
Aku tidak bisa menahan diri lagi, aku mendaratkan kecupan ke bibirnya. Dia dengan cepat mengangkatku seperti gaya pengantin ke tempat tidur dan menindih tubuhku dengan handuk. "Lembut dan hangat," bisiknya menciumku.
"Kenzo, kita tidak bisa melakukannya. Semua orang menunggu kita," aku menghela nafas.
"Kurasa kita akan melanjutkannya di hari lain, sayang." dia menciumku lalu bangkit dan pergi untuk mandi.
Aku mengenakan baju piyama dan meninggalkan satu piyama untuk Kenzo di tempat tidur. "Maaf, kawan-kawan, sudah lama menunggu lama. Ini." Aku berkata memberi Jeni, Joshua dan Natan baju piyama mereka.
Semua orang mengucapkan terima kasih dan pergi untuk berganti pakaian, kami semua tampak menggemaskan, tidak seperti Kenzo yang terlihat seperti model dewa Yunani seksi saat mengenakan piyama.
Aku mengambil foto semua orang bersama-sama, membuat wajah konyol. Aku mengambil satu foto khusus dengan ku dan kenzo bersama.
"Lewat sini, semuanya," Kenzo berkata menuntun kami ke ruang bawah tanah, kami berhenti di depan pintu beludru merah bertuliskan 'Bioskop Julian'.
"Selamat datang" Kenzo membuka pintu, semua orang terkesiap. "Kamar mandinya ada di sana, Makanan di sana. Selamat menikmati. Oh dan yang akan kami nonton adalah film ninja turtles yang baru,"
"Natan, kau menangis?"
"Tentu saja tidak, itu alergi. haha aku terharu karena tempat ini sangat indah," dia tertawa.
Aku berada di tengah-tengah mereka dengan es krim favorit ku , filmpun dimulai. Jeni dan Joshua berpelukan bersama, aku merasa sedih karena Natan sendirian di belakang jadi obat nyamuk kamin
Mungkin saatnya kami mencarikannya pacar.
Saat film selesai, semua orang meninggalkan cil itu, aku dan Kenzo masih berbaring di dalam sambil berpelukan dengan selimut lembut dan menonton film.
"Ada apa, sayang?"
Dia melihat ada yang salah.
"Uhmm itu, aku melihat Natan sendirian di sana, aku mau mencarikannya pacar."
"Hatimu baik skali Isabel. Itu sebabnya aku jatuh cinta padamu, kau adalah kebalikanku dan aku butuh sesuatu yang berbeda dalam hidupku dan kau yang berbeda. Kau mengubah aku menjadi pria yang lebih baik, terima kasih"
"Jauh dari lubuk hati, kau juga memang orang yang baik kenzo."
"Aku mencintaimu, sayang."
"Dan aku juga mencintaimu, sayang ," kami berbagi ciuman manis dan terus menonton film. Aku bertekad untuk mencarikan satu wanita untuk Natan.
Seminggu kemudian..
Selama beberapa hari terakhir, aku merasa kalau seseorang sedang mengawasiku ke mana pun aku pergi dan aku mulai ketakutan, lalu tadi malam aku melihat sosok gelap berdiri di luar jendelaku menatapku, sangat gelap untuk melihat siapa itu plus dia mengenakan hoodie hitam.
Aku berjalan ke gedung, semua orang mulai bertepuk tangan, bersorak dan berteriak selamat. Aku mengira kenzo sudah memberi tahu semua orang soal pertunangan kami.
Aku berjalan ke ruangan kenzo dan membanting pintu sampai tertutup, lalu aku menatapnya dengan tajam.
"Kenapa kau memberi tahu semua orang soal pertunangan kita?" Aku menyilangkan tangan.
"Yah, selamat pagi untukmu juga," katanya sinis.
"Maaf. Selamat pagi, Tuan Kenzo."
"Terima kasih. Pokoknya bukan aku yang mengumumkan pertunangan, baik itu Andrew ataupun ibuku."
"Bagaimana mereka tahu?" Aku bertanya duduk di salah satu kursi.
"Yah, itu karena aku keceplosan saat aku bicara dengan mereka kemarin waktu mereka datang kerumah."
Singkat ceritanya...
"Ibu, berapa kali kenzo harus bilang, kalau ibu mau datang beritahu aku ?! Dan kenapa Andrew ada di sini?"
"Itu terserah ibu, aku ini ibumu, aku memiliki hak untuk keluar dan masuk. Andrew ingin melihatmu," katanya sambil menyesap tehku.
"Saudara yang kasar? Bahkan dia saja tidak memberiku ucapan selamat pagi?"
"Tidak mood, Apa maumu?"
"Aku dan Samantha ingin kau datang ke acara 7 bulanan untuk putra kami yang belum lahir."
"Memberitahumu secara pribadi lebih baik, bukan begitu?"
"Tidak. Bagaimana keadan Samantha dan putranya?"
"Maksudku putra kalian"
"Pokoknya dia baik-baik saja, tumbuh pesat dan menendang ibunya seperti bola. Kali ini dia mengancam akan menikamku jika aku tidak membawanya makan ke Mcdonald."
"Apa kau membawanya?"
"Tidak. Dokter bilang dia tidak boleh lagi makan, makanan cepat saji yang berminyak dan saat aku bilang padanya seperti itu, dia menangis karena dia mengira aku memanggilnya gemuk," desahnya sambil menggosok bagian belakang lehernya.
"Jadi, apa kalian tinggal bersama? Apa kau sudah melamarnya?"
"Ya, sebulan yang lalu. Kami menikah di sebuah Rumah kecil di singapur ." Ibu memuntahkan tehnya, dia memandang Andrew seolah ingin membunuhnya.
"Apa ?! Kau tahu itu tugas dan impian ibu untuk merencanakan setiap pernikahan anakku. Andrew, kau tahu ibu juga seorang perancang pernikahan, kenapa kau tidak bilang pada ibu?"
"Karena ibu akan bertindak seperti wanita gila, Ibu akan membuat pernikahan kami seperti yang ibu inginkan bukan seperti yang samantha inginkan juga ibu akan memberinya banyak tekanan, apa lagi dia hamil"
"Aku akan berpikir dua kali soal ibu merencanakan pernikahanku," gumamku.
"Kamu melamarnya ?! Kapan ?!"
"Astag. Ugh. Beberapa hari yang lalu kami sedang piknik, tapi itu terjadi secara kebetulan."
"Apa maksudmu?" Andrew bertanya.
"Yah, aku tidak akan melamarnya sampai malam ulang tahunnya, tapi dia menemukan cincin itu dan berkata ya sebelum aku bertanya padanya."
"Selamat, Saudaraku, aku tidak sabar menunggu."
Hidupmu akan menjadi neraka" Samantha berjalan menatap Andrew dengan mata jahat.
"Halo, Sayang. Kau harusnya berada di tempat tidur sekarang."
"Yah, tapi aku merindukanmu di sebelahku dan putramu terus menendang perutku. Oh. Di mana sopan santunku, Selamat pagi Kenzo dan salam untukmu ibu." dia melambai pada kami, Andrew mengucapkan selamat tinggal dan pergi bersama Samantha, meninggalkanku dengan ibu.
"Yah, aku melihat kalau putra-putraku sendiri tidak menghargaiku, bukannya menyuruh ibu merencanakan pernikahan mereka, atau mengatakan padaku kalau mereka mengusulkan sesuatu, tapi ini malah memilih tidak memberitahuku." dia mulai menangis, aku berjalan mendekatinya dan memeluknya, membiarkannya menangis di pundakku.
"Maaf, Bu, jika kau ingin merencanakan pernikahan kami, kau bisa melakukannya. Aku akan memberi tahu Isabel kalau aku tidak bisa menepati janji ku sekarang karena memberitahumu. Tapi jika ibu merencanakan pernikahan kami, ingatlah sesuai kemauan Isabel, bukan ibu Oke? "
"Ya, aku mengerti. Terima kasih, anakku, aku tidak akan mengecewakanmu," dia tersenyum memberiku ciuman di pipi lalu pergi. Aku duduk di sofa dan mengusap rambutku.
Akhir dari kilas balik..
"Dia ingin kau bertemu dengan semua keluarga besarku. Karena itu, dia merencanakan acara BBQ dengan keluarga besar, juga dia ingin merencanakan pernikahan kita di bulan Juni."
"Aku belum siap untuk bertemu keluargamu, bagaimana jika mereka tidak menyukaiku dengan caraku terlihat berpakaian"
"Tentu saja mereka akan menyukaimu, percayalah, sekarang kembali bekerja Isabel." dia mengedipkan mata, aku tersenyum dan berjalan pergi.
"Tentu saja Tuan Kenzo. Tunggu. Kau tadi bilang Juni? Tiga bulan lagi, kenapa begitu cepat?"
"Ayolah sayang biarkan saja, kan lebih cepat lebih baik."
"Yah tidak masalah, selama kita saling memiliki, itu tidak masalah bagiku," aku tersenyum manis padanya, "Pernahkah aku mengatakan padamu kalau aku sangat mencintaimu".
"Mungkin beberapa kali, tidak ada salahnya untuk mendengarnya beberapa kali lagi haha" Aku bercanda.
Aku harus memberitahunya ... Aku tidak pernah menyembunyikan sesuatu darinya.
"Kenzo. Um. Ada sesuatu yang harus kukatakan padamu. Aku merasa akhir-akhir ini ada seseorang yang mengawasiku," aku menundukkan kepala, menghindari tatapannya.
Dia bangkit dari kursinya dan berjalan ke arahku dan memelukku, "Kenapa kau tidak memberitahuku lebih cepat? Jika ada sesuatu yang terjadi padamu, aku tidak akan bisa hidup lagi. lebih baik lagi kau tinggal bersamaku untuk saat ini dan itu sudah keputusan final, "katanya dengan nada bisnis tegas dan aku menganggukkan kepalaku.
Kenapa aku punya firasat buruk soal penguntit ini.