The Love Story Of Billionaire

The Love Story Of Billionaire
Ep. 53



David POV


Kilas balik


10 tahun yang lalu


"Ayo nak, kita harus bergegas dan menemui pengacara," kata ayahku.


Kami berjalan ke sebuah gedung besar, berjalan di dalam perpustakaan terbesar yang pernah ku lihat. Ada seorang pria di belakang meja mengenakan setelan jas hitam dan kacamata hitam, melihat ke sebelah kiriku aku melihat seorang gadis dan keluarganya. Dia memiliki rambut hitam, halus, dan panjang, kurasa dia seusiaku. Aku tidak bisa menjaga mataku darinya, aku tidak pernah melihatnya sebelumnya.


Lelaki itu berdeham, aku menoleh dan lebih memperhatikannya, "Terima kasih sudah datang, Nyonya Selly Thomas. Sekarang aku akan membacanya."


"Kepada cicit buyutku yang pertama, aku memberikanmu warisanku berupa sejumlah uang 5,6 triliun, serta rumahku dan semua isinya. Hanya itu," katanya.


Cucu buyutnya? Tunggu, itu kan aku ?! Aku mewarisi uang sebanyak 5,6 triliun dan sebuah rumah mewah?


Aku duduk di sana dengan kaget, orang tua ku melompat kegirangan. "Oh. Dan ada satu hal lagi. Semua itu akan di berikan asal menyetujui sebuah 'Kesepakatan, kalau cicit buyut keluarga pertama (keluarga David) harus menikah dengan cicit buyut kedua (Keluarga alisia). Yang bertanda tangan di bawah ini Yocelin Andrewson dan Sally Thomas' itu saja" Kata pengacara itu.


Gadis berambut halus itu memandang orang tuanya, mereka berdua membisikkan sesuatu di telinganya dan menunjuk ke arahku. Dia mengangguk dan menatapku, tersenyum dan melambai halo, aku balas melambai. Dia memiliki mata cokelat dan mengkilap serta memakai kacamata merah.


Apa dia yang harus aku nikahi? Semoga saja, dia cantik.


Orang tua sedang berbicara untuk mengenal satu sama lain, begitupun kami berjalan di luar untuk melakukan hal yang sama.


"Siapa namamu?" Dia bertanya mendorong kacamatanya di atas hidungnya.


"David Thomas. Siapa namamu?"


"Namaku Alisia Natanhia Yocelin," katanya sambil mengulurkan tangannya, kami berjabat tangan.


"Jadi, kurasa kita sudah bertunangan. Berapa umurmu?" Aku bertanya.


"Kurasa begitu. Umurku sepuluh tahun, kalau kamu?" dia bertanya.


"Kalau aku empat belas tahun, kamu terlihat sangat cantik," aku tersipu.


Aku menampar diriku, kenapa aku harus mengatakan itu? Dia pasti besar kepala


"Terima kasih," dia tersenyum padaku. Entah apa yang merasuki ku, aku tiba-tiba mencium pipinya. Dia menatapku, kaget. Lalu dia mengembalikan ciuman di pipiku, kami berdiri di sana dengan wajah memerah.


"Nak, ayo kita pulang. Jangan khawatir, kamu akan melihat tunanganmu besok," kata ayahku, aku merogoh sakuku, meraih cincin ku dan meletakkannya di jarinya.


"Sekarang, kita secara resmi bertunangan," kataku, dia tersenyum dan mengeluarkan sesuatu dari tasnya. Sebuah cincin muncul dan menyelipkan ke jari ku, "Sekarang, kita benar-benar sudah tunangan," katanya.


Alisia ... Aku suka namanya.


-kilas balik berakhir-


Aku ingat kejadian itu, aku bahkan selalu menjadi Pangeran Tampan di usia muda.


Apa yang terjadi padamu, Alisia? Kita dulu sangat dekat, tapi kenapa akhirnya kita bisa seperti ini?


"Yudha ?!" Aku berteriak, 1 menit kemudian sekretaris ku berlari ke dalam ruangan. "Ya, Pak David ?" dia berkata.


"Tolong pesankan aku tiket pesawat ke Dumai untuk besok, aku akan pergi selama beberapa minggu. Dan tolong usahakan aku bisa mendapat pekerjaan sebagai guru di State High School dan jangan menolak!" kataku.


Dia mengangguk, "Baik pak." katanya berjalan keluar pintu.


"Kurasa sudah saatnya aku mengunjungi tunangan masa kecilku," gumamku pada diri sendiri.


Aku naik jet pribadi ke Dumai.


"Mau kemana pak?" supir ku. bertanya "Di State High School."" kataku. l


Aku membuka dompet ku dan mengambil satu-satunya foto ku dan Alisia saat kami masih kecil, kami tampak sangat bahagia saat itu, tapi sekarang dia dan orang tuanya ingin membunuh ku setiap kali mereka melihat ku.


"Pak, kita sudah sampai." Kata sopirku, "Oke. Terima kasih. Letakkan tasku di penginapanku," kataku sambil menutup pintu.


Aku berjalan ke kantor kepala sekolah, "Halo, apakah Anda Pak David?" kepala sekolah bertanya, Aku menjabat tangannya.


"Ya, pak saya David," kataku.


"Ini jadwalnya. Selamat datang di State High School,"


"Terima kasih," kataku meninggalkan pintu, kurasa aku menjadi guru sejarah yang baru.


Aku melihat kertas ku dengan nama beberapa siswa, dengan cepat aku melihat nama-nama seluruh siswa.


"Aku menemukanmu, Alisia Yocelin," gumamku pada diriku sendiri, aku perhatikan nama orang lain di atas kertas. "Alvaro Julian, wah ini akan menjadi sangat menyenangkan" kataku.


Terakhir kali aku melihat Alvaro, dia mengancam ku untuk menjauh dari saudara kembarnya kemudian meninju mata ku. Penjahat kecil itu akan membayar semua atas perbuatannya padaku, itu bukan salahku saudara perempuannya sendiri yang salah. Dia jatuh cinta padaku, tapi sayangnya aku hanya menginginkan uangnya, anak kecil yang naif, keras kepala tidak mau mendengarkan perkataan keluarganya.


Aku berjalan ke kelas, menulis namaku di papan tulis, semua siswa siswi di depan menunjukkan sesuatu yang jelas-jelas tidak aku sukai. Aku melihat seisi ruangan dan akhirnya aku menemukan tunangan ku duduk di belakang sendirian. Dia menatapku, mengamati wajahku dan memiliki ekspresi kaget di wajahnya, aku tersenyum dan mengedip padanya.


Aku pikir, akan lebih baik aku tinggal sedikit lebih lama. Mungkin perlu beberapa saat sebelum dia menikahiku, pertama, aku harus mendapatkan kepercayaannya, dan kemudian mengambil semua harta keluarganya setelah itu kabur.