
Kalau dia bertanya terus, aku tidak akan jadi mandi nih.
"Bukan apa-apa," ucapku hendak melangkah masuk ke rumah, namun Rain lagi-lagi membuatku jengkel.
"Hei, lalu aku bagaimana? Tidur diluar gitu? Kalau aku ditangkap oleh pemburu bagaimana? Atau penyelinap gitu?" Rain nyerocos mulu sih.
"Ikuti aku," ucapku malas.
Dia mengikutiku, rumah sekecil ini dihuni oleh banyak orang? Aku takut kalau rumah ini roboh.
Bergegas aku menuju kamar dan membersihkan diri, berganti baju dan segera menuju ke dapur. Aku sudah lapar kali ini.
"Eh kalian sudah mandi belum?" tanyaku kepada Zao dan Qin.
"Sudah dong!" ucap mereka kompak, melihatku dengan tersenyum.
Aku mengangguk saja, makan bersama orang-orang yang dekat denganku.
***
"Mm besok kau akan mengantarku?" tanyaku kepada Rain.
Kami sedang berada di depan rumah, membuat api unggun di sini. Sambil melihat bulan yang bersinar terang di atas sana.
"Iya harus, Gunung Suci sangat membutuhkan dirimu."
Rain menatapku, penuh keharapan disorot matanya. Membuatku merasa kasihan dan ingin menolongnya.
"Baiklah," ucapku pasrah.
Aku mempunyai banyak misi kali ini, kedua hewanku juga kenapa tidak kembali sih! Apakah mereka marah karena aku sudah membentaknya? Tapi mana mungkin.
"Putri, saya ke dalam dulu ya. Zao dan Qin sudah mengantuk," ucap Yein, menggendong Qin dan menuntun Zao.
Mereka sudah menguap berkali-kali, mungkin lelah juga karena tadi siang.
Aku mengangguk saja, kini hanya aku dan Rain yang di luar rumah. Para prajurit juga sudah tertidur di dalam, mungkin sih.
'Putri, anda semakin cantik saja.'
Siapa itu? Apakah kedua hewan milikku sudah kembali? Tapi aku tidak melihat mereka.
'Kami di sampingmu.'
Lantas aku menengok ke samping, benar saja mereka ada di sampingku.
"Sudah kembali?" tanyaku aneh, sudah jelas mereka ada di sampingku berarti mereka sudah kembali.
'Sudah, mana apel manis milikku?'
Putih menagih pesanan yang kemarin dia minta, tidak sopan sekali dia. Seharusnya dia menanyakan kabar dahulu untukku, kenapa malah makanan yang dia tanya?
'Iya, dimana apel manis milikku juga?'
Kali ini Gold yang bertanya, benar-benar mereka ini sungguh menyebalkan.
"Sudah aku kasih ke Rain," ucapku. Ya, apel manis milik mereka sudah aku kasih ke Rain. Karena kalau menunggu kedua hewan ini kembali akan busuk.
'Siapa Rain?'
Mereka tampak marah besar, tidak terima dengan apa yang terjadi. Haha rasakan!
Lalu mereka baru menyadari ada kuda yang sedang tertidur, mereka menatap kuda itu. Tatapan apa itu? Mereka tampak terkejut.
'Kuda ini ... tunggu, bukankah kuda ini dari Gunung Suci? Iya kan Gold?'
'Benar, mengapa dia sampai disini?'
Mereka sudah tahu, artinya mereka juga tahu apa yang sedang terjadi di Gunung Suci.
"Kalian sudah tau kuda ini?" tanyaku menatap kedua hewan ini heran.
'Tentu, dia hewan spirit yang sangat langka. Banyak orang yang mencari kuda ini, tapi mereka selalu gagal dan menyerah.'
Putih menjelaskan, dia masih menatap Rain yang sedang tertidur.
"Apakah kalian tahu, kalau Gunung Suci sekarang dalam keadaan darurat?" tanyaku menatap kedua hewan ini.
'Tentu saja aku tahu,' ucap Putih menatapku dengan tatapan polos.
'Ehm! Kekuatanmu semakin lemah, Putri.'
Kini Gold yang menatapku khawatir, ternyata dia bisa merasakan bahwa kekuatanku sedang melemah.
'Anda harus mendapatkan batu pertahanan, batu ini ada di Gunung Suci. Seseorang telah mengambil batu ini dan menyimpannya, dan banyak orang yang mencari dimana batu ini berada.'
Gold menjelaskan secara detail, apa istimewanya batu pertahanan itu? Untuk apa orang-orang mencari batu itu?
"Apa manfaat batu itu?" tanyaku menatap Putih.
'Jika kau mendapatkan batu pertahanan, maka kekuatanmu tidak mudah lemah.'
"Selain itu?" tanyaku lagi, tidak mungkin batu itu tidak istimewa, karena banyak orang yang mencari batu pertahanan.
'Nanti juga kau akan tahu.'
Ish! Menyebalkan sekali Putih ini! Tidak tahu kah kalau aku sangat penasaran.
Aku mengubah posisiku menghadap ke pepohonan yang berada beberapa meter dariku duduk.
'Kau marah, Putri?'
Sudah tahu marah! Pake tanya lagi! Aku tidak menghiraukan ucapan Putih, dia sudah membuatku penasaran.
"Aku mau tidur, ngantuk!" ucapku ketus.
Meninggalkan Rain serta kedua hewan ku, aku berjalan menuju kamar. Aah! Kenapa dunia ini misteri? Banyak sekali hal-hal yang belum aku tahu.
Lama-lama jadi pusing juga jika dipikirin terus, lebih baik aku tidur aja deh. Biar besok penyelidikan di Gunung Suci bisa konsen.
***
"Apa kau tidak dengar, aku ingin bertemu dengan Sioa anak sialan itu!"
"Kau hanya seorang pelayan rendahan!"
Pagi-pagi sudah terdengar suara ribut-ribut diluar, siapa sih yang mengganggu waktu tidurku? Tidak tahu kah kalau aku sangat mengantuk.
Aku berjalan keluar, memastikan ada apa di luar. Apakah ada yang tidak suka denganku? Hingga beraninya mengganggu saja.
"Ada apa sih!" ucapku, tidak tahu siapa yang datang. Karena aku masih memejamkan mataku. Sambil menguap berkali-kali.
"Kau siapa heh!"
"Aku Sioa, kalian siapa?" tanyaku lirih, masih memejamkan mataku.
"Oh, ternyata sudah berubah ya?"
Apakah orang ini mengejekku? Dasar orang aneh! Datang-datang sudah buat aku marah saja. Aku tidak menjawab ucapannya, percuma saja karena aku tidak tahu orang ini siapa.
"Sini kau! Dasar tidak tahu diri!"
Aw! Aku merasa rambutku ditarik oleh seseorang, lantas aku membuka mata lebar-lebar. Hah? Siapa dia? Dia sepertinya putri bangsawan, terlihat dari baju yang dia kenakan dan ada beberapa prajurit dibelakang.
"Kau pantas untuk mati!"
Dia terus saja menarik rambutku hingga rontok beberapa, sakit sekali rasanya. Kenapa aku tidak bisa melawan? Kenapa aku diam saja? Ini tidak bisa dibiarkan.
Tak!
Aku menepis tangannya yang menarik rambutku, kulihat dia dengan tajam. Ya, dia tampak terkejut dengan perlakuanku barusan.
"Kau ... beraninya kau!"
Dia hendak menamparku, tapi dengan sigap aku mencekal tangannya itu. Lalu aku hempasan begitu saja. Lagi-lagi dia terkejut, melotot padaku.
Siapa sih dia? Eh tapi ada yang janggal, dimana Yein serta yang lainnya?
"Yein! Kau dimana?" panggilku.
"Apa kau mencari pelayan rendahan milikmu itu?" tanya orang yang ada di depanku.
Aku menatap tajam orang ini, rasanya ingin sekali menghempaskan dia sampai mati. Dia pasti menyembunyikan Yein.
"Apa kau tidak lihat, mereka ada di bawahku."
Lantas aku langsung melihat kebawah, benar saja. Yein dan yang lainnya bersudut di kaki orang ini. Tega sekali orang aneh ini!
"Putri Zei," ucapku, memandang putri bangsawan yang ada di depanku. Dengan tatapan dingin dan tajam.
Aku memanggilnya asal, tapi aku bisa merasakan kalau dia adalah putri Zei, kakakku.
Terima kasih sudah membaca karyaku:)