The Rise Of A Princess

The Rise Of A Princess
Part 24 mendapatkan sebuah buku



Dam!


Bunyi pintu ini terbuka, sangat gelap sekali di dalam. Ah! Segera ku tepis rasa khawatir ini dan segera masuk ke dalam. Pintu kembali tertutup, membuatku menelan ludah. Sangat seram!


Aku terus berjalan menelusuri ruang rahasia ini, tampaklah cahaya lampu lilin. Segera aku mendekati cahaya itu, ternyata ada sebuah rak-rak buku juga disini. Hanya saja, tidak banyak seperti perpustakaan tadi.


Sepertinya buku itu ada disini, karena buku tentang dua aura itu kan sangat penting. Apalagi, tadi aku mendengar bahwa aura yang aku miliki ini sangat langka! Dan hanya aku yang mempunyai dua aura itu.


Aku mencarinya dengan terburu-buru, takut kalau tiba-tiba ada orang yang datang dan bisa-bisa aku dihukum.


"Aura kegelapan dan aura suci," gumamku pelan membaca judul buku yang aku pegang, akhirnya ketemu juga.


Segera aku menyelipkan buku ini diantara baju yang aku kenakan, agar orang lain tidak curiga. Aku harus segera keluar dari sini.


Huh! Lega sekali aku bisa keluar dari ruangan rahasia itu, dan aku menemukan buku ini! Sungguh membuatku kegirangan, tapi aku harus menampakkan wajah yang sedih, tertekan agar orang yang melihatku tidak curiga. Apalagi si Zei iblis itu! Dia pasti akan menyerbuku dengan berbagai pertanyaan yang tidak bermanfaat!


Aku pun bergegas pergi dari perpustakaan ini, pasti Yein akan mencariku dan khawatir padaku.


"Ngapain kau di dalam?" tanya seseorang setelah aku keluar dari perpustakaan, aku hampir saja melonjak kaget. Aku menengok ke arah sumber suara tersebut dan ternyata adikku, Qishe.


"Membaca buku," ucapku singkat dan berlalu meninggalkan dia.


"Hei! Kau benar-benar tidak memiliki sopan santun ya!" serunya dan berjalan di sampingku.


Bukankah dia yang tidak memiliki sopan santun? Aku kan kakaknya, seharusnya dia yang sopan padaku! Dia benar-benar menyebalkan sekali.


"Kenapa kau diam saja? Apakah kau tidak bisa bicara?" omelnya sembari menatapku dan juga berjalan mundur. Aish! Dia aneh! Membuatku ingin memakannya sekarang juga!


"Apakah kau tidak bisa diam?" tanyaku menghentikan langkahku dan menatapnya tajam. Sungguh aku merasa sangat jengkel sekarang.


"Kalau aku tidak bisa diam, memangnya kenapa?" tanyanya yang juga menghentikan langkahnya.


His! Ingin sekali aku melemparkan dia ke luar! Kenapa juga tadi aku bertemu dengannya? Hari ini begitu sial sekali untukku!


Aku melanjutkan langkahku tanpa menjawab pertanyaannya Qishe, kalau aku terus meladeni anak ini pasti tidak ada habisnya.


"Hei! Kau lagi-lagi mengabaikan aku! Tidak tau sopan santun!" Serunya dan kembali berjalan di sampingku. Bagaimana caranya agar anak ini tidak mengikuti ku? Ha! Aku tidak mempunyai ide apapun dipikiran ku, mungkin karena aku ingin cepat-cepat membaca buku ini.


"Kalau saja kau bukan kakakku, pasti aku sudah menikahi mu sekarang. Sayangnya, kau adalah kakakku. Hah! Bukankah ini sangat menyebalkan?"


Benar-benar cerewet sekali anak ini! Aku harus sabar, jangan tersinggung dengan ucapannya itu! Nanti aku dikira suka padanya gimana?


"Haaa lagi dan lagi kau diam saja, apakah benar kau juga menyukai diriku yang tam---"


Duak!


"Akh! Kenapa kau memukulku?" tanyanya menatapku bingung sembari memegang perutnya yang barusan aku tonjok sampai dia terduduk dibawah.


"Kau menyebalkan!" ucapku setengah berteriak padanya, menatap dia dengan tajam.


Aku berlalu pergi meninggalkan dia yang terus saja memanggilku, namun tidak ku hiraukan. Dia sudah membuatku emosi saja dan membuang waktuku!


Aku terus berjalan sembari mengomel karena hal tadi, banyak para maid-maid yang menatapku dengan bingung dan heran. Mereka pasti mengira bahwa aku sudah gila, ya terserah mereka saja mau berkata apa tentangku! Aku tidak peduli!


Huft! Aku sampai juga di kamar ini, waktunya istirahat nih. Membuka pintu kamar dan nampak lah orang-orang yang dekat denganku. Aku pun menghampiri mereka tak lupa juga menutup pintu kamar kembali.


"Hei! Mengapa kalian tampak tidak bersemangat? Ada apa?" tanyaku menatap orang-orang yang ada di depanku secara bergantian.


"Apakah kau tidak tau? Kekuatanmu sudah disegel?" tanya Xio menatapku dengan lekat.


"Apa?!" teriak Xio dan Yein secara bersamaan, membuatku menengok ke arah mereka. Terkejut sih terkejut, tapi tidak seperti itu juga.


"Kau sudah tau semuanya? Lalu, apa rencana mu selanjutnya?" tanya Xio menatapku dengan serius.


Rencana? Aku tidak pernah berfikir apa rencana ku selanjutnya. Kekuatanku sudah disegel, apalagi yang perlu direncanakan?


Eh! Tunggu, aku melupakan sesuatu! Iya, buku tentang dua aura itu!


"Apa yang kau lakukan?" tanya Xio memandangku heran yang sedang mengambil buku ini.


"Nah! Ini dia!" seruku sambil menunjukkan buku yang kini aku pegang.


"Hah?! Buku tentang dua aura?!" ucap Xio dan Yein secara bersamaan lagi, membuat kedua hewan ku bergegas menuju ke arah buku ini.


"Dari mana anda mendapatkannya, Putri?" tanya Yein menatapku bingung.


"Aku mencarinya di perpustakaan kerajaan ini," ucapku sambil terus melihat buku yang dipegang olehku.


Xio mengambil buku tersebut dan membukanya, terlihat tulisan kuno yang aku mengerti artinya. Tidak tau dengan Xio dan Yein, apakah mereka tau artinya juga?


"Apa ini? Aku tidak begitu tau arti dari tulisan ini. Apakah kau tau, Putri?" tanya Xio menatapku, membuat diriku terkejut atas ucapannya barusan. Kukira dia mengerti, ternyata tidak.


"Tentu saja aku tau artinya," ucapku jujur, memandang Xio dan Yein bergantian.


"Apa?!" teriak Xio dan Yein bersamaan, ah! Kenapa mereka selalu bersama saat terkejut seperti itu? Apakah mereka berjodoh?


"Mengapa kalian tampak terkejut? Bukankah hal ini biasa saja?" tanyaku menatap Xio dan Yein heran.


"Biasa saja? Apa kau sudah gila? Yang dapat mengartikan tulisan ini hanya orang tertentu saja, tidak mungkin orang-orang seperti kita dan bangsawan tau artinya. Kau belajar dari mana tau arti tulisan ini?" tanya Xio yang kini menatapku dengan sangat serius, Yein pun begitu. Juga dengan kedua hewan ku yang melihatku dengan heran.


Bagaimana ini? Aku harus menjawab apa? Huh! Seharusnya aku tidak bilang begitu tadi, mereka pasti akan berfikir yang tidak-tidak terhadapku.


"Mmm itu, dulu aku pernah belajar tulisan ini serta artinya. Jadi, kalau suatu saat aku membutuhkan bisa mengartikan sendiri. Dan tidak perlu repot-repot untuk tanya kepada orang yang paham artinya," ucapku menatap Xio, semoga mereka percaya!


"Apakah benar, Putri? Bukankah dulu anda tidak suka belajar tentang tulisan yang seperti ini? Dulu anda hanya berdiam di kamar." Yein membuka suara, apakah benar? Dulu Putri Sioa tidak suka belajar tulisan asing? Haish! Aku harus jawab apalagi ini?


"Emm ... itu, aku belajar ini secara sembunyi. Agar orang-orang mengira bahwa aku pemalas," ucapku sembari tersenyum lebar menampilkan deretan gigiku.


"Benarkah? Aku sangat terharu," ucap Xio, lalu kembali menutup buku yang dipegangnya. Lalu menyerahkan padaku.


"Oh ya, apakah kalian tau cara membuka segelan ini?" tanyaku mengalihkan pembicaraan.


"Yang aku tau, segelan itu tidak bisa dibuka sampai kapanpun," ucap Xio dengan nada lemah.


"Diantara kalian, siapa yang percaya bahwa segelan ini tidak bisa dibuka?" tanyaku menatap Xio, Yein dan kedua hewan ku satu persatu.


"Putri, yang aku tau kalau segelan itu memang tidak bisa dibuka," ucap Yein menatapku yang seperti akan menangis. Dia sudah pasti sedih, karena aku sudah menganggapnya sebagai keluargaku sendiri.


'Aku pun tidak pernah dengar kalau segelan itu bisa dibuka.' Putih ikut menimpali, kenapa semuanya beranggapan bahwa segelan ini benar-benar tidak bisa dibuka? Aku masih ingat pembicaraan dua maid tadi yang membersihkan perpustakaan itu, salah satu dari mereka berkata bahwa segelan ini bisa dibuka kalau berada di Gunung, tapi Gunung apa yang maid itu maksud? Ah! Tadi harus kepotong segala sih!


'Kata siapa segelan itu tidak bisa dibuka? Bisa kok, kalian saja yang tidak tau!' ucap Gold membuat kami menatap ke arahnya.


"Caranya?" tanyaku berbarengan dengan Xio juga Yein.


****


makasih buat para pembaca yang setia, like and komen jgn lupa