
Isabel POV
Aku memandangi ibunya lalu kembali padanya, mereka mirip sekali dengan mata cokelat yang sama dan rambut hitam pekat dan satu-satunya perbedaan mereka adalah dia laki-laki dan dia perempuan.
"Halo, Pak Kenzo," kataku sambil mengalihkan pandangan dari pandangannya.
"Ibu, sampai ketemu lagi, Ibu ada pertemuan yang harus kudatangi dengan Nona Isabel" Dia berkata aku melambaikan tangan saat dia meraih lenganku keluar dari ruangan, aku ingin mengatakan satu atau dua hal tapi hatiku berkata untuk tetap tutup mulut saja, sekarang. Kami tiba di pertemuan itu tepat pada saat orang pertama masuk, ia tampak muda seperti berusia 20-an, mungkin 30-an.
"Pak Aldo, silakan duduk sambil menunggu yang lain," Pak Kenzo berkata dengan nada bisnisnya, aku berdiri di sudut dekat kursi Pak Kenzo dengan buku catatan dan pensil di tanganku, aku bisa merasakan mata Pak Aldo melirikku.
"Nona Isabel kau mencatat semua apa yang orang katakan disini," katanya dan aku mengangguk, tak lama kemudian lebih banyak lelaki tua datang satu per satu menatapku. Aku tidak pernah merasa sangat tidak senyaman ini, mereka terlihat aneh, tidak semuanya tapi ada beberapa diantara mereka, mataku terus ke arah Pak Kenzo untuk meminta bantuan tapi nanti dia merasa terganggu dengan presentasinya jadi aku tetap melanjutkan tugasku dan menuliskan semua yang dikatakan semua orang tapi kebanyakan yang bicara adalah Pak Kenzo.
Setelah beberapa saat, lebih seperti satu jam, Pak Kenzo akhirnya berdehem dan semua orang berbalik ke arahnya di papan tulis depan, "Bapak-bapak, kalian semua di sini untuk bicara tentang bisnis. Bukan menatap seperti itu pada sekretaris saya, saya bisa menghancurkan hidup kalian dengan satu jentikan jariku, sekarang perhatikan," dia membentak.
Pertemuan itu akhirnya selesai kecuali Pak Aldo pada mulanya. Kupikir dia sedang menunggu Kenzo. Tapi dia tetap tinggal karenaku, yang mengejutkanku, kenapa dia ada di sini untukku? Aku masuk ke kantorku, dan melihat Aldo duduk di salah satu sofaku. Aku berdehem saat dia menatapku dengan penuh kekaguman dan nafsu.
"Ada yang bisa kubantu, Pak Aldo?" Aku bertanya berjalan ke kursiku lalu duduk, kami saling berhadapan, mejaku memisahkan kami.
"Aku. Ya, aku ingin tahu apa kau tidak sibuk besok malam?" Dia berkata dengan gugup, aku bisa tahu dia tidak terbiasa mengajak cewek-cewek keluar, dan yang mengejutkan seorang miliarder sepertinya terlihat gugup saat bertanya pada seorang gadis,
"Um .. Pak Aldo aku... " kataku terputus.
"Sebelum kau menolakku, pikirkanlah. Satu kencan biasa yang tidak mewah sama sekali dan tidak seburuk yang kau pikir," katanya
"Tentu. Aku akan memikirkannya lagi, aku akan memberitahumu besok pagi jika aku sudah mempertimbangkannya, Pak." kataku menampar diriku sendiri, dia menyerahkan kartunya dengan nomor telepon di dalamnya dengan warna hitam tebal.
"Tolong panggil aku Aldo saja, Sebutan bapak membuatku terdengar tua" Dia melambaikan tangan, aku memberinya senyum saat dia meninggalkan pintu lalu Pak Kenzo datang melalui pintu dengan raut wajah yang tidak senang. Soal itu, aku belum pernah melihatnya bahagia atau tersenyum.
"Kenapa dia ada di sini ?!"
"Kenapa?"
"Aku bertanya,"
"Begitu juga aku"
"Kenapa kau selalu bertingkah seperti ini ?!"
"Bertingkah seperti apa? Kaulah yang datang ke sini berteriak dan marah tidak jelas!" Aku balas membentak.
"Lupakan saja," katanya, kemudian melirik kartu nama yang tertera nama Aldo Group dengan nomornya dengan tinta hitam tebal, aku cepat-cepat mengambil kartu itu dan memasukkannya ke dalam tasku. Alarm ponselku berbunyi memberitahukanku bahwa ini saatnya meninggalkan pekerjaan, aku mengambil semua barangku sebelum Pak Kenzo mengatakan sesuatu padaku. Aku Menelepon Natan, aku mendengar Pak Kenzo memanggil namaku dari ujung lorong.
"Halo?" Natan berkata.
"Ayo, kesini cepat" kataku sambil menutup pintu lift. Saat keluar, aku melihat Natan mengendarai sepeda motor tepat pada waktunya, aku berlari ke arahnya dengan kecepatan penuh sampai aku merasakan tangan yang besar meraih lenganku menghentikanku setengah jalan ke pintu.
Aku melihat ke atas dan yah Tuan Kenzo dengan tatapan yang marah, "Urusan kita belum selesai, Isabel," katanya, melepaskan lenganku.
"Aku pikir urusan kita sudah selesai," kataku sambil berpaling di belakangku, berbalik kearah Natan dengan senyum lebar di wajahnya mendekatiku.
"Natan, apa yang kau lakukan di sini?" Aku menyeringai saat Natan memeluk pinggangku erat-erat.
"Yah, aku Pacarnya dan kau?" Natan bertanya.
"Aku Kenzo Julian, bosnya Isabel disini," katanya dengan nada bisnisnya, aku melihat mata Natan terbuka lebar.
"Isabel, bolehkah aku bicara dengan Anda?"
"Pak, aku..."
"Dia tidak bisa. Kami punya banyak urusan untuk dikerjakan hari ini, senang bertemu denganmu. Selamat tinggal Pak Kenzo." Natan berkata. Natan akan mendapatkan bagiannya saat kita sampai di rumah nanti, dia menarikku ke motornya, aku memandangi Pak Kenzo, dia tampak kaget dan sedih saat kami pergi, tapi kenapa?
Kami masuk ke dalam rumah, aku cepat-cepat mengunci pintu sehingga Natan tidak bisa melarikan diri lagi, Natan cepat-cepat mengangkat tangannya tapi sudah terlambat darahku mendidih karena aksi bodoh yang dia lakukan barusan di depan bosku.
"Natan! Apa-apaan kau barusan!" Aku berteriak, dia bersembunyi di balik sofa.
"Aku... aku minta maaf Bel, aku benar-benar minta maaf."
"Apa yang kau pikirkan saat melakukan aksi seperti itu di depan bosku?!"
"Aku melihatmu dalam masalah jadi aku membantumu sebagai bentuk persaudaraanku, aku minta maaf tolong maafkan aku." Dia memohon; berdiri, aku mengambil napas dalam-dalam kemudian berjalan ke arahnya dan memberinya pelukan erat, dia memeluk aku kembali.
"Maaf aku agak panik," dia terkekeh, duduk di sebelahku.
"Lain kali, beri tahu aku sebelum kau melakukan sesuatu yang bodoh lagi"
"Oke, aku janji. Hei,?"
"Ya?"
"Jangan beri tahu Jeni"
"Kenapa tidak? Kau tahu aku menceritakan segalanya padanya," kataku sambil menatapnya, wajahnya serius.
"Berjanjilah padaku, oke?" Dia berkata ketika aku mengangguk melanjutkan menonton tv.
Jeni akhirnya pulang dengan kartu di tangannya, "Untuk apa itu?" Aku bertanya mencuci piring, dia menatapku dengan sedih,
"Ini untukmu," katanya saat aku mengeringkan tangan. Aku melihat amplop bertali putih dan tertulis dalam kursif 'Isabel Jones, Anda diundang ke pernikahan Susan dan Ricky dalam waktu 4 bulan' Aku mengambil surat itu dan pergi ke dapur untuk mengambil korek api kemudian aku membakar undangan itu di wastafel aku memperhatikannya perlahan berubah menjadi abu.
"Lihatlah sisi baiknya, setidaknya kau tidak akan memiliki nama belakangnya yang memalukan itu," katanya sambil tertawa kecil, itu benar-benar hal yang baik.
"Apa kau baik-baik saja,?" Jeni bertanya menarikku ke pelukannya dan aku menganggukkan kepalaku di bahunya.
"Apa kau mau vanilla milkshake stroberi campuran favoritmu dengan whip cream dan ceri ekstra?" Tanyanya, aku mengangguk sekali lagi.
"Ayo, mari kita pergi ke cafe. Dan Natan ?!" Kata Jeni. "Ada apa? Apa dia melakukan kesalahan padamu?" lanjutnya.
"Ceritanya panjang, nanti ku ceritakan ikutlah dengan kami ke cafe." katanya dan dia menganggukkan kepalanya dan kami keluar dari pintu. Aku selalu menginginkan kesatria seperti yang ada di dongeng-dongeng, kupikir Ricky yang menyelamatkanku, tapi aku salah besar.
Mungkin dongeng yang bahagia berakhir tidak menjadi kenyataan, dan tidak ada yang namanya ksatria yang datang untuk menyelamatkanku suatu hari, kurasa sudah waktunya untuk menghadapi kenyataan dan bersikap dewasa.