
Akhirnya kami berdua sampai di kamar perawatan, aku mendengar suara lelaki sedang berbicara dan juga suara ibuku, aku mengetuk ringan dan dia menyuruhku masuk. Aku membuka pintu perlahan-lahan, dengan cepat mataku melihat ibu di ranjang rumah sakit, dia tersenyum.
Kepalanya tersentak ke arah ku dan memberiku pelukan yang hangat. "Isabel ku." Ibu tersenyum, aku kemudian melihat sosok pria yang duduk di sisinya.
"Ayah?" Kataku kaget.
"Isabel senang bertemu denganmu lagi," dia tersenyum padaku.
Kau mau bercanda denganku ?! Baiklah.
"Oh ternyata sudah ada yang menemanimu, ibu. Aku akan kembali lagi lain kali," kataku setengah berjalan keluar pintu.
"Isabel, berhenti di sana. Duduklah, sekarang."
"Aku sudah dewasa, tapi aku masih saja harus bertindak seperti anak kecil dengan menaati kemuan ibu." Aku mendengus, aku mengambil tempat duduk di sudut yang jauh dari mereka berdua.
"Halo, Bu. Senang bisa bertemu denganmu," kata Kenzo mencium telapak tangannya.
"Halo, Pak Alexandro," katanya sambil menjabat tangan ayah ku. Kenzo berjalan pergi dan duduk di sebelahku, menggosok telapak tanganku berusaha membuatku tenang.
"Tolong panggil aku Alex saja, saya senang bertemu pria yang telah mencuri hati putriku. Jaga baik-baik putriku, hati-hati dia kadang-kadang suka keras kepala," canda dia.
"Tidak perlu khawatir aku akan merawatnya dengan sepenuh hati, Bu" dia tersenyum. Ibu berdehem, dan menatapku dengan tatapan tajam yang biasaja ibu beri saat aku masih kecil. "Itu tidak berpengaruh lagi padaku ibu, jadi ibu bisa berhenti menatapku. Ok baiklah jika sudah tidak ada lagi yang bisa di diskusikan cukup sampai di sini aku mau pulang terima kasih." kataku bangun.
"Duduk. Kau tidak boleh kemana-mana, sampai kita bicara."
"Bicara? Bicara tentang apa? Bagaimana ayahku selingkuh dan membuatmu mengunci diri di kamarmu selama dua bulan? Faktanya kalau dia pengecut, meninggalkan keluarganya demi hidup bersama wanita lain?" Aku berteriak, ibuku menggelengkan kepalanya karena kecewa.
"Tolong, Isabel, kau harus mengerti..."
Aku memotong pembicaraannya "Memahami? Apa yang harus aku pahami ayah? Atau haruskah aku memanggilmu begitu? memanggilmu Bayangan hidupku?" air mata mulai terbendung, tapi aku menariknya kembali.
"Isabel, tenang dulu,"
"Bagaimana jika aku tidak mau tenang? Bagaimana jika aku ingin melepaskan amarah yang kurasakan di dalam diriku selama 23 tahun ini?" air mata jatuh, ibu ku juga mulai menangis.
"Oh, dan ibu, kapan kau akan memberitahuku kalau dia sedang mencoba untuk kembali ke kehidupanku? Dan mengatakan bahwa dialah yang selalu membawakanku semua hadiah mahal saat aku masih kecil? Atau saat dia menyuruh seseorang menyamar untuk mengawasi kita selama ini? Uh? Kapan? " Aku berdiri, aku merasa stress dengan semua ini, aku hanya ingin pergi.
"Tidak, aku minta maaf karena bertingkah kekanak-kanakan, aku mencintaimu," bisikku dalam hatinya.
"Aku juga mencintaimu, putri kecilku yang manis," katanya sambil menyeka air mataku dengan ibu jari lalu dia memberiku senyum tulusnya.
Aku berjalan ke arah ayah ku dan aku berdiri di depannya. Dia menunduk menatap lantai, aku mencondongkan tubuh ke depan dan mencium kepalanya seperti yang biasa kulakukan ketika aku masih kecil ketika dia sedang sedih. Dia mendongak dan aku tersenyum padanya.
"Aku tahu terkadang aku perlu memaafkan, tapi berjanjilah kali ini jika aku sudah memberikanmu kesempatan, kau tidak akan bisa melarikan diri lagi karena aku tidak bisa menahan rasa sakit karena tidak melihat ayahku lagi" Aku menangis, dia berdiri dan dengan cepat memeluk ku, dia begitu hangat.
"Aku berjanji, ayah tidak akan pernah pergi dari hidupmu lagi, aku berjanji putri kecilku, selamanya." katanya mencium kepalaku, aku balas memeluknya.
Setelah 4 jam dengan semua drama yang melelahkan itu, kami berdua memutuskan untuk pergi. Aku mencium ibuku dan memeluk ayahku, aku berjanji pada mereka berdua untuk tetap berhubungan sebaik mungkin.
"Selamat tinggal, semuanya. Dan jangan lupa makan siang kita minggu depan hari Sabtu." Aku melambai pada mereka berdua berjalan keluar, aku melihat Kenzo tidak mengikutiku.
"Kenzo, ayo pulang," kataku tersenyum.
"Kamu duluan saja, tunggu aku di lantai bawah, Sayang. Ada yang ingin kukatakan pada orang tuamu, sebentar saja," katanya, aku mengangguk dan pergi ke bawah.
Untuk apa dia mau bicara dengan orang tua ku?
7 menit kemudian Kenzo turun dan kami menuju bandara, aku bertanya kenapa ia membutuhkan orangtuaku.
"cepat atau lambat kau akan tahu, sayang" lalu dia memberiku senyum.
Aku menundukkan kepalaku di bahunya
"Hei Kenzo," kataku dengan suara mengantuk.
"Ya, Sayang?" dia berkata.
"Mari kita berkencan, bagaimana kalau aku dan kamu pergi piknik besok?" Aku menguap.
"Tentu, apa pun untukmu sayang, apa pun untukmu."
Itu yang kudengar sebelum aku tertidur dalam pelukannya.