
Kringgg..
Perlahan aku membuka kelopak mataku, meraih ponselku Natan masuk ke kamarku dan mematikan alarm ponselku.
"Kayaknya kau masih mau tidur," Dia menguap aku bangkit dan mendorongnya keluar pintu dan membantingnya di depan wajahnya aku bisa mendengarnya tertawa di sisi lain pintu. Apa yang dia tertawakan? Aku pergi ke kamar mandi, ada monster di cermin yang agak mirip denganku, dan kantung hitam di bawah matanya. Inilah alasan kenapa aku benci bangun pagi; melihat monster ini di depanku, alarmku berbunyi lagi yang berarti aku harus keluar rumah. Aku mengenakan sesuatu yang lebih kasual dengan sedikit berkelas; jean kurus ketatku yang gelap, tank top hitam, blazer putih dan sepatu hak tinggi hitamku juga rambutku yang berantakan untuk seseorang yang sedang terburu-buru. Aku keluar dari ruangan, aku melihat Natan menatapku dengan tatapan aneh dan dengan penuh nafsu.
"Natan!" Teriakku membentaknya agar tidak menatapku.
"Maaf, kau terlihat sangat seksi," dia mengedipkan mata saat aku berjalan ke bawah menuju mobilku. Heba! mobilku tidak mau menyala dan Jeni sudah berangkat kerja lebih dulu.
"Natan, aku butuh bantuanmu. Antar aku pergi bekerja," kataku melalui telepon,
"Tentu saja," Katanya. Natan segera ke bawah dengan dua helm di tangannya. Saat aku masih kecil, dulu aku suka naik sepeda motor.
Natan menurunkanku di depan kantorku tepat waktu, "Terima kasih, Natan, kau penyelamatku" Aku tertawa menyerahkan helmnya turun dari motornya.
"Terima kasih, Bel, hubungi saja aku kalau kau ingin di jemput," katanya, aku mengangguk dan memperhatikannya pergi.
Aku menatap arloji di tanganku, aku akan terlambat jika aku tidak bergegas, keluar dari lift, pria gila itu berdiri di depan ruanganku. Aku berjalan ke ruanganku, kepalanya berbalik ke arahku, dia memandangku dari atas ke bawah lalu kembali ke mataku.
"Anda terlambat 4 menit, Nona Isabel, aku tidak mentolerir keterlambatan dari pekerjaku, terutama sekretarisku" geramnya.
"Ya, Pak Kenzo. Tapi setelah Anda menyuruhku melakukan semua urusan administrasi tadi malam sampai jam satu pagi, jadi secara teknis itu bukan kesalahanku karena terlambat pagi ini," desisku.
Ada ketukan ringan di pintu "Masuklah" aku berteriak saat seorang wanita paruh baya berusia sekitar 40-an berjalan mengenakan beberapa pakaian bermerek mahal dan sebuah koper yang terlihat agak seperti milikku, anehnya lagi dia sangat mirip dengan pria gila itu.
"Apa ada yang bisa saya bantu?" Aku berkata kepada wanita yang membuatku tersenyum cerah.
"Halo, apa kau Isabel Jones?"
"Iya?"
"Halo sayang, aku Ibunya Kenzo Julian." Katanya kemudian aku tersadar, aku sedang berbicara dengan ibu Pak Kenzo. Dia mengulurkan tangannya agar aku berjabat tangan.
"Halo, kau ingin aku memanggil putramu untukmu?" aku bertanya.
"Sebenarnya tidak. Aku di sini untuk memberikan ini padamu," katanya sambil menyerahkan koper yang sebenarnya untukku.
"Oh. Terima kasih banyak," kataku meraih koperku dari tangannya yang terawat indah. Lalu ada ketukan lain di pintu, kami berdua berbalik ke arah pria gila yang sedang menatap kami berdua dengan rasa ingin tahu.
"Ibu..?" Dia berkata dengan wajah marah yang tegas.
"Halo, Anakku," katanya sambil tersenyum lebar.