
Langkah demi langkah sudah dilalui, Putri Zei berjalan dibelakang sembari menatap para orang-orang milik Putri Sioa.
Tersenyum miring, menampakkan bahwa ia akan berbuat jahat kepada orang-orang tersebut.
Grreek!
Bunyi sebuah pintu yang terbuka, menampilkan para sandera yang tidak berdosa. Disiksa sampai mati, entah untuk apa merek disiksa seperti itu. Apakah Putri Zei mempunyai dendam dengan para sandera tersebut? Entahlah.
Banyak siksaan yang terpampang jelas didepan mata, membuat sang adik kakak --Qin dan Zao-- menangis histeris.
"Bawa mereka ke penjara penyiksaan alam!" titah sang Putri Zei.
Penjara penyiksaan alam adalah penjara yang luas, kedap suara dan bisa untuk menyiksa sepuasnya. Lengkap dengan alat-alat penyiksaan dipenjara tersebut.
"Ikat mereka!" titahnya lagi kepada prajurit.
"Lepaskan kami! Bodoh! Jika Putri Sioa tahu hal ini, maka dia akan membunuhmu!" Ronta seorang pria yang tidak lain adalah muridnya Putri Sioa.
Ctar!
Bunyi sebuah cambuk yang mengenai badan pria tersebut, hingga baju yang ia kenakan sobek. Terlihat jelas luka yang begitu merah akibat cambukan tadi.
"Diam!" teriak sang Putri Zei yang sudah diambang kemarahan.
Putri Zei pun beralih menatap seorang maid yang menangis tersedu-sedu, Putri Zei pun berjalan kearahnya. Mengangkat tangannya yang siap untuk memberikan sebuah cambukan yang sangat kuat terhadap maid ini.
Ctar!
Bruk!
"PUTIH!" pekik sang maid tanpa bisa berbuat apa-apa.
Putih telah melindungi maid itu dari cambukan Putri Zei.
"Ah! Sial! Kenapa kau menggangguku hewan bodoh!" Umpat sang Putri Zei.
Ia pun berjalan kearah hewan yang terkapar lemas dan mengeluarkan darah disela-sela mulutnya.
"Aku awalnya tidak mau berurusan denganmu hewan bodoh! Tapi kau telah membuatku marah!"
Ctar!
Brak!
"AKU BENCI KAU SIOA SAMPAH!" teriak sang Putri melampiaskan amarahnya.
Ctar!
Bruk!
"Hentikan! Tolong hentikan Putri Zei! Aku saja yang kau cambuk jangan Putih!" seru sang maid tidak tega melihat Putih disiksa begitu.
Putri Zei tanpa menghiraukan ucapan maid itu, dia tetap memberikan cambukan sampai-sampai tubuh si Putih penuh darah.
"Hah! ... HAHAHA!"
HAHAHA
Setelah Putri Zei puas dengan menyiksa Putih, ia keluar sembari menyeret cambuknya dan tertawa seakan puas.
Kini, diruang penjara penyiksaan alam tersebut hanya terdengar tangisan yang memilukan dan juga terdengar suara memanggil Putri Sioa.
Beberapa saat kemudian, cahaya muncul ditubuh sang Putih. Lama-kelamaan cahaya tersebut menjadi besar dan menyilaukan mata, hingga cahaya itu hilang muncullah makhluk yang mirip dengan Putih. Namun, makhluk itu berbeda dengan Putih. Makhluk itu memiliki badan yang lebih besar dari Putih dan memilih ekor mirip rubah. Bahkan ekornya pun ada 20 ekor, bahkan di dahinya terdapat sebuah tanda berwarna kuning.
Makhluk itu pun berubah menjadi kecil dan menyelamatkan para orang-orang milik Putri Sioa. Dia menyembuhkan dengan kekuatan suci miliknya.
"Aku akan pergi mencari Putri Sioa dan dia akan menghancurkan kerajaan ini!" Makhluk itu berkata kepada maid, Xio, Qin, Zao dan Gold yang sedikit lemas.
Kemudian makhluk itu pun berjalan meloncat kearah sebuah lubang yang ada dipenjara tersebut.
Flashback off
***
Aku terdiam mendengar cerita dari Carly dan aku selalu bertanya-tanya mengapa Zei iblis itu begitu jahat padaku, apa yang sudah aku lakukan padanya? Hingga aku juga harus membuatnya sadar atas tindakannya terhadapku.
"Huft ... Terima kasih telah menolong mereka Carly, jika tidak ada kau maka nasib mereka mungkin akan lebih parah," ucapku menatapnya, perlahan air mata pun mengalir di pipiku.
"Kau tidak perlu khawatir ataupun sedih, mereka akan baik-baik saja." Carly berusaha menenangkan diriku.
"Bukan, kebetulan aku menemukannya dan menjaganya agar kau yang bisa memilikinya," jawabnya sambil menggoyangkan ekornya.
"Wah, terima kasih ya."
"Untuk apa kau berterima kasih padaku?" tanya Carly.
"Ya untuk semuanya," ucapku sambil tersenyum kearahnya.
"Ya tidak apa, sekarang kau adalah tuanku. Jika kau butuh pertolongan maka panggil saja aku," ucap Carly.
"Tapi, bukankah kita belum melakukan kontrak?" tanyaku heran.
"Kau kan sudah melakukan kontrak dengan Putih, maka anak dari inti Putih juga akan selalu mengikuti mu. Jadi tidak perlu melakukan kontrak lagi, karena darah yang kau teteskan ke Putih juga ikut berpindah kedalam tubuhku. Jadi aku tetap milikmu," jelas Carly membuatku paham.
"Oh ya kau makhluk jenis apa? Kulihat ekormu seperti rubah?" tanyaku penasaran dan ingin tahu tentangnya.
"Aku makhluk jenis campuran, antara harimau dan rubah menjadi satu dalam tubuhku," jawabnya menjelaskan.
Carly pun melompat dan duduk tidak jauh dariku berada. Ia mengubah wujudnya ketika ia menjadi besar, aku sangat terpesona dengan ekornya. Bahkan tubuhnya seperti bukan harimau, karena bulunya sangat tebal dan warnanya putih bersih.
Namun pandanganku teralihkan kearah dahinya, ada tanda berwarna kuning. Aku pun mendekat kearah Carly dan menyuruhnya untuk menunduk.
"Tanda apa ini?" tanyaku sembari memegang dahinya yang ada tanda tersebut.
"Itu adalah tanda bahwa aku milikmu," jawab Carly.
"Tapi ini adalah tandanya berbentuk bunga, apa kau tau bunga apa?" tanyaku lagi memang benar-benar penasaran
"Itu bunga Yellownia," jawab Carly membuatku terdiam.
"Apa kau bisa merasakan dimana kerajaan Yellownia berada?" tanyaku menatap Carly yang kini sudah berubah menjadi kecil.
"Terkadang aku merasakannya, namun setelah itu hilang. Jadi aku susah untuk menemukan kerajaan Yellownia, sepetinya ada sesuatu yang terjadi," ungkapnya kepadaku.
Masalah apa lagi kali ini dengan kerajaan Yellownia? Urusan dengan kerajaan Queen saja belum selesai. Aku bisa gila kalau begini.
"Hah! Aku akan beristirahat dulu deh, rasanya sangat lelah sekali. Kau tidak istirahat Carly?" tanyaku menatap Carly.
Dia hanya menggelengkan kepalanya kemudian loncat ke pohon hingga ke pohon lainnya, mau kemana lagi dia? Ah sudahlah nanti juga dia kembali lagi.
Aku pun merebahkan diriku di samping Rain, hingga aku pun mulai memejamkan mataku dan menelusuri mimpi.
***
"Kenapa kau selalu saja membuat marah Ibu! Kau itu sudah besar Zei! Berfikir lah! Kau itu lebih tua dari Sioa seharusnya kau mengalah! Mengapa kau sebagai kakak tidak paham juga!" Marah seorang wanita kepada putrinya yang kini sedang menunduk dihadapannya.
Di samping wanita yang tampak marah tersebut ada seorang anak yang menangis sambil memegang sebuah boneka yang telah robek, mungkin akibat rebutan menjadikan boneka itu robek.
"Sioa, bonekanya buang saja ya. Nanti Ibu belikan yang baru," ucap sang wanita menenangkan sang anak yang sedang menangis.
"Nanti juga belikan untuk kakak Zei, ya Bu." Pinta sang anak menatap sang Ibunya, begitu tulus tatapan sang anak ingin kakaknya juga mempunyai boneka.
"Gak perlu! Aku tidak butuh boneka!"
Bruk!
Sang putri mendorong adiknya hingga terjatuh, kemudian sang putri berlari meninggalkan wanita itu dan adiknya.
"Kakak!"
"Kakak!"
"Kakak Zei!"
*
Hosh
Hosh
Aku pun terbangun dari tidurku, mimpi apa itu tadi?
"Kau tidak apa-apa, Putri? Tadi aku mendengar kau berteriak memanggil 'kakak' kupikir kau kenapa, kau mimpi buruk?" tanya Rain yang tampak khawatir padaku.
Aku menengok kearah Rain, dengan napas yang masih tidak beraturan sebab mimpi tadi.
Author update lagi nih, kasih semangat ya biar bisa update setiap hari