
kenzo Pov
Aku mengatakan pada Isabel kalau aku akan menemuinya di lantai bawah, karena aku perlu bicara dengan orangtuanya, aku tahu dia akan bertanya pada ku hal itu tapi aku belum bisa memberi tahu kejutannya.
Dia pergi menutup pintu, aku mendengar langkahnya berjalan menuju koridor. Aku menoleh ke arah Alexandro dan Ibunya Isabel, aku menjadi sangat gugup.
"Apa ada yang salah, Kenzo?" Ibu Isabel berkata tapi saya menggelengkan kepala tandanya 'tidak'.
"Pak, Bu, aku ingin meminta restumu untuk menikahi putri kalian," kataku, mereka berdua menatapku lalu saling memandang dan tersenyum. Ibu Isabel menjerit bahagia.
Pak Alex berdiri dan berjalan ke arah ku dan memeluk ku. " Tentu, Nak. Saya memberimu restu. Jaga baik-baik putriku Kenzo atau aku akan membunuhmu jika kau tidak menjaganya dengan baik dan membuatnya menangis," Candanya.
"Aku akan melakukannya dengan segenap hatiku, Tuan Alex. Aku mencintai putrimu dengan sepenuh hati, aku tidak akan berani menyakitinya. Terima kasih, tolong jangan beri tau Isabel," kataku pada mereka berdua.
"Aku harus mempersiapkan semuanya terlebih dahulu dan- "Aku memotong pembicaraannya.
"Ahaa Tidak perlu, ibuku juga seorang perancang pernikahan. Dia akan mengurus semuanya, tapi kalian bisa membantu soal gaun yang akan dikenakannya," kataku Ibu Isabel mengangguk.
"Aku tidak habis percaya putriku akan menikah, dan di masa depan akan memiliki anak, kurasa pekerjaanku sudah selesai, sekarang kuserahkan semuanya padamu, Kenzo," kata Ibu Isabel meneteskan air mata.
"Kapan rencanamu memberitahunya?" Tuan Alex bertanya.
"Pada bulan April. Saat malam ulang tahunnya," aku berkata.
"Di mana cincinnya? Kau punya cincin itu, kan?" Ibu Isabel bertanya.
Aku mengeluarkan kotak beludru merah dari dalam saku jaketku, Perlahan aku membuka kotak itu. Cara Ibu Isabel memandangnya, aku tahu dia menyukainya dan aku merasa Isabel juga akan menyukainya.
"Ini berlian, aku sudah membuatnya dengan khusus yang dibuat oleh pembuat cincin pernikahan terbaik di luar negeri." kataku, dengan cepat aku melihat arlojiku, Isabel sudah menungguku selama 7 menit.
"Aku akan menghubungi kalian lagi nanti," kataku melambaikan tangan pada orang tuanya.
Aku harap dia tidak menolak ku, apakah dia sudah siap?
Isabel bertanya padaku tentang percakapan itu, aku memasang senyum yang sangat dia benci lalu aku menoleh padanya, "Cepat atau lambat kau akan mengetahuinya, sayang".
Isabel memutuskan untuk masuk ke dalam mobil dan menuju bandara, dan selama perjalanan dia mengajakku untuk berpiknik. Yah aku suka piknik. Setiap kali, saat ibuku ada libur sehari, mereka membawaku dan kakakku untuk berpiknik di ladang berumput.
Akhirnya setelah perjalanan panjang dengan pesawat, kami sampai di rumah. "Apa kau tidak melihat waktu. Sudah jam 8? Bagaimana bisa? Untuk sampai ke Singapur butuh waktu hampir 5 jam, kenapa lama sekali?" Isabel bertanya mengambil kopernya.
"Saat kau tidur ada badai di depan, karena itu kita harus mengambil rute yang berbeda. Sudah malam, bagaimana kalau kau nginap di rumahku malam ini?"
"Baiklah, tapi pertama-tama aku harus menelepon Jeni dan Natan. Mereka pasti khawatir padaku," kata Isabel memasuki rumahku saat aku mengikuti di belakangnya.
Aku melihat Isabel berdiri menatap sesuatu di sofa sambil mengepalkan tinjunya seolah dia menahan amarahnya. Aku berjalan ke arahnya, dan melihat penyihir jahat itu duduk di sofa, sambil minum segelas anggur.
Bagaimana dia bisa masuk ke sini?
"Vina, apa yang kau lakukan di sini? Bagaimana kau bisa masuk?"
Dia menatapku dengan senyum jahat dan kegelapan di matanya, "Apa begitu caranya bicara dengan mantan tunanganmu?" dia bercanda
"Apa maksudnya mantan tunangan? Kau bertunangan dengannya?" Isabel berkata dengan marah.
"Oh, dia tidak memberitahumu? Sayang, kita atau kamu lupa? Ayah kita sudah merencanakannya jauh sebelum kita dilahirkan," dia tersenyum. Dia suka melihat wanita lain sakit hati, marah bahkan patah hati.
"Vina, keluar dari rumahku!" Aku berteriak menunjuk ke arah pintu. Vina bangkit dan mengangkat bahu dan meneguk anggur terakhirku.
"Sampai jumpa lagi, teman bermainku." dia mencium dan meninggalkan pintu.
"Isabel, aku bisa menjelaskan"
"Jelaskan apa? Bagaimana kau berbohong dihadapanku tentang bertunangan dengannya? Apa maksudnya kau teman bermainnya? Tunggu, kau. Kau tidak? Apa kau? Apa kau sudah tidur dengannya?" matanya menunjukkan warna kemarahan.
Dia sangat seksi saat dia marah seperti ini.
"Kalau kau biarkan aku jelaskan, aku yakin kau akan mengerti," aku memohon. Isabel mengambil napas dalam-dalam dan duduk di hadapanku, aku benci ketika dia menolak sentuhanku itu membuatku merasa lemah.
"Baiklah, ya kami memang bertunangan hanya karena Andrew menolak lamaran pertunangannya dan melarikan diri jadi, karena aku sebagai putra terakhir jadi aku yang harus menanggung tanggung jawabnya. Aku memohon dan memohon pada ayahku untuk tidak membuatku menikahinya tapi untuk menyelamatkan bisnis keluarga yang kumiliki. untuk menyelesaikannya yah aku melakukannya. Ada cara bagiku untuk mengakhiri pertunangan ini, jika aku bisa membuat Vina tidur dengan lelaki lain aku akan bebas dan dia melakukannya. Sekarang soal aku pernah tidur dengannya, percayalah itu hanya kecelakaan. aku benar-benar mabuk saat pesta ulang tahun ku yang ke 25 dan dia datang ke kamarku. Aku pikir saat itu pacarku tapi saat aku bangun malah dia yang ada di tempat tidurku. Percayalah padaku Isabel aku tidak berbohong padamu." aku kemudian duduk di sebelahnya dan dia sama skali tidak bergerak saat ini.
"Baik, aku percaya padamu. Tapi kau seharusnya memberitahuku lebih awal, Kenzo."
"Maaf, sayang. Satu hal lagi"
"Ada apa lagi? Apa kau punya pacar selain aku? Jika kau melakukan itu dibelakangku, aku akan mencongkel bola matamu" ancamnya.
"Sebenarnya ya, ada wanita-wanita lain dalam hidupku, dia cantik, pintar, mandiri. Dia memiliki mata cokelat besar yang menggemaskan tapi akan memerah seperti hulk saat dia marah dan rambut hitam lembut yang sempurna seperti sutra." Aku bercanda, dia menatapku dengan tajam yang berubah menjadi senyum main-main.
"Apa itu benar? Ceritakan lebih banyak tentang wanita cantik itu."
"Oke. Bagaimana memulainya? Oh, dia..." kataku menggelitik, dia memiliki tawa yang paling indah "Juga dia manis, baik, suka keras kepala dan kekanak-kanakan." Aku tersenyum padanya, dia meninju lenganku dengan main-main "Dan terakhir dia kalau tidur suka mendengkur seperti sopir truk." candaku, berlari menuju kamar ku.
"Aku tidak mendengkur." Dia berteriak mengejarku.
"Oh ya? Aku punya videonya, mau ku buktikan?".
Kami berlarian mengejar satu sama lain kemudian makan beberapa makanan Cina sambil menonton tv selama satu jam, setelah itu kami berdua lelah dan mandi 'terpisah'. Aku naik ke tempat tidur terlebih dahulu kemudian dia mengikuti ku. Aku meraih pinggangnya, menariknya kembali mendekat ke tubuhku, bau rambutnya memabukkan. Tubuhnya begitu lembut dan hangat di tubuhku yang tak bertelanjang dada, aku suka kalau dia memakai pakaianku. Aku menatapnya membuat ku semakin menginginkannya.
Aku ingin tahu apa yang sedang dia mimpikan,
"Kenzo," bisiknya. Dia bermimpi tentang aku?
"Aku.." aku mendengarkan dengan seksama saat dia berbicara dalam tidurnya.
"Cinta..."
Cinta cinta? Apakah dia akan mengatakan apa yang ku pikirkan?
"...."
"Kau ..." Seringai lebar muncul di wajahku.
Dia mengatakannya dia benar-benar mengatakannya. Dia bilang dia mencintaiku! Sekarang aku tahu bagaimana perasaannya terhadap ku, aku tidak sabar untuk memberinya cincin pertunangan dan akhirnya menjadi orang yang terpenting dalam hidupnya. Dia tidak akan ingat apa yang dia katakan, tapi pasti aku akan mengingatnya selamanya.
"Aku juga mencintaimu, sayang," bisikku dalam hatinya. Kemudian tertidur dengan damai dengan dia di lenganku, aku bisa terbiasa dengan ini.