The Love Story Of Billionaire

The Love Story Of Billionaire
Ep. 51



Alvaro POV


"Siapa yang melakukan ini padamu? Siapa yang sudah melakukannya? Dia bisa menjadi Dokter ahli bedah darurat karena sudah melakukan pekerjaan yang luar biasa." kata James.


"Ya. Kurasa dia yang melakukannya."


"Oh, cewek itu? Dia pasti sangat peduli padamu karena dia berusaha keras untuk membantumu," dia tertawa.


"Kenapa dia harus peduli? Kami bahkan tidak saling mengenal satu sama lain, kami hanya dua orang asing," jawabku duduk di sofa.


"Tapi pernahkah terlintas di benakmu Alvaro, 'orang asing' tidak akan melakukan ini terhadap orang lain kecuali mereka peduli? Di dunia ini, kamu hampir tidak bisa menemukan orang-orang seperti dia di sekitarmu." katanya berjalan ke kamarnya.


Dia ada benarnya juga, jika bukan karena si culun itu mungkin aku sudah mati sekarang. Haruskah aku berterima kasih padanya lagi? Hmm. Besok, aku akan berterima kasih padanya lagi. Aku akan membeli perhiasan untuknya, cewek kan suka hal-hal semacam itu, kan? Di manjakan dengan kekayaan, perhiasan, pakaian. Atau haruskah aku memberinya kartu ucapan?


"Ugh. Ini sangat sulit," aku bergumam pada diriku sendiri.


Ponsel ku mulai berdering : Ayah.


"Kenapa ayah menghubungiku lagi?" Aku bertanya.


"Halo Alvaro, ada keadaan darurat," katanya.


Dia tidak pernah berubah, semuanya selalu tentang bisnis.


"Apa?" Aku bertanya.


"Ini tentang David Thomas"


Mendengar nama itu membawa kemarahan ke dalam jiwaku. Orang itu adalah penjahat, dia memanipulasi, mencuri, berbohong dan mencintai uang seperti itu adalah satu-satunya hal yang membuatnya tetap hidup. Penjahat itu mencoba memanipulasi saudara kembarku dan mengambil semua uang kami.


"Apa ada sesuatu yang terjadi pada Angel, ayah?" Aku bertanya.


"Tidak, nak. Adik kembarmu aman."


Aku menghela nafas panjang, "Lalu kenapa ayah menghubungiku?" Aku bertanya kesal.


"Dia sedang berada di Dumai," dia berhenti, ada keheningan yang panjang.


"Halo? Ayah?" Kataku.


"Maafkan aku, ibumu sedang mengepak barang-barangnya dan mencoba pergi untuk melindungimu. Sayang, apa yang mau kamu lakukan dengan pistol itu? Tolong kembalikan sebelum kamu melukai dirimu sendiri," dia menghela nafas panjang.


"Aku tidak akan membiarkan siapa pun menyentuh sehelai pun rambut anakku. Aku akan pergi ke sana untuk melindungi anak kesayangan ku!" Aku mendengar ibu ku berteriak.


"Nak, aku harus pergi dan menenangkan ibumu sebelum dia berakhir di berita karena pelecehan dan pembunuhan. Hati-hati dengan David, dia akan melakukan sesuatu yang tidak baik. Aku akan meneleponmu nanti. Berhenti, Sayang. Tidak. " dia menutup telepon.


Jika dia ke sini bukan untuk menemui adikku. Lalu apa tujuannya datang ke sini? Balas dendam? Apa pun itu, aku harus menjaga diriku.


Aku meraih jaket ku dan berjalan keluar ke apartemen ku.


Bagaimana bisa motor ku sampai ke rumahnya malam itu? Apa dia yang mengendarainya? Atau apa ada pria yang bersamanya? Lagi pula siapa dia? Tidak mungkin kakaknya, mereka tidak mirip. Pacarnya? Mungkin.


Aku pergi ke sebuah bar mini dan pergi minum-minum mungkin satu atau dua gelas membuatku tenang. Saat aku mencapai kedai, aku melihat cewek rendahan si ketua geng bersama pacarnya, Tomi, sedang bertengkar, sebuah senyuman merayap di wajahku.


"Yoo Sarah," aku berteriak, dia berbalik, berlari ke arahku dan mengecupku. Hanya untuk mendapatkan kegelisahannya aku merangkulnya. Tomi tampak seperti akan meledak dalam kemarahan, aku menyeringai padanya, dan dia berjalan menuju mobilnya dan pergi.


"Hei, Sarah. Dia kenapa?" Aku bertanya.


Dia tersenyum, "Dia sangat marah karena aku lebih memilihmu."


Wow. Dia meninggalkan pacarnya hanya demi diriku.


Aku menarik diri darinya, "Aku tersanjung, tapi aku bukan tipe cowok seperti itu. Apa kau paham maksudku?" Aku tersenyum, dia sangat marah dengan ucapanku. Seseorang menarik perhatianku, aku melihat si culun dengan David Thomas.


Apa yang dia lakukan bersamanya? Apa yang dia coba rencanakan, dan apa yang dia inginkan dari si culun?


Amarah memenuhi mata ku, si culun melihat ku dan memeluknya.


Kenapa aku merasa cemburu? Aku tidak suka dia dan tidak akan pernah. Dia bahkan bukan tipe cewek yang aku mau dan aku yakin aku tidak akan pernah menjadi miliknya. Jadi, kenapa aku harus merasa cemburu? Aku tidak pernah merasa cemburu pada seorang cewek sebelumnya, apalagi sama cewek seperti dia.


Aku mengeluarkan sebungkus rokok dari sakuku dan mengisap beberapa batang rokok lalu aku pergi ke bar mini itu untuk minum lagi.


Jangan bilang kalau aku mulai menyukainya, Ughh. Dia bahkan tidak akan pernah mau merasakan hal yang sama. Kami berbeda, kalau dia bersamaku aku hanya akan menghancurkan hidupnya, menghancurkan hatinya. Tapi, apa yang dia lakukan dengan penjahat itu?


Sekitar jam 7 malam, aku meraih jaket ku dan pergi dari bar mini.


Berjalan menuju parkiran, aku mendengar musik yang indah dari sebuah bangunan aku melihat sekeliling ku, pintu belakang tidak dikunci. Aku berjalan diam-diam masuk ke dalam, musik semakin keras, aku berjalan lebih jauh ke dalam. Aku menoleh dan memperhatikan aku berada di sebuah studio tari di belakang sekolah, ada seorang cewek sedang menari dengan indah yang diiringi sebuah musik. Aku menyaksikan dengan takjub kagum dengan tariannya, dia menari dengan penuh gairah dan emosi, dia tampak luar biasa dalam sarung ketat itu, harus kuakui dia memiliki pantat yang benar-benar seksi.


Musiknya selesai, aku bertepuk tangan, dia terkaget. Dia memalingkan wajahnya ke arahku dan aku perhatikan dia si culun, ini adalah waktu yang tepat untuk berterima kasih padanya, tapi aku adalah aku, aku malah melakukan yang sebaliknya.


Aku menciumnya. Aku menciumnya. Apa yang kupikirkan? Kenapa aku menyukainya? Kenapa aku menginginkan lebih? Bibirnya begitu montok, merah muda, lembut dan rasanya sangat enak sehingga aku menginginkan lebih. Aku seharusnya berterima kasih padanya tidak menciumnya. Lalu aku tersadar. Gambar dirinya dengan orang itu; Derek, membuatku pergi dari tempat itu, itu sangat membuatku marah dan sedikit cemburu; mungkin.


Aku menyeringai padanya dan pergi sebelum aku melakukan sesuatu yang benar-benar akan aku sesali, sekarang aku harus pergi membeli dua kartu ucapan terima kasih.