
Bruk!
"Akh! Beraninya kau!" ucap Zei iblis setelah aku tiba-tiba menyerangnya. Tentu saja aku tidak tahan dengan sifatnya itu yang ingin menang sendiri!
Sedangkan Yein dan dua anak itu terpental, tapi untung saja Xio datang tepat waktu dan menangkap mereka menggunakan kekuatannya, jadi tidak jatuh ke tanah.
"Kau kejam!" ucapnya membuatku melangkah pelan ke arahnya.
"Kejam? Hahahaha! Bukankah kau yang mengajariku menjadi seperti ini?" ucapku terus berjalan pelan dan memandanginya dengan tajam dan tersenyum miring.
"Ap---"
Wush!
"Akh! Lepaskan aku!" titahnya menatapku dengan melotot, ya aku mencekik lehernya sekarang. Jujur saja, aku ingin sekali membunuhnya sekarang juga, tapi aku masih punya hati dan perasaan.
"Sishi, lepaskan dia. Apa kau tidak ingat, dia adalah kakakmu. Seharusnya kau lebih sopan padanya." Ayah kembali bersuara, sepertinya dia sangat kasihan kepada Zei iblis ini!
"Bisakah ayah diam saja?" ucapku sembari menatap ayah sekilas lalu beralih menatap Zei iblis ini!
"Ayah tidak akan diam, dia adalah kakakmu! Bukan musuhmu, Sishi!" Ayah membentakku, membuat diriku menghempaskan si Zei iblis ini dan menatap ayah dengan tajam.
"AAA!"
Bruk!
"Zei!" Pekik ayahku sambil berlari ke arah kakakku terpental.
"Kau benar-benar kejam, Sishi! Kau tega dengan kakakmu sendiri! Seharusnya kau sopan padanya! Bukan seperti ini, kau benar-benar sudah berubah! Dulu kau tidak berani menyakiti orang lain, dulu kau sangat penakut, dulu kau sangat penurut, dulu kau sangat menghormati kakakmu! Kenapa kau sekarang menjadi seperti ini? Siapa yang membuatmu berubah? Atau maid sialan itu yang telah membuat kau menjadi seperti ini? Ha! Jawab ayah!" Ayah menatapku sendu, hah! Tatapan apa itu? Aku muak!
Aku melihat si Zei iblis itu tersenyum miring, dia berpura-pura pingsan. Sebenarnya, disini yang salah siapa? Aku? Iblis itu? Atau ayah? Aku heran, mengapa ayah membela kakakku yang sudah mengasingkan aku? Dan saat aku kembali dengan perubahan yang drastis, seakan ini semua salahku.
"HAHAHAHA! Ayah, itu semua adalah Sishi yang dulu! Sekarang adalah bukan Sishi yang kau kira penakut! Sekarang ini adalah Sishi yang berani dan penuh dendam! Aku telah diasingkan oleh siapa? Zei iblis itu bukan? Padahal aku tidak mempunyai salah apapun kepadanya. Dan, kemana saja dirimu saat aku diasingkan? Atau kau menyetujui rencana Zei iblis itu untuk mengasingkan aku? Atau bahkan, kau telah disihir olehnya?" Aku menghentikan ucapanku sejenak, menatap sekeliling lalu kembali menatap ayah yang terdiam membisu.
"Dan, disaat aku kembali kesini, kau bilang aku telah berubah. Dan beraninya kau telah menuduh maid kesayanganku bahwa dia yang telah merubahku menjadi seperti ini! Yang telah merubahku menjadi seperti ini itu Zei iblis itu! Dia---"
"Cukup! Bahkan dengan ayahmu sendiri kau tidak mempunyai sopan santun!" Ayah membentakku, menatapku tidak suka.
"Ayah, aku akan menghormati orang lain jika, orang itu menghormati aku juga. Kalaupun ada orang yang lebih tinggi jabatannya, kalau tidak menghormati aku juga buat apa?" ucapku santai, walaupun ingin sekali aku menghancurkan kerajaan Queen ini!
"Sama saja! Kau benar-benar sudah kehilangan akal! Aku akan mencambukmu 1000 kali!" ancam ayahku, mungkin agar aku takut yah.
"HAHAHAHA!"
"HAHAHAHA!"
"HAHAHAHA!"
(*Sioa ketawa gitu kalo ada lalat masuk kan gak jadi tuh konsepnya, ya gak para reader?*)
Aku tertawa terbahak-bahak dan sangat kencang, terdengar suara gema yang bersahut-sahutan akibat tawaanku.
"Woy! Siapa yang ketawa sampai ke---" ucapan seseorang terhenti, aku menengok.
"Kau ... sebenarnya ada apa ini ayah? Apakah kalian tidak lihat hah! Cuacanya sedang tidak bersahabat, tetapi tadi aku dengar ada orang tertawa. Siapa itu? Atau orang gila yang tersesat? Hei! Kalian mengapa---,"
Braak!
Dia mengoceh tidak jelas, membuatku jengkel dan menghempaskan dia. Siapa sih? Mengganggu orang saja!
"Aduh! Hei kenapa kau menyerangku! Aku salah apa?" tanyanya menatapku tidak suka, salah siapa datang-datang malah mengoceh.
"Qishe! Apa yang kau lakukan! Lebih baik kau didalam saja!" titah ayah menyuruh Qishe.
Ternyata dia adikku, lebih tepatnya adiknya Putri Sioa Shi yang bernama She Qiu atau biasa dipanggil Qishe. Cerewet juga ternyata, kalau aku sudah akrab dengannya pasti akan stres
"T-tapi ayah, siapa gadis cantik ini?" tanyanya sembari melirik ke arahku.
Ah! Dasar bocah dodol! Aku ini kakakmu tahu! Bisa-bisanya dia berkata seperti itu?
"Berhenti berbicara! Cepat masuk!" ucap ayah membentaknya, dia tampak lesu dan berjalan sambil menghentakkan kaki.
Cring!
"Akh!" Aku mengaduh kesakitan, bagaimana tidak? Tiba-tiba aku merasakan dingin yang luar biasa diseluruh tubuhku. Kepalaku pun sangat sakit, membuatku terjatuh terduduk di tanah. Pandanganku pun perlahan-lahan kabur dan gelap. Samar-samar aku masih mendengar suara dari Yein, Xio, Zao dan Qin. Mereka memanggilku agar sadar, tapi ...
***
"Dia kak Sishi? Aku tidak menyangka bahwa dia benar-benar sudah berubah sekarang."
Perlahan aku membuka mataku, terdapat beberapa orang disini. Aku dimana? Ini bukan tempat aku diasingkan, aku berada disebuah kamar yang sangat indah. Tidak seperti kamar yang aku lihat sebelumnya. Ini jauh lebih baik!
"Dia sudah sadar!"
Ada Yein, Xio, Zao, Qin, dan keluarga yang aku benci! Mereka menunggu aku sadar kah? Kecuali Zei iblis itu! Kemana dia?
"Ayah! Kakak ini yang sudah menyelamatkan aku! Dia juga yang sudah menolong kita!" ocehan dari gadis kecil, ternyata Chiu Yen, adikku.
Seketika semua terdiam sejenak, entah apa yang dipikirkan mereka, aku tidak bisa membaca pikiran para orang-orang ini.
"Ayo kita keluar dulu, biar kak Sishi istirahat." Ayah mencairkan suasana dengan mengajak orang-orang disini agar keluar dari kamarku.
"Kalian saja yang keluar, biarkan Xio, Yein dan kedua anak ini disini," ucapku dengan nada yang lemah, ada apa denganku? Biasanya tidak seperti ini.
Ayah mengangguk dan berlalu meninggalkanku.
"Sebenarnya apa yang terjadi padaku?" tanyaku menatap Xio dan Yein bergantian.
"Itu karena ... aduh gimana ya menjelaskannya, ini sangat sulit," ucap Xio sembari menggaruk kepalanya.
'Biarkan aku saja yang menjelaskan.' Suara Putih, ternyata dia berada di sampingku. Dia tiduran bersama Gold.
Aku menatapnya, menunggu penjelasan dari Putih.
Maaf yak author baru update sekarang, soalnya author gada paket hihi, oh ya jangan lupa like and komen yah:) makasih