The Love Story Of Billionaire

The Love Story Of Billionaire
Ep. 46



Alisia Nathania Yocelin (Alis/Nathania/Yocelin)


Alis POV


"Alis. Bangun!" Ibu ku berteriak dari lantai bawah, aku membuka mata dan menatap langit-langit kamarku.


"Cepat dan bersiaplah atau kamu akan ketinggalan bus," Ibu berteriak lagi.


Sambil memaksakan diri, aku mengenakan kacamata dan bergegas ke kamar mandi untuk bersiap-siap. Cepat-cepat kukenakan jaket kulit biru ukuran besar, kemeja putih dan merah bergaris-garis, celana jeans biru tua. Aku memandangi diriku di cermin, "Yah, ok bagus," kataku pada diri sendiri.


"Cepat, Alis," teriaknya sekali lagi.


"Aku datang, Bu," teriakku padanya, mengambil tasku dan menuju ke bawah. Aku mencium pipi ibuku, meraih sebuah apel dan roti bakar mentega kemudian bergegas keluar rumah untuk mengejar bus. Aku tiba di halte bus tepat waktu, masih ada 25 menit untuk bel pertama, aku bisa terlambat kalau harus menunggu wanita tua ini turun dari bus.


Akhirnya, setelah berlari dari halte sebanyak 2 mil ke sekolah, aku berhasil sampai di depan pagar. Aku bergegas menuju loker ku dan mengambil buku Sejarah ku. Berjalan menuju kelas. Aku secara tidak sengaja menabrak Sarah dan jatuh ke tanah, Sarah adalah ketua Cherrleaders yang sangat populer, yang sangat membenci ku sejak TK, karena aku menjatuhkan jus apel di celananya dan membuatnya terlihat seperti dia mengencingi dirinya sendiri.


Semua orang mengira dia malaikat yang dikirim dari langit, tapi tidak seperti aku yang melihatnya dari sisi buruknya setiap hari.


"Oh sorry-sorry, aku tidak sengaja," dia menatapku dan memasang wajah ingin muntah.


"Hei. Kalau jalan, lihat-lihat dong," katanya.


Aku hanya mengabaikannya dan mencoba mencari kacamata ku, tanpa kacamata aku tidak bisa melihat.


"Oh. Lihat itu, kau seperti Velma dari film Scooby Doo. Mencari kacamata saat terlepas dari matanya, Haha." dia tertawa jahat.


"Kurasa aku menemukan-" Aku mendengar pecahan kaca "Ups. Maaf, sampai jumpa lagi. Pecundang." dia tertawa berjalan pergi.


Astaga. Itu kacamata terakhirku.


Aku merasakan beberapa tangan lembut besar membantu ku, yang memiliki aroma parfum paling enak yang pernah aku cium, aku menyukainya.


"Terima kasih, kamu.. kamu siapa?" kataku, dia tidak menjawab. Aku mencoba untuk mencari tahu bagaimana wajahnya tapi penglihatanku sangat buram dan yang aku lihat hanyalah mata cokelat yang indah yang belum pernah aku lihat sebelumnya. Pria misterius itu menyerahkan buku ku dan kacamataku yang rusak lalu mengantarku ke suatu tempat, "Umm. Maaf, cowok misterius ... pria, bapak. Uh. Kamu mau membawaku kemana?" Aku bicara tapi sekali lagi aku disambut oleh keheningan.


Haruskah aku takut? Kenapa aku merasa begitu ..... pria itu sangat misterius.


Aku mendengar pintu terbuka, "Alis, apa kacamatamu pecah lagi?" Aku mendengar sesorang bicara yang berarti aku sedang berada di kantornya.


"Hmmm. Ya pak"


"Bagaimana kamu bisa kesini, siapa yang membawamu?"


"Yah, dia yang membantuku dan membawaku ke sini, pak."


Ada keheningan "Siapa yang kamu bicarakan sayang? Tidak ada orang lain di sini selain kita. kamu yang datang sendiri."


Kurasa pria misterius itu sudah pergi, aku harus mencari tahu siapa dia.


"Oh."


"Ngomong-ngomong. Aku akan menelepon ibumu untuk membelikanmu sekali lagi sepasang kacamata. Kenapa kacamatamu selalu pecah, sayang?"


"Hmmm. Jika aku mengatakannya, Bapak tidak akan mempercayaiku. Tidak ada yang percaya, tidak ada yang akan mempercayaiku."


Keheningan lagi, "Yah, kurasa itu tidak bisa dicegah, duduklah dengan tenang selagi aku menelpon ibumu," katanya sambil menekan nomor di teleponnya.


Mata cokelat, begitu indah, sangat memesona, sangat unik.


Kemudian pada hari itu, ibuku akhirnya datang dengan kacamata baruku untuk yang ke delapan kali, jika ini terus terjadi aku tidak tahu harus bagaimana lagi.


Aku membenci saat keenam kalinya ibu membelikan ku kacamata karena, Sarah dan teman gengnya ada di sana pada saat itu. Semua orang membully ku, bahkan guru ku sendiri, aku memberi tahu kepala sekolah tapi dia ingin bukti atau saksi. Aku mencoba untuk pindah kelas, tapi dia tidak mengizinkannya karena ini pertengahan tahun sekolah.


Mengambil napas dalam-dalam, aku membuka pintu. "Hei, lihat semuanya. Velma menemukan kacamatanya, lagi." canda Sarah, semua orang bahkan guru itu tertawa.


"Kacamata ku, Pak," kataku menuju ke tempat duduk di sudut belakang.


"Aku melihatmu di ruang kepala sekolah lagi. Velma, maksudku Alis" dia terkekeh pada dirinya sendiri.


Di seluruh kelas, Sarah dan anggota gengnya serta dan teman kelasku lainnya terus melemparkan bola kertas ke arahku. Dari sudut mataku, aku melihat Pak Samuel juga melemparkan beberapa padaku.


Kadang-kadang aku berharap, aku bisa ... aku hanya ingin menghilang. Tidak ada orang di sini yang mempedulikanku kecuali temanku Lucky, aku merindukannya, tapi dia pergi. Aku berharap Lucky ada di sini, tapi dia pergi dengan orang tuanya keliar negeri dan mungkin dia akan kembali besok.


Aku menundukkan kepalaku, Pak Samuel berdeham, "Murid-murid. Kita akan kedatangan murid baru mulai besok, itu saja." bel berbunyi. Syukurlah. Setelah kelas berakhir, aku berjalan ke kamar mandi perempuan.


"Omg. Apa kau melihat anak baru itu?"


"Tidak tahu. Katanya dia dikeluarkan dari sekolahnya karena berkelahi sebanyak 30 kali."


"Ada yang bilang dia benar-benar tampan seperti model. Ayahnya juga seorang miliarder, dia kaya raya, aku tidak sabar untuk kenalan dengannya."


Anak baru? Kami belum memiliki anak baru selama berabad-abad. Hmm mungkin aku bereaksi berlebihan.


"Dan yang lebih hebohnya lagi, dia playboy, bertato, merokok, nakal dan dia masih lajang."


"Jangan pernah berpacaran dengan pria yang nakal, tapi mungkin dia bisa menjadi cinta pertamaku."


Anak perempuan itu pergi beberapa menit kemudian, aku berjalan keluar dan menuju halte bus. Seorang pria yang mengendarai sepeda motor melaju lebih cepat. Dia melewati 5 tanda berhenti, mungkin itu si anak baru itu?


"Halo? Aku sudah di rumah ... Bu? Ayah?" Aku berteriak menutup pintu di belakangku.


Tidak ada orang di rumah.


Perutku bergemuruh, apel dan roti panggang tidak membuatku kenyang sedikit pun. Berjalan ke dapur, aku menemukan catatan merah yang tertempel di lemari es, merah; berarti penting.


'Alis sayang,


Aku dan ibumu ada kerjaan malam ini, maaf kami tidak bisa pulang. Ada makan malam di dalam oven, itu lasagna favorit mu dengan 6 keju berbeda. Maaf lagi sayang, sampai ketemu besok. Kunci semua pintu, hubungi ayah dan ibu jika ada keadaan darurat.


Ayahmu.'


Aku tahu ini akan terjadi, saat kedua orang tua mu seorang dokter ahli di rumah sakit.


'Ponsel berdering'


'Ugh. Siapa lagi yang menelpon?' Aku melihat ponselku, itu Lucky.


'Hei. Ada apa? Rindu?'


'Tentu saja. Setiap hari.'


'Wow, aku bisa merasakan sarkasme dari sini. Serius, apa ada kabar terbaru hari ini? Semua orang di grup chat membahas tentang anak baru?'


'Ya. Ada anak baru, aku dengar dia anak nakal dan setiap anak perempuan menginginkannya. Terus ayahnya seorang miliarder. Itu yang aku dengar'


'Hebat, apa yang kita butuhkan dari anak nakal di sekolah."


'Aku tahu. Anak nakal dengan tato dan merokok. Uhh. Lucky, sudah dulu, nanti kita bicara lagi besok. Jangan lupa jemput aku, selamat malam."


'Aku pasti menjemputmu setiap pagi, selamat malam.'


Lucky adalah satu-satunya teman cowok ku yang baik. Kami selalu makan siang bersama. Dia selalu melindungiku dari Sarah dan teman geng nya.


Aku meletakkan ponselku dan menatap langit-langit sampai aku tertidur.


Mata cokelat itu, semoga aku menemukan siapa lelaki misterius ini, aku sangat ingin berterima kasih padanya mungkin lewat kartu ucapan atau surat. Ah sudahlah. Kita lihat saja besok.