The Rise Of A Princess

The Rise Of A Princess
Part 10 Mengikuti Pertandingan



Ajak tuan itu, kukira dia akan langsung pulang.


Aku tersenyum, lalu melangkah menuju ke tempat daftarkan diri. Sangat sedikit yang ikut pertandingan, hanya 9 orang saja. Ditambah denganku, jadi hanya 10 orang. Yang benar saja? Kulihat para Putri bangsawan juga melihat pertandingan ini.


Rata-rata orang yang ikut pertandingan ini dari Restoran, haha ternyata disini lucu sekali. Seorang Putri bangsawan, cantik semua sih. Hanya saja, gak bisa masak!


Aku tertawa dalam hati, para bangsawan menatapku jijik. Huh! Lihat saja nanti akan ku buat kalian terkejut.


Yein duduk di kursi yang sudah disediakan. Kini giliran ku untuk mendaftar kan diri.


"Siapa namamu Nona?" tanya seorang wanita di depanku.


"Sioa Shi," ucapku singkat.


Dia kaget, ya karena berita bahwa aku diasingkan dari kerajaan itu sudah tersebar luas.


"Oh bukankah kau Putri yang terbuang itu? Haha bukankah dulu kau sangat penakut? Sekarang kau sudah berani? Dan kau pun tidak bisa mas-"


Aku mengambil nomor peserta secara paksa yang ada di tangannya, lalu aku menatap tajam kepadanya.


Dia kaget dengan tindakanku barusan, aku melangkah pergi meninggalkannya yang masih terdiam.


Sangat cerewet sekali wanita itu, lihat saja nanti.


Aku sudah berada di tempatku untuk memasak, disini bahannya lengkap juga.


"Baiklah semua, mari kita mulai pertandingan memasak ini. Terserah kalian mau memasak apa, yang penting harus enak. Waktu nya hanya satu jam, dimulai dari sekarang!" ucap pembawa acara.


Dung!


Suara gong sudah dipukul, apakah ini tandanya sudah dimulai? Kulihat orang yang tadi mendaftar, sudah memulai memasak. Aku pun tidak mau ketinggalan.


Aku mulai mengaduk adonan, mungkin makanan yang aku buat akan membuat orang-orang terkejut. Aku sudah terbiasa membuat makanan, dikehidupanku sebelumnya aku sudah banyak belajar memasak.


Kini aku buat adonan ini menjadi bulat, ku isi dengan cabe merah. Sisanya ku buat menjadi bulat kecil. Lalu merebusnya, sambil menunggu matang aku mau membuat kuah nya.


"Tinggal 20 menit lagi," ucap pembawa acara itu.


Kulihat adonan yang tadi aku buat bulat sudah matang, lalu aku mengambil nya beberapa menggunakan sendok garpu. Aku letakkan di mangkuk, serta ku tambahkan kuahnya.


Huum rasanya ingin sekali aku memakannya sekarang.


Mm, ada saus dan kecap. Aku tambahkan saja deh, lalu aku kasih sambal sedikit.


Ku letakkan mangkuk yang berisi makanan yang aku buat tadi di nampan, lalu ku letakkan sendok garpu dan sendok makan yang terbuat dari kayu.


Sudah selesai masakan ku, kulihat yang lainnya belum selesai. Haah, lega rasanya.


"Waktu sudah habis," ucap pembawa acara.


"Baiklah, letakkan makanan kalian di meja masing-masing," lanjut nya.


Aku pun mengikuti apa yang dia ucapkan, ada 3 juri yang mencicipi makanan. Untung saja aku di akhir.


Selang beberapa menit, kini giliran masakan ku yang akan dicoba rasanya.


Mereka kaget dengan apa yang aku buat, kulihat mereka berbisik-bisik. Hei, aku mendengarnya tahu.


"Makanan apa ini, Nona?" tanya salah satu dari mereka. Sambil membolak-balik makanan yang aku buat.


"Ini namanya BAKSO BOM," ucapku sambil menekan kata yang terakhir.


Mereka semakin terkejut, lalu mundur beberapa langkah.


"Ba-bakso bom? apakah bi-bisa meledak?"


Haduh, ingin rasanya aku tertawa kencang. Eh jangan dulu deh, nanti malah di kira gila.


"Tidak, itu memang nama makanan ini. Karena didalam nya ada cabe merah," jawabku.


"Tapi mengapa namanya aneh sekali," ucap pria yang memakai tudung.


"Aku akan mencoba nya terlebih dahulu."


Juri yang tadi membolak-balik bakso itu pun mencobanya.


"Hei kalian harus mencoba nya, ini sangat enak!" ucapnya setelah mencicipi makanan yang aku buat.


"Benarkah?"


Mereka mencoba nya, dan bahkan saling berebut. Aku tersenyum, syukur deh kalau enak.


Setelah mereka memakan makanan yang aku buat, mereka menatapku.


"Masih," ucapku sambil tersenyum.


Mereka mangut-mangut lalu meletakkan mangkuk tadi dan berlalu meninggalkanku.


"Mari kita lihat siapa pemenang dalam pertandingan ini, pemenang akan mendapatkan hadiah. Hadiahnya akan memilih sendiri. Juri, apakah sudah menentukan siapa pemenangnya?"


"Sudah,"


"Baiklah pemenangnya adalah ... orang itu!" ucap salah satu juri.


Dia menunjuk ke arahku, aku pun tidak menyangka akan menang dalam pertandingan ini.


"Karena dia membuat makanan yang sangat enak, saya baru merasakannya pertama kali ini. Kemari Nona," ucap juri.


Aku pun melangkah menuju ke sana, semua yang menonton tidak percaya bahkan saling bisik-bisik.


"Apa yang anda inginkan, Nona? Sebagai hadiah untukmu," ucap juri itu.


Bukankah yang menentukan hadiahnya adalah Kaisar Jio? Dimana dia?


"Aku ingin para juri menentukan hadiahnya," ucapku memandang mereka.


Mereka tampak saling pandang, lalu memandangku.


"Baiklah kami akan memberikan hadiah untukmu," ucap salah satu juri.


"Tapi, siapa namamu Nona?" tanya juri itu lagi.


Kalau aku memberitahukan namaku, mereka pasti terkejut. Biarkan saja deh, agar mereka tahu kalau Putri Sioa sudah berubah sekarang.


"Sioa Shi," ucapku singkat, memutar bola mata.


Sudah ku duga mereka akan terkejut, para Putri bangsawan saling berbisik dan mengatakan hal yang paling aku benci.


"Hei, bukankah dia Putri yang terbuang itu?"


"Haha dia sekarang sudah berani."


"Lihat, dia sok berani sekali."


Kira-kira seperti itulah ocehan para Putri bangsawan, aku menatap para juri ini.


"Harap diam!" ucap pembawa acara menenangkan keributan tadi.


"Kau ... Putri dari kerajaan Queen?" tanya juri itu seperti menahan tawa.


"Yang benar saja, apakah anda sedang mabuk?" lanjutnya meledekku.


Hahahaha!


Sialan! Mereka menertawakan ku, aku menatap mereka dengan tatapan membunuh.


Suasana menjadi sedingin es, bahkan lebih dingin dari itu. Seketika mereka menjadi diam dan saling pandang satu sama lain. Mereka tampak bingung dengan suasana ini.


"Jika kau tidak memberiku hadiah, tidak masalah. Toh, itu tidak ada harganya bagiku!" aku berucap sambil menatap para juri ini yang sudah merendahkan ku.


Aku melengos pergi meninggalkan mereka yang terdiam membisu, Yein menghampiriku diikuti oleh tuan pemilik kereta kuda.


"Putri, apakah anda tidak apa-apa?"


Aku tidak menjawab pertanyaannya, setelah sampai di kereta kuda aku melipat kedua tanganku di dada. Menatap orang-orang yang ada di sana dengan tajam.


Ku alihkan pandanganku menatap tuan pemilik kereta, dia tampak ketakutan.


"Antar aku ke pasar," ucapku singkat.


"Ba-baik Nona," ucapnya, dia seperti ketakutan.


Aku pun masuk kedalam kereta kuda, diikuti oleh Yein.


'Putri, jangan lupa belikan aku apel yang manis yah.'


Apa itu barusan? Apakah tadi yang berbicara Putih?


Kurasa iya, karena aku sudah paham suaranya.


'Hei! Jangan lupakan si Gold Naga emas ini. Belikan aku buah juga.'


Balik lagi nih sama author hehe, semoga kalian selalu sehat yah, jgn lupa subscribe ya dan beri bintang jga, dan komen loh hihi biar author tambah semangat terus:)