih menatap perumahan ini.
"Mereka mengurung diri di rumah mereka masing-masing. Karena, penyihir itu mengutuk mereka. Badan mereka menjadi gatal yang luar biasa, tidak ada yang bisa menyembuhkan penyakit itu. Kecuali penyihir itu sendiri yang mengobatinya."
Aku mangut-mangut saja dengan penjelasan Rain, lalu bagaimana ini? Haruskah aku menolong mereka?
Terima kasih sudah membaca, jgn lupa like and komen yah:)