
9 bulan kemudian..
"Kenzo, aku baik-baik saja ... kau tidak usah mengikutiku ke mana-mana," kataku dengan frustrasi.
"Aku minta maaf sayang, aku khawatir pada kalian berdua."
"Aku tahu, tapi aku mau bebas, tidak mau dikurung," aku bercanda, berjalan di dapur untuk mengemil.
"Dokter bilang kamu harus mengenakan celana pop."
"Pop? Kamu membuatku terdengar seperti aku sedang membawa balon dan aku tahu apa kata dokter, aku ada di sana. Dan aku juga mau pergi kemana? Kau bahkan tidak membiarkanku keluar rumah," kataku memakan roti selai kacang . Kenzo menatapku. "-Ini bukan mauku tapi kemauan anakmu yang membuatku makan semua ini."
"Aku tahu. Tunggu. Kenapa dia dicap hanya anakku?" Kenzo bertanya duduk di sofa.
"Karena saat dia membuatku kesal, dia anakmu," kataku, aku goyah ke arah Kenzo yang duduk di sofa.
"Apa kau sudah memikirkan untuk memberinya nama?" Aku bertanya.
"Ya. Aku sedang memikirkan tentang itu, aku mau menggunakan nama ayah dan kakekku. Alfaro Kenzo Marcelo Julian," katanya menggosok perutku.
"Aku suka. Tapi apa kita harus menggunakan namamu juga?"
"Tentu saja. Aku punya nama yang unik, seksi, tampan, penuh kasih. Juga sangat populer."
"Okeh baiklah jika itu maumu"
Kami duduk di sana dalam keheningan, aku kaget saat ponsel kenzo berbunyi. Kenzo menatapku dan aku hanya mengangguk, dia bangkit dan pergi bicara dengan seseorang yang menghubunginya.
Perlahan aku bangkit dari sofa, lalu aku merasakan sesuatu yang basah jatuh di antara kedua kakiku.
"Ini tidak mungkin haid, aku kan hamil."
Tiba-tiba, kontraksi mulai muncul.
Oh sial. Sudah waktunya ...
Aku mulai mengatur napasku. Akhirnya, Kenzo kembali tepat pada waktunya. Dia menatapku lalu ke arah genangan air di lantai, aku mengambil napas dalam-dalam, "Kenzo, sudah waktunya." kataku berusaha menahan rasa sakit.
Dia berlari ke kamar untuk mengambil tas dan membantuku masuk ke mobil. Kenzo berusaha menghibur dan menenangkan ku.
"Sayang, kita sudah hampir sampai di rumah sakit, aku tahu itu sangat sakit." katanya menggosok perutku sambil mencoba mengemudi.
"Astaga Kenzo. Kau tidak tahu rasa sakit yang aku alami sekarang, jadi tutup mulutmu," aku berteriak, sejujurnya aku tidak bersungguh-sungguh, itu adalah rasa sakitku yang sedang bicara. Akhirnya, setelah hampir mencekik Kenzo, kami tiba di rumah sakit dan aku segera bergegas ke ruang gawat darurat untuk melahirkan.
Aku selesai berganti pakaian dan Kenzo masuk ke kamar itu tampak seperti kantong sampah yang sedang berjalan.
Kenapa aku merasa seperti ada lebih dari dua kaki yang menendang perutku... uhmm.
"Baiklah Isabel, aku ingin kau memberiku dorongan besar saat aku menghitung satu sampai tiga ... apa kau siap?" Bidan itu bertanya, aku menganggukkan kepalaku.
"Baiklah. Satu ... Dua ... Tiga, Dorong" dia menuntut, aku mendorong, mengerang keras tapi tidak ada reaksi apa-apa.
"Bagus sekali, aku melihat kepalanya. Sekarang, dorong lagi," katanya, aku mendorong dengan sekuat tenaga.
"Kau baik-baik saja, Sayang," kata Kenzo, aku menatapnya tajam.
"Jika aku jadi kau, aku akan tutup mulut sekarang, kau melakukan ini padaku. Aku benar-benar ingin mencabut lehermu sekarang .. . Awwww, Astaga! " Aku menjerit kesakitan, Kenzo memberiku tangannya dan aku meremasnya, kurasa aku meremasnya dengan keras, tangannya menjadi biru kemerahan.
"Baiklah. Dia hampir keluar. Hanya satu dorongan besar," katanya, aku mengangguk. Aku mengambil napas dalam-dalam dan mendorong seolah tidak ada hari esok. Tiba-tiba, tangisan manis anakku yang indah memenuhi telingaku, itu seperti lantunan musik di telingaku.
"Wahh Selamat ya, bayi laki-laki yang sehat," dokter bersorak.
Kenzo memberiku ciuman di kepala lalu pergi dengan perawat untuk membersihkan bayi itu, Kenzo yang pertama memotong tali pusar. Dorongan untuk mendorong lagi datang ke padaku, aku mulai mendorong. Lebih keras. Dokter melihat ke belakang dan berlari ke sisiku " Ahaa Ada yang lain lagi rupanya"
"Tunggu. Apa ?! Ada satu lagi ?!" Aku bertanya dia mengangguk, cepat aku mendorong dengan sisa kekuatan yang aku punya. Jeritan indah lainnya memenuhi telingaku.
"Bayi perempuan yang sehat, selamat," kata dokter.
"Bagaimana? Dokter lain yang memeriksaku sebelumnya babg aku hanya punya satu anak, bukan kembar"
"Yah, gadis kecil ini pasti bersembunyi di bawah kakaknya. Selamat lagi," katanya pergi, Kenzo kembali tersenyum lalu menghilang. Dia memandangi lenganku dengan ekspresi kaget di wajahnya.
"Kembar ?!" katanya. Kaget.
Kenzo pingsan lagi.
"Ya ampun. Kenzo. Apa kau baik-baik saja? Kenzo?" Aku berteriak, dokter dan perawat membantunya berdiri dan memberinya sebungkus es untuk kepalanya.
"Apa kau baik-baik saja? Apa kau sakit? Apa kau ingin aku memanggil." Kenzo berdiri dan menciumku.
Dia menatapku dengan senang, "Aku baik-baik saja, sayang. Kita punya anak kembar. Bayi laki-laki yang tampan yang mirip seperti ayahnya dan bayi perempuan yang cantik yang tidak akan boleh berkencan sampai dia berusia 100 tahun atau lebih." dia tertawa..
Dokter memberi kami dua ikatan sukacita dalam hidup kami. Begitu identik, dan tidak bisa membedakan mereka, tapi seorang ibu selalu tahu bedanya tidak seperti ayahnya, itu adalah anugrah dari yang maha kuasa.
Perawat wanita kembali dengan membawa kertas, "Halo, saya Amanda. Nama apa yang akan kalian beri untuk kedus anak mungil ini?"
Kenzo mulai bicara untuk nama putra kami, "Namanya Alvaro Kenzo Marcelo Julian." Dia selesai, mata Alvaro terbuka dan dia tersenyum.
Dia memiliki mata cokelat kemerahan paling indah seperti ibunya. "Namanya adalah Angel Gabriella Maria Anna Julian" Aku selesai, mata Angel terbuka dan dia tersenyum. Dia memiliki mata cokelat indah yang paling memesona seperti ayahnya.
"Nama yang menggemaskan. Selamat untuk kalian berdua," dia tersenyum dan pergi.
"Dia memiliki mataku ...," kata Kenzo memegangi Angela.
"Dia memiliki mataku ...," kataku sambil memegang Alvaro.
"Sangat lucu, bagaimana mereka terlihat sama persis. Sekarang kau tidak bisa membedakan mereka" Aku bercanda, Kenzo tertawa.
Ada ketukan di pintu, perlahan-lahan membuka semua orang masuk, keluarga dan teman-teman. Mereka semua memberi selamat pada kami dengan balon dan hadiah, ibuku dan ibu Kenzo menangis sukacita. Jeni dan Joshua akhirnya bertunangan, Natan menemukan pasangannya. Kenzo meninggalkan ruangan untuk menerima telepon, semua orang senang dan bersenang-senang. Mereka sama terkejutnya denganku saat aku memberi tahu mereka kalau aku memiliki anak kembar, satu anak laki-laki dengan mata ibunya dan satu anak perempuan dengan mata ayahnya, ironis.
Semua orangpun pergi satu per satu, berjanji untuk mengunjungi sebanyak mungkin, Kenzo kembali ke kamar.
"Apa semuanya baik-baik saja?" Aku bertanya meletakkan si kembar ke tempat tidur. Seorang perawat membawa dua topi rajutan yanh lucu dengan telinga di atas untuk si kembar, merah muda untuk Angel dan tentu saja biru untuk Alvaro.
"Apa kau mau pergi ke kantor? Tidak masalah jika kau mau pergi,"
"Kau yakin? Kau baru saja punya si kembar dan aku tahu kau butuh teman dan pertolongan malam ini dan..." Aku menangkup wajahnya, menatap matanya dan tersenyum.
"Kenzo. Pergilah. Aku akan baik-baik saja, ibuku akan datang untuk menghabiskan malam disini. Jadi, pergilah." Aku mendorongnya ke pintu. Dia berhenti, berjalan ke arahku, menarikku ke dadanya yang lebar dan menciumku dengan penuh semangat.
Akhirnya, kami dengan susah payah menarik napas, "Ya Tuhan, aku sangat mencintaimu," katanya, aku terkikik, "Dan aku juga mencintaimu," kataku sambil melambaikan tangan saat dia berjalan keluar pintu.
Setelah dirawat tiga hari dirumah sakit, aku dan anak-anakku akhirnya bisa pulang.
Makanan rumah sakit, sungguh tidak enak. Kami semua pulang, aku membantu Kenzo memasukkan barang-barang kembar ke dalam rumah, untungnya mereka berdua tertidur di kursi mobil.
Kenzo dengan cepat menutup mataku, rasanya seperti déjà vu, aku ingat dia melakukan ini saat kami mau piknik.
"Kenzo, apa maksudnya ini?" Aku bertanya.
"Lihat saja nanti."
"Bagaimana dengan si kembar?"
"Mereka sedang tidur, sayang. Santai saja dan percayalah padaku," katanya, aku menarik napas panjang dan menganggukkan kepalaku. Dia menuntunku berputar-putar lalu akhirnya berhenti, aku mendengar pintu berderit terbuka, Kenzo membawaku masuk. Dia melepas penutup matanya, air mata terbentuk di mataku. Kamar si kembar tampak menakjubkan, tidak berwarna atau polos tapi sempurna dan modern.
" Kapan kau melakukan semua ini?" Tanyaku
"Ya. Saat aku mengatakan ada panggilan bisnis, aku sungguh-sungguh bermaksud akan melakukan ini. Ayahku, dia ingin memperbaiki dan mendekorasi kamar anak-anak jadi aku membiarkannya dan Ayahmu juga membantu. Menakjubkan, ya?" Dia bertanya dan aku mengangguk, "Begitulah, persis yang kuimpikan, Kenzo ...-" Aku menangkupkan wajahnya dan menciumnya.
"Ya Tuhan, aku sangat mencintaimu," kataku menirukan kata-katanya. "Dan aku juga mencintaimu," katanya.
"Selalu dan selamanya,"
"Selalu dan selamanya," dia selesai. Kenzo memberiku ciuman kecil yang manis lalu kami pergi untuk menempatkan si kembar di kamar barunya di sana.
Aku dan Kenzo menyaksikan saat si kembar tidur nyenyak, kami menuju ke luar dan duduk di balkon lantai dua dan menyaksikan matahari terbenam bersama.
Bagian 1 Selesai..