The Rise Of A Princess

The Rise Of A Princess
Part 30 Meditasi



"Wah! Tolong!"


Lantas aku menengok setelah mendengar teriakan seseorang, aku dan kakek Xin terkejut apa yang kami lihat. Rain, dia terjebur di sungai sembari melambai-lambaikan tangannya. Padahal sungai ini tidak terlihat sangat dalam, mungkin hanya setengah badan saja.


Hahaha!


Sontak aku tertawa melihat Rain yang terjebur ke sungai, ada-ada saja aktingnya.


"Haha mampus kau! Itulah akibatnya karena kau telah jail padaku," ucapku meledek Rain sambil terus tertawa.


"Hei! Cepat kau naik ke daratan. Sungai ini tidak begitu dalam!" Kakek Xin menyuruh Rain agar tidak berlama-lama di sungai tersebut.


Rain lantas memasang muka cemberut, lalu dia melangkah menuju daratan. Terlihat bahwa Rain sangat kesal. Mungkin dia akan mengerjai ku namun tidak bisa.


"Huh! Menyebalkan!" Rain bergumam dan aku dapat mendengarnya.


Aku masih terkekeh melihat Rain yang mengomel tidak jelas, sambil menghentakkan kakinya.


"Hei! Berhenti tertawa dan cepat ambil pedang dia bawah pohon itu," titah kakek Xin menyuruhku.


Lantas aku menghentikan tawa ku dan menengok ke arah kakek Xin lalu beralih menatap pohon yang tak jauh dari tempatku berdiri. Terdapat satu pedang yang tertancap di tanah samping pohon tersebut. Aku pun melangkah menuju pedang itu berada. Aku mengambilnya dan pedang ini terasa sedikit berat. Apakah sekarang akan berlatih silat pedang? Yah mungkin saja begitu.


Kemudian, aku kembali menghampiri Kakek Xin dan menyerahkan pedang yang aku pegang ini.


"Apa?" tanya kakek Xin menatapku bingung.


Aku pun bertambah bingung, bukannya dia akan mengajariku silat pedang, mengapa aku malah dibuat bingung juga dengan pertanyaannya?


"Bukankah kakek Xin akan mengajariku silat pedang?" tanyaku sambil menatap Kakek Xin bingung.


"Memangnya aku bilang begitu?" tanya kakek Xin berbalik tanya padaku.


Huh! Aku menghembuskan napas kasar, Kakek Xin ternyata lebih menyebalkan dari Rain ya. Untung saja kakek Xin lebih tua dariku, jadi aku harus sabar karena dia adalah orang tua! Jika seumuran denganku atau umurnya masih muda, pasti aku sudah memukulnya. Terlebih lagi Kakek Xin mau membantuku.


"Jadi apa latihanku sekarang?" tanyaku lagi dengan lesu.


Yah aku benar-benar seperti hilang semangat, kenapa aku dikumpulkan dengan orang-orang yang menyebalkan namun sangat baik? Yah itu mungkin saja sudah takdirku.


"Sudah jelas kau memegang pedang, itu artinya latihan sekarang untukmu adalah pedang! Bisa dibilang silat pedang! Kenapa kau tidak paham juga? Apakah sebelumnya kau makan-makanan yang membuat otakmu hilang?" cerocos kakek Xin membuatku menganga tidak percaya.


Bukankah tadi aku sudah bilang begitu? Siap, kau harus sabar ya. Anggap saja dia adalah guru mu yang menyebalkan!


"Tapi, bukankah tadi aku sudah bilang begitu? Namun kakek ..." Aku menghentikan ucapanku, tidak tau harus berkata apa lagi. Hanya ingin berkata kasar namun tidak bisa, bagiamana pun juga dia adalah orang tua!


"Cepat tancapkan pedang itu di tanah," ucap Kakek Xin mengalihkan pembicaraan sembari menunjuk ke tanah.


Tanpa berkata apa-apa lagi, aku melakukan apa yang kakek Xin suruh. Setelah itu terlihat bahwa kakek Xin duduk di tanah menghadap ke arah sungai.


"Kau juga duduklah," titah kakek Xin sembari terus menatap ke arah sungai.


Aku pun mengikuti perintahnya, duduk dengan kaki yang disilangkan kemudian menatap sungai juga.


"Kau ikuti perintahku! Apa yang aku bilang kau juga harus mengikutinya, apa kau paham!?" Kakek Xin memberitahuku.


Aku hanya mengangguk sebagai jawabannya, aku harus lebih bersemangat agar cepat menyelesaikan semua masalah yang ku hadapi sekarang.


Aku pun mengikuti apa yang dia perintahkan tadi, rileks kan tubuh, setelah itu tarik napas dalam-dalam dan hembuskan. Setelah selesai melakukan hal tersebut, aku menunggu perintah lagi dari kakek Xin.


"Pejamkan matamu perlahan, kemudian kau akan langsung seperti tertidur namun telinga mu akan tetap bisa mendengarkan. Jadi, kau melakukan meditasi ini selama lima jam! Jika kau gagal, aku akan memberi hukuman untukmu!" Tegas Kakek Xin mengancamku.


Memangnya sesulit itukah? Akan ku coba dulu, soal hukuman biarlah nanti saja. Setidaknya aku berusaha dulu.


Aku memejamkan mataku perlahan, seakan seperti tertidur namun telinga ku masih bisa mendengar suara-suara burung berkicau, namun tidak ku hiraukan suara-suara hewan tersebut. Aku fokus pada meditasi ku saat ini.


Setelah memejamkan mata, aku tidak terpikirkan oleh hal-hal lain. Aku bahkan sangat fokus, aku harus bisa!


***


Entah sudah berapa lama sekarang? Apakah sudah lima jam? Namun aku tidak merasa pegal atau pun lelah sudah sedari tadi.


Aku merasa ada yang menepuk pundak ku, namun ku acuhkan saja itu. Mungkin saja Rain yang mau mengerjai ku.


"Ini aku, kakek Xin. Meditasi mu berjalan dengan lancar, sekarang sudah selesai bukalah mata mu," ucap seseorang yang tak lain adalah Kakek Xin.


Aku lantas membuka kedua mataku perlahan, aku merasa seperti tubuhku ini mendapat kekuatan. Kemudian aku menengok ke arah kakek Xin.


"Apakah sudah?" tanyaku memastikan.


"Iya, bahkan kau meditasi lebih dari lima jam. Mungkin jika di hitung kau sudah meditasi selama dua puluh jam, apakah kau sebelumnya sudah berlatih meditasi yang sangat lama?" tanya kakek Xin membuatku bengong.


"Apa? Kenapa selama itu? Lalu kenapa kakek tidak menyadarkan aku? Kata kakek harus lima jam bukan?" tanyaku beruntun karena jujur saja meditasi ku ternyata sangat lama.


"Tapi tidak apa, malah bagus kalau kau bisa meditasi selama itu. Kita bisa melanjutkan latihan, tapi sebelum itu, kau harus makan terlebih dahulu. Makanan untuk mu sudah ada di sana," ucap kakek Xin panjang lebar, kemudian menunjuk ke arah pohon yang tidak jauh dari kami berada.


Terlihat ada Rain yang sedang asik dengan sesuatu ditangannya, entah apa itu dan dari mana dia mendapatkannya.


"Memangnya sudah berganti hari?" tanyaku sembari menengok ke arah kakek Xin. Karena pakaian yang dikenakan Rain dan kakek Xin berubah.


"Ya tentu saja sudah berganti hari, apa kau tidak merasa lapar? Cepatlah makan, jika kau sakit maka akan lebih sulit kau berlatih," ucap kakek Xin memberitahuku.


"Lalu pedang ini bagaimana? Mau buat apa?" tanyaku lagi masih bingung sambil menatap pedang yang masih tertancap di tanah.


Terlihat bahwa Kakek Xin mengusap wajahnya dengan kasar, dia pasti kesal dengan pertanyaanku.


"Buat latihan nanti, sekarang cepatlah kau makan. Jika kau tidak beranjak juga, jangan harap aku akan melatihmu lagi!" Ancam kakek Xin membuatku langsung bergegas menuju Rain berada.


Entah kenapa Kakek Xin terkadang tegas, juga kadang menyebalkan.


Namun aku masih berfikir kenapa aku bisa selama itu meditasi, sekarang tubuhku terasa sangat berenergi. Apakah ini efek dari meditasi? Wah sangat menakjubkan sekali.


"Hei, Rain! Makanan untukku ada dimana?" tanyaku setelah sampai di tempat Rain berada.


Rain menengok ke arahku sekilas lalu mencari-cari sesuatu di dalam sebuah wadah yang terbuat dari anyaman bambu.


"Nih, makanlah yang banyak. Dan kau harus semangat," ucap Rain sembari menyerahkan gulungan daun sambil tersenyum.


"Itu apa yang kau pegang?" tanyaku lalu mengambil gulungan daun dari tangan Rain sambil melihat apa yang di pegang oleh Rain.


jangan lupa like and komen yah, biar author cepet update nya:)