
"Aku tidak apa-apa Rain, hanya bermimpi buruk saja," ucapku berusaha menutupi.
"Kalau begitu kau makan saja dulu, aku sudah mencari ikan tadi," ucapnya menyuruhku makan.
Terlihat ada ikan yang terpanggang tidak jauh dariku berada, pintar juga Rain mencarinya.
"Apakah sudah pagi?" tanyaku sembari meregangkan tubuhku.
"Bisa dibilang akan pagi, matahari masih sedikit menampakkan dirinya," jawab Rain yang kulihat sedang membereskan barang-barang yang berserakan.
Aku beranjak dari tempatku tidur, melangkah menuju ke sungai membersihkan diri.
Kulihat langit masih sedikit gelap, hanya sedikit cahaya yang tampak.
Aku membersihkan diriku, mencuci kaki, tangan, hingga membasuh muka. Rasanya sangat segar sekali.
Aku kembali berjalan menuju Goa, duduk dan mengambil ikan bakar yang sudah matang.
"Kau sudah makan, Rain?" tanyaku menatap kearahnya yang sibuk sendiri membereskan barang-barang yang berserakan.
"Sudah," jawabnya tanpa menoleh.
"Carly kemana? Kok dia tidak ada?" tanyaku lagi setelah sadar bahwa Carly tidak ada disekitar sini.
"Aku tidak tau, sejak aku bangun tadi dia sudah tidak ada," jawabnya menoleh ke arahku sekilas dan melanjutkan kegiatannya.
Aku hanya manggut-manggut mengerti, berarti tadi malam dia pergi dan sampai sekarang dia belum kembali? Ada urusan apa dengan hewan itu ya? Bikin penasaran saja.
Aku kembali teringat dengan kejadian mimpi tadi, apa hubungannya denganku ya. Apakah mimpi tersebut ada kaitannya dengan Zei iblis itu?
Hmm mengapa juga dulu Putri Sioa ini sangat lemah ya? Nyatanya dia bisa sehebat ini jika bisa mempelajari tentang kekuatannya. Bahkan kekuatannya saja sangat besar, aku juga harus mencari tahu jawabannya nanti.
Setelah makan sembari memikirkan banyak hal, tidak sadar aku telah menghabiskan ikannya. Aku pun membereskan sisanya kemudian membakarnya.
Aku pun membantu Rain membereskan barang-barang yang masih berserakan.
"Kau tadi memikirkan apa? Kulihat kau melamun tadi saat makan," ucapnya memandangku.
"Hanya memikirkan Yein dan teman-teman ku disana," ujarku tanpa memandang kearah Rain.
Setelah cukup lama kami membereskan barang-barang ini, akhirnya semuanya selesai. Barang-barangnya pun sudah masuk kedalam ruang penyimpanan milik Rain.
"Aku akan berlatih pedang sebentar diluar," ucapku sembari mengambil pedang milikku.
Aku menggerakkan gerakan silat pedang ini dengan lihat, aku juga bisa mengimbanginya bersama gerakan silatku. Cukup mudah bagiku, karena aku memang sudah bisa dalam gerakan silatnya. Mungkin bagi orang biasa hal ini sangat sulit untuk dipelajari, bisa saja butuh beberapa bulan agar dapat menguasainya.
"Wah! ... Kau rupanya sudah ahli mempelajari silat pedang ya!"
Ku lirik Rain yang kini sedang duduk di atas bebatuan sembari melipat kedua tangannya sambil melihatku seakan takjub.
"Ya kurasa begitu," ucapku menanggapi Rain.
Ku lihat Rain mendekat ke arahku sambil memegang pedang ditangan kanannya.
"Aku akan mencoba bertarung denganmu!" Seru Rain kemudian langsung menyerang.
Aku sedikit terkejut, karena Rain tiba-tiba saja berlari ke arahku sembari memegang pedang.
"Rupanya kau menantang ku ya! Baiklah, aku akan meladenimu!"
TANG!
WUSH!
SRING!
TANG!
Suara pedang milikku dan milik Rain yang saling beradu, ternyata Rain pun lumayan juga dalam pertarungan. Hanya saja Rain terlalu banyak celah sehingga sangat mudah menjatuhkannya.
"HIAH!"
TANG!
"Kau lumayan juga, Rain!"
Gerakan Rain memang cepat, namun dia kurang waspada terhadap serangan disekitarnya.
BRUK!
"HAH!"
Rain menjatuhkan tubuhnya di tanah, dengan napas yang ngos-ngosan karena lelah. Padahal latihan baru mulai beberapa menit tapi dia sudah kelelahan begitu.
Aku pun duduk dekat dengan Rain, sembari meluruskan kaki ku yang sedikit pegal.
"Kau yakin akan ke Gunung Ice sekarang?" tanya Rain tiba-tiba, mungkin saja dia hanya memastikan.
"Ya, aku ingin semua masalah yang aku hadapi cepat selesai," jawabku tanpa memandang ke arahnya.
Rain mengubah posisinya menjadi duduk, menatapku dengan lekat.
"Kenapa? Ada yang salah?" tanyaku heran menatap Rain.
"Tidak ada," jawab Rain sembari menggelengkan kepalanya.
Aku hanya menautkan kedua alisku, bingung dengan tingkah Rain yang menurutku sedikit aneh. Seperti ada hal yang ia sembunyikan kepadaku. Andai kekuatanku tidak disegel, mungkin aku bisa membaca pikirannya.
"Baiklah, kita akan pergi sekarang," ucapku kemudian bangkit dari duduk.
"Sekarang?" tanya Rain bingung.
"Besok!"
***
Kami sudah berjalan sekitar lebih dari satu jam. Beruntungnya kami selama dijalan tidak ada hal yang aneh ataupun membahayakan. Namun, firasat ku selalu merasa tidak enak terhadap disekitarku. Seperti ada yang memperhatikan dan mengikuti kami sejak melangkahkan kaki ke dalam hutan ini. Aku pun sesekali melirik Rain, tetapi tampaknya Rain tidak merasakan kejanggalan apapun disini.
Perjalanan ke Gunung Ice mungkin sekitar satu jam lagi. Sebenarnya, jika menunggangi Rain akan lebih cepat sampai. Tapi aku tidak ingin membuat Rain kelelahan dan sekaligus aku berjalan sambil melihat pemandangan hutan yang amat asri ini. Dikehidupanku sebelumnya hanya ada bangunan tinggi dan gedung tinggi.
Srak!
Aku menghentikan langkahku saat mendengar suara barusan yang aku dengar, menengok ke berbagai penjuru arah. Namun, tidak kutemukan apapun. Apakah mungkin cuma hewan yang lewat saja?
"Ada apa?" tanya Rain seakan bingung mengapa aku berhenti. Apa dia tidak dengar ya?
Aku hanya menggelengkan kepalaku dan melanjutkan perjalanan yang terhenti akibat suara tadi.
WUSH!
TANG!
"Menyerah saja kau dasar sialan!"
Sial! Hampir saja aku tertusuk oleh pedang miliknya, jika telat menyadari kehadirannya disini.
TANG!
"Siapa kau?!" tanyaku sambil memundurkan tubuhku begitupun dengan Rain yang tampak kaget.
Tiba-tiba saja seorang pria bertubuh besar dan terdapat pedang yang dia pegang ukurannya pun lebih besar daripada pedang milikku. Siapa dia? Aku tidak mungkin bisa mengalahkannya dengan kemampuanku saat ini.
"Hahaha ... Putri Sioa Shi milik permaisuri Yewna Shi ternyata cantik juga, berbeda dengan yang dirumorkan," ucapnya sambil berjalan pelan mendekat ke arahku.
Yewna Shi? Siapa dia? Aku bahkan baru mendengarnya sekarang.
"Hei! Kau jangan mendekat dasar brengsek!" Teriak Rain sambil menodongkan pedangnya.
Namun, pria itu tetap berjalan pelan ke arahku sambil terkekeh tanpa menghiraukan teriakan Rain barusan.
Srak!
Srak!
Tiba-tiba banyak orang yang keluar dari balik pohon dan semak-semak, mereka membawa berbagai macam senjata ditangannya. Sial! Kali ini aku dan Rain terkepung! Bagaimana ini? Pikiranku tidak bisa berpikir jernih, karena banyak pertanyaan yang terlintas dipikiran ku. Siapa mereka?
"Apa mau mu?!" tanyaku sedikit mengeraskan suaraku.
Pria itu berhenti melangkahkan kakinya, kemudian menatapku dan Rain secara bergantian. Ada senyum yang sangat menjijikkan yang kulihat dari pria tersebut. Ingin sekali aku menghempaskannya sampai hancur!
"Kau hanya perlu ikut dengan kami saja, mudah kan?"
"Mereka sepertinya ada niat jahat, kau harus berhati-hati!" Bisik Rain padaku.
Aku pun tau mereka pasti ada niat jahat padaku. Huh! Sebenarnya dimana Carly? Kalau dia disini bisa membantuku.
WUSH!
BRAK!
"ARRGGHH!"
halo, akhirnya author up lagi nih. makasih ya udah like dan komennya:) itu membuat author tambah semangat loh:)