
Kulihat kuda ini berbeda dengan yang lain, karena aku bisa menebaknya dari mata kuda ini. Mata kuda ini terlihat berwarna biru tua, sepertinya kuda ini bukan kuda biasa.
"Namaku Rain,"
Aku dan kedua anak ini tersentak kaget, kuda ini bisa bicara? Dugaanku benar bahwa kuda ini bukan kuda biasa.
Zao dan Qin bersembunyi di belakangku, mungkin mereka baru kali ini melihat kuda yang bisa berbicara.
"Rain? Oke, darimana kau berasal?" tanyaku penasaran.
"Aku dari Gunung Suci," jawabnya.
Gunung Suci? Menarik sekali namanya.
"Mengapa kau kemari?" tanyaku menatap kuda ini.
"Aku mencari seseorang," jawab kuda ini.
"Siapa yang kau cari? Dan mau apa?" tanyaku lagi, aku memang sangat penasaran sekali.
"Putri yang katanya di---"
Ucapan Rain terhenti karena ada orang, mungkin pemburu.
"Dimana kuda itu?"
Ada beberapa orang, ada yang membawa tombak dan senjata yang lainnya.
"Ini semua gara-gara kau!"
"Sudah! Kita lanjutkan besok saja," ucap seorang itu.
Mereka pergi meninggalkan tempat ini, kami keluar dari persembunyian. Untung saja kami sembunyi tepat waktu, kalau tidak. Entah nasib kuda ini akan seperti apa.
"Kita, kembali saja ke tempat tadi. Disini banyak pemburu," ucapku kepada mereka.
"Kenapa ada kuda yang bisa bicara ya?" tanya Qin menatap kuda ini.
"Mungkin dia hewan yang terkutuk," jawab Zao, memandang Rain.
"Berhenti membicarakan aku, aku bukanlah kuda yang terkutuk tahu!" Rain marah, lucu juga tingkah mereka.
"Sudah jangan berantem, kita sudah sampai nih."
Aku melerai mereka, kami sudah sampai di tempat favoritku.
Aku duduk dibawah pohon seperti biasa, Rain juga makan rumput disekitar sini.
"Zao dan Qin, kalian sebenarnya siapa?" gumamku pelan menatap kedua bocah itu yang tengah asik bermain.
Mereka sepertinya sengaja dibuang oleh seseorang yang membenci mereka, padahal mereka masih terbilang cukup masih kecil.
"Oh ya, siapa namamu?" tanya Rain.
Dia membuatku kaget saja, aku beralih menatapnya. Kuda ini sangat aneh menurutku.
"Aku, Putri Sioa Shi. Yang diasingkan oleh kerajaan Queen," ucapku malas, ya aku malas sekali menyebut kerajaan ini.
"Kau ... kau Putri Sioa? Kau sungguh Putri Sioa?" tanya nya.
"Kenapa? Ada yang salah kah?" tanyaku sebal. Dia seperti menginterogasi.
"Aku sebenarnya kesini untuk mencarimu, penghuni Gunung Suci dikutuk oleh penyihir. Yang bisa melepaskan kutukan itu kau Putri, mereka membutuhkan kau saat ini. Aku adalah kuda spirit, aku meninggalkan Gunung Suci karena di sana banyak orang menderita," ucap Rain menjelaskan.
Urusanku dengan kerajaan Queen saja belum selesai, ini sudah diberi masalah lagi. Ternyata Putri Sioa sangat dibutuhkan, tapi apa sebenarnya keistimewaan Putri Sioa? Selain mempunyai pengendali 7 elemen dan dua aura.
"Memangnya, apa keistimewaan yang dimiliki olehku?" tanyaku, agar aku tahu lebih banyak informasi yang tersembunyi pada Putri Sioa.
"Kau sangat berbeda, aku bisa menerawang bahwa kau mempunyai kemampuan yang luar biasa. Kau mempunyai silat bela diri yang tidak pernah aku lihat, kau mempunyai banyak pengetahuan. Kau pasti seorang Dewi," Rain berbicara panjang lebar, kenapa dia bisa tahu?
Huft yang penting dia tidak tahu kalau yang menempati tubuh ini bukanlah Putri Sioa.
"Aku bukanlah seorang Dewi, paham!" ucapku menatapnya tajam.
"Tapi---"
"Diam!" ucapku memotong ucapan Rain.
Ya, aku tidak suka jika ada yang melebihkan diriku. Maafkan aku Rain, aku sudah membentakmu.
"Baiklah, apakah kau bisa silat pedang?" tanya Rain mengalihkan topik.
Silat pedang? Kenapa aku baru mendengarnya?
"Silat pedang yaitu, sama seperti silat bela diri. Namun silat pedang itu, silat sambil menggunakan pedang. Apakah kau belum tau?" ujarnya menjelaskan.
"Tidak, aku baru mendengarnya." Aku menggelengkan kepala, aku memang baru tahu ada silat pedang itu.
"Jika kau ingin menguasai silat pedang, maka datang saja kepada kakek Xin Zix. Dia sangat pandai sekali, banyak orang yang tidak tau keberadaannya," ucap Rain menjelaskan.
Kalau aku belajar silat pedang, maka aku bisa menolong orang-orang yang membutuhkan. Apalagi kalau ada perang musuh, aku pasti bisa membantu.
"Dimana keberadaan kakek itu?" tanyaku penuh semangat.
Ya aku sekarang mulai semangat, aku tidak ingin mengecewakan Putri Sioa yang berpesan padaku agar aku meneruskan dirinya.
"Dia berada di tengah hutan Xixi, ada seseorang yang datang ke sana untuk meminta diajarkan silat pedang. Tapi, mereka selalu tidak selamat. Banyak jebakan yang dipasang," ucap Rain.
Hmm berarti hutan Xixi sangat berbahaya dong?
"Jebakan? Ini sungguh menyulitkan sekali," ucapku mengeluh.
"Ya, jika kau ingin selamat dari Jebakan itu. Maka kau harus belajar menajamkan pendengaranmu," ucapnya.
Menajamkan pendengaranku? Dikehidupanku sebelumnya, aku sudah belajar seperti itu. Rasanya ingin sekali cepat-cepat belajar silat pedang.
"Aku akan melakukan yang terbaik," ucapku penuh keyakinan.
"Kalau begitu, aku bisa membantumu." Rain menatapku.
Aku mengangguk tanda setuju, Zao dan Qin mereka masih asik dengan mainannya.
Semakin hari, masalahnya selalu bertambah. Untung saja aku sudah terbiasa dengan masalah yang rumit, jadi aku tidak pusing memikirkan hal ini.
"Zao! Qin! Sini," teriakku memanggil dua anak itu.
"Ada apa, kak Shi?" tanya Zao menatapku.
"Kita tangkap ikan yuk," ajakku kepada mereka.
"Wah sepertinya menyenangkan," ucap Qin berbinar.
Aku beranjak dari tempat dan menggandeng tangan kedua anak ini. Mereka tampak sangat kegirangan, Rain juga mengikuti kami di belakang.
Selama di perjalanan, kami tertawa karena bercerita tentang lelucon. Hingga kami sampai di sungai, tempat mencari ikan.
"Waah airnya jernih sekali," ucap Zao takjub dengan kejernihan air sungai ini.
"Lihat! Ada ikan kak!" Qin menunjuk ke arah air, memang ada ikan.
"Tunggu apa lagi, ayo tangkap!" ucapku mengajak kedua anak ini untuk menangkap ikan.
Mereka tampak asik menangkap ikan-ikan ini, ya walaupun tidak pernah dapat satu pun.
Aku sudah mendapat ikan, cukup besar juga sih. Mungkin cukup untuk makan nanti.
"Zao, Qin. Kita pulang yuk, hari sudah akan gelap." Aku menyuruh mereka untuk segera pulang.
Mereka mengangguk dan berjalan menuju ke arahku, ku suruh mereka untuk berjalan didepan. Aku tidak menggandeng tangan mereka karena aku membawa ikan hasil tangkapan tadi.
***
"Putri, kuda itu kan--"
"Sst nanti aku jelaskan. Sekarang masak ikan ya," ku sodorkan ikan tadi ke Yein.
Yein mengangguk dan segera mengambil ikan di tanganku, kemudian berlalu.
"Zao dan Qin kalian mandi ya," ucapku menatap kedua anak ini.
"Iya kakak," ucap mereka bersamaan.
Kemudian berlari menuju pemandian, aku juga akan mandi dulu.
"Eh! Eh! Kau mau kemana?" Rain membuatku menghentikan langkahku. Aku menengok ke arahnya.
"Mau demo!" ucapku kesal. "Ya mau mandi lah," ucapku lagi.
"Demo? Apa itu?" tanya Rain menatapku polos.
Kalau dia bertanya terus, aku tidak akan jadi mandi nih.
yuk like and komen yah makasih:)